/ Romansa / Satu Kali Lagi, Boss! / 48: Perhatian Kecil

공유

48: Perhatian Kecil

작가: BlackDiamond
last update 게시일: 2026-09-16 19:08:03

Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Pak Jeremy itu bentuk perhatian tulus atau sekadar wujud tanggung jawabnya padaku. Tapi apa pun maksud di baliknya, tujuannya baik.

“Setidaknya ada yang perhatian sama kamu, Siena” aku mengatakan itu pada diriku sendiri sambil touch up make up tipis di wajahku agar terlihat fresh.

Begitu suasana hatiku agak tenang, aku menguatkan diri untuk menghubungi Nina. Aku mengundangnya bertemu di kafe tempat kami biasanya nongkrong. Hari ini aku berniat mencicil hut
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Satu Kali Lagi, Boss!   61: Imajinasi Liar

    “Chloe?” bisik Pak Jeremy. Suaranya serak.Aku menyentuh lengan Pak Jeremy perlahan. “Biar saya yang turun dan bicara padanya. Bapak tunggu di sini.”Pak Jeremy tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Dia mematikan mesin mobil, sementara aku melangkah keluar dan berjalan mendekat. Namun, makin rapat jarak kami, langkahku makin melambat.Chloe duduk diam, menatap lurus ke depan dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara. Dia cuma menangis dalam hening, tenggelam dalam pikirannya sendiri—bahkan tidak sadar aku sudah berdiri di dekatnya.Aku berdiri membeku menatapnya. Kenapa melihat Chloe menangis rasanya persis seperti melihat diriku sendiri? Terasing di tengah hiruk-pikuk dunia, seolah tidak punya tempat untuk berbagi.“Chloe…” panggilku pelan.Aku melangkah mendekat, merapikan rokku, lalu duduk di sampingnya. Chloe menoleh dengan mata sembab yang memerah.“Kak Sien…” cicitnya lirih.Aku mengangguk, lalu merangkul bahunya dan menariknya ke dalam pelukan. Meskipun pelukan tidak bi

  • Satu Kali Lagi, Boss!   60: Hilang

    Pagi itu aku bangun lebih dulu.Cahaya matahari menyelinap tipis dari sela tirai. Pak Jeremy masih terlelap di sebelahku, wajahnya menghadap ke arah lain dengan napas teratur. Aku sedang berdiri di tepi ranjang, melihat punggung Pak Jeremy yang masih tidur, waktu HP di atas nakas mendadak bergetar. Aku buru-buru memutar badan terus nyambar HP itu sebelum suaranya membuat Pak Jeremy bangun.Nomor asing tanpa nama.Sambil menahan napas, aku keluar kamar berjingkat, menutup pintu serapat mungkin lalu menggeser ikon hijau.“Halo?” bisikku pelan.“Selamat pagi, betul ini dengan Bu Siena?” Suara wanita di seberang sana terdengar formal. ‘Bu Siena?’ kau mengulang dari dalam hati.Aku mengerutkan kening. “Iya, benar. Saya Siena. Ini dengan siapa?”“Saya dari bagian kesiswaan SMA International Green Valley, Mbak. Mohon maaf mengganggu pagi-pagi. Kami menghubungi nomor ini karena tercatat sebagai salah satu kontak darurat atas nama Chloe Ayudya Putri Wiratama.”Ujung jemariku yang memegang pon

  • Satu Kali Lagi, Boss!   59: Bercanda

    “Memalukan? Kenapa memalukan? Siapa yang memalukan?” mendengar suara Pak Jeremy kepalaku langsung mendongak, mataku berkedip cepat dan aku menggigit bibir “Kenapa Bapak selalu bikin kaget?”“Gak mau pulang?”“Pulang?” ulangku heran, bukannya tadi dia bilang harus sampai selesai, kenapa sekarang jadi pulang? Oooh…memang boss memang bebas plin plan.“Kenapa? Tidak suka? Kamu tadi terlihat sekali ingin pulang?”Aku tidak menjawab, langsung mengemasi barang-barangku. Mematikan laptop dan berniat memasukkannya ke dalam tas.“Jangan biasa membawa pekerjaan pulang!” ucapnya singkat. Aku menatap Pak Jeremy agak lama, sepertinya dia tahu apa yang ada dipikiranku “Di sini aku boss-nya jadi aku bebas mengubah aturan yang ada” “Oooh…” hanya itu yang keluar dari bibirku.“Saya tahu apa yang kami pikirkan, pasti kamu mikir kalau saya ini reseh” akunya.Aku tersenyum “Memang benar, reseh dan plin plan” aku mengamini tapi hanya dalam hati, menatap Pak Jeremy yang sudah memutar langkahnya menuju lo

  • Satu Kali Lagi, Boss!   58: Lembur

    Aku masih merasakan sisa kehangatan di kulit saat Pak Jeremy akhirnya menarik diri.Ia berdiri, merapikan kemejanya yang kusut, lalu mengancingkan kembali satu per satu tanpa mengucapkan apa-apa. Aku duduk di sofa, lingerie putih masih agak berantakan, napas belum sepenuhnya stabil, tubuhku pun terasa lemas. Aku melihat Pak Jeremy mengambil jasnya dari sandaran kursi dan memakainya dengan gerakan yang sangat biasa, seolah beberapa menit yang lalu tidak terjadi apa-apa.Aku menunggu.Mengharapkan setidaknya satu kalimat. Satu pujian kecil tentang betapa hebat dan beraninya aku malam ini sudah mengambil inisiatif duluan walaupun harus menahan rasa malu karena hal itu membuat aku merasa sangat murahan. Kalaupun tidak memuji, setidaknya sekadar “terima kasih” karena tadi aku sudah mencoba menghibur dan membuatnya lupa sejenak tentang masalah rumah tangganya.Tapi yang keluar dari mulutnya justru: “Malam ini kamu lembur.”Aku menatapnya, kaget. “Pak…?”Ia tidak menoleh. Hanya mengambil

  • Satu Kali Lagi, Boss!   57: Lingerie Putih

    Pak Jeremy tidak menjawab dengan kata-kata.Tangannya di pinggangku mengerat. Dalam satu gerakan, ia menarikku lebih dekat sampai dada kami saling menempel. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa leherku.“Sekarang,” bisiknya serak. “Aku ingin melihatnya sekarang.”Aku tersenyum kecil. “Boleh….” jawabku dengan suara yang lebih mirip desahan.Pelan-pelan aku berdiri di atas pangkuannya, masih mengapit pinggangnya dengan lutut. Aku menarik dress putih itu ke atas kepala, membiarkannya jatuh ke lantai. Sekarang hanya lingerie tipis yang tersisa—renda putih yang hampir tidak menyembunyikan apa pun.Pak Jeremy menatapku dari bawah. Matanya gelap, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Bukan hanya hasrat. Ada lapar yang lebih dalam dari sekedar gairah dan itu membuatku merasa dibutuhkan.Aku duduk kembali di pangkuannya. Jari-jariku kembali ke kemeja hitamnya, membuka kancing satu per satu dengan sengaja lambat. Setiap kancing yang terbuka menyingkap lebih banyak kulit dadanya yang te

  • Satu Kali Lagi, Boss!   56: Dalam Pelukan

    Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri seperti itu. Detak jantung Pak Jeremy perlahan kembali normal di bawah telingaku. Napasnya yang tadi pendek-pendek kini lebih panjang, lebih dalam. Tangannya masih di belakang kepalaku, jari-jarinya sesekali bergerak mengusap rambutku dengan gerakan yang sangat pelan—seolah ia sendiri tidak menyadari sedang melakukannya.Aku tetap diam. Tidak berani bergerak apalagi bertanya karena untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, baru kali ini aku merasa dia… sangat rentan.“Bapak baik-baik saja?” tanyaku pelan, aku mengambil inisiatif untuk merenggangkan pelukan namun tanganku masih melingkar di tubuh jangkungnya.“Seharusnya aku yang bertanya begitu, Siena” ucapnyaAku tersenyum “Kan tadi saya sudah kasih bapak jawaban, saya baik-baik saja. Bapak pernah mengatakan kalau saya bisa memanfaatkan Bapak. Hal itu juga berlaku buat bapak.”Pak Jeremy menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.“Enam belas tahun saya menikah, pernikahan saya bukanlah per

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status