Home / Romansa / Satu Kali Lagi, Boss! / 06: Sentuhan Pertama

Share

06: Sentuhan Pertama

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-08-03 11:21:44

"Aku ingin kamu memberikan pelayanan pertamamu hari ini. Anggap saja... perkenalan singkat sebelum kamu terbiasa," jawabnya santai.

Namun aku tetap bergeming di tempatku, duduk kaku di kursi seberang mejanya.

"Ke sinilah, mendekat," perintahnya lagi.

Aku berdiri dengan ragu-ragu, melangkah pelan memutari meja. Dinginnya pendingin udara di ruangan ini rasanya makin menusuk hingga ke tulang, membuat persendianku melemas. Padahal aku hanya berjalan mendekat, belum melakukan apa pun.

"Kamu gugup?" tanya Pak Jeremy melihat langkahku yang tertahan.

Aku mengangguk jujur.

"Duduk di sini," ucapnya tegas, lalu menepuk salah satu paha kekalnya.

Dadaku berdesir hebat. 

‘Tuhan... apakah ini benar? Masuk akalkah aku harus duduk di pangkuan bosku sendiri?’

"Gemetar?" tanya Pak Jeremy.

Suara beratnya terdengar begitu dekat di telingaku saat tangan besarnya mulai bermain di atas pahaku. Ketika telapak tangannya merayap makin naik melintasi kain rok kerja yang kukenakan, aku mendadak merasa seperti lupa caranya bernapas. Paru-paruku mendadak terkunci rapat.

"Bernapas, Siena..." bisiknya tepat di samping telingaku.

Hembusan napas hangatnya membuat bulu kudukku berdiri. Merinding merayapi seluruh tubuhku. Ada dorongan kuat dalam diriku untuk segera bangkit dari pangkuannya dan berlari sekencang mungkin keluar dari ruangan ini. Namun, tubuhku rasanya seperti tertempel lem pada tubuh tegapnya. Aku tidak bisa bergerak sama sekali, terhipnotis oleh dominasinya.

"Apa yang kamu rasakan?" tanyanya lagi.

Mataku membulat lebar. Tepat di bawah pinggulku yang menempel padanya, aku merasakan sesuatu yang keras dan panas bergerak, bangkit dan menegang di sana.

"Mmm... Pak, itu..." cicitku terbata-bata.

Ya, meskipun aku tidak pernah berpacaran dan masih perawan, aku tidak selugu itu sampai tidak paham benda apa yang sedang menekan bagian bawah tubuhku saat ini.

"Perkenalan dulu," bisik Pak Jeremy pelan, mengikis sisa jarak di antara wajah kami.

"Ap-apa... yang harus saya lakukan?" tanyaku dengan napas yang mulai tersendat.

"Ya, kamu harus melayaniku... tapi tidak sekarang. Seperti yang kubilang tadi, kita perkenalan dulu," bisiknya lagi, menyuarakan perintah yang terdengar mutlak.

Aku mengangguk pelan, pasrah pada keadaan. "Baik, saya mengerti. Sekarang... saya diam saja?"

"Hm... diam saja, dan biasakan merasakan diriku..."

Jawabannya disusul oleh pergerakan tangannya. Kali ini, jarinya tidak lagi membelai bagian luar rokku, melainkan menyusup perlahan ke dalam, menyibak kain dan merayap makin naik menyentuh kulit telanjang pahaku.

Aku menahan napas seketika. Seluruh otot perutku mengencang hebat, refleks menahan sensasi asing yang menyengat sarafku.

Tangan kiri Pak Jeremy yang berada di pinggangku menekan sedikit tubuhku. "Jangan ditahan..." bisiknya lembut namun penuh tuntutan.

Aku refleks menoleh menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Aroma napasnya terasa sangat wangi dan segar, berpadu sempurna dengan wangi parfum mewahnya yang maskulin. Ya Tuhan... kenapa saat menatap bibir tebal bergaris tegas itu, tiba-tiba timbul dorongan asing di dalam dadaku untuk menciumnya? Apakah reaksi ini normal? Apakah ini yang dinamakan sex drive?

Kesadaran seketika menghantam kepalaku dengan keras. Ibuku sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit menantikan keajaiban, dan di sini aku justru memikirkan hal seperti ini di pangkuan atasanku? Oh Tuhan... aku benar-benar merasa seperti anak yang terkutuk.

"Aah... Pak..."

Tanpa sengaja, jemariku mencengkeram erat kerah jas mahal Pak Jeremy saat ujung jari tangannya yang berada di balik dalamanku menyentuh area paling sensitif di antara kedua paha. Hanya sentuhan tipis, namun efek sengatan listriknya benar-benar luar biasa. Aku merasakan bagian bawahku mendadak berdenyut hebat, seolah menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar belaian.

"Cium aku," bisik Pak Jeremy. Nada suaranya berubah menyuruh.

Aku menatap bibir Pak Jeremy yang berwarna merah muda alami itu sedikit lebih lama. Dengan jantung yang bertaut liar, aku akhirnya memajukan wajah dan menyentuh bibirnya dengan bibirku. Hanya sebuah tempelan singkat yang kaku.

Pak Jeremy menarik wajahnya sedikit, memandagku dengan alis terangkat. "Hanya begitu?"

"Harus... bagaimana?" tanyaku polos, napasku berkejaran.

Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya sekaligus memikat. "Berikan lidahmu..."

Sensasi mulas mendadak melilit perut bawahku.

Ya Tuhan, reaksi apa lagi ini? Namun, di bawah pengaruh tatapan mata elangnya, aku hanya bisa menurut. Awalnya aku ragu-ragu, tetapi aku tetap menjulurkan sedikit ujung lidahku.

Sebelum aku sempat menariknya kembali, Pak Jeremy langsung menyergapnya. Saat dia akhirnya melepaskan pagutannya, tubuhku terkulai lemas tanpa tenaga di pelukannya.

Pak Jeremy tersenyum puas melihat kondisiku yang berantakan. "Setelah ini kamu boleh pergi ke rumah sakit. Sopir pribadi saya yang akan mengantarmu... Tapi sebelum pergi, cium aku seperti yang tadi baru saja kuajarkan."

Tanganku gemetar hebat. Mataku mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang bercampur aduk.

Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukannya dengan benar? Bagaimana kalau aku gagal memuaskannya dan dia mendadak membatalkan perjanjian kerja sama kami? Uang pengobatan Ibu ada di tangannya.

Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk Pak Jeremy dengan kedua tangan yang gemetar. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Boss!   117: Giliran Dia Cemburu!

    “Bu Valerie, mohon maaf…meskipun Anda Investor di perusahaan ini, Anda tidak bisa berlaku kasar, khususnya kepada pimpinan kami” ucap Rama mencekal pergelangan tangan Bu Valerie.“Di sini kami ada kamera CCTV jadi, saya mohon kerjasamanya” tambah Rama tegas.Aku bernapas legah melihat tatapan Bu Valerie yang meredah.“Kalau ibu ada yang ingin dibicarakan dengan saya, mari…kita bicara!” ucapku akhirnya.Bu Valerie diam sebentar, kemudian bicara “Kalau kamu punya harga diri, tinggalkan Jeremy!” ucapnya mengancam, kemudian ia memiringkan kepalanya berbisik di telingaku “Gugurkan bayi itu!”Mataku membulat, tanganku mengepal keras. Rumor beredar sangat cepat.“Sepertinya Bu Valerie sangat tertarik dengan kehidupan pribadi saya ketimbang proyeknya sendiri. Kalau tidak ada yang penting, saya pamit dulu. Rama..tolong antar Bu Valerie.Aku berjalan meninggalkan Bu Valerie dengan tenang.Hari itu berjalan sangat lambat. Aku yang tadinya ingin singgah ke apotek dan membeli test pack pun urung.

  • Satu Kali Lagi, Boss!   116: Hamil

    Tidak ada jawaban dari pertanyaanku, karen Pak Jeremy langsung menutup panggilan. Artinya, aku memang harus ke rumah sakit sesuai perintahnya.“Maaf, apa ada masalah besar?” tanya Rama yang tadinya kupikir konsentrasi mengemudi, ternyata dia mencuri dengar. Aku menarik napas panjang.“Nggak ada, kok! Kembali ke kantor ya..aku ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan. Nanti, bantu aku untuk menelpon vendor untuk kepastian dan juga negosiasi harga” perintahku.Rama mengangguk, aku lihat dari kaca spion dia tersenyum.Aku sandarkan kepalaku ke jendela mobil, aku tersenyum tipis. Kalau seandainya hamil ya sudah gugurkan saja, batinku. Namun, mendengar pikiranku sendiri mengatakan tentang ‘gugurkan’ hatiku terasa dicubit dan sakit! Apa bedanya aku dengan mendiam Bapak yang kejam dan menyiksa kami kalau aku dengan sengaja membunuh anakku sendiri? Anak ini tidak berdosa, kami melakukannya juga dalam keadaan sadar. Sebagai orang dewasa seharusnya aku bisa mempertanggung jawabkan perbua

  • Satu Kali Lagi, Boss!   115: Gugurkan!

    “Kamu hamil anak putra saya? Gugurkan!”Kalimat itu langsung menampar kesadaranku, bahkan terasa lebih menyiksa dibanding rasa mual yang baru saja mengocok perutku. Aku berdiri kaku di depan wastafel, jemariku masih mencengkeram tisu basah dengan wajah pucat dan bibir yang gemetar. Bu Amanda menatapku tajam—bukan lagi sekadar curiga, tapi sudah benar-benar memvonisku bersalah. Aku mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja ia katakan.“Bu Amanda… saya tidak hamil,” suaraku keluar bergetar. “Saya hanya salah makan.”Jantungku berdetak begitu kencang. Hamil. Kata itu berputar-putar di kepala seperti lonceng peringatan. Tidak pernah ada dalam skenario hidupku. Tidak boleh terjadi. Aku bahkan belum siap memikirkan kemungkinan itu.Bu Amanda melangkah mendekat. Parfum mahalnya menusuk hidung yang masih sensitif. Ia menatap wajahku dari jarak dekat, seolah ingin membaca kebohongan di balik setiap kedipan mata.“Saya anter kamu ke dokter,” tegasnya dengan nada yang

  • Satu Kali Lagi, Boss!   114: Kamu Hamil

    “Biar saya berangkat dengan taksi, kita nggak searah” ucapku berdiri duluan. Pak Jeremy menarik lenganku saat melewatinya hingga aku jatuh ke pangkuannya.“Ada apa?” dia bertanya sembari mengunci tanganku hingga aku tidak dapat bergerak, aku berusaha meronta.“Pak..lepas…” pintaku.“Nggak! Sampai kamu mengatakan ada apa? Tiba-tiba saja ngambek! Lupa tadi malam kamu memohon-mohon di bawahku!” Pipiku menggelembung, menatap kesal Pak Jeremy.“Siapa perempuan itu?” tanyaku.Alis Pak Jeremy bertaut, tatapannya penuh tanda tanya “Perempuan? Perempuan siapa? Kamu cemburu?” “Nggak! Saya nggak punya hak cemburu!” “Oooh..tidak cemburu?”Pak Jeremy terkekeh, ia mencubit hidungku gemas. “Udah tahu cemburu begitu masih mengelak. Tidak ada perempuan lain. Hanya Monika—dan kamu!”Aku melengos “Bohong!” gumamku.Pak Jeremy mengeratkan cengkramannya hingga aku susah bergerak “Untuk apa bohong?”Aku masih menggembungkan pipiku, hm…cemburu ini nggak bisa aku sembunyikan “Terus siapa perempuan yang di

  • Satu Kali Lagi, Boss!   113: Reputasi

    “Mama, apa selama ini aku pernah membuat reputasi keluarga kita rusak?”Bu Amanda diam. Ia tidak langsung menjawab. Matanya hanya melirikku dengan tajam dari seberang meja, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku layak berada di ruangan yang sama dengannya. Aku tetap duduk tegak, tangan di pangkuan, wajah ku usahakan netral dan tenang.“Mama sebagai orang tua hanya mengingatkan,” ucap Bu Amanda akhirnya, suaranya tenang namun penuh tekanan. “Meskipun kamu sudah bukan anak kecil lagi… namanya orang tua tidak ingin anaknya salah jalan!”Pak Jeremy meletakkan serbet linen berwarna putih tulang itu di atas meja dengan gerakan yang sangat terkontrol. “Aku mengerti. Terima kasih, Mama sudah perhatian.”Bu Amanda tidak langsung menerima jawaban itu. Ia menyesap tehnya pelan, lalu menaruh cangkir dengan dentingan halus yang terdengar sangat keras.“Kamu perlu hati-hati saja. Wanita muda, cantik, dekat-dekat denganmu…ingat usia!”“Mama, kan aku sudah bilang dia ini kompeten,” sahut Pak Jere

  • Satu Kali Lagi, Boss!   112: Panik

    "Sebentar saja!"Dua kata itu diiringi dengan pelukan erat Pak Jeremy di pinggangku, menarik tubuhku kembali ke dalam dekapan hangatnya semalam. Dan ya... berawal dari dua kata itu, kesadaranku melayang kembali hingga aku terbangun saat mendengar gedoran kencang dari luar.Suara Chloe!"Papa... Papa tidak kerja? Omah minta Chloe bangunin Papa, ini sudah jam tujuh!"Aku mendadak membuka mata. Panik! Sial, aku kesiangan!Aku buru-buru mendorong dada bidang Pak Jeremy, hendak melompat keluar dari ranjang. Namun, aku langsung sadar kalau aku masih benar-benar telanjang di balik selimut tebal, langkahku langsung tertahan."Pak..." bisikku setengah panik seraya mengguncang bahu Pak Jeremy. "Pak Jeremy, bangun!"Pak Jeremy membuka matanya perlahan. Bukannya terkejut atau melompat bangun, pria itu justru tersenyum tipis dan menarik napas dalam-dalam, mengulet santai."Ssst... Jangan panik," bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur. "Aku tidak pernah tidur senyenyak ini selama di rumah."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status