Share

150: Nggak Becus

Penulis: BlackDiamond
last update Tanggal publikasi: 2026-11-03 19:34:09

“Gara-gara kamu, Jeremy! Dari dulu kamu memang nggak pernah becus jadi suami, sekarang jadi bapak pun sama saja!” sembur Bu Amanda dengan napas memburu, menatap putranya tajam.

“Monika sampai senekat itu melaporkan kamu ke polisi karena kamu yang keterlaluan. Semua ini gara-gara kamu nggak bisa menjaga perasaannya!”

“Dan kalau dia berbohong pun, Mama yakin dia punya alasan! Kali ini Mama nggak akan belain kamu!” tambahnya.

Pak Jeremy bergeming di tempatnya, raut wajahnya masih tenang tidak men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    150: Nggak Becus

    “Gara-gara kamu, Jeremy! Dari dulu kamu memang nggak pernah becus jadi suami, sekarang jadi bapak pun sama saja!” sembur Bu Amanda dengan napas memburu, menatap putranya tajam. “Monika sampai senekat itu melaporkan kamu ke polisi karena kamu yang keterlaluan. Semua ini gara-gara kamu nggak bisa menjaga perasaannya!”“Dan kalau dia berbohong pun, Mama yakin dia punya alasan! Kali ini Mama nggak akan belain kamu!” tambahnya.Pak Jeremy bergeming di tempatnya, raut wajahnya masih tenang tidak menunjukkan emosi apapun. Ia hanya menatap Bu Amanda dengan sorot matinee yang dingin seperti biasa, seolah omelan itu sudah terlalu biasa mampir di telinganya.“Memangnya Mama tahu apa yang mau aku katakan?” tanya Pak Jeremy pelan, suaranya terdengar sangat datar.Bu Amanda mendengus sinis, bersedekap di depan dada. “Emang apa? Kamu mau membela diri apa lagi? Mau menyalahkan Monika lagi?”Pak Jeremy menghela napas pendek. Ia merengkuh bahuku pelan, membawaku berdiri sedikit lebih rapat di sampingn

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    149: Takut

    Aku mengusap air mataku, sebelum akhirnya menjelaskan pelan-pelan ke Yudha tentang apa yang terjadi dan Yudha langsung mengerti bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.“Okay, aku mengerti. Kita bertemu di kantor polisi atau kamu mau aku jemput?” tanyanya. Dia tahu kalau aku sekarang masih belum sepenuhnya sehat, tapi aku nggak mau membuang waktu.“Nggak perlu,” jawabku singkat.“Yakin?” ulang Yudha karena ia tahu bagaimana keadaanku.“Hm... ya, aku yakin kok! Langsung ketemu di kantor polisi, aku sama Pak Supri,” jelasku menyebut nama supir pribadi Pak Jeremy.Dalam satu minggu ini banyak sekali kejadian, dan semuanya berjalan begitu cepat sampai aku nggak dapat mencerna, sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupku.Rama beberapa kali menelpon, dia bilang ada beberapa masalah dengan proyek yang kami jalankan. Beberapa vendor telat mengirim barang jadi pekerjaan bakal lebih lama. Aku harus memikirkan jalan keluar untuk mereka.Aku memijat pelipis pelan, rasa pening masih terasa saat

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    148: Bencana Lain

    ​“Monika, ada apa ini?”​Suara Pak Jeremy terdengar sangat lantang di dalam apartemen yang mendadak terasa begitu sesak. Ia berdiri kaku di dekat meja, kunci mobil di tangannya tergantung lemas, sementara tatapannya terpaku lurus pada sosok wanita yang berdiri di ambang pintu.​Meski status pernikahan mereka sudah diputus secara hukum dan keduanya sudah resmi bercerai, Bu Monika masih saja datang ke tempat ini dengan lagak seolah ia adalah pemilik sah segalanya.​Wajah wanita itu tampak berantakan. Rambutnya sedikit kusut, riasan di wajahnya luntur oleh air mata, dan sorot matanya menyiratkan kepanikan. Di belakangnya, berdiri dua orang petugas kepolisian berseragam rapi yang memegang dokumen resmi.​“Jeremy!” suara Bu Monika langsung melengking tinggi, napasnya memburu penuh emosi. “Anakku kritis di rumah sakit, dan kamu malah asyik bersembunyi di apartemen sama perempuan murahan ini?! Kamu benar-benar tidak punya hati!”​Pak Jeremy menghela napas berat, menatap mantan istrinya denga

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    147: Pria Juga Boleh Menangis

    Tak ada yang tahu, orang seperti Pak Jeremy bisa menangis dengan mata merah seperti sekarang di pelukanku. Dan aku nggak bisa nggak menangis bersamanya.​Di saat seperti ini, nggak ada kata-kata yang bisa menenangkan atau pun menghibur, selain memberikan bahu untuk menangis dan pelukan yang menenangkan.​Hampir dua puluh tahun semenjak memiliki adik-adik aku tak memiliki itu semua, melihat Pak Jeremy seperti ini aku nggak akan biarkan dia menghadapinya sendirian.​Tak lama, Pak Jeremy merenggangkan pelukannya.​Dia menatapku kemudian tersenyum, aku pun tersenyum sambil kuusap pelan rahangnya yang sudah dipenuhi oleh rambut halus.​“Lelaki juga boleh nangis kok, nggak papa,” gumamku lembut.​Dia mengambil tanganku yang ada di pipinya, menciumnya pelan. “Terima kasih,” katanya.​Aku tersenyum, menariknya ke dalam pelukanku sekali lagi. “Kenapa harus terima kasih? Kita bukan orang lain, sepasang kekasih bukan?”​Kali ini Pak Jeremy yang ada dalam pelukanku... Sejenak aku berpikir, begini

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    146: Kebohongan Yang Terbuka

    ​“Kenapa nggak diangkat?” tanyaku pelan, menatap layar ponselnya yang masih bergetar di atas nakas.​Pak Jeremy terlihat jelas malas dan capek. Garis-garis lelah tercetak nyata di wajahnya, berpadu dengan ekspresi muak yang sulit ia sembunyikan setiap kali melihat nama yang terpampang di sana.​Namun, setelah dering ketiga, ia akhirnya menghela napas panjang dan menyentuh layar hijau, meloloskan panggilan itu tanpa berniat menjauhkannya dari telingaku.​“Halo?” suara berat Pak Jeremy terdengar datar, tanpa ada sedikitpun kehangatan.​Belum sempat semenit, suara melengking penuh amarah langsung memekakkan telinga dari seberang sambungan. Itu suara Bu Monika. Suaranya terdengar seperti teriakan, dan penuh amarah yang tidak keruan di ujung sana.​“Kamu ke mana saja, Jeremy?! Anakmu sedang kritis di ICU, berjuang antara hidup dan mati, tapi kamu malah tidak kelihatan batang hidungnya! Jangan-jangan kamu sekarang sedang asyik bercumbu dengan sugar baby murahan itu, hah?!” maki Bu Monika ta

  • Bos, Jangan Jatuh Cinta!    145: Kehangatan Cintanya

    ​“Aku... bateraiku habis.” Kutunjukkan layar ponselku yang mati total ke hadapan Pak Jeremy.​“Nggak bawa charger? Nggak bawa power bank? Kamu tahu bagaimana kondisi perusahaan dan rumah selama beberapa hari ini?” Suara Pak Jeremy agak meninggi. Reaksinya sangat wajar; ia pasti marah karena aku sama sekali tidak ada kabar dan tidak bisa dihubungi di saat situasi sedang kacau-balau.​“Maaf,” hanya itu akhirnya yang bisa keluar dari mulutku karena tenagaku sudah benar-benar habis terkuras. Aku berjalan tanpa tenaga menuju kamar, lalu langsung mencolokkan ponselku ke stopkontak. Ternyata Pak Jeremy mengekoriku sampai ke dalam kamar.​“Siena...” Pak Jeremy menarik lenganku pelan, tapi sentuhan itu membuatku sontak meringis kesakitan. Pria itu menunduk, lalu menemukan bekas plester jarum infus yang masih menempel di kulit lenganku.​“Masih sakit?” tanyanya, nadanya mendadak berubah lebih pelan.​Aku menggeleng lemah. “Hanya pusing. Boleh nggak aku tidur dulu? Setelah itu aku akan selesaika

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status