LOGINMatahari pagi menyinari garasi dan paviliun belakang rumah mewah di Menteng itu. Satria terbangun dengan perasaan yang luar biasa segar. Tidurnya semalam benar benar pulas tanpa ada gangguan sama sekali. Pintu kamarnya kini juga sudah dipasangi gembok besar dari dalam, membuatnya merasa seaman pejabat negara di dalam bungker.Setelah mandi dan memakai seragam asistennya yang rapi, kemeja rapi dan celana bahan, Satria melangkah keluar paviliun menuju rumah utama. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Biasanya jam segini Laras atau Bi Inah sudah menyiapkan sarapan di meja makan.Begitu pintu dapur kotor didorong, hidung Satria langsung disambut aroma harum bawang putih dan mentega yang ditumis. Wanginya sangat menggugah selera. Satria berjalan santai melewati dapur bersih menuju ruang makan.Langkah Satria mendadak berhenti kaku tepat di ambang pintu ruang makan. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan kalau dia tidak sedang berhalusinasi atau masih tertidur.Di depan meja
Kamar paviliun belakang itu terasa sangat sejuk dan damai. Satria melempar ransel bututnya ke atas meja kecil di sudut ruangan, lalu merebahkan tubuh besarnya ke atas kasur dengan gerakan serampangan.Pemuda itu merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar lebar. Helaan napas panjang yang sarat akan kelegaan lolos dari bibirnya. Matanya menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong tapi penuh kemenangan.Rasanya seperti baru saja lolos dari lubang jarum. Kemarin dia diusir, luntang lantung kepanasan di jalanan, terjebak di kamar kos yang penuh godaan aroma vanilla, lalu diculik paksa di minimarket. Dan sekarang, dia sudah kembali lagi berbaring di atas kasur empuk ini dengan status aman terkendali berkat selembar kertas bermaterai sepuluh ribu."Ternyata hidup gue lebih dramatis daripada sinetron azab," gumam Satria sendirian sambil terkekeh pelan. Dia memejamkan matanya, berniat membalas dendam untuk tidur siang yang tertunda.Baru saja kesadarannya mulai melayang ke alam mimpi, s
Satria menatap kertas folio di tangannya bagaikan memegang jimat sakti penolak bala. Helaan napas panjang dan lega akhirnya keluar dari mulut pemuda itu. Pundaknya yang sejak tadi menegang kaku sekarang mulai rileks.Vera yang masih duduk di hadapannya tersenyum tipis. "Sekarang kamu udah aman, Satria. Bawa barang barang kamu ke paviliun belakang. Istirahatlah yang tenang. Besok pagi baru kamu mulai kerja lagi seperti biasa. Soal pintu besi dan gembok pesanan kamu, besok pagi tukang las langganan kantor bakal langsung datang buat masang.""Siap, Non. Makasih banyak," jawab Satria sambil mengangguk hormat.Tanpa membuang waktu lagi, Satria menyandang ransel bututnya. Langkah kakinya menyusuri lorong menuju halaman belakang terasa seringan kapas. Bagaikan narapidana yang baru saja mendapat surat bebas bersyarat dari pengadilan tingkat tinggi, Satria akhirnya bisa kembali menghirup udara kebebasan di kamarnya sendiri.Sepeninggal Satria, suasana ruang tengah kembali sepi. Vera memijat pe
Kiki mengerutkan keningnya. Dia mengambil kertas itu dan mulai membaca deretan kalimat kapital yang ditulis tangan oleh Satria.Saat matanya membaca judul "SURAT PERJANJIAN ANTI TERKAMAN DAN KEAMANAN BERSAMA", sudut bibir Kiki mulai berkedut. Dia menahan tawanya sekuat tenaga agar tidak meledak di depan kakaknya yang sedang menatap garang.Kiki melanjutkan membaca pasal demi pasal. Namun, alih alih merasa terpojok atau menyesal, otak cerdik si bungsu ini malah langsung bekerja membedah kalimat demi kalimat layaknya pengacara licik yang mencari celah hukum. Kesedihannya tadi sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh insting berburunya yang kembali menyala."Ini surat apaan sih, Kak Satria? Kayak mau sewa ruko aja pakai materai segala," komentar Kiki sambil tersenyum meremehkan. Dia meletakkan kertas itu kembali ke meja. Jari telunjuknya mengetuk ngetuk pelan permukaan kertas."Lagian ya, Kak. Ini pasalnya banyak banget bolongnya," lanjut Kiki santai, matanya menatap Satria dengan se
Mobil Alphard hitam itu akhirnya meluncur mulus melewati gerbang besi rumah mewah di kawasan Menteng. Begitu mobil berhenti tepat di depan teras utama, Satria menarik napas panjang. Rasanya baru beberapa jam yang lalu dia melangkah keluar dari rumah ini dengan hati panas dan harga diri hancur, kini dia kembali lagi dengan status yang sama tapi dengan jaminan selembar kertas folio di tangannya.Vera turun lebih dulu, disusul oleh Satria dari pintu sebelah kiri. Saat mereka melangkah masuk melewati pintu utama, suasana rumah terasa sangat sepi. Namun, dari arah ruang keluarga, terdengar suara televisi yang menyala tanpa ditonton.Di atas sofa panjang, Kiki sedang duduk meringkuk memeluk lutut. Gadis sembilan belas tahun itu memakai piyama kebesaran dengan wajah ditekuk habis habisan. Matanya sembab dan rambutnya sedikit berantakan. Dia benar benar melancarkan aksi mogok makan dan mogok senyum sejak kakaknya mengusir Satria tadi pagi.Mendengar suara langkah kaki di lorong, Kiki menoleh
Sesuai perintah bos besarnya, Pak Maman segera menepikan mobil Alphard hitam itu di depan sebuah ruko kecil bertuliskan "Fotokopi Sinar Terang"."Biar saya yang turun beli, Non. Takutnya kalau Nona yang turun malah dikira artis lagi syuting," ucap Satria sambil membuka pintu geser mobil.Satria berjalan cepat masuk ke dalam tempat fotokopi yang sedikit panas itu. Abang penjaga fotokopi yang lagi asyik main ponsel sampai terlonjak kaget melihat pria berbadan besar, berjaket kulit kusam, dan berwajah garang tiba tiba masuk. Bang penjaga itu mungkin mengira Satria mau menagih uang keamanan."Beli materai sepuluh ribu dua lembar, Bang. Sama kertas folio bergaris dua lembar, terus pulpen tinta hitam satu yang paling lancar buat nulis," pesan Satria dengan suara beratnya yang khas.Si abang fotokopi cuma bisa mengangguk kaku. Dia buru buru mengambilkan semua pesanan Satria tanpa banyak tanya. Preman sangar beli alat tulis untuk bikin dokumen legal rasanya bukan pemandangan yang biasa dia li
Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlo







