Accueil / Romansa / Bos, Jangan Jatuh Cinta! / 151: Cinta Yang Matang

Partager

151: Cinta Yang Matang

Auteur: BlackDiamond
last update Date de publication: 2026-11-04 18:43:49

Kami bertiga serentak menoleh ke sumber suara, Bu Amanda terlihat gugup. Mau bagaimanapun juga dia nggak mungkin langsung bicara ceplas-ceplos seperti cara dia bicara sama aku, karena dia harus menjaga wibawanya di depan mantan besannya.

“Ooh.. Itu, Mama nggak mau menerima dia di keluarga Wiratama Halim” Jawab Bu Amanda sambil menunjuk ke arahku.

Aku tersenyum tipis.

“Jadi Jeremy sudah ada pengganti?” Tanya Ayah Bu Monika yang memakai pakaian rapi.

Pak Jeremy terlihat jengah, “jangan berpik
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    152: Clingy

    Begitu bunyi klik pintu apartemen terdengar, kedua tanganku langsung menggelayut manja di leher Pak Jeremy. Hari ini aku membiarkan diriku bersikap clingy kepadanya, karena sejak urusan kantor polisi tadi, ada rasa takut kalau-kalau lelaki ini benar-benar diambil dariku. Aku bersyukur dia bisa pulang tanpa harus mendekam di sel tahanan."Aku belum mandi, kamu sudah nempel terus begini?" tanya Pak Jeremy dengan nada menggoda.Aku mengangguk manja di ceruk lehernya. "Kangen..." ucapku pelan, sengaja mempererat pelukanku.Pak Jeremy memicingkan sebelah matanya. Tanpa peringatan, ia mengangkat tubuhku hingga kakiku melingkar di pinggangnya, menggendongku ala koala begitu pintu apartemen tertutup rapat. Lelaki itu membawa langkahnya masuk ke ruang tengah sambil mencium bibirku beberapa kali secara bergantian."Kamu beneran suka sama kakek-kakek ini?" tanyanya menggoda di sela-sela ciuman ringan kami."Siapa bilang kakek-kakek? Perkasa begini..." sahutku santai, membuat sudut bibirnya tert

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    151: Cinta Yang Matang

    Kami bertiga serentak menoleh ke sumber suara, Bu Amanda terlihat gugup. Mau bagaimanapun juga dia nggak mungkin langsung bicara ceplas-ceplos seperti cara dia bicara sama aku, karena dia harus menjaga wibawanya di depan mantan besannya. “Ooh.. Itu, Mama nggak mau menerima dia di keluarga Wiratama Halim” Jawab Bu Amanda sambil menunjuk ke arahku. Aku tersenyum tipis. “Jadi Jeremy sudah ada pengganti?” Tanya Ayah Bu Monika yang memakai pakaian rapi. Pak Jeremy terlihat jengah, “jangan berpikir saya ceraikan Monika karena dia. Hubungan pernikahan kami memang tidak sehat jauh sebelum saya kenal dengan Siena.”Nampan Mamanya Bu Monika mencibir, “Cari pengganti itu yang selevel bukan nurunin level”“Dia yang menyelamatkan Chloe” Sahut Pak Jeremy terdengar kesal. “Karena dia merasa bersalah” Sahut Bu Monika, dan ya… nggak salah juga sih. Aku memang merasa bersalah. “Tapi dia nggak perlu merasa bersalah, karena kecelakaan ini terjadi bukan karena dia tapi kamu sendiri!”.“Simpan saja p

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    150: Nggak Becus

    “Gara-gara kamu, Jeremy! Dari dulu kamu memang nggak pernah becus jadi suami, sekarang jadi bapak pun sama saja!” sembur Bu Amanda dengan napas memburu, menatap putranya tajam. “Monika sampai senekat itu melaporkan kamu ke polisi karena kamu yang keterlaluan. Semua ini gara-gara kamu nggak bisa menjaga perasaannya!”“Dan kalau dia berbohong pun, Mama yakin dia punya alasan! Kali ini Mama nggak akan belain kamu!” tambahnya.Pak Jeremy bergeming di tempatnya, raut wajahnya masih tenang tidak menunjukkan emosi apapun. Ia hanya menatap Bu Amanda dengan sorot matinee yang dingin seperti biasa, seolah omelan itu sudah terlalu biasa mampir di telinganya.“Memangnya Mama tahu apa yang mau aku katakan?” tanya Pak Jeremy pelan, suaranya terdengar sangat datar.Bu Amanda mendengus sinis, bersedekap di depan dada. “Emang apa? Kamu mau membela diri apa lagi? Mau menyalahkan Monika lagi?”Pak Jeremy menghela napas pendek. Ia merengkuh bahuku pelan, membawaku berdiri sedikit lebih rapat di sampingn

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    149: Takut

    Aku mengusap air mataku, sebelum akhirnya menjelaskan pelan-pelan ke Yudha tentang apa yang terjadi dan Yudha langsung mengerti bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.“Okay, aku mengerti. Kita bertemu di kantor polisi atau kamu mau aku jemput?” tanyanya. Dia tahu kalau aku sekarang masih belum sepenuhnya sehat, tapi aku nggak mau membuang waktu.“Nggak perlu,” jawabku singkat.“Yakin?” ulang Yudha karena ia tahu bagaimana keadaanku.“Hm... ya, aku yakin kok! Langsung ketemu di kantor polisi, aku sama Pak Supri,” jelasku menyebut nama supir pribadi Pak Jeremy.Dalam satu minggu ini banyak sekali kejadian, dan semuanya berjalan begitu cepat sampai aku nggak dapat mencerna, sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupku.Rama beberapa kali menelpon, dia bilang ada beberapa masalah dengan proyek yang kami jalankan. Beberapa vendor telat mengirim barang jadi pekerjaan bakal lebih lama. Aku harus memikirkan jalan keluar untuk mereka.Aku memijat pelipis pelan, rasa pening masih terasa saat

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    148: Bencana Lain

    ​“Monika, ada apa ini?”​Suara Pak Jeremy terdengar sangat lantang di dalam apartemen yang mendadak terasa begitu sesak. Ia berdiri kaku di dekat meja, kunci mobil di tangannya tergantung lemas, sementara tatapannya terpaku lurus pada sosok wanita yang berdiri di ambang pintu.​Meski status pernikahan mereka sudah diputus secara hukum dan keduanya sudah resmi bercerai, Bu Monika masih saja datang ke tempat ini dengan lagak seolah ia adalah pemilik sah segalanya.​Wajah wanita itu tampak berantakan. Rambutnya sedikit kusut, riasan di wajahnya luntur oleh air mata, dan sorot matanya menyiratkan kepanikan. Di belakangnya, berdiri dua orang petugas kepolisian berseragam rapi yang memegang dokumen resmi.​“Jeremy!” suara Bu Monika langsung melengking tinggi, napasnya memburu penuh emosi. “Anakku kritis di rumah sakit, dan kamu malah asyik bersembunyi di apartemen sama perempuan murahan ini?! Kamu benar-benar tidak punya hati!”​Pak Jeremy menghela napas berat, menatap mantan istrinya denga

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    147: Pria Juga Boleh Menangis

    Tak ada yang tahu, orang seperti Pak Jeremy bisa menangis dengan mata merah seperti sekarang di pelukanku. Dan aku nggak bisa nggak menangis bersamanya.​Di saat seperti ini, nggak ada kata-kata yang bisa menenangkan atau pun menghibur, selain memberikan bahu untuk menangis dan pelukan yang menenangkan.​Hampir dua puluh tahun semenjak memiliki adik-adik aku tak memiliki itu semua, melihat Pak Jeremy seperti ini aku nggak akan biarkan dia menghadapinya sendirian.​Tak lama, Pak Jeremy merenggangkan pelukannya.​Dia menatapku kemudian tersenyum, aku pun tersenyum sambil kuusap pelan rahangnya yang sudah dipenuhi oleh rambut halus.​“Lelaki juga boleh nangis kok, nggak papa,” gumamku lembut.​Dia mengambil tanganku yang ada di pipinya, menciumnya pelan. “Terima kasih,” katanya.​Aku tersenyum, menariknya ke dalam pelukanku sekali lagi. “Kenapa harus terima kasih? Kita bukan orang lain, sepasang kekasih bukan?”​Kali ini Pak Jeremy yang ada dalam pelukanku... Sejenak aku berpikir, begini

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status