LOGIN“Kenapa nggak diangkat?” tanyaku pelan, menatap layar ponselnya yang masih bergetar di atas nakas.Pak Jeremy terlihat jelas malas dan capek. Garis-garis lelah tercetak nyata di wajahnya, berpadu dengan ekspresi muak yang sulit ia sembunyikan setiap kali melihat nama yang terpampang di sana.Namun, setelah dering ketiga, ia akhirnya menghela napas panjang dan menyentuh layar hijau, meloloskan panggilan itu tanpa berniat menjauhkannya dari telingaku.“Halo?” suara berat Pak Jeremy terdengar datar, tanpa ada sedikitpun kehangatan.Belum sempat semenit, suara melengking penuh amarah langsung memekakkan telinga dari seberang sambungan. Itu suara Bu Monika. Suaranya terdengar seperti teriakan, dan penuh amarah yang tidak keruan di ujung sana.“Kamu ke mana saja, Jeremy?! Anakmu sedang kritis di ICU, berjuang antara hidup dan mati, tapi kamu malah tidak kelihatan batang hidungnya! Jangan-jangan kamu sekarang sedang asyik bercumbu dengan sugar baby murahan itu, hah?!” maki Bu Monika ta
“Aku... bateraiku habis.” Kutunjukkan layar ponselku yang mati total ke hadapan Pak Jeremy.“Nggak bawa charger? Nggak bawa power bank? Kamu tahu bagaimana kondisi perusahaan dan rumah selama beberapa hari ini?” Suara Pak Jeremy agak meninggi. Reaksinya sangat wajar; ia pasti marah karena aku sama sekali tidak ada kabar dan tidak bisa dihubungi di saat situasi sedang kacau-balau.“Maaf,” hanya itu akhirnya yang bisa keluar dari mulutku karena tenagaku sudah benar-benar habis terkuras. Aku berjalan tanpa tenaga menuju kamar, lalu langsung mencolokkan ponselku ke stopkontak. Ternyata Pak Jeremy mengekoriku sampai ke dalam kamar.“Siena...” Pak Jeremy menarik lenganku pelan, tapi sentuhan itu membuatku sontak meringis kesakitan. Pria itu menunduk, lalu menemukan bekas plester jarum infus yang masih menempel di kulit lenganku.“Masih sakit?” tanyanya, nadanya mendadak berubah lebih pelan.Aku menggeleng lemah. “Hanya pusing. Boleh nggak aku tidur dulu? Setelah itu aku akan selesaika
Aku membuka mataku perlahan. Langit-langit ruangan itu tampak kabur pada detik-detik pertama, sebelum akhirnya fokus pandanganku kembali tersusun. Badanku terasa sangat lemas, seolah seluruh tenaga di dalam tulang-tulangnya tersedot habis tanpa sisa. Tubuhku menggigil hebat, sementara hawa dingin dari pendingin ruangan menusuk-nusuk hingga ke permukaan kulit.Beruntung, seorang perawat berseragam rapi sedang berdiri di samping tempat tidur, sibuk memeriksa cairan infus yang menetes pelan.“Sus... dingin, bisa minta selimut lagi? AC-nya dimatiin saja,” pintaku dengan suara yang terdengar begitu lemas dan parau.Ingatanku perlahan merangkai kepingan kejadian sebelum semuanya berubah gelap. Ya, setelah mendengar bahwa Chloe kritis dan membutuhkan golongan darah resus negatif, aku nekat berjalan sendiri ke Unit Transfusi Darah. Dokter sempat menolak keras karena melihat keadaanku yang baru saja mengalami benturan hebat dan cedera kepala. Tapi aku ngotot. Aku meyakinkan mereka kalau aku
Dan akhirnya, semua kupaksa kembali normal. Pekerjaan, bisnis, dan pertemuan-pertemuan penting berjalan seperti biasa. Pak Jeremy banyak menghabiskan waktu di kantornya, dan beberapa malam belakangan ia memilih pulang ke rumah utamanya daripada ke apartemen kami. Aku nggak menuntut apa-apa, karena jujur saja, aku juga kadang butuh waktu sendiri untuk mencerna perubahan hidup yang terjadi begitu cepat ini.Sampai pada hari yang sudah kami jadwalkan untuk menikah secara diam-diam.Semua persiapan sudah beres. Kebaya sederhana yang kami pilih sudah tergantung rapi di dekat ranjang, menunggu jamnya tiba. Namun, tiba-tiba saja ponselku berdering nyaring. Nama Pak Jeremy tertera di layar. Tanpa curiga, aku langsung mengangkatnya.“Siena... Chloe kecelakaan. Aku dalam perjalanan ke rumah sakit,” suara di seberang terdengar begitu tegang dan panik.Sebelum aku sempat memberikan respons atau menanyakan keadaannya, sambungan telepon langsung terputus begitu saja.Aku tertegun sejenak m
“Siena, kenapa kamu keras kepala? Arian Bima sudah sangat baik dan menerimamu walaupun—”Ibu tidak melanjutkan kalimatnya. Udara di dalam rumah kecil itu mendadak terasa begitu pengap, menekan dadaku hingga terasa sesak.“Walaupun aku bekas wanita nggak benar?” sahutku pelan, suaraku hampir tertelan di tenggorokan karena menahan perih.Ibu diam. Tidak ada sangkalan, tidak ada bantahan untuk meralat ucapannya. Dan kebisuan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun yang pernah ia lemparkan kepadaku.Aku menoleh ke samping, mendapati Pak Jeremy berdiri tegap di sebelahku. Pria itu langsung merangkul bahuku erat, memberikan kehangatan dan sandaran di saat tubuhku rasanya mau runtuh.“Ibu... Saya tahu saya tidak berhak bicara begini ke Ibu, tapi Siena gadis baik-baik. Saya ke sini untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya perbuat,” ungkap Pak Jeremy akhirnya ikut bicara, suaranya tenang namun tegas memecah keheningan yang menyesakkan.“Apa yang terjadi di anta
Setelah kata deal itu kami buat, esoknya Pak Jeremy menyodorkan sebuah e-catalog cincin berlian dari layar tabletnya. Mungkin perempuan di luar sana akan exciting melihat gemerlap batu permata tersebut, tapi buatku? Yang menarik justru angka di balik nominal harganya.“Terlalu mahal untuk sebuah pernikahan rahasia...” gumamku pelan, tanpa ada niat sedikitpun untuk menolak kebaikan Pak Jeremy, hanya sekadar takjub dan bergumam pada diri sendiri. Tapi telinga Pak Jeremy telanjur menangkap kalimat itu. “Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, Siena. Pilih saja,” ujarnya mutlak.Akhirnya... aku memilih satu model yang paling sederhana, paling elegan, dan sialnya, ternyata juga menjadi salah satu yang paling mahal di katalog itu.“Kamu memiliki selera yang bagus, Siena,” puji Pak Jeremy singkat. Setelah urusan cincin beres, dia bahkan sudah merancang urusan kebaya dan pakaian akad, padahal kami sama sekali belum meminta izin pada Ibu. Kesehatan Ibu memang sudah jauh membaik dan bel







