LOGIN“Siena? Lho, ada apa? Ibu kamu tidak apa-apa, kan?”Aku menoleh dan menemukan dr. William—dokter spesialis yang mengoperasi ginjal Ibu beberapa minggu lalu—sedang berjalan cepat menghampiri kami dengan kening berkerut cemas. Pandangannya langsung tertuju pada Tiara yang bersandar lemas di bahuku dengan wajah memar dibungkus kain kassa.“Dokter William…” suaraku tertahan. Aku menggeleng pelan. “Bukan Ibu, Dok. Ini… , Tiara.” William mengamati luka di sudut bibir dan pipi Tiara yang membiru, lalu menatapku lekat-lekat dengan raut wajah yang berubah sangat serius. “Penganiayaan? Bapak kamu lagi”Aku cuma bisa mengangguk kaku, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dr. William menarik napas berat, tampak sekali ia menatap kami dengan tatapan kasihan.Melihatku kebingungan, dr. William tidak banyak bertanya lagi. Beliau merogoh ponsel dari balik jas putihnya, lalu menelepon seseorang sambil menuntun kami menuju area IGD.“Dok, saya titip pasien. Tolong bantu pemeriksaan fisik dan pendampingan
“Cuma, oh? Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” ujar Pak Jeremy, nada suaranya menggodaku rasanya jantungku sudah berdebar nggak karuan.Namun, ponsel Pak Jeremy tiba-tiba berdering nyaring di atas meja—menjadi penyelamatku dari situasi berbahaya ini! Tanpa membuang waktu, aku langsung melangkah cepat keluar menuju mejaku. Dari sudut mata, aku melihat seluruh ruangan divisi sudah kosong melompong. Semua orang sudah pulang.Aku bergegas membereskan barang-barangku, memanfaatkan kelengahan Pak Jeremy yang sedang fokus bicara di telepon. Saat aku melongokkan kepala di ambang pintu untuk berpamitan, Pak Jeremy memberi isyarat kibasan tangan—mengizinkanku pergi.Hari ini akhir pekan, dan aku sudah menjadwalkan diri untuk pulang ke rumah. Sebelum menuju ke sana, aku menyempatkan diri membeli beberapa makanan kesukaan Tiara dan Ibu. Pasca operasi, Ibu memang harus menjaga ketat pola makannya, jadi aku lebih banyak membeli buah-buahan segar. Bayangan tawa dan senyum hangat Ibu sudah me
Jemari Pak Jeremy tidak berhenti di paha. Sentuhannya yang merayap makin ke atas di balik lipatan kain rokku membuat napasku tersengal dan putus-putus. Usapan itu lambat, pasti, dan sangat mengintimidasi—seolah ia paham betul titik-titik mana di tubuhku yang langsung menyerah tanpa syarat.“P-Pak… jangan… ada Pak Supri di depan…” cicitku tertahan, meremas kulit jok mobil hingga buku-buku jariku memutih.Layar sekat di balik kemudi memang terpasang kencang, meredam suara, tapi tetap saja bayangan ketahuan membuat seluruh sarafku tegang luar biasa. Bukannya berhenti, Pak Jeremy justru sengaja memiringkan tubuhnya, menghalangi pandangan dari sudut mana pun sambil menatap mataku lekat-lekat.“Kalau begitu, jangan sampai dia tahu” bisiknya.Jemarinya menyusup makin dalam, menyentuh titik paling sensitif yang mendadak basah dan hangat.“M-mmh…” Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat demi menahan desahan yang nyaris meloloskan diri. Gejolak panas mendadak meletup di perut bawahku, menjalar ce
“Pokoknya kamu harus jelaskan padaku, Sien! Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu! Aku nggak mau tahu!”Pesan singkat dari Nina itu muncul beruntun di layar ponselku. Mobil yang kami tumpangi masih membelah jalanan menuju kantor. Nina memang tipe orang yang pantang menyerah kalau belum mendapatkan kebenaran. Akan tetapi, aku sama sekali tidak marah dengan sikapnya yang terkesan ikut campur, karena bagaimanapun, dialah tempat utamaku menumpahkan segala kegelisahan selama ini.Aku melirik Pak Jeremy di sisiku. Pria itu duduk tenang, bersandar santai di jok mobil seolah-olah di dalam kabin ini hanya ada dirinya seorang.“Dia bukan pacarku,” balasku cepat pada Nina.“Apa? Yang benar saja, dong! Pantes dia marah! Terus kok kamu jawab iya-iya aja pas aku tanya apa dia pacar kamu?” balas Nina lagi. Dari ketikannya saja aku sudah bisa merasakan emosi yang meletup-letup.“Aku nggak pernah bilang iya, lho… Kamu sendiri yang berasumsi.” Aku membalas santai agar tidak makin memancing emosiny
“Kamu dan Yudha pacaran? Sejak kapan? Kenapa saya nggak tahu masalah ini?” tanya Pak Jeremy begitu pintu mobil sedan mewah itu tertutup rapat, meredam seluruh bising jalanan malam di luar kantor polisi. Pak Supri sudah duduk di balik kemudi depan, melajukan kendaraan membelah jalanan kota yang makin lengang.Suasana di dalam mobil mendadak menjadi drop. Aku mau narik napas pun terasa tersangkut di tenggorokan.Pak Jeremy duduk bersandar di sisiku. Meskipun ada jarak selapis jok di antara kami, aura dominan dan dingin dari pria itu sanggup membuat udara di sekitar kami mendadak terasa makin tipis. Ia merengkuh keheningan itu beberapa saat, sebelum akhirnya memutar tubuhnya sedikit ke arahku.“Tidak ada penjelasan?,” suara Pak Jeremy meluncur rendah, hampir berupa bisikan tipis, namun sarat ancaman yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia jelas tahu diri ada Pak Supri di depan, sehingga intonasinya begitu terkontrol.Aku meremas tali tas di pangkuanku, tidak berani mengangkat kepala terlal
“Maksud saya, apakah usia menjadi penentu seseorang cocok atau nggak dalam sebuah hubungan?” jawabku cepat, sengaja memutar arah untuk menutupi kegugupan.“Hubungan?” ulang Pak Jeremy.“Iya, hubungan… seperti yang Bapak bilang tadi. Usia saya dan Chloe tidak terpaut jauh,” jelasku. Padahal, bukan itu maksudku tadinya. Namun, karena dia tidak peka sama sekali, ya sudah… biarkan saja jadi salah paham.“Ooh… itu. Tentu saja masalah. Kesenjangan usia pasti membawa perbedaan mencolok dalam hal pengalaman, cara berpikir, dan yang paling kentara, cara komunikasi,” jawabnya serius.Aku mengangguk kaku lalu tersenyum tipis. “Saya mengerti, Pak.”“Hm…” Ia mengangguk. “Kamu tidak sedang punya fantasi tentang kita, bukan?”Aku terkekeh kaku. “Tentu tidak. Bapak terus-menerus mengingatkan batasannya, jadi saya tahu diri, kok…”Pak Jeremy menaikkan sebelah alisnya. Ia menatapku dengan sorot aneh yang memilih diabaikan saja.Di tengah keheningan canggung itu, ponsel di atas meja bergetar. Pak Jeremy







