Share

Bab 6

Author: Dwi Athafariz
last update Last Updated: 2025-11-18 10:32:57

Pov Ardian.

Di sela sela kesibukannya dia selalu memprioritaskan sang kekasih yang amat dia cintai, siapa lagi jika bukan Tamara.

Ardian menaikkan tangannya sebagai tanda jeda sementara saat rapat, kenapa lagi jika bukan karna Tamara mengubunginya.

"Kemana aja? Kok nggak angkat telpon?" Sela Tamara manja di ujung panggilan.

"Aku masih ada rapat," Jelas Ardian berharap kekasihnya mengerti.

"Aku lagi di mall, mau bayar tas tapi kamu malah nggak angkat. Aku malu ini"

"Ya sudah, aku transfer sekarang'

"Beneran ya, aku tungguin" Senang Tamara yang saat ini sedang di kasir salah satu store tas brand.

"Iya" Ardian mematikan sambungan telpon, segera mengirim uang pada sang kekasih. Baginya uang bukan suatu masalah asalkan Tamara bisa mencintainya.

Namun sayangnya Tamara yang rakus dan merasa kurang dengan Ardian selalu membandingkan dengan pria lain.

"Lihat tuh, sugar daddy. Kartunya aja black card, kalo lo sama dia pasti terjamin" Bisik sang teman menunjuk seorang pria paruh baya dengan penampilan yang cukup rapi.

"Suami orang bukan?"

"Bukan, dia Pak Gama duda. Pemilik perusahaan Gama.

"Perusahaan Gama? Bukannya itu tempat kerja cowok gue?".

"Cowok lo cuma direktur, dia pemiliknya" Sang teman Tamara mulai memprovokasi Tamara.

"Oke gue coba"

Tamara mulai melenggang anggun, menggeolkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Menggoda pak Gama dengan pesonanya.

Sampai suatu saat Ardian yang sudah lama menetap di luar negeri memutuskan untuk pulang, demi memberikan kejutan sang kekasih. Dia pulang tanpa memberitahu Tamara, bahkan dia sudah menyiapkan segala surprise untuk melamar Tamara.

Dia menggenggam cincin di tangannya dengan senyum mengembang, mendatangi Tamara di apartemen nya.

"Ardian?" Syok Tamara langsung membereskan undangan yang berserakan.

Sejenak Ardian tersenyum, berfikir jika Tamara sudah menyiapkan undangan pernikahan mereka bedua.

"Aku sudah pulang" Ujar Ardian mendekat, berharap mendapat sambutan hangat dari Tamara. Sayangnya Tamara justru menghindar.

"Maaf, kamu masih ngambek? Aku sudah pulang, dan kita.. Bisa segera menikah, lihatlah, apa kamu suka?" Ardian menunjukkan sepasang cincin di dalam kotak. "Kamu udah buat undangan kita?" Imbuh Ardian hendak mengambil undangan Tamara namun di cegah Tamara.

"Bukan, ini undangan pernikahan ku dengan calon suamiku" Ujar Tamara.

"Iya, aku kan calon suamimu. Tapi boleh aku lihat kan?" Ardian masih berfikir positif.

Namun matanya tak sengaja melihat nama Gama di dalam undangan itu. Jantungnya bak di tusuk dengan anak panah yang beracun.

"Gama? Apa maksudnya?" Pekik Ardian dengan wajah merah padam. "katakan padaku. Siapa Gama?" Bentak Ardian sudah hilang kendali.

"Dia calon suamiku, dia bisa memberikanku hidup lebih baik. Kita sudahi hubungan kita"

"Tamara! Aku beri kamu satu kesempatan, tarik kembali ucapanmu"

"Tidak! Aku tidak akan menarik ucapanku"

"Baiklah" Ardian berbalik, meninggalkan sang kekasih yang bahkan sudah ia gadang gadang.

Tentu saja kepulangan nya bukan hanya sekedar tanpa tujuan, dia memilih mengelola bisnis di dalam negeri saja. Menjalani hidup di negeri sendiri juga menghadiri pernikahan sang papa.

Tepat di hari pernikahan sang papa dia barulah menyadari jika ibu tirinya adalah sang kekasih.

Bukan hanya bak di rajam panah, namun sudah seperti di sembelih hidup hidup. Benar benar Tamara sang kekasih.

"Ardian, kenalkan ini mama baru kamu. Meski usianya lebih sedikit di banding kamu, tapi papa harap kamu bisa hormat sama dia" Senyum pak Gama.

"Selamat MAMA" Jawab Ardian ketus.

Tamara benar benar tak menyangka, pria yang di nikahinya adalah calon ayah mertuanya. Dengan artian sebenernya Ardian adalah pewaris satu satunya.

"Te.. Terima kasih" Jawab Tamara membalas jabat tangan Ardian.

"Mana pacar kamu? Bukannya kamu bilang mau kenalin ke papa?"

"Dia sedang sibuk pa, mungkin lain kali"

"Kalo gitu alian bisa ngobrol dulu agar lebih akrab, papa temui tamu dulu" Pamit pak Gama.

Tamara mendekati Ardian dengan wajah menyesal.

"Ardian, aku bisa jelasin semuanya"

"Cukup, bukankah kemarin aku sudah memberimu kesempatan? Aku tak masalah jika kamu memilih pria lain. Tapi kenapa? Kenapa harus papaku sendiri?" Tak terima Ardian.

"Aku beneran nggak tahu, pak Gama itu papa kamu. Salah kamu karna tidak pernah mengenalkanku"

"Cukup Tamara, mohon jaga jarak" Ardian melangkah mundur kala Tamara hendak menyentuhnya.

"Kita bisa menjalin hubungan di belakang papamu, aku.. Aku masih sayang sama kamu"

"Gila! Bener bener wanita Gila" Umpat Ardian semakin muak. Barulah dia tahu sisi asli wanita yang selama ini ia banggakan.

Ardian pergi begitu saja, membuang cincin berlapis berlian yang dia pesan khusus dengan ukiran nama mereka berdua di tong sampah. Sungguh beruntung sekali siapa saja nanti yang akan menemukan cincin itu.

Sampai Ardian tiba di sebuah club malam, tujuannya memang tak lain ingin menghilangkan Tamara dalam fikirannya.

Dengan menyesap benda berisi nikotin dan mengeluarkan asap di temani segelas minuman beralkohol. Dia terhanyut dalam dentuman irama musik bar.

"Berapa harga mu tuan?" Suara gadis cantik dan mungil mendekatinya.

"Satu juta" Jawab Ardian menjeda ucapan. "Dollar"

"Oke aku bayar kamu untuk malam ini" Ujar gadis itu.

'Wanita Gila darimana ini? Dia menganggap ku pria bayaran untuk menghangatkan ranjang nya?' Dalam hati Ardian merasa begitu heran. Namun melihat wajah polos gadis itu rasanya tidak tega untuk menolak, atau membayangkan gadis itu akan di puaskan pria bayaran lain yang sudah menjajakkan burungnya di semua lubang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Juta Semalam   Bab 20

    Bahkan saat di rumah pun Lea masih setia mendiamkan Ardian. Kemana Ardian pergi dia akan selalu menghindar menjauh."Lea!" Ardian mencekal tangan Lea kala Lea hendak pergi kembali. "Aku mau pup, apa kamu mau menahannya lalu membuangnya jika sampai jatuh disini?" Ketus Lea. Seketika Ardian melepas tangan Lea. "Cepatlah"Lea berjalan dengan kesal, dia sebenarnya tidak hendak pup, namun bibirnya sudah keluar kata demikian dengan mudahnya. Sehingga dia tetap harus berpura-pura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tak berselang lama Lea keluar, namun baru saja dia membuka pintu sudah di kejutkan dengan Ardian yang berdiri melipat tangannya di dada tepat di depan pintu kamar mandi. "Sebelas menit empat puluh detik. Apa yang kamu keluarkan sampai selama ini?" Tegur Ardian sambil melihat jam tangannya. "Kurang kerjaan sampai hitungin orang pup?" Sindir Lea masih dengan ketus. Tanpa aba-aba, Ardian langsung mengangkat tubuh Lea dalam gendongannya layaknya anak kecil. Membawanya ke atas mej

  • Satu Juta Semalam   Bab 19

    Di perusahan Gama Buana. Kini Lea sedang harap-harap cemas, berkali-kali dia mengangkat tubuhnya, menunggu panggilan dari HRD. "Lo kenapa si Le? Pantat lo bisulan?" Heran Gisel karna melihat tingkah sahabatnya. "Gue lagi siap-siap angkat kaki Sel" "Iya iya.. Nyonya bos mau ongkang-ongkang kaki di rumah, duit ngalir" "Enak aja, gue kemarin udah bikin Ardian marah" Bisik Lea. "Lo cari masalah si Le, nggak tahu apa dia itu donatur utama lo, sumber duit Le" "Iya gue tahu, tapi gimana lagi." "Emang lo apain?" "Gue mau jitak dia" Lea berbisik kembali, satu kata saja sudah membuat Gisel menganga. "Trus gue suruh dia bikin nasi goreng cumi malam-malam, dia aja belum ganti baju. Tapi.. Gue malah tidur" Imbuh Lea. "Parah lo Le.. Parah" Gisel menggelengkan kepalanya. "Mana dia bilang kalo di kantor gue itu tetep karyawannya" "Udah, end lo. Buruan beresin barang-barang lo" Gisel justru membantu Lea mengemasi. "Gisel.. Kenapa lo malah bikin gue takut" Belum selesai apa yang me

  • Satu Juta Semalam   Bab 18

    "Sial..!" Kesal Tamara kala mendapat penolakan terang-terangan dari Ardian. Apalagi kala dia melewati kamar mereka terdengar suara lenguhan Lea yang membuat dirinya semakin terbakar. "Aku saja belum pernah merasakan tubuh Ardian, tapi kenapa justru gadis desa dan udik itu yang rasain" "Aku harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" Ia mulai merencanakan kembali untuk membuat Lea berpisah dengan Ardian. "Jika Ardian peduli sama kamu karna anak itu, maka aku akan buat anak itu lenyap. Kita lihat, apa Ardian masih mau dengan wanita yang membunuh anaknya sendiri?" Tamara kembali melengkungkan senyum kejahatan. Tamara mulai mengupas sebuah nanas muda, tanpa mencucinya bahkan langsung membuatnya menjadi jus. "Kita lihat Lea. Apa kamu bisa bertahan! Hanya aku yang boleh jadi ibu anak-anak Ardian. Kamu sama sekali tidak pantas!" Tamara mengangkat gelas itu tinggi tinggi. Dengan keterampilannya memasak, Tamara berhasil membuat jus nanas muda itu menjadi minuman yang sam

  • Satu Juta Semalam   Bab 17

    Uhuuk uhuukk... Suara Ardian yang terbatuk. "Kamu sakit?" Cemas Lea memandang pria tampan di depannya kini. Wajahnya benar-benar lelah dengan bibir pucat. "Pasti karna semalam kamu hujan-hujanan" Imbuh Lea memeriksa suhu tubuh Ardian dengan menempelkan telapak tangan di dahi Ardian. "Boleh aku tidur sebentar?" "Tidurlah" Lea mengangguk. "Tidak jadi" Ardian menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Bukannya kamu nggak enak badan?" "Pasti kamu nanti kabur lagi" Sindir Ardian. Lea membelalakkan matanya, tak menyangka dengan sisi unik Ardian. "Tergantung" "Ya udah, nggak usah tidur. Uhuuk uhuuuk" Kembali Ardian terbatuk. "Istirahat lah. Aku akan menjagamu disini" "Kamu... Anggap aku kayak tahanan!" Kesal Lea. Ardian hanya menghela nafas berat, dia sama sekali tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Lea. "Ngapain pake huufftt gitu? Kesel sama aku?" Cecar Lea. "Aku cuma nafas" "Nggak, jelas-jelas kamu tadi kesel sama aku" Ardian menggendong kembali Lea tanpa aba-aba, mele

  • Satu Juta Semalam   Bab 16

    Setelah di rasa lebih tenang, kini Lea kembali bisa duduk membuka ponselnya yang sejak semalam dia matikan. Banyak sekali panggilan dan chat dari Ardian. "Dia hanya khawatir sama anaknya, bukan sama gue" Gumam Lea kesal. "Sama aja Lea, dia juga khawatir sama elo sama bayi elo" Ujar Gisel menjadi penengah. "Dia itu mau ambil anak gue Sel" "Nggak akan bisa Lea, gue disini sama elo. Gue bisa call om gue yang pengacara, biar bantu hak asuh anak lo nanti kalo lahir" "Gisel.. Lo baik banget sama gue" Lea kembali memeluk sahabatnya itu. "Mendingan kalian selesain dulu deh, kasihan dia di depan semalaman" Lea mengangguk, perlahan dia berjalan keluar, memastikan Ardian masih ada di depan kontrakan Gisel. Benar saja Ardian berdiri dengan bersandar di mobil, menentang sinar matahari yang sudah mulai terik. Pandangannya masih fokus ke arah kontrakan Gisel. "Mas! Sejak semalam saya perhatiin disini? Mau ngintipin anak kost saya? Mau buat jahat?" Tuding ibu kost memarahi Ardian. "

  • Satu Juta Semalam   Bab 15

    "Kenapa dia keras kepala sekali?" Ardian benar-benar tidak bisa fokus untuk bekerja. Semua fikirannya terarah pada Lea dan calon anaknya. "Pak.. " Kevin datang dengan nafas tersengal-sengal. "Apa kau tidak bisa ketuk pintu!" "Maaf pak, tapi ini urgent" "Katakan! Jangan membuatku mengirimmu ke Afrika" "Bu Lea tidak ada di rumah sakit" "APA!" Ardian langsung saja berdiri. "Sial" Umpatnya menyambar ponsel juga jasnya dengan singkat. Ia berjalan cepat segera mencari keberadaan Lea dimana. Suasana malam yang gelap di temani dengan hujan yang mengguyur kota membuat Ardian semakin kelabakan. Fikirannya benar-benar kacau seakan di obrak-abrik oleh Lea. "Lea.. Kamu dimana?" Pandangan Ardian mengedar ke semua arah, samar-samar dalam guyuran hujan ia berharap melihat Lea. "Lea... " Gumamnya kembali memukul setir kemudi dengan kesal. Di saat inilah dia baru sadar jika dia tidak mengenal dekat Lea. Bahkan tempat-tempat yang biasa di datangi Lea saja dia tidak tahu, yang dia tahu hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status