Share

BAB 169

last update publish date: 2026-05-03 22:01:14

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat VIP itu. Ancaman mengerikan Satria soal mematahkan jari membuat napas Pak Haryo seakan berhenti. Pria paruh baya itu sudah gemetar di kursinya, takut ikut terseret dalam pertumpahan darah di kantornya sendiri.

Namun, di luar dugaan, reaksi Kevin justru berbanding terbalik dengan kejadian di parkiran semalam.

Pria berambut klimis itu memang sempat menelan ludah dan wajahnya pucat sedetik, tapi kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak. Tawa yang s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   Bab 175

    Malam pun tiba. Suasana rumah mewah di kawasan Menteng itu terasa jauh lebih ceria dari biasanya. Kemenangan mutlak atas keluarga Darmawan tadi siang membuat beban berat di pundak Vera akhirnya terangkat.Vera turun dari tangga dengan memakai gaun malam yang santai namun tetap terlihat elegan. Kiki mengekor di belakangnya. Wajah si bungsu sudah kembali segar dan didandani rapi, meski tadi pagi dia sempat disidang habis-habisan oleh kakaknya karena kejadian mabuk semalam.Di ruang tamu, Larasati sudah bersiap di atas kursi rodanya dengan memakai baju rajut yang manis. Satria juga baru saja keluar dari paviliun belakang, memakai kemeja kasual berwarna biru muda yang pas dengan tubuh besarnya."Laras, Satria, ayo bersiap," panggil Vera dengan senyum tipis di wajahnya. "Malam ini kita makan malam di luar. Saya sudah memesan meja VIP di restoran pusat kota. Kita adakan syukuran kecil-kecilan merayakan kembalinya proyek besar perusahaan."Mata Satria langsung berbinar terang mendengarnya. U

  • Satria Idaman Wanita   BAB 174

    Ponsel hitam di atas meja kayu bergetar singkat. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi transfer masuk senilai sepuluh miliar rupiah. Pria berwajah tirus dengan bekas luka melintang di pipi kirinya itu tersenyum miring. Dia adalah Elang Hitam, eksekutor nomor satu di dunia bawah tanah Jakarta."Bayaran di muka sudah masuk. Sepuluh miliar penuh," ucap Elang Hitam sambil meletakkan kembali ponselnya.Di dalam ruangan bekas gudang yang minim cahaya itu, tiga pria lain sedang duduk mengelilingi meja. Mereka bukan preman jalanan biasa, melainkan pembunuh bayaran profesional yang sering bekerja sama dengan Elang Hitam untuk misi tingkat tinggi."Targetnya siapa kali ini, Elang? Bos besar mana yang harus kita singkirkan sampai bayarannya sebesar itu?" tanya pria berbadan tegap dengan tato kalajengking di lehernya. Pria ini biasa dipanggil Kobra.Elang Hitam melemparkan sebuah tablet ke atas meja. Layar tablet itu menampilkan foto Satria yang diambil diam-diam dari jarak jauh. Di foto itu,

  • Satria Idaman Wanita   BAB 173

    Mendengar tawaran dari Satria, wajah Kevin pucat pasi. Melompat dari lantai dua jelas sama saja dengan cari mati. Dengan sisa sisa tenaga dan harga diri yang sudah hancur lebur, Kevin memilih pilihan pertama. Pria klimis itu susah payah berdiri, menundukkan kepalanya dalam dalam, lalu berlari terbirit birit keluar dari ruang rapat VIP itu tanpa berani menoleh lagi ke belakang.Tawanya yang tadi begitu sombong kini lenyap tanpa sisa. Kevin kabur meninggalkan puluhan preman sewaannya yang masih mengerang kesakitan di lantai.Satu jam kemudian, di sebuah rumah gedongan yang tidak kalah mewah dari kediaman Vera, suara bantingan barang pecah belah terdengar sangat keras dari ruang kerja utama.Prang!Sebuah asbak kristal mahal hancur berkeping keping menghantam dinding. Pak Darmawan, ayah Kevin sekaligus pimpinan perusahaan saingan Vera, berdiri dengan napas memburu dan dada naik turun. Wajah tua yang dipenuhi kerutan licik itu kini merah padam menahan amarah yang meledak ledak.Di depanny

  • Satria Idaman Wanita   BAB 172

    Melihat Kevin sudah tak berdaya tersungkur di lantai sambil memegangi jidatnya, suasana kembali hening. Hanya ada paduan suara rintihan pelan dari puluhan preman yang masih terkapar.Tiba tiba, dari kolong meja rapat yang sebagian sudah hancur berantakan, muncul sebuah kepala yang gemetar hebat. Pak Haryo merangkak keluar dengan susah payah. Kacamata tebalnya miring, jas abunya penuh debu karpet dan serpihan kaca.Pria paruh baya itu langsung bersimpuh di lantai. Dia sama sekali tidak berani menatap mata Satria yang berdiri menjulang bak malaikat maut di dekatnya."Ampun... ampun, Mas Satria. Nona Vera, saya minta maaf!" suara Pak Haryo bergetar parah, nyaris menangis ketakutan.Vera melangkah maju perlahan mendekati meja. Jas hitam Satria masih tersampir rapi di lengannya. Wajah CEO muda itu kembali tenang dan sedingin es, kembali ke mode bos besar seutuhnya."Jelaskan, Pak Haryo," desak Vera langsung pada poinnya. "Kenapa Bapak tiba tiba membatalkan kesepakatan kita dan memasukkan k

  • Satria Idaman Wanita   BAB 171

    Mendengar ancaman dari Satria, Kevin menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik liar ke sekeliling ruangan. Lima puluh preman sewaannya sudah berubah menjadi paduan suara orang merintih di atas karpet. Pak Haryo yang masih sembunyi di kolong meja kini sedang mengintip dengan wajah ketakutan, sementara Vera menatap Kevin dengan pandangan penuh belas kasihan bercampur muak.Di titik ini, Kevin tahu dia sudah kalah telak. Tapi ego dan gengsinya sebagai pewaris keluarga kaya raya tidak mengizinkan dia berlutut minta ampun begitu saja. Kalau dia lari sekarang atau menangis memohon, hancur sudah nama baiknya di dunia bisnis.Dengan tangan gemetar, Kevin mencoba menegakkan tubuhnya. Dia melepaskan kancing kemeja merah marunnya yang terasa mencekik, membusungkan dada, dan memasang wajah sok garang."Lu pikir gue takut sama kacung kampung kayak lu, hah?!" teriak Kevin dengan suara yang sengaja dikeraskan untuk menutupi rasa takutnya. "Gue sabuk hitam karate waktu SMA! Maju lu sini!"Men

  • Satria Idaman Wanita   BAB 170

    Tantangan Satria menjadi pemicu ledakan di ruangan tersebut. Puluhan berandalan itu menggeram marah. Gelombang pertama yang terdiri dari enam orang langsung menerjang maju secara serempak. Balok kayu dan pipa besi diayunkan dari berbagai arah, mengincar kepala dan rusuk pemuda berjas kemeja putih itu.Satria tidak mundur satu sentimeter pun. Matanya menatap tajam, merekam setiap pergerakan senjata yang datang ke arahnya dengan sangat lambat.Sebuah balok kayu tebal mengayun ganas ke arah kepala Satria. Pemuda itu hanya menunduk sedikit. Balok itu meleset membelah udara dengan bunyi WUSSS yang nyaring. Di detik yang sama, kepalan tangan kanan Satria melesat secepat peluru lurus ke arah ulu hati si penyerang.BUAGH!Suara hantaman daging terdengar sangat padat. Preman pertama itu membelalakkan mata. Mulutnya terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar. Angin di paru parunya terkuras habis. Dia langsung jatuh berlutut sambil memegangi perutnya yang serasa hancur, memuntahkan cairan l

  • Satria Idaman Wanita   BAB 37

    Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Satria Idaman Wanita   BAB 34

    Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satria Idaman Wanita   BAB 33

    Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satria Idaman Wanita   BAB 21

    Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status