LOGINKeheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat VIP itu. Ancaman mengerikan Satria soal mematahkan jari membuat napas Pak Haryo seakan berhenti. Pria paruh baya itu sudah gemetar di kursinya, takut ikut terseret dalam pertumpahan darah di kantornya sendiri.Namun, di luar dugaan, reaksi Kevin justru berbanding terbalik dengan kejadian di parkiran semalam.Pria berambut klimis itu memang sempat menelan ludah dan wajahnya pucat sedetik, tapi kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat keras dan penuh dengan kelicikan."Hahaha! Lu pikir gue bego, hah?!" ejek Kevin sambil menunjuk wajah Satria. Keberaniannya meroket tajam. "Gue tahu lu jago berantem. Preman bayaran gue semalam emang ampas semua karena cuma modal tangan kosong. Lu pikir gue bakal datang ke sini nemuin bos lu tanpa persiapan?"Satria mengerutkan dahi, matanya memicing di balik kacamata hitam yang baru saja dia letakkan di atas meja.Tanpa membuang waktu, Kevin mengambil ponselnya dan menekan satu tombol pan
Tepat pukul sepuluh pagi, mobil Alphard hitam yang membawa Vera dan Satria tiba di sebuah kantor proyek konstruksi besar di kawasan strategis Jakarta Selatan. Vera turun dengan sangat percaya diri. Setelan blazer kerjanya terlihat sangat elegan dan profesional. Modal dua puluh lima miliar dari penjualan kayu Kinam sudah siap dia putar untuk mengambil alih proyek pembangunan mal mewah ini.Satria berjalan tepat di belakang Vera. Kacamata hitam bertengger santai di hidungnya. Jas birunya sudah diganti dengan setelan jas hitam pekat yang baru, membuat auranya semakin terlihat seperti bos mafia daripada sekadar asisten.Mereka berdua dikawal oleh resepsionis menuju ruang rapat VIP di lantai dua. Vera sudah menyiapkan draf kontrak di tangannya. Proyek ini adalah kunci untuk membangkitkan kembali kejayaan perusahaannya.Klek.Pintu ruang rapat terbuka. Vera melangkah masuk dengan senyum bisnis andalannya. Namun, senyum di bibir CEO muda itu langsung membeku seketika.Ruangan itu tidak hanya
Tepat pukul tujuh pagi, Satria sudah berdiri tegak di dalam ruang kerja Vera yang sangat luas. Pemuda itu memakai kemeja putih rapi, rambutnya basah sehabis mandi, dan wajahnya disetel sepolos mungkin. Padahal di dalam hatinya, dia sedang sibuk menyusun seribu alasan.Vera duduk di balik meja kerja kebesarannya. Wanita cantik itu memakai setelan blazer kerja yang elegan. Di tangannya ada secangkir kopi hitam. Tatapannya lurus menembus bola mata Satria, tajam dan penuh selidik bagaikan detektif yang sedang menginterogasi tersangka perampokan bank."Duduk," perintah Vera singkat.Satria menarik kursi di depan meja itu dan duduk dengan sikap tegak. "Pagi, Non. Gimana tidurnya? Nyenyak?" sapanya basa basi, mencoba mencairkan suasana yang kaku."Gak usah basa basi," potong Vera cepat. Dia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. "Saya mau langsung ke intinya saja. Tadi malam di mobil kamu belum jawab pertanyaan saya dengan benar. Sekarang saya tanya sekali lagi, dan saya mau jawaban yang m
Bi Inah memegang lengan Kiki dan mencoba menariknya menjauh dari Satria. Tapi Kiki malah memberontak. Tenaga orang mabuk terkadang memang tidak bisa ditebak. Gadis itu menghentakkan tangannya dan kembali merangkul erat lengan Satria."Gak mau!" rengek Kiki keras keras, suaranya menggema di ruang tamu. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah Bi Inah. "Kiki mau di sini aja sama Kak Satria! Kak Satria anget badannya, wangi lagi. Bi Inah sana pergi!"Satria memutar bola matanya malas. Dia melirik ke arah Vera yang rahangnya sudah mengeras menahan malu melihat kelakuan murahan adiknya sendiri di depan para pegawai."Ki, udah sana lu tidur di atas," bujuk Satria sambil berusaha melepaskan tangan Kiki dari jasnya satu per satu. "Kasur lu di atas jauh lebih empuk daripada berdiri di sini. Lagian gue juga mau mandi, lengket banget ini badan.""Mandi bareng!" racau Kiki ngawur sambil tersenyum lebar dan matanya merem melek.Mata Vera melotot mau keluar mendengarnya. Urat kesabarannya benar bena
Namun, begitu kaki Satria dan Kiki melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang terang benderang, hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada angin malam langsung menyambut mereka.Di tengah ruangan yang luas itu, Vera berdiri tegak bagaikan patung dewi keadilan yang bersiap menjatuhkan hukuman mati. Wajah cantiknya terlihat sangat kaku dan dingin. Kedua tangannya bertolak pinggang, menatap lurus menembus adiknya yang sedang bergelendotan manja di lengan asistennya.Melihat pemandangan di depan matanya itu, urat di dahi Vera langsung menonjol. Napasnya memburu menahan amarah yang sudah naik sampai ke ubun ubun. Adiknya yang seharusnya belajar menjadi wanita elegan malah pulang nyaris tengah malam dalam kondisi setengah sadar, bau alkohol yang menyengat sampai ke jarak dua meter, dan menempel pada seorang pria seperti tidak punya harga diri."KIKI!" bentak Vera dengan suara melengking yang menggema ke seluruh penjuru rumah besar itu.Suaranya terdengar sangat keras dan penuh tekanan, samp
Di dalam mobil Alphard yang melaju membelah jalanan ibu kota, rencana Satria untuk duduk tenang di kursi depan ternyata gagal total. Baru sepuluh menit perjalanan, Kiki yang tidurnya tidak tenang mulai mengigau dan menendang nendang jok. Khawatir gadis itu tidak sengaja membuka pintu mobil, Satria terpaksa pindah ke kursi belakang untuk menjaganya.Suasana di dalam mobil cukup gelap dan hening. Satria menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan di dada, matanya terus mengawasi jalanan dari balik jendela kaca.Tiba tiba, Kiki mulai mengerang pelan. Pengaruh alkohol sepertinya sedikit memudar, membuat kesadarannya kembali meski masih sangat samar. Gadis itu membuka matanya perlahan. Pandangannya yang masih buram langsung menangkap sosok berbadan besar yang duduk tepat di sebelahnya.Aroma maskulin bercampur sedikit peluh dari jas Satria langsung menyapa hidung Kiki. Senyum bodoh perlahan mengembang di wajah gadis yang sedang teler itu. Dia menyadari kalau pria pujaannya benar benar a
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan
Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja







