Share

BAB 41

last update Date de publication: 2026-02-27 20:04:34

Mobil Alphard hitam yang dikemudikan Pak Maman berhenti dengan mulus di area parkir Taman Suropati. Suasana taman kota siang menjelang sore itu cukup rindang. Pohon-pohon mahoni besar yang ditanam rapi memberikan payung alami dari teriknya matahari Jakarta. Angin sepoi-sepoi bertiup membawa aroma rumput basah dan suara gemericik air mancur.

Satria turun lebih dulu. Dengan sigap dan hati-hati, dia membantu Pak Maman menurunkan kursi roda Laras dari bagasi, lalu menuntun Laras pindah dari kursi m
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 163

    Keheningan di dalam kelab malam itu masih belum pecah. Ratusan pasang mata hanya bisa menatap ngeri ke arah tiga pemuda kaya yang kini mengerang kesakitan di lantai. Tidak ada satu pun teman mereka yang berani mendekat untuk menolong. Para petugas keamanan kelab yang biasanya garang juga cuma bisa berdiri kaku di tempat mereka masing masing.Satria menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya yang tajam memastikan tidak ada lagi ancaman yang mengintai di antara kerumunan tamu."Gak ada yang mau maju lagi kan?" tanya Satria dengan suara lantang dan santai, memecah keheningan yang mencekam itu.Tidak ada jawaban. Semua orang memilih bungkam. Bahkan DJ yang berdiri di atas panggung pun ikut menelan ludah ketakutan."Oke, terima kasih buat waktunya. Mari semuanya, silakan dilanjut lagi acara minumnya," ucap Satria sambil mengangguk sopan, seolah olah dia baru saja selesai memberikan presentasi kerja di kantor, bukan selesai meremukkan tulang orang.Tanpa membuang waktu lagi, S

  • Satria Idaman Wanita   BAB 162

    Tiga pria yang masih berdiri itu menelan ludah dengan susah payah. Melihat teman mereka hancur bersama meja VIP di depan mata seharusnya sudah cukup menjadi peringatan keras. Tapi sayang, akal sehat mereka sudah tumpul karena alkohol dan rasa malu yang luar biasa besar karena ditonton oleh ratusan pasang mata di dalam kelab malam tersebut.Mereka saling melempar pandangan singkat, lalu mengangguk secara bersamaan. Gengsi mengalahkan rasa takut. Mereka sepakat untuk mengeroyok Satria secara bersama sama."Maju! Hajar dia bareng bareng! Dia cuma sendirian!" teriak pria berbadan kurus yang tadi memecahkan botol.Ketiga pemuda itu langsung berlari menerjang Satria dari arah depan, kiri, dan kanan secara serempak. Tangan mereka mengepal bersiap memukul, mencari celah dari segala arah.Melihat serangan keroyokan itu, Satria sama sekali tidak mundur. Tapi sudut matanya menangkap sesuatu yang lebih gawat. Kiki yang tadi disuruh bersandar di pilar malah berdiri sempoyongan dan nyaris jatuh ke

  • Satria Idaman Wanita   BAB 161

    Kengerian yang sempat menyergap gerombolan pemuda itu ternyata tidak bertahan lama. Pengaruh alkohol yang sudah meracuni otak mereka membuat akal sehat mereka benar benar lumpuh. Bukannya mundur atau minta ampun melihat lengan Satria yang tidak terluka, mereka malah saling pandang lalu meledak dalam tawa yang sangat meremehkan.Pria ikal yang sejak tadi paling bawel dan merasa paling jagoan kembali melangkah maju. Dia menunjuk wajah Satria sambil tertawa merendahkan."Hahaha! Lu pikir lu jagoan kebal, hah?!" ejek pria ikal itu dengan suara parau. "Paling juga jas lu doang yang dilapisin plat besi dari pasar loak! Gak usah sok pakai ilmu hitam deh lu, babu sialan! Lu tetep aja kacung miskin yang gak pantes ada di sini!"Teman temannya yang lain ikut tertawa terbahak bahak menimpali ejekan itu, mengira Satria cuma menang trik murahan pelindung di balik jasnya.Satria memejamkan matanya sejenak. Kesabarannya yang setipis tisu sudah benar benar habis terbakar malam ini. Dia menghela napas

  • Satria Idaman Wanita   BAB 160

    Kerumunan anak muda mabuk itu semakin merapatkan barisan. Mereka menatap Satria dengan tatapan menantang, seolah merasa paling berkuasa di tempat hiburan malam ini."Lu budek ya?! Lepasin Kiki sekarang! Lu gak berhak bawa dia pergi dari sini!" bentak pria ikal itu makin menjadi jadi.Sementara pria pria itu sibuk marah marah, Kiki yang kesadarannya sudah melayang malah asyik menyandarkan kepalanya ke dada Satria. Kedua tangannya memeluk erat dan bergelantungan di lengan kanan Satria layaknya anak koala yang tidak mau lepas dari batang pohon. Gadis itu tersenyum senyum sendiri dengan mata setengah terpejam, sama sekali tidak peduli dengan aura ketegangan di sekitarnya.Melihat tingkah pria pria hidung belang di depannya, Satria menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang sangat dingin."Apa peduli kalian?" jawab Satria dengan nada datar namun menusuk tajam. "Dia adik bos gue. Urusan dia pulang itu urusan gue. Kalian mending minggir sekarang sebelum gue yang nyingkirin paksa."J

  • Satria Idaman Wanita   BAB 159

    Dentuman musik electronic dance (EDM) yang sangat keras langsung menyambut telinga saat mobil Alphard hitam itu menepi di depan sebuah kelab malam eksklusif di kawasan Senopati. Kelab ini terkenal sebagai tempat nongkrongnya anak-anak konglomerat yang menghabiskan uang orang tua mereka.Satria membuka pintu mobil. Dia merapikan letak jas birunya sebentar sebelum menoleh ke arah ruang kemudi."Pak Maman tunggu di mobil aja ya," pesan Satria dengan nada santai. "Biar saya yang masuk dan nyeret bocah bandel itu keluar. Kalau saya lama, berarti saya lagi bungkusin es batu buat ngompres kepala orang."Pak Maman hanya bisa tersenyum pasrah sambil mengangguk. "Hati-hati, Mas Satria. Anak-anak muda zaman sekarang kalau lagi mabuk suka nekat."Satria menutup pintu mobil dan melangkah tegap melewati penjaga berbadan besar di pintu masuk. Penjaga itu sempat mau menahan Satria, tapi melihat tatapan mata Satria yang setajam pisau dan setelan jas mahalnya, penjaga itu memilih minggir tanpa banyak t

  • Satria Idaman Wanita   BAB 158

    Gerbang besi raksasa rumah mewah itu terbuka perlahan saat mobil Alphard yang membawa Vera dan Satria masuk ke halaman. Lampu-lampu taman yang temaram memberikan kesan tenang, namun suasana di teras depan justru terlihat sebaliknya.Larasati sudah menunggu di sana. Kursi rodanya terparkir di dekat pintu utama. Wajah asisten rumah tangga itu terlihat sangat cemas. Tangannya meremas kain yang menutupi pangkuannya berkali-kali.Begitu pintu mobil terbuka, Vera turun dengan langkah anggun namun tatapannya langsung tertuju pada Laras. Dia bisa mencium ada bau masalah yang baru saja muncul di rumahnya."Laras, kenapa kamu belum tidur? Ini sudah lewat jam sepuluh malam," tegur Vera sambil berjalan mendekat.Larasati menatap Vera dengan ragu, lalu melirik Satria yang baru saja turun dari mobil sambil merapikan jasnya yang masih tampak sempurna."Maaf, Non Vera. Laras gelisah sejak tadi," ucap Laras dengan suara pelan yang bergetar. "Non Kiki... tadi sekitar satu jam yang lalu dia pergi lagi.

  • Satria Idaman Wanita   BAB 12

    Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 14

    "Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 11

    Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 10

    Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-17
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status