Masuk"Aku ingin kamu memberikan pelayanan pertamamu hari ini. Anggap saja... perkenalan singkat sebelum kamu terbiasa," jawabnya santai.
Namun aku tetap bergeming di tempatku, duduk kaku di kursi seberang mejanya.
"Ke sinilah, mendekat," perintahnya lagi.
Aku berdiri dengan ragu-ragu, melangkah pelan memutari meja. Dinginnya pendingin udara di ruangan ini rasanya makin menusuk hingga ke tulang, membuat persendianku melemas. Padahal aku hanya berjalan mendekat, belum melakukan apa pun.
"Kamu gugup?" tanya Pak Jeremy melihat langkahku yang tertahan.
Aku mengangguk jujur.
"Duduk di sini," ucapnya tegas, lalu menepuk salah satu paha kekalnya.
Dadaku berdesir hebat.
‘Tuhan... apakah ini benar? Masuk akalkah aku harus duduk di pangkuan bosku sendiri?’
"Gemetar?" tanya Pak Jeremy.
Suara beratnya terdengar begitu dekat di telingaku saat tangan besarnya mulai bermain di atas pahaku. Ketika telapak tangannya merayap makin naik melintasi kain rok kerja yang kukenakan, aku mendadak merasa seperti lupa caranya bernapas. Paru-paruku mendadak terkunci rapat.
"Bernapas, Siena..." bisiknya tepat di samping telingaku.
Hembusan napas hangatnya membuat bulu kudukku berdiri. Merinding merayapi seluruh tubuhku. Ada dorongan kuat dalam diriku untuk segera bangkit dari pangkuannya dan berlari sekencang mungkin keluar dari ruangan ini. Namun, tubuhku rasanya seperti tertempel lem pada tubuh tegapnya. Aku tidak bisa bergerak sama sekali, terhipnotis oleh dominasinya.
"Apa yang kamu rasakan?" tanyanya lagi.
Mataku membulat lebar. Tepat di bawah pinggulku yang menempel padanya, aku merasakan sesuatu yang keras dan panas bergerak, bangkit dan menegang di sana.
"Mmm... Pak, itu..." cicitku terbata-bata.
Ya, meskipun aku tidak pernah berpacaran dan masih perawan, aku tidak selugu itu sampai tidak paham benda apa yang sedang menekan bagian bawah tubuhku saat ini.
"Perkenalan dulu," bisik Pak Jeremy pelan, mengikis sisa jarak di antara wajah kami.
"Ap-apa... yang harus saya lakukan?" tanyaku dengan napas yang mulai tersendat.
"Ya, kamu harus melayaniku... tapi tidak sekarang. Seperti yang kubilang tadi, kita perkenalan dulu," bisiknya lagi, menyuarakan perintah yang terdengar mutlak.
Aku mengangguk pelan, pasrah pada keadaan. "Baik, saya mengerti. Sekarang... saya diam saja?"
"Hm... diam saja, dan biasakan merasakan diriku..."
Jawabannya disusul oleh pergerakan tangannya. Kali ini, jarinya tidak lagi membelai bagian luar rokku, melainkan menyusup perlahan ke dalam, menyibak kain dan merayap makin naik menyentuh kulit telanjang pahaku.
Aku menahan napas seketika. Seluruh otot perutku mengencang hebat, refleks menahan sensasi asing yang menyengat sarafku.
Tangan kiri Pak Jeremy yang berada di pinggangku menekan sedikit tubuhku. "Jangan ditahan..." bisiknya lembut namun penuh tuntutan.
Aku refleks menoleh menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Aroma napasnya terasa sangat wangi dan segar, berpadu sempurna dengan wangi parfum mewahnya yang maskulin. Ya Tuhan... kenapa saat menatap bibir tebal bergaris tegas itu, tiba-tiba timbul dorongan asing di dalam dadaku untuk menciumnya? Apakah reaksi ini normal? Apakah ini yang dinamakan sex drive?
Kesadaran seketika menghantam kepalaku dengan keras. Ibuku sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit menantikan keajaiban, dan di sini aku justru memikirkan hal seperti ini di pangkuan atasanku? Oh Tuhan... aku benar-benar merasa seperti anak yang terkutuk.
"Aah... Pak..."
Tanpa sengaja, jemariku mencengkeram erat kerah jas mahal Pak Jeremy saat ujung jari tangannya yang berada di balik dalamanku menyentuh area paling sensitif di antara kedua paha. Hanya sentuhan tipis, namun efek sengatan listriknya benar-benar luar biasa. Aku merasakan bagian bawahku mendadak berdenyut hebat, seolah menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar belaian.
"Cium aku," bisik Pak Jeremy. Nada suaranya berubah menyuruh.
Aku menatap bibir Pak Jeremy yang berwarna merah muda alami itu sedikit lebih lama. Dengan jantung yang bertaut liar, aku akhirnya memajukan wajah dan menyentuh bibirnya dengan bibirku. Hanya sebuah tempelan singkat yang kaku.
Pak Jeremy menarik wajahnya sedikit, memandagku dengan alis terangkat. "Hanya begitu?"
"Harus... bagaimana?" tanyaku polos, napasku berkejaran.
Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya sekaligus memikat. "Berikan lidahmu..."
Sensasi mulas mendadak melilit perut bawahku.
Ya Tuhan, reaksi apa lagi ini? Namun, di bawah pengaruh tatapan mata elangnya, aku hanya bisa menurut. Awalnya aku ragu-ragu, tetapi aku tetap menjulurkan sedikit ujung lidahku.
Sebelum aku sempat menariknya kembali, Pak Jeremy langsung menyergapnya. Saat dia akhirnya melepaskan pagutannya, tubuhku terkulai lemas tanpa tenaga di pelukannya.
Pak Jeremy tersenyum puas melihat kondisiku yang berantakan. "Setelah ini kamu boleh pergi ke rumah sakit. Sopir pribadi saya yang akan mengantarmu... Tapi sebelum pergi, cium aku seperti yang tadi baru saja kuajarkan."
Tanganku gemetar hebat. Mataku mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang bercampur aduk.
Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukannya dengan benar? Bagaimana kalau aku gagal memuaskannya dan dia mendadak membatalkan perjanjian kerja sama kami? Uang pengobatan Ibu ada di tangannya.
Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk Pak Jeremy dengan kedua tangan yang gemetar.
"Kemarilah. Aku tidak mungkin harus mengajarimu step-by-step bahkan hanya untuk keluar dari kamar dan makan, kan?" tegurnya.Mungkin dia melihat kekakuanku yang terus berdiri ragu di dekat pintu. Saat ini aku hanya mengenakan jubah sutra warna cream tanpa sehelai benang pun di baliknya. Hanya pakaian itu yang disediakan di dalam lemari kamar mandi. Sementara di seberang sana, Pak Jeremy sudah duduk santai menggunakan jubah sutra serupa, namun berwarna hitam pekat.Aku melangkah mendekat perlahan. "Maaf, Pak. Saya hanya canggung... dan saya merasa...""Hm... tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada pura-pura sok tahu. Makan yang banyak, karena kamu akan butuh banyak tenaga malam ini," potongnya tenang.Mendengar kalimat ‘butuh banyak tenaga,’ jantungku mendadak berdegup kencang. Maksudnya apa? Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mencoba menetralkan desiran aneh di dadaku sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.Pak Jeremy menyodorkan sebuah piring padaku—daging steak di atasnya sudah
"Bilang ke sopir untuk mampir sebentar ke supermarket untuk membeli kondom yang kotak emas atau hitam, ambil yang ukuran XL."Pesan singkat dari Pak Jeremy itu masuk persis setelah aku selesai mampir ke rumah, menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhan adik-adikku, serta mencarikan tetangga terpercaya untuk menutupi keberadaanku. Pak Jeremy melarangku membawa baju maupun pakaian dalam dari rumah. Katanya, semua sudah disiapkan di apartemen. Aku hanya bisa menurut.Tapi pesan susulan ini... benar-benar membuat seluruh mukaku panas karena malu. Langkah kakiku terasa sangat berat saat memasuki pintu kaca minimarket yang berdenting halus. Beruntung, lorong minimarket saat itu sedang sepi. Namun, begitu mataku tertuju pada barisan kotak kecil di rak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya salah seorang pramuniaga yang melihatku celingukan seperti orang bingung, aku menggeleng pelan. Kemudian tersenyum.Jari-jariku yang gemetar meraih satu kotak be
Perasaan bersalah dan asing akibat kejadian bersama Pak Jeremy masih terus membuntutiku sampai aku tiba di rumah sakit. Namun, fokusku langsung teralih begitu melihat Dokter William berjalan tergesa menemuiku di depan koridor UGD dengan wajah cerah. "Mbak Siena... apa yang saya bilang? Yakini apa yang kamu imani. Ada orang baik yang mendonasikan dana untuk operasi Ibumu, dan itu membuat pihak rumah sakit bergerak cepat mendapatkan donor ginjal yang cocok," ucap Dokter William dengan senyum lega.Aku berdiri terpaku di tempatku. Rasa tercengang yang luar biasa menahan napas di tenggorokanku sebelum akhirnya air mataku meleleh deras. Dokter William berpikir ini adalah buah dari iman dan keajaiban doa. Namun di dalam hati, aku bertanya-tanya dengan getir... apakah Pak Jeremy adalah jawaban dari sebagian doa-doaku itu? Atau justru jalan dosa yang sengaja kuambil demi bertahan hidup?"Kamu anak baik dan pekerja keras, Siena. Tuhan selalu memberikan jalan untuk anak sebaik kamu," lanjutny
Kumingkan sedikit kepalaku, lalu menjulurkan lidahku dan memasukkannyake dalam mulut pria itu, mencoba meniru setiap gerakan dominan yangditunjukkannya tadi.Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk PakJeremy dengan kedua tangan yang gemetar. Kumingkan sedikit kepalaku, lalumenjulurkan lidahku dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu. Aku mencobameniru setiap gerakan dominan yang baru saja ditunjukkannya.Balasan spontanku rupanya seperti menyulut api di dalam dada pria itu.Pak Jeremy mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Gerakannya mendadakberubah brutal. Dia menyambar lidahku, melumatnya lebih dalam dan makinmenuntut. Pagutan panas itu terasa begitu agresif hingga membuat kepalakupening dan seluruh pasokan oksigen di paru-paruku terkuras habis.Bukannya melepaskanku seperti yang dia janjikan, sentuhan Pak Jeremy dibalik dalamanku justru makin berani dan memabukkan. Usapan jarinya di titiksensitifku kini bergerak makin cepat, ritmis, dan menekan
"Aku ingin kamu memberikan pelayanan pertamamu hari ini. Anggap saja... perkenalan singkat sebelum kamu terbiasa," jawabnya santai.Namun aku tetap bergeming di tempatku, duduk kaku di kursi seberang mejanya."Ke sinilah, mendekat," perintahnya lagi.Aku berdiri dengan ragu-ragu, melangkah pelan memutari meja. Dinginnya pendingin udara di ruangan ini rasanya makin menusuk hingga ke tulang, membuat persendianku melemas. Padahal aku hanya berjalan mendekat, belum melakukan apa pun."Kamu gugup?" tanya Pak Jeremy melihat langkahku yang tertahan.Aku mengangguk jujur."Duduk di sini," ucapnya tegas, lalu menepuk salah satu paha kekalnya.Dadaku berdesir hebat. ‘Tuhan... apakah ini benar? Masuk akalkah aku harus duduk di pangkuan bosku sendiri?’"Gemetar?" tanya Pak Jeremy.Suara beratnya terdengar begitu dekat di telingaku saat tangan besarnya mulai bermain di atas pahaku. Ketika telapak tangannya merayap makin naik melintasi kain rok kerja yang kukenakan, aku mendadak merasa seperti lup
"Kamu butuh waktu untuk berpikir?" tanyanya lagi ketikamelihatku bungkam. Aku mengangguk cepat. Pak Jeremy tersenyum tipis melihatresponsku. Pria matang dengan jejak janggut tipis di sepanjang rahang tegasnyaini memang terlihat sangat tampan secara visual. Garis wajahnya keras, maskulin, dan punya kharisma yang sulit diabaikan.Secara fisik, tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku menyukai pria yang tampandan matang, tapi... bukankah dia terlalu matang untukku? Sial, kepalaku rasanyamau pecah.“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?” tanya Pak Jeremy tenang. Beliaumenyesap kopinya santai, kontras dengan dadaku yang rasanya mau meledak.“Sa-satu minggu, Pak...” bisikku pasrah.Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulukudukku berdiri. “Satu minggu? Kamu tahu betul kamu tidak akan punya uangsebanyak itu bahkan dalam satu tahun, Siena.”Pasi. Seluruh darah di tubuhku serasa menyusut. Kata-katanya menembustepat di titik terlemahku.“Saya tidak suka mengu







