تسجيل الدخولSatria tersenyum tipis. Motor ini benar-benar memenuhi semua ekspektasinya—fungsional, nyaman, dan berpenampilan cukup tangguh untuk menghindari kejadian-kejadian tidak terduga di jalan raya seperti yang ia alami tadi pagi."Oke, saya rasa saya pilih unit yang warna hitam doff ini," ujar Satria mantap sambil turun dari motor. "Untuk proses administrasi pembayaran tunai dan pengurusan surat-suratnya, kira-kira butuh syarat apa saja?"Pegawai dealer itu tampak sumringah mendengar keputusan cepat dari pelanggannya. "Wah, pilihan yang sangat tepat, Kak! Untuk pembayaran tunai, kita hanya perlu fotokopi KTP saja, dan proses pengisian datanya bisa langsung dibantu di meja kasir sekarang."Setelah insiden nyaris celaka di jalan tadi pagi, hari Satria kini bergeser menjadi jauh lebih produktif. Tinggal selangkah lagi, kendaraan baru penunjang mobilitasnya akan segera resmi berpindah tangan ke garasi rumahnya.Setelah merampungkan penyerahan fotokopi KTP dan mengisi beberapa formulir administr
Pagi baru saja beranjak naik, memancarkan cahaya terang yang menghangatkan aspal jalanan kota. Satria sudah berdiri di depan teras rumah dengan penampilan yang sangat rapi. Kemeja flanel lengan panjang dan celana jeans hitam melekat pas di tubuhnya, siap untuk menepati niatnya pagi ini: pergi ke dealer motor untuk melihat-lihat kendaraan baru guna keperluan mobilitas sehari-hari.Setelah mengunci pintu pagar rumah, Satria berjalan kaki menyusuri trotoar menuju pangkalan ojek terdekat di ujung jalan perumahan. Suasana pagi itu sebenarnya cukup lengang, membuat langkah kakinya terasa santai.Namun, ketenangan itu mendadak buyar dalam hitungan detik.Dari tikungan jalan utama yang agak tertutup rimbunnya pohon angsana, sebuah sepeda motor matik berkecepatan tinggi meluncur ugal-ugalan tanpa memperlambat lajunya. Pengendaranya tampak tidak fokus, memotong jalur dengan tajam ke arah trotoar tempat Satria berjalan.Screeeet!Suara decitan ban bergesekan dengan aspal terdengar nyaring memeka
Setelah merampungkan penyerahan fotokopi KTP dan mengisi beberapa formulir administrasi di meja kasir, Teguh diajak menuju area lounge tunggu khusus pelanggan. Suasana ruangan yang nyaman dengan pendingin udara serta suguhan secangkir air mineral membuat proses pembayaran tunai dan pencetakan kuitansi berjalan tanpa hambatan.Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, pegawai bagian administrasi menghampiri meja Teguh sambil membawa sebuah map plastik berisi dokumen lengkap serta satu set kunci kontak."Semua proses administrasinya sudah beres, Kak Teguh," ujar pegawai tersebut dengan senyuman ramah. "Untuk unit motor hitam doff pilihan Kakak juga sedang disiapkan oleh tim mekanik di bagian belakang untuk pengecekan terakhir, mulai dari tekanan ban, oli, kelistrikan, sampai pencucian bersih."Teguh bangkit dari duduknya, menerima map dokumen tersebut dengan gestur menghargai. "Baik, terima kasih banyak atas pelayanannya yang cepat.""Sama-sama, Kak. Mari saya antar ke halaman serah terim
Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya, Teguh kembali melangkah meninggalkan area trotoar tempat kejadian nyaris celaka tadi. Ia memutuskan untuk langsung memesan taksi dalam jaringan lewat ponselnya agar perjalanan ke dealer motor jauh lebih aman daripada harus berjalan kaki di pinggir jalan raya.Tidak butuh waktu lama bagi mobil pesanan Teguh untuk tiba. Begitu pintu ditutup, AC mobil yang sejuk langsung menyambut, membantu mendinginkan kepalanya yang sempat panas akibat ulah pengendara motor ugal-ugalan sebelumnya. Sepanjang perjalanan, ia memilih melamun menatap pemandangan jalanan kota yang mulai padat oleh aktivitas pagi.Brummm...Suara deru mesin berbagai jenis kendaraan menyambut begitu Teguh menginjakkan kaki di halaman depan dealer motor terbesar di kawasan tersebut. Bangunan berdinding kaca transparan itu tampak berkilau di bawah terik matahari pagi, memamerkan puluhan unit sepeda motor dari berbagai merk dan tipe yang berjejer rapi di ruang
Sore itu, langit di atas ibu kota perlahan berubah warna menjadi gradasi jingga keemasan yang indah. Sinar matahari yang mulai condong ke barat menyinari halaman depan kediaman Vera, memantulkan bayangan pepohonan kamboja di atas rumput hijau yang tertata rapi.Vera duduk di kursi rotan teras depan, mengenakan sweater rajut tipis berwarna biru muda. Di tangannya, sebuah cangkir keramik berisi teh kamomil hangat mengepulkan uap tipis beraroma menenangkan. Matanya memandang ke luar gerbang, menikmati ketenangan suasana lingkungan perumahan yang sepi dari hiruk-pikuk kendaraan.Satria melangkah keluar dari pintu utama membawa nampan kecil berisi piring penganan ringan berupa kue lapis tradisional. Pria berkaus polos hitam itu meletakkan nampan di atas meja bundar kecil, lalu menarik kursi untuk duduk di sebelah Vera."Silakan dicicipi, kue lapisnya baru saja dikirim tadi siang oleh Bi Inah," ujar Satria sambil tersenyum tipis.Vera mengambil sepotong kue lapis berwarna hijau pastel, lalu
Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri dan menenangkan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantulkan warna jingga keemasan di atas permukaan kolam ikan kecil, sementara angin sepoi-sepoi berhembus pelan menggoyang dahan-dahan tanaman hias.Vera duduk santai di kursi rotan panjang, mengenakan sweater rajut tipis berwarna krem. Di pangkuannya, sebuah buku novel fiksi terbuka, namun perhatiannya lebih sering tertuju pada sosok Satria yang sedang merapikan tanaman pot di sudut halaman.Pria berkaus gelap itu tampak telaten menyiram tanah di sekitar tanaman bunga kamboja, memastikan semuanya tertata rapi. Gerakannya tenang, mencerminkan kedamaian jiwa yang telah ia temukan sepenuhnya setelah sekian lama hidup dalam ketegangan dunia luar.Vera menutup bukunya perlahan, lalu tersenyum tipis. "Sat, udah sore banget nih. Sini istirahat dulu, temenin saya nikmati teh hangat."Satria menghentikan kegiatannya, menaruh selang air pada tempatnya, lalu berjalan menghampi







