Share

BAB 134

last update publish date: 2026-04-10 15:58:39

Matahari pagi menyinari garasi dan paviliun belakang rumah mewah di Menteng itu. Satria terbangun dengan perasaan yang luar biasa segar. Tidurnya semalam benar benar pulas tanpa ada gangguan sama sekali. Pintu kamarnya kini juga sudah dipasangi gembok besar dari dalam, membuatnya merasa seaman pejabat negara di dalam bungker.

Setelah mandi dan memakai seragam asistennya yang rapi, kemeja rapi dan celana bahan, Satria melangkah keluar paviliun menuju rumah utama. Perutnya sudah keroncongan minta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 167

    Tepat pukul tujuh pagi, Satria sudah berdiri tegak di dalam ruang kerja Vera yang sangat luas. Pemuda itu memakai kemeja putih rapi, rambutnya basah sehabis mandi, dan wajahnya disetel sepolos mungkin. Padahal di dalam hatinya, dia sedang sibuk menyusun seribu alasan.Vera duduk di balik meja kerja kebesarannya. Wanita cantik itu memakai setelan blazer kerja yang elegan. Di tangannya ada secangkir kopi hitam. Tatapannya lurus menembus bola mata Satria, tajam dan penuh selidik bagaikan detektif yang sedang menginterogasi tersangka perampokan bank."Duduk," perintah Vera singkat.Satria menarik kursi di depan meja itu dan duduk dengan sikap tegak. "Pagi, Non. Gimana tidurnya? Nyenyak?" sapanya basa basi, mencoba mencairkan suasana yang kaku."Gak usah basa basi," potong Vera cepat. Dia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. "Saya mau langsung ke intinya saja. Tadi malam di mobil kamu belum jawab pertanyaan saya dengan benar. Sekarang saya tanya sekali lagi, dan saya mau jawaban yang m

  • Satria Idaman Wanita   BAB 166

    Bi Inah memegang lengan Kiki dan mencoba menariknya menjauh dari Satria. Tapi Kiki malah memberontak. Tenaga orang mabuk terkadang memang tidak bisa ditebak. Gadis itu menghentakkan tangannya dan kembali merangkul erat lengan Satria."Gak mau!" rengek Kiki keras keras, suaranya menggema di ruang tamu. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah Bi Inah. "Kiki mau di sini aja sama Kak Satria! Kak Satria anget badannya, wangi lagi. Bi Inah sana pergi!"Satria memutar bola matanya malas. Dia melirik ke arah Vera yang rahangnya sudah mengeras menahan malu melihat kelakuan murahan adiknya sendiri di depan para pegawai."Ki, udah sana lu tidur di atas," bujuk Satria sambil berusaha melepaskan tangan Kiki dari jasnya satu per satu. "Kasur lu di atas jauh lebih empuk daripada berdiri di sini. Lagian gue juga mau mandi, lengket banget ini badan.""Mandi bareng!" racau Kiki ngawur sambil tersenyum lebar dan matanya merem melek.Mata Vera melotot mau keluar mendengarnya. Urat kesabarannya benar bena

  • Satria Idaman Wanita   BAB 165

    Namun, begitu kaki Satria dan Kiki melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang terang benderang, hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada angin malam langsung menyambut mereka.Di tengah ruangan yang luas itu, Vera berdiri tegak bagaikan patung dewi keadilan yang bersiap menjatuhkan hukuman mati. Wajah cantiknya terlihat sangat kaku dan dingin. Kedua tangannya bertolak pinggang, menatap lurus menembus adiknya yang sedang bergelendotan manja di lengan asistennya.Melihat pemandangan di depan matanya itu, urat di dahi Vera langsung menonjol. Napasnya memburu menahan amarah yang sudah naik sampai ke ubun ubun. Adiknya yang seharusnya belajar menjadi wanita elegan malah pulang nyaris tengah malam dalam kondisi setengah sadar, bau alkohol yang menyengat sampai ke jarak dua meter, dan menempel pada seorang pria seperti tidak punya harga diri."KIKI!" bentak Vera dengan suara melengking yang menggema ke seluruh penjuru rumah besar itu.Suaranya terdengar sangat keras dan penuh tekanan, samp

  • Satria Idaman Wanita   BAB 164

    Di dalam mobil Alphard yang melaju membelah jalanan ibu kota, rencana Satria untuk duduk tenang di kursi depan ternyata gagal total. Baru sepuluh menit perjalanan, Kiki yang tidurnya tidak tenang mulai mengigau dan menendang nendang jok. Khawatir gadis itu tidak sengaja membuka pintu mobil, Satria terpaksa pindah ke kursi belakang untuk menjaganya.Suasana di dalam mobil cukup gelap dan hening. Satria menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan di dada, matanya terus mengawasi jalanan dari balik jendela kaca.Tiba tiba, Kiki mulai mengerang pelan. Pengaruh alkohol sepertinya sedikit memudar, membuat kesadarannya kembali meski masih sangat samar. Gadis itu membuka matanya perlahan. Pandangannya yang masih buram langsung menangkap sosok berbadan besar yang duduk tepat di sebelahnya.Aroma maskulin bercampur sedikit peluh dari jas Satria langsung menyapa hidung Kiki. Senyum bodoh perlahan mengembang di wajah gadis yang sedang teler itu. Dia menyadari kalau pria pujaannya benar benar a

  • Satria Idaman Wanita   BAB 163

    Keheningan di dalam kelab malam itu masih belum pecah. Ratusan pasang mata hanya bisa menatap ngeri ke arah tiga pemuda kaya yang kini mengerang kesakitan di lantai. Tidak ada satu pun teman mereka yang berani mendekat untuk menolong. Para petugas keamanan kelab yang biasanya garang juga cuma bisa berdiri kaku di tempat mereka masing masing.Satria menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya yang tajam memastikan tidak ada lagi ancaman yang mengintai di antara kerumunan tamu."Gak ada yang mau maju lagi kan?" tanya Satria dengan suara lantang dan santai, memecah keheningan yang mencekam itu.Tidak ada jawaban. Semua orang memilih bungkam. Bahkan DJ yang berdiri di atas panggung pun ikut menelan ludah ketakutan."Oke, terima kasih buat waktunya. Mari semuanya, silakan dilanjut lagi acara minumnya," ucap Satria sambil mengangguk sopan, seolah olah dia baru saja selesai memberikan presentasi kerja di kantor, bukan selesai meremukkan tulang orang.Tanpa membuang waktu lagi, S

  • Satria Idaman Wanita   BAB 162

    Tiga pria yang masih berdiri itu menelan ludah dengan susah payah. Melihat teman mereka hancur bersama meja VIP di depan mata seharusnya sudah cukup menjadi peringatan keras. Tapi sayang, akal sehat mereka sudah tumpul karena alkohol dan rasa malu yang luar biasa besar karena ditonton oleh ratusan pasang mata di dalam kelab malam tersebut.Mereka saling melempar pandangan singkat, lalu mengangguk secara bersamaan. Gengsi mengalahkan rasa takut. Mereka sepakat untuk mengeroyok Satria secara bersama sama."Maju! Hajar dia bareng bareng! Dia cuma sendirian!" teriak pria berbadan kurus yang tadi memecahkan botol.Ketiga pemuda itu langsung berlari menerjang Satria dari arah depan, kiri, dan kanan secara serempak. Tangan mereka mengepal bersiap memukul, mencari celah dari segala arah.Melihat serangan keroyokan itu, Satria sama sekali tidak mundur. Tapi sudut matanya menangkap sesuatu yang lebih gawat. Kiki yang tadi disuruh bersandar di pilar malah berdiri sempoyongan dan nyaris jatuh ke

  • Satria Idaman Wanita   BAB 12

    Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 14

    "Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 11

    Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 10

    Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status