Share

Bab 5

Author: Dwi Athafariz
last update Last Updated: 2025-11-18 10:32:34

Malam hari, kediaman sebesar dan semegah ini namun bisa bisanya begitu sunyi. Bahkan lampu yang menyala saja sudah remang remang.

Lea berjalan mencari dimana Ardian, sejak kepulangannya mereka tadi bahkan dia tak melihat Ardian sama sekali.

Sampai dia menemukan kepulan asap dari arah balkon kamarnya.

Benar saja rupanya Ardian sedang bersandar di pagar balkon sembari menyesap sebatang rokok. Lea mendekat sembari mengibas asap rokok itu dengan tangannya. Ardian mengetahui kedatangan Lea, hanya saja dia tidak berkutik sedikitpun.

"Ngapain disini? Nggak dingin?" Lea membuka percakapan.

"Ada apa katakan!" Jawab Ardian ketus.

Lea merasa jika Ardian memiliki kepribadian yang unik, terkadang bisa cukup baik. Namun tak jarang sangat dingin seperti saat ini.

"Aku boleh kerja kan besok?"

"Itu urusanmu" Santai Ardian menyesap kembali rokok di tangannya. Meniupkan asap ke atas sembari mendongak.

Gleeekk... Lea menelan ludahnya melihat jakun Ardian yang sangat menggoda, naik turun seiring gerakan menelan air liur Ardian. Apalagi leher putih dan jenjang Ardian yang di padukan dengan rahang tegas dan hidung mancung. Siapa wanita tidak tergoda dengan pesona setampan itu?

"Tutup mulutmu. Siapkan satu juta dollar jika ingin aku puaskan lagi" Ujar Ardian langsung membuyarkan lamunan Lea.

"Si... Siapa yang berfikir itu?" Lea menyangkal, padahal dia sudah terbayang kembali bagaimana tampannya Ardian saat berada di atas tubuhnya, dengan perut yang sixpack dan pinggang ramping.

"Mata dan mulutmu sudah menjelaskan" Ardian membuang putung rokok itu meski masih cukup panjang, menginjaknya dengan sandal rumahan yang ia pakai.

Lea langsung menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala, memang susah jika memiliki wajah ekpresif yang tidak bisa di kondisikan.

Ardian berlalu, memasuki kamarnya dan melepas kemeja yang ia pakai, membuangnya asal di lantai.

Lea menghela nafas, kelakuan pria kaya memang beda, batin Lea. Dia memungut kemeja Ardian dan memasukkan dalam kranjang kotor.

Ardian berganti dengan pakaian tidur dan mengambil satu bantal, lantas ia membawanya ke sofa.

"Kenapa tidak tidur di ranjang?" Tanya Lea heran.

"Apa kau sanggup membayar satu juta dollar lagi? Kalo sanggup tidak masalah. Kamu bisa tanda tangan surat kontrak hutang denganku"

'Pria sialan! Maksud gue perhatian malah maksudnya mesum. Terserah deh lo tidur di sofa kek, di kamar mandi kek, di lorong juga terserah' batin Lea begitu kesal sekali.

"Tidurlah di sofa" Lea menaiki ranjang dan masuk dalam selimut, menarik kembali ucapannya.

Ardian melipat tangannya di dada, dan mulai merebahkan tubuh jakungnya di sofa dengan begitu tenang.

Tok tok tok... Suara ketukan pintu dari luar kamar.

"Siapa?" Heran Lea hendak beranjak.

"Aku aja" Ardian sudah menduga siapa yang mencarinya tengah malam demikian.

Ardian membuka pintu, benar saja kini Tamara yang saat ini menjadi ibu tirinya sedang berdiri di ambang pintu membawa segelas susu.

"Ardian, aku bawain kamu susu" Senyum Tamara.

"Bawa kembali. Selanjutnya tidak perlu membawakan apapun

Namun Tamara mencekal lengan Ardian, kepalanya condong ke dalam untuk mengecek apa dugaanya benar. Melihat ada bantal di sofa yang membuat Tamara menyunggingkan senyum.

"Sampai kapan kamu mau pura pura? Aku masih disini Ardian, yakin kamu nggak mau susu ini? Atau mau susu yang lain?" Goda Tamara sedikit membuka pakaian tidurnya menunjukkan dua benjolan kembar.

Ardian langsung memalingkan wajahnya, jika dulu dia sempat tergoda bahkan ingin sekali memakan habis dua benjolan itu. Namun saat ini Ardian merasa benar benar jijik.

"Kenakan kembali bajumu dengan benar, tubuhmu sudah penuh dengan aroma khas sugar daddy" Sindir Ardian.

"Ardian.."

Braaak.. Ardian menutup pintu dengan kencang membuat Lea terjingkat.

"Buset. Galak banget!" Gumam Lea mengusap dadanya.

"Jangan banyak tanya, cepat tidur" Tegas Ardian kala melihat Lea hendak membuka mulut, sudah jelas sekali dia hendak kepo.

~~**~~

Pagi hari..

Ardian memegang pinggangnya sembari berjalan dengan pelan. rasanya tubuhnya seperti usai menangkap maling.

"Siaal.. Kenapa gue rasanya di jajah di rumah sendiri, dia malah tidur nyenyak" Kesalnya pada Lea yang masih tidur dengan pulas.

Dia memilih untuk segera turun ke dapur, sejak kemarin bahkan dia melupakan makan. Belum ada satupun makanan yang masuk di lambungnya, justru semalam dia merokok. Perutnya kini sudah keroncongan.

"Kamu kenapa?" Tegur pak Gama melihat anaknya seperti sakit pinggang.

"Sakit pinggang pah" Jawabnya singkat berlalu menuju kulkas, mengambil air minum dan menegurnya hingga tandas.

"Kalo main pelan pelan, kalo nggak sanggup bisa minum jamu dulu. Papa faham kalian pengantin baru, masih muda masa kalah sama papa" Senyum pak Gama menepuk bahu anaknya.

Deeeg.. Jantung Tamara seakan melompat keluar. 'Benarkah mereka semalam melakukan?' Batinnya sambil memotong sayuran dengan kasar.

Ardian mengangguk pelan, mulutnya masih sibuk mengunyah makanan seadanya di kulkas. Barulah dia duduk di meja makan dengan camilan di tangannya. "Pagi pagi jangan makan camilan, bisa makan buah dulu" Perhatian Tamara membawakan buah untuk Ardian. "Dimana Lea? Bukannya dia seharusnya urusin kamu" Sindir Tamara bermaksud menjelekan dan membandingkan Lea dengannya.

"Masih tidur" Jawab Ardian singkat bahkan tak menoleh ke arah Tamara, apalagi mengambil buah yang di siapkan Tamara.

"Seharusnya dia bangun pagi, urusin kamu" Tutur Tamara sok bijak.

"Biarkan sayang, Lea mungkin lelah mengimbangi Ardian" Sela pak Gama mengusap tangan Tamara.

"Aku kembali dulu. Jangan ganggu Lea kalo papa pengen cepet punya cucu" Ardian muak sekali melihat pemandangan di depannya.

'Nggak mungkin, aku yakin kamu masih suka aku. Tenang aja Ardian, aku bakal ambil kamu kembali, kamu akan bertekuk lutut di hadapanku kelak' batin Tamara menyusun rencana.

"Sayang, gimana kalo kita... " Pak Gama membisikkan di telinga Tamara.

'Sial aki aki ini. Coba aja lo nggak banyak duit, ogah banget sama aki aki bau tanah' batin Tamara hanya berpura-pura memasang wajah suka. Padahal dalam pandangannya dia membayangkan wajah Ardian yang sedang mencumbunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Juta Semalam   Bab 20

    Bahkan saat di rumah pun Lea masih setia mendiamkan Ardian. Kemana Ardian pergi dia akan selalu menghindar menjauh."Lea!" Ardian mencekal tangan Lea kala Lea hendak pergi kembali. "Aku mau pup, apa kamu mau menahannya lalu membuangnya jika sampai jatuh disini?" Ketus Lea. Seketika Ardian melepas tangan Lea. "Cepatlah"Lea berjalan dengan kesal, dia sebenarnya tidak hendak pup, namun bibirnya sudah keluar kata demikian dengan mudahnya. Sehingga dia tetap harus berpura-pura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tak berselang lama Lea keluar, namun baru saja dia membuka pintu sudah di kejutkan dengan Ardian yang berdiri melipat tangannya di dada tepat di depan pintu kamar mandi. "Sebelas menit empat puluh detik. Apa yang kamu keluarkan sampai selama ini?" Tegur Ardian sambil melihat jam tangannya. "Kurang kerjaan sampai hitungin orang pup?" Sindir Lea masih dengan ketus. Tanpa aba-aba, Ardian langsung mengangkat tubuh Lea dalam gendongannya layaknya anak kecil. Membawanya ke atas mej

  • Satu Juta Semalam   Bab 19

    Di perusahan Gama Buana. Kini Lea sedang harap-harap cemas, berkali-kali dia mengangkat tubuhnya, menunggu panggilan dari HRD. "Lo kenapa si Le? Pantat lo bisulan?" Heran Gisel karna melihat tingkah sahabatnya. "Gue lagi siap-siap angkat kaki Sel" "Iya iya.. Nyonya bos mau ongkang-ongkang kaki di rumah, duit ngalir" "Enak aja, gue kemarin udah bikin Ardian marah" Bisik Lea. "Lo cari masalah si Le, nggak tahu apa dia itu donatur utama lo, sumber duit Le" "Iya gue tahu, tapi gimana lagi." "Emang lo apain?" "Gue mau jitak dia" Lea berbisik kembali, satu kata saja sudah membuat Gisel menganga. "Trus gue suruh dia bikin nasi goreng cumi malam-malam, dia aja belum ganti baju. Tapi.. Gue malah tidur" Imbuh Lea. "Parah lo Le.. Parah" Gisel menggelengkan kepalanya. "Mana dia bilang kalo di kantor gue itu tetep karyawannya" "Udah, end lo. Buruan beresin barang-barang lo" Gisel justru membantu Lea mengemasi. "Gisel.. Kenapa lo malah bikin gue takut" Belum selesai apa yang me

  • Satu Juta Semalam   Bab 18

    "Sial..!" Kesal Tamara kala mendapat penolakan terang-terangan dari Ardian. Apalagi kala dia melewati kamar mereka terdengar suara lenguhan Lea yang membuat dirinya semakin terbakar. "Aku saja belum pernah merasakan tubuh Ardian, tapi kenapa justru gadis desa dan udik itu yang rasain" "Aku harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" Ia mulai merencanakan kembali untuk membuat Lea berpisah dengan Ardian. "Jika Ardian peduli sama kamu karna anak itu, maka aku akan buat anak itu lenyap. Kita lihat, apa Ardian masih mau dengan wanita yang membunuh anaknya sendiri?" Tamara kembali melengkungkan senyum kejahatan. Tamara mulai mengupas sebuah nanas muda, tanpa mencucinya bahkan langsung membuatnya menjadi jus. "Kita lihat Lea. Apa kamu bisa bertahan! Hanya aku yang boleh jadi ibu anak-anak Ardian. Kamu sama sekali tidak pantas!" Tamara mengangkat gelas itu tinggi tinggi. Dengan keterampilannya memasak, Tamara berhasil membuat jus nanas muda itu menjadi minuman yang sam

  • Satu Juta Semalam   Bab 17

    Uhuuk uhuukk... Suara Ardian yang terbatuk. "Kamu sakit?" Cemas Lea memandang pria tampan di depannya kini. Wajahnya benar-benar lelah dengan bibir pucat. "Pasti karna semalam kamu hujan-hujanan" Imbuh Lea memeriksa suhu tubuh Ardian dengan menempelkan telapak tangan di dahi Ardian. "Boleh aku tidur sebentar?" "Tidurlah" Lea mengangguk. "Tidak jadi" Ardian menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Bukannya kamu nggak enak badan?" "Pasti kamu nanti kabur lagi" Sindir Ardian. Lea membelalakkan matanya, tak menyangka dengan sisi unik Ardian. "Tergantung" "Ya udah, nggak usah tidur. Uhuuk uhuuuk" Kembali Ardian terbatuk. "Istirahat lah. Aku akan menjagamu disini" "Kamu... Anggap aku kayak tahanan!" Kesal Lea. Ardian hanya menghela nafas berat, dia sama sekali tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Lea. "Ngapain pake huufftt gitu? Kesel sama aku?" Cecar Lea. "Aku cuma nafas" "Nggak, jelas-jelas kamu tadi kesel sama aku" Ardian menggendong kembali Lea tanpa aba-aba, mele

  • Satu Juta Semalam   Bab 16

    Setelah di rasa lebih tenang, kini Lea kembali bisa duduk membuka ponselnya yang sejak semalam dia matikan. Banyak sekali panggilan dan chat dari Ardian. "Dia hanya khawatir sama anaknya, bukan sama gue" Gumam Lea kesal. "Sama aja Lea, dia juga khawatir sama elo sama bayi elo" Ujar Gisel menjadi penengah. "Dia itu mau ambil anak gue Sel" "Nggak akan bisa Lea, gue disini sama elo. Gue bisa call om gue yang pengacara, biar bantu hak asuh anak lo nanti kalo lahir" "Gisel.. Lo baik banget sama gue" Lea kembali memeluk sahabatnya itu. "Mendingan kalian selesain dulu deh, kasihan dia di depan semalaman" Lea mengangguk, perlahan dia berjalan keluar, memastikan Ardian masih ada di depan kontrakan Gisel. Benar saja Ardian berdiri dengan bersandar di mobil, menentang sinar matahari yang sudah mulai terik. Pandangannya masih fokus ke arah kontrakan Gisel. "Mas! Sejak semalam saya perhatiin disini? Mau ngintipin anak kost saya? Mau buat jahat?" Tuding ibu kost memarahi Ardian. "

  • Satu Juta Semalam   Bab 15

    "Kenapa dia keras kepala sekali?" Ardian benar-benar tidak bisa fokus untuk bekerja. Semua fikirannya terarah pada Lea dan calon anaknya. "Pak.. " Kevin datang dengan nafas tersengal-sengal. "Apa kau tidak bisa ketuk pintu!" "Maaf pak, tapi ini urgent" "Katakan! Jangan membuatku mengirimmu ke Afrika" "Bu Lea tidak ada di rumah sakit" "APA!" Ardian langsung saja berdiri. "Sial" Umpatnya menyambar ponsel juga jasnya dengan singkat. Ia berjalan cepat segera mencari keberadaan Lea dimana. Suasana malam yang gelap di temani dengan hujan yang mengguyur kota membuat Ardian semakin kelabakan. Fikirannya benar-benar kacau seakan di obrak-abrik oleh Lea. "Lea.. Kamu dimana?" Pandangan Ardian mengedar ke semua arah, samar-samar dalam guyuran hujan ia berharap melihat Lea. "Lea... " Gumamnya kembali memukul setir kemudi dengan kesal. Di saat inilah dia baru sadar jika dia tidak mengenal dekat Lea. Bahkan tempat-tempat yang biasa di datangi Lea saja dia tidak tahu, yang dia tahu hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status