LOGIN "Kamu butuh waktu untuk berpikir?" tanyanya lagi ketika melihatku bungkam.
Aku mengangguk cepat. Pak Jeremy tersenyum tipis melihat responsku. Pria matang dengan jejak janggut tipis di sepanjang rahang tegasnya ini memang terlihat sangat tampan secara visual.
Garis wajahnya keras, maskulin, dan punya kharisma yang sulit diabaikan. Secara fisik, tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku menyukai pria yang tampan dan matang, tapi... bukankah dia terlalu matang untukku? Sial, kepalaku rasanya mau pecah.
“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?” tanya Pak Jeremy tenang. Beliau menyesap kopinya santai, kontras dengan dadaku yang rasanya mau meledak.
“Sa-satu minggu, Pak...” bisikku pasrah.
Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kudukku berdiri. “Satu minggu? Kamu tahu betul kamu tidak akan punya uang sebanyak itu bahkan dalam satu tahun, Siena.”
Pasi. Seluruh darah di tubuhku serasa menyusut. Kata-katanya menembus tepat di titik terlemahku.
“Saya tidak suka mengulur waktu,” lanjutnya datar tanpa mengalihkan pandangan. “Pikirkan baik-baik pertanyaan saya tadi. Sekarang keluarlah, kembali bekerja.”
Aku keluar ruangan dengan lutut lemas. Bayangan biaya operasi Ibu ratusan juta dan tenggat waktu untuk pengobatan ibuku terus terbayang. Menjual harga diri demi nyawa Ibu, atau mempertahankan kebanggaan tapi membiarkan Ibu pergi?
***
Pagi ini aku kembali bekerja dengan pikiran yang sepenuhnya kacau.
Saat baru saja menaruh tas di meja kerja, Pak Jaya mendadak menghampiriku dan memintanya untuk menemui asisten Pak Jeremy di lantai atas. Perasaanku langsung tak enak. Pikiranku bercabang—apakah ini soal ganti rugi mobil, atau perihal tawaran gila yang dilemparkan Pak Jeremy sore kemarin?
Langkahku terasa makin berat begitu pintu lift terbuka di lantai teratas. Di depan ruang kerja Pak Jeremy, Yudha rupanya sudah berdiri menyambutku sambil memegang sebuah map tebal.
"Siena, Pak Jeremy sudah ada di ruangannya. Ini draft kontraknya, setelah itu bawa ke ruangan beliau" ujar Yudha.
Mendengar ucapan itu, jantungku berdebar tidak karuan.
“Ko-kontrak? Saya naik jabatan atau bagaimana?” Tanyaku gugup. Karena tiba-tiba saja aku diberitahu Pak Jaya kalau aku harus menemui Yudha, asisten Pak Jeremy.
Yudha bukannya menjawab malah tersenyum, “aku ga tahu apa yang kamu bicarakan dengan beliau kemarin. Aku hanya membantu menyiapkan apa yang beliau minta
Bibirku mengatup, pria itu…benar-benar bisa membaca pikirannya-kah? Karena aku memang sudah hampir membunuh diriku sendiri dengan belitan uang sebanyak itu. Yang ada dipikiranku sekarang adalah operasi ibuku.
Pikiranku sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau aku mengutarakan masalah biaya operasi Ibu, lalu beliau marah dan menendangku keluar? Tapi bukankah ini sebuah diskusi? Aku benar-benar sudah putus asa dan tidak punya pilihan lain.
"Masuklah... Kenapa kamu suka sekali berdiri di ambang pintu seperti itu?" tegur Pak Jeremy.
Suara beratnya terdengar begitu mantap dan dominan. "Tutup kembali pintunya."
Aku menurut tanpa bantahan. Kini aku duduk di kursi empuk di hadapan meja kerjanya yang besar—terasa bagaikan meja sidang bagiku.
"Sudah membaca drafnya?" tanyanya datar.
Aku mengangguk pelan. "Kok Bapak langsung menyiapkan drafnya? Memangnya Bapak tahu kalau saya bakal setuju?" tanyaku. Kalimat itu meluncur begitu saja, dan aku yakin diriku terlihat sangat polos di matanya.
"Aku seorang pebisnis, Siena. Aku bisa membaca bahasa tubuh dan gestur wajah. Dari situ aku bisa memprediksi apakah mitra bisnisku akan setuju atau tidak," jawabnya tenang.
Aku terdiam. Apa yang diucapkannya sepenuhnya benar. Dibandingkan pria di hadapanku ini, aku bukan siapa-siapa. Jika harus berargumen dengannya, aku sudah pasti kalah sejak awal.
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha keras menutupi kegugupan yang meluap-luap.
"Tidak usah gugup begitu. Aku tidak makan orang, kok. Caraku memakanmu nanti tentu berbeda," ucapnya tipis. Ada senyum yang tersulut di bibirnya—terlihat ringan, namun menyiratkan keseriusan yang mengintimidasi.
Aku menarik napas panjang. "Pak... saya akan menandatangani ini..."
"Tentu... kamu memang akan melakukannya," sahut Pak Jeremy cepat, seolah sudah merencanakan setiap detiknya.
"Tapi... apakah sebagai permulaan Bapak bisa membantu saya?" tanyaku ragu.
"Hubungan kita adalah hubungan yang saling menguntungkan. Sudah seharusnya begitu, bukan?"
"Ibu saya... butuh uang untuk operasi cangkok ginjal..." Aku tak berani meneruskan kalimatku. Angka untuk prosedur medis itu sangat besar, dan tenggorokanku mendadak tercekat.
Pak Jeremy menatapku tajam. "Nilainya sangat besar. Jadi, aku rasa kontrak kita tidak bisa hanya satu tahun. Bagaimana kalau tiga tahun?"
Tanpa menunggu persetujuanku, dia mengambil draft di meja, lalu mencoret angka satu dan menggantinya dengan angka tiga.
Apakah aku punya pilihan lain? Jawabannya tidak ada.
"Kalau kamu setuju, setelah kamu tanda tangan dan berikan cap jempolmu di sana, aku akan minta Yudha langsung mengurusnya menggunakan semua sumber daya yang aku miliki," tegasnya.
"Apakah nilai saya setinggi itu, Pak?" tanyaku lirih, hampir tak terdengar.
Pak Jeremy tersenyum tipis. "Kamu salah. Seharusnya nilaimu jauh lebih tinggi dari ini. Tiga tahun artinya kamu harus menjaga jarak dari pria manapun. Tiga tahun, kamu sepenuhnya menjadi milikku." "Ta-tapi..."
"Anggap saja itu deposit," potongnya singkat sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah tidak apa-apa jika aku berdoa lebih dulu sebelum menandatangani perjanjian terlarang ini? Setelah membaca beberapa bait doa di dalam hati, aku mengambil pulpen. Kuusapkan ibu jariku pada tinta, lalu membubuhkan tanda tangan dan cap jempol tepat di atas meterai.
"Setelah tanda tangan, kamu tidak bisa mundur lagi... Aku beri waktu satu menit untuk berpikir ulang," ucap Pak Jeremy menatapku lekat.
"Saya tidak akan mundur!" jawabku cepat tanpa ragu.
"Bagus."
Pak Jeremy meraih ponselnya, menghubungi Yudha, lalu memberikan serangkaian perintah tegas tanpa jeda. Setelah panggilan berakhir, ruangan kembali hening.
"Se-sekarang... apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanyaku gugup. Aku tahu betul, posisiku saat ini bukan lagi sekadar karyawan biasa.
“Bu Valerie, mohon maaf…meskipun Anda Investor di perusahaan ini, Anda tidak bisa berlaku kasar, khususnya kepada pimpinan kami” ucap Rama mencekal pergelangan tangan Bu Valerie.“Di sini kami ada kamera CCTV jadi, saya mohon kerjasamanya” tambah Rama tegas.Aku bernapas legah melihat tatapan Bu Valerie yang meredah.“Kalau ibu ada yang ingin dibicarakan dengan saya, mari…kita bicara!” ucapku akhirnya.Bu Valerie diam sebentar, kemudian bicara “Kalau kamu punya harga diri, tinggalkan Jeremy!” ucapnya mengancam, kemudian ia memiringkan kepalanya berbisik di telingaku “Gugurkan bayi itu!”Mataku membulat, tanganku mengepal keras. Rumor beredar sangat cepat.“Sepertinya Bu Valerie sangat tertarik dengan kehidupan pribadi saya ketimbang proyeknya sendiri. Kalau tidak ada yang penting, saya pamit dulu. Rama..tolong antar Bu Valerie.Aku berjalan meninggalkan Bu Valerie dengan tenang.Hari itu berjalan sangat lambat. Aku yang tadinya ingin singgah ke apotek dan membeli test pack pun urung.
Tidak ada jawaban dari pertanyaanku, karen Pak Jeremy langsung menutup panggilan. Artinya, aku memang harus ke rumah sakit sesuai perintahnya.“Maaf, apa ada masalah besar?” tanya Rama yang tadinya kupikir konsentrasi mengemudi, ternyata dia mencuri dengar. Aku menarik napas panjang.“Nggak ada, kok! Kembali ke kantor ya..aku ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan. Nanti, bantu aku untuk menelpon vendor untuk kepastian dan juga negosiasi harga” perintahku.Rama mengangguk, aku lihat dari kaca spion dia tersenyum.Aku sandarkan kepalaku ke jendela mobil, aku tersenyum tipis. Kalau seandainya hamil ya sudah gugurkan saja, batinku. Namun, mendengar pikiranku sendiri mengatakan tentang ‘gugurkan’ hatiku terasa dicubit dan sakit! Apa bedanya aku dengan mendiam Bapak yang kejam dan menyiksa kami kalau aku dengan sengaja membunuh anakku sendiri? Anak ini tidak berdosa, kami melakukannya juga dalam keadaan sadar. Sebagai orang dewasa seharusnya aku bisa mempertanggung jawabkan perbua
“Kamu hamil anak putra saya? Gugurkan!”Kalimat itu langsung menampar kesadaranku, bahkan terasa lebih menyiksa dibanding rasa mual yang baru saja mengocok perutku. Aku berdiri kaku di depan wastafel, jemariku masih mencengkeram tisu basah dengan wajah pucat dan bibir yang gemetar. Bu Amanda menatapku tajam—bukan lagi sekadar curiga, tapi sudah benar-benar memvonisku bersalah. Aku mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja ia katakan.“Bu Amanda… saya tidak hamil,” suaraku keluar bergetar. “Saya hanya salah makan.”Jantungku berdetak begitu kencang. Hamil. Kata itu berputar-putar di kepala seperti lonceng peringatan. Tidak pernah ada dalam skenario hidupku. Tidak boleh terjadi. Aku bahkan belum siap memikirkan kemungkinan itu.Bu Amanda melangkah mendekat. Parfum mahalnya menusuk hidung yang masih sensitif. Ia menatap wajahku dari jarak dekat, seolah ingin membaca kebohongan di balik setiap kedipan mata.“Saya anter kamu ke dokter,” tegasnya dengan nada yang
“Biar saya berangkat dengan taksi, kita nggak searah” ucapku berdiri duluan. Pak Jeremy menarik lenganku saat melewatinya hingga aku jatuh ke pangkuannya.“Ada apa?” dia bertanya sembari mengunci tanganku hingga aku tidak dapat bergerak, aku berusaha meronta.“Pak..lepas…” pintaku.“Nggak! Sampai kamu mengatakan ada apa? Tiba-tiba saja ngambek! Lupa tadi malam kamu memohon-mohon di bawahku!” Pipiku menggelembung, menatap kesal Pak Jeremy.“Siapa perempuan itu?” tanyaku.Alis Pak Jeremy bertaut, tatapannya penuh tanda tanya “Perempuan? Perempuan siapa? Kamu cemburu?” “Nggak! Saya nggak punya hak cemburu!” “Oooh..tidak cemburu?”Pak Jeremy terkekeh, ia mencubit hidungku gemas. “Udah tahu cemburu begitu masih mengelak. Tidak ada perempuan lain. Hanya Monika—dan kamu!”Aku melengos “Bohong!” gumamku.Pak Jeremy mengeratkan cengkramannya hingga aku susah bergerak “Untuk apa bohong?”Aku masih menggembungkan pipiku, hm…cemburu ini nggak bisa aku sembunyikan “Terus siapa perempuan yang di
“Mama, apa selama ini aku pernah membuat reputasi keluarga kita rusak?”Bu Amanda diam. Ia tidak langsung menjawab. Matanya hanya melirikku dengan tajam dari seberang meja, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku layak berada di ruangan yang sama dengannya. Aku tetap duduk tegak, tangan di pangkuan, wajah ku usahakan netral dan tenang.“Mama sebagai orang tua hanya mengingatkan,” ucap Bu Amanda akhirnya, suaranya tenang namun penuh tekanan. “Meskipun kamu sudah bukan anak kecil lagi… namanya orang tua tidak ingin anaknya salah jalan!”Pak Jeremy meletakkan serbet linen berwarna putih tulang itu di atas meja dengan gerakan yang sangat terkontrol. “Aku mengerti. Terima kasih, Mama sudah perhatian.”Bu Amanda tidak langsung menerima jawaban itu. Ia menyesap tehnya pelan, lalu menaruh cangkir dengan dentingan halus yang terdengar sangat keras.“Kamu perlu hati-hati saja. Wanita muda, cantik, dekat-dekat denganmu…ingat usia!”“Mama, kan aku sudah bilang dia ini kompeten,” sahut Pak Jere
"Sebentar saja!"Dua kata itu diiringi dengan pelukan erat Pak Jeremy di pinggangku, menarik tubuhku kembali ke dalam dekapan hangatnya semalam. Dan ya... berawal dari dua kata itu, kesadaranku melayang kembali hingga aku terbangun saat mendengar gedoran kencang dari luar.Suara Chloe!"Papa... Papa tidak kerja? Omah minta Chloe bangunin Papa, ini sudah jam tujuh!"Aku mendadak membuka mata. Panik! Sial, aku kesiangan!Aku buru-buru mendorong dada bidang Pak Jeremy, hendak melompat keluar dari ranjang. Namun, aku langsung sadar kalau aku masih benar-benar telanjang di balik selimut tebal, langkahku langsung tertahan."Pak..." bisikku setengah panik seraya mengguncang bahu Pak Jeremy. "Pak Jeremy, bangun!"Pak Jeremy membuka matanya perlahan. Bukannya terkejut atau melompat bangun, pria itu justru tersenyum tipis dan menarik napas dalam-dalam, mengulet santai."Ssst... Jangan panik," bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur. "Aku tidak pernah tidur senyenyak ini selama di rumah."







