Teilen

68: Keputusan

last update Veröffentlichungsdatum: 24.09.2026 21:38:59

“Siena? Lho, ada apa? Ibu kamu tidak apa-apa, kan?”

Aku menoleh dan menemukan dr. William—dokter spesialis yang mengoperasi ginjal Ibu beberapa minggu lalu—sedang berjalan cepat menghampiri kami dengan kening berkerut cemas. Pandangannya langsung tertuju pada Tiara yang bersandar lemas di bahuku dengan wajah memar dibungkus kain kassa.

“Dokter William…” suaraku tertahan. Aku menggeleng pelan. “Bukan Ibu, Dok. Ini… , Tiara.”

William mengamati luka di sudut bibir dan pipi Tiara yang membiru, lal
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Kali Lagi, Boss!   70: Dilamar

    Tanganku terkulai lemas di atas paha setelah mengirimkan titik lokasi kantor polisi ke Pak Supri.Mas Rian yang berdiri di dekat meja menatapku rapat-rapat. Raut wajahnya berubah, sarat akan tanda tanya yang tak bisa ia tutupi.“Siena… siapa itu tadi? Pacar kamu?” tanyanya penuh selidik.Aku bingung harus menjawab apa. Bibirku mengatup rapat, bingung mencari alasan yang masuk akal di tengah kepalaku yang makin berat.Mas Rian menghela napas pendek, melangkah mendekat dengan canggung. “Siena… bukannya aku mau ikut campur. Hanya saja, aku… maaf kalau aku—”“Mas… kita bicara di luar, ya,” potongku pelan, melirik ke arah Tiara yang mulai memakan makanannya dengan diam di sofa. Aku tidak ingin adikku mendengar hal-hal yang makin membingungkan pikirannya.Mas Rian mengangguk. Kami akhirnya mendorong pintu kaca ruang mediasi, berdiri di koridor samping yang sedikit lebih sepi.“Apa pun yang mau Mas Rian katakan, aku berterima kasih…” ucapku setengah berbisik, menatap lantai yang dingin. “Mas

  • Satu Kali Lagi, Boss!   69: Ancaman

    “Mbak… bagaimana kalau Bapak datang beneran?” Tiara panik mengguncang lenganku. Suaranya bergetar, matanya bergerak liar memandangi pintu kaca depan kantor polisi. Dari cara Tiara menatap pintu itu saja aku bisa mengatakan kalau adikku trauma dengan kekerasan yang dilakukan oleh bapak kami sendiri.Aku menoleh sejenak padanya, kuelus kepalanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi deretan polisi berseragam dan penyidik.“Bagus kalau dia datang sendiri ke sini,” jawabku dingin, tak lagi peduli. “Biar polisi nggak perlu repot-repot menjemputnya di rumah.”“Siena!! Jangan gegabah, Nak… dengarkan Ibuk…!” Suara Ibu di seberang telepon masih memohon-mohon, meratap di antara deru napasnya yang panik.Mas Rian yang berdiri tak jauh dariku jelas mendengar suara histeris Ibu, walau ponsel tidak di loud-speaker. Tatapan matanya yang tajam mengisyaratkan dukungan penuh padaku dan itu membuatku semakin yakin dengan keputusanku.“Buk… kali ini, maafkan aku nggak nurut sama

  • Satu Kali Lagi, Boss!   68: Keputusan

    “Siena? Lho, ada apa? Ibu kamu tidak apa-apa, kan?”Aku menoleh dan menemukan dr. William—dokter spesialis yang mengoperasi ginjal Ibu beberapa minggu lalu—sedang berjalan cepat menghampiri kami dengan kening berkerut cemas. Pandangannya langsung tertuju pada Tiara yang bersandar lemas di bahuku dengan wajah memar dibungkus kain kassa.“Dokter William…” suaraku tertahan. Aku menggeleng pelan. “Bukan Ibu, Dok. Ini… , Tiara.” William mengamati luka di sudut bibir dan pipi Tiara yang membiru, lalu menatapku lekat-lekat dengan raut wajah yang berubah sangat serius. “Penganiayaan? Bapak kamu lagi”Aku cuma bisa mengangguk kaku, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dr. William menarik napas berat, tampak sekali ia menatap kami dengan tatapan kasihan.Melihatku kebingungan, dr. William tidak banyak bertanya lagi. Beliau merogoh ponsel dari balik jas putihnya, lalu menelepon seseorang sambil menuntun kami menuju area IGD.“Dok, saya titip pasien. Tolong bantu pemeriksaan fisik dan pendampingan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   67: Luka Yang Sama

    “Cuma, oh? Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” ujar Pak Jeremy, nada suaranya menggodaku rasanya jantungku sudah berdebar nggak karuan.Namun, ponsel Pak Jeremy tiba-tiba berdering nyaring di atas meja—menjadi penyelamatku dari situasi berbahaya ini! Tanpa membuang waktu, aku langsung melangkah cepat keluar menuju mejaku. Dari sudut mata, aku melihat seluruh ruangan divisi sudah kosong melompong. Semua orang sudah pulang.Aku bergegas membereskan barang-barangku, memanfaatkan kelengahan Pak Jeremy yang sedang fokus bicara di telepon. Saat aku melongokkan kepala di ambang pintu untuk berpamitan, Pak Jeremy memberi isyarat kibasan tangan—mengizinkanku pergi.Hari ini akhir pekan, dan aku sudah menjadwalkan diri untuk pulang ke rumah. Sebelum menuju ke sana, aku menyempatkan diri membeli beberapa makanan kesukaan Tiara dan Ibu. Pasca operasi, Ibu memang harus menjaga ketat pola makannya, jadi aku lebih banyak membeli buah-buahan segar. Bayangan tawa dan senyum hangat Ibu sudah men

  • Satu Kali Lagi, Boss!   66: Ayo Kita Lanjutkan

    Jemari Pak Jeremy tidak berhenti di paha. Sentuhannya yang merayap makin ke atas di balik lipatan kain rokku membuat napasku tersengal dan putus-putus. Usapan itu lambat, pasti, dan sangat mengintimidasi—seolah ia paham betul titik-titik mana di tubuhku yang langsung menyerah tanpa syarat.“P-Pak… jangan… ada Pak Supri di depan…” cicitku tertahan, meremas kulit jok mobil hingga buku-buku jariku memutih.Layar sekat di balik kemudi memang terpasang kencang, meredam suara, tapi tetap saja bayangan ketahuan membuat seluruh sarafku tegang luar biasa. Bukannya berhenti, Pak Jeremy justru sengaja memiringkan tubuhnya, menghalangi pandangan dari sudut mana pun sambil menatap mataku lekat-lekat.“Kalau begitu, jangan sampai dia tahu” bisiknya.Jemarinya menyusup makin dalam, menyentuh titik paling sensitif yang mendadak basah dan hangat.“M-mmh…” Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat demi menahan desahan yang nyaris meloloskan diri. Gejolak panas mendadak meletup di perut bawahku, menjalar ce

  • Satu Kali Lagi, Boss!   65: Bisa Jadi!

    “Pokoknya kamu harus jelaskan padaku, Sien! Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu! Aku nggak mau tahu!”Pesan singkat dari Nina itu muncul beruntun di layar ponselku. Mobil yang kami tumpangi masih membelah jalanan menuju kantor. Nina memang tipe orang yang pantang menyerah kalau belum mendapatkan kebenaran. Akan tetapi, aku sama sekali tidak marah dengan sikapnya yang terkesan ikut campur, karena bagaimanapun, dialah tempat utamaku menumpahkan segala kegelisahan selama ini.Aku melirik Pak Jeremy di sisiku. Pria itu duduk tenang, bersandar santai di jok mobil seolah-olah di dalam kabin ini hanya ada dirinya seorang.“Dia bukan pacarku,” balasku cepat pada Nina.“Apa? Yang benar saja, dong! Pantes dia marah! Terus kok kamu jawab iya-iya aja pas aku tanya apa dia pacar kamu?” balas Nina lagi. Dari ketikannya saja aku sudah bisa merasakan emosi yang meletup-letup.“Aku nggak pernah bilang iya, lho… Kamu sendiri yang berasumsi.” Aku membalas santai agar tidak makin memancing emosiny

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status