MasukBegitu keluar dari lift khusus eksekutif di lantai teratas, Vera berjalan cepat dengan langkah anggun menuju ruang kerjanya. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat menyapa sang bos besar. Satria mengekor tepat di belakang Vera dengan langkah santai, mengabaikan tatapan penasaran para karyawan wanita yang mengagumi postur tegapnya.Sesampainya di depan pintu kayu jati besar bertuliskan Direktur Utama, sekretaris pribadi Vera langsung berdiri dari mejanya untuk membukakan pintu.Satria baru saja berniat berdiri di samping pintu luar seperti pengawal pada umumnya, tapi Vera langsung menahan lengannya."Satria, kamu ikut masuk ke dalam," perintah Vera sambil melangkah masuk ke ruangannya yang luas dan sangat mewah itu.Satria mengangkat alisnya bingung, tapi dia tetap menurut dan melangkah masuk. Pintu ruangan tertutup rapat dari luar. Ruangan CEO itu memiliki jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di salah satu sudut ruangan, t
Mobil Alphard hitam itu melaju membelah kepadatan lalu lintas pagi ibu kota. Suasana di dalam mobil cukup tenang. Vera duduk di kursi belakang, sibuk membaca setumpuk dokumen proyek dengan kacamata bacanya. Satria duduk di kursi depan di samping Pak Maman, matanya mengawasi jalan raya dengan santai.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Insting pendekar Satria kembali menangkap sesuatu yang tidak beres.Sudah tiga kali mobil mereka berbelok melewati rute yang berbeda untuk menghindari macet, tapi ada satu mobil sedan berwarna abu abu yang terus menempel di belakang mereka dengan jarak yang sangat konsisten.Satria melirik kaca spion samping. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi panik sedikit pun."Pak Maman, coba Bapak perhatikan spion tengah," ucap Satria dengan nada suara rendah dan tenang. "Ada sedan abu abu yang menguntit kita dari perempatan lampu merah pertama tadi."Pak Maman langsung melirik kaca spion. Wajah sopir tua itu seketika memucat. Trauma kejar kejaran semalam mas
Vera meletakkan tisyu bekas mengelap mulutnya ke atas piring yang sudah bersih. Dia melirik jam tangan klasiknya, lalu berdiri dari kursi dengan anggun. Blazer kerja sewarna abu-abu gelap yang terpasang di tubuhnya langsung menegaskan kembali auranya sebagai seorang CEO yang tegas."Satria, cepat habiskan makanan kamu," perintah Vera sambil merapikan sedikit kerah bajunya. "Sepuluh menit lagi kita berangkat ke kantor. Dokumen proyek Haryo harus segera ditandatangani di depan dewan direksi hari ini juga. Setelah kejadian semalam, saya tidak mau mengambil risiko jalan sendirian tanpa pengawal."Mendengar perintah itu, Satria langsung mengangguk cepat. Dia buru-buru menenggak habis sisa air putih di gelasnya."Baik, Non Vera. Saya sudah siap dari tadi kok," jawab Satria dengan nada penuh kelegaaan.Bagi Satria, perintah ke kantor ini bagaikan sebuah jalur penyelamatan darurat. Dia akhirnya bisa berdiri dan menjauhkan kakinya dari jangkauan kaki Kiki yang sedari tadi terus menggodanya di
Perdebatan alot di atas kasur itu mendadak terhenti saat sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari luar jendela paviliun. Suara gesekan sapu lidi dengan paving block halaman belakang mengalun jelas menembus dinding.Srek... srek... srek..."Aduh, Den Satria sudah bangun belum ya? Jemuran Nona Vera belum diangkat dari kemarin sore," gumam suara serak seorang wanita tua dari luar sana. Itu suara Bi Inah, asisten rumah tangga keluarga Vera.Mata Satria langsung melotot sempurna. Jantung pendekar yang malam tadi berdetak normal saat menghadapi berondongan peluru, kini berdegup sangat kencang bagaikan mau copot dari rongga dadanya."Tuh kan! Bi Inah udah di luar!" bisik Satria panik, suaranya sengaja ditekan serendah mungkin. "Kalau dia ngetuk pintu mau ambil jemuran terus ngelihat kamu di sini, tamat riwayat kita berdua, Ki!"Kenyataan akhirnya menghantam Kiki. Gadis manja yang tadinya keras kepala menempel seperti koala itu seketika tersadar. Bayangan wajah kakaknya yang murka dan
Cahaya matahari pagi mulai menyusup masuk lewat celah gorden jendela paviliun. Kicauan burung terdengar samar dari halaman belakang rumah mewah itu.Di atas kasur yang berantakan, Satria perlahan membuka matanya. Rasa pegal yang aneh menjalar di beberapa bagian tubuhnya, bukan pegal karena habis bertarung, melainkan karena hal lain.Satria merasakan ada beban hangat yang menindih lengan kiri dan dadanya. Pemuda itu menundukkan pandangannya. Matanya seketika membesar.Di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua, Kiki tertidur pulas dengan posisi memeluk Satria erat. Kulit mereka bersentuhan langsung tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi. Pakaian piyama sutra milik Kiki dan kemeja putih Satria sudah berserakan entah di mana di lantai kamar.Mengingat apa yang terjadi semalam, Satria langsung menengadah menatap langit langit kamar. Dia menghela napas sangat panjang dan berat. Bunyi hela napasnya terdengar dipenuhi rasa pusing dan frustrasi.Helaan napas itu ternyata
Satria merebahkan tubuh besarnya di atas kasur empuk paviliun... (lanjutan sesuai cerita asli)Kiki menatap Satria dengan mata yang sudah berkabut gairah. Tanpa memberi kesempatan pria itu berpikir panjang, gadis itu menarik tengkuk Satria dan menempelkan bibirnya yang lembut dan hangat ke bibir Satria. Ciuman pertama itu lembut, hampir malu-malu, tapi penuh tekad. Bibir sutra Kiki bergerak pelan, menggoda, seolah ingin mencicipi setiap inci dari mulut pria yang selama ini selalu menjaga jarak darinya.Satria membeku sesaat. Bau harum tubuh Kiki yang manis bercampur wangi sabun mandi malam itu menyerbu indranya. Akal sehatnya berteriak bahaya, tapi darahnya sudah mendidih. Tak tahan lagi, Satria membalas ciuman itu dengan rakus. Tangannya langsung memeluk pinggang ramping Kiki, menarik gadis itu lebih rapat hingga dada mereka saling menempel. Ciuman mereka semakin panas, lidah saling menari, saling menjilat, saling menghisap. Suara kecupan basah dan napas memburu memenuhi kamar pavili
Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran
Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu
Satria mengerjap cepat. "H-hukuman dobel gimana maksudnya, Ki?"Bukannya menjawab, Kiki malah mencondongkan tubuhnya ke depan. Gadis itu menempelkan kedua telapak tangannya di dada bidang Satria yang terbalut kaus hitam, lalu dengan berani mendorong tubuh pemuda itu ke belakang.Karena posisi duduk
Satria menelan ludah. Dia berbalik badan dengan kaku, lalu menutup pintu kamar itu rapat-rapat. Bunyi kunci yang berputar otomatis dari dalam membuat Satria merasa seperti narapidana yang baru saja dimasukkan ke dalam sel isolasi.Satria membalikkan badannya lagi menghadap Kiki, tapi dia sengaja be







