Share

70: Dilamar

Penulis: BlackDiamond
last update Tanggal publikasi: 2026-09-25 21:45:28

Tanganku terkulai lemas di atas paha setelah mengirimkan titik lokasi kantor polisi ke Pak Supri.

Mas Rian yang berdiri di dekat meja menatapku rapat-rapat. Raut wajahnya berubah, sarat akan tanda tanya yang tak bisa ia tutupi.

“Siena… siapa itu tadi? Pacar kamu?” tanyanya penuh selidik.

Aku bingung harus menjawab apa. Bibirku mengatup rapat, bingung mencari alasan yang masuk akal di tengah kepalaku yang makin berat.

Mas Rian menghela napas pendek, melangkah mendekat dengan canggung. “Siena… bu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Boss!   72: Tergoda

    Ternyata menyembunyikan pria berbahaya seperti Pak Jeremy dari keluargaku masih jauh lebih mudah, daripada harus menyembunyikan diriku dari mata dunia saat bersamanya.Pikiran itu terus berputar di kepalaku sepanjang jalan. Ya, sesuai perintah Pak Jeremy, aku berusaha kembali ke apartemen tidak terlalu sore. Tepat jam tiga, aku sudah berdiri di depan pintu unitnya dan menempelkan kartu akses.Begitu pintu terbuka pelan, aroma maskulin yang familier langsung menyambutku.Pak Jeremy sedang berada di dapur, memunggungiku sambil menuangkan air minum ke dalam gelas. Penampilannya sore ini terlihat sangat santai—hanya mengenakan kaus hitam tipis yang membungkus tubuh tegapnya dan celana pendek santai yang memperlihatkan paha kokoh serta… asetnya yang jumbo itu. Melihat kausnya yang sedikit lembab, sepertinya pria ini baru saja selesai workout di ruang gym.Aku menggelengkan kepala cepat-cepat, menepak pipiku sendiri untuk menepis pikiran kotorku yang mulai bekerja liar. Selama hidupku ak

  • Satu Kali Lagi, Boss!   71: Kendali Boss

    Sampai di rumah, aku disambut sikap dingin Ibu. Beliau memilih bungkam dan sama sekali tidak mau menatap ataupun menyapaku. Meski begitu, aku tetap bertahan merawatnya telaten, menyelimuti tubuh sepuhnya, dan mengecup keningnya sebelum tidur. Sebab sejak melihatnya terbaring tak berdaya di rumah sakit beberapa minggu lalu, pikiran itu sering kali hinggap “ bagaimana kalau detik ini adalah kesempatan terakhirku melihat Ibu? Entah aku yang pergi duluan, atau Ibu.” Bicara tentang kematian memang selalu jadi hal yang paling menakutkan.Setelah memasak air hangat dan mandi, aku masuk ke kamar. Rasa lelah yang menumpuk membuat mataku amat berat. Aku baru saja mencoba memejamkan mata sampai menyadari ada beberapa panggilan tak terjawab dari Pak Jeremy.Aku tidak mau membuatnya murka, jadi aku bergegas menelepon balik lewat panggilan video.“Hai, Pak… maaf, saya baru selesai mandi. Bapak sudah mandi?” tanyaku halus, menyandarkan ponsel di guling sementara aku berbaring miring menghadap lay

  • Satu Kali Lagi, Boss!   70: Dilamar

    Tanganku terkulai lemas di atas paha setelah mengirimkan titik lokasi kantor polisi ke Pak Supri.Mas Rian yang berdiri di dekat meja menatapku rapat-rapat. Raut wajahnya berubah, sarat akan tanda tanya yang tak bisa ia tutupi.“Siena… siapa itu tadi? Pacar kamu?” tanyanya penuh selidik.Aku bingung harus menjawab apa. Bibirku mengatup rapat, bingung mencari alasan yang masuk akal di tengah kepalaku yang makin berat.Mas Rian menghela napas pendek, melangkah mendekat dengan canggung. “Siena… bukannya aku mau ikut campur. Hanya saja, aku… maaf kalau aku—”“Mas… kita bicara di luar, ya,” potongku pelan, melirik ke arah Tiara yang mulai memakan makanannya dengan diam di sofa. Aku tidak ingin adikku mendengar hal-hal yang makin membingungkan pikirannya.Mas Rian mengangguk. Kami akhirnya mendorong pintu kaca ruang mediasi, berdiri di koridor samping yang sedikit lebih sepi.“Apa pun yang mau Mas Rian katakan, aku berterima kasih…” ucapku setengah berbisik, menatap lantai yang dingin. “Mas

  • Satu Kali Lagi, Boss!   69: Ancaman

    “Mbak… bagaimana kalau Bapak datang beneran?” Tiara panik mengguncang lenganku. Suaranya bergetar, matanya bergerak liar memandangi pintu kaca depan kantor polisi. Dari cara Tiara menatap pintu itu saja aku bisa mengatakan kalau adikku trauma dengan kekerasan yang dilakukan oleh bapak kami sendiri.Aku menoleh sejenak padanya, kuelus kepalanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi deretan polisi berseragam dan penyidik.“Bagus kalau dia datang sendiri ke sini,” jawabku dingin, tak lagi peduli. “Biar polisi nggak perlu repot-repot menjemputnya di rumah.”“Siena!! Jangan gegabah, Nak… dengarkan Ibuk…!” Suara Ibu di seberang telepon masih memohon-mohon, meratap di antara deru napasnya yang panik.Mas Rian yang berdiri tak jauh dariku jelas mendengar suara histeris Ibu, walau ponsel tidak di loud-speaker. Tatapan matanya yang tajam mengisyaratkan dukungan penuh padaku dan itu membuatku semakin yakin dengan keputusanku.“Buk… kali ini, maafkan aku nggak nurut sama

  • Satu Kali Lagi, Boss!   68: Keputusan

    “Siena? Lho, ada apa? Ibu kamu tidak apa-apa, kan?”Aku menoleh dan menemukan dr. William—dokter spesialis yang mengoperasi ginjal Ibu beberapa minggu lalu—sedang berjalan cepat menghampiri kami dengan kening berkerut cemas. Pandangannya langsung tertuju pada Tiara yang bersandar lemas di bahuku dengan wajah memar dibungkus kain kassa.“Dokter William…” suaraku tertahan. Aku menggeleng pelan. “Bukan Ibu, Dok. Ini… , Tiara.” William mengamati luka di sudut bibir dan pipi Tiara yang membiru, lalu menatapku lekat-lekat dengan raut wajah yang berubah sangat serius. “Penganiayaan? Bapak kamu lagi”Aku cuma bisa mengangguk kaku, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dr. William menarik napas berat, tampak sekali ia menatap kami dengan tatapan kasihan.Melihatku kebingungan, dr. William tidak banyak bertanya lagi. Beliau merogoh ponsel dari balik jas putihnya, lalu menelepon seseorang sambil menuntun kami menuju area IGD.“Dok, saya titip pasien. Tolong bantu pemeriksaan fisik dan pendampingan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   67: Luka Yang Sama

    “Cuma, oh? Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” ujar Pak Jeremy, nada suaranya menggodaku rasanya jantungku sudah berdebar nggak karuan.Namun, ponsel Pak Jeremy tiba-tiba berdering nyaring di atas meja—menjadi penyelamatku dari situasi berbahaya ini! Tanpa membuang waktu, aku langsung melangkah cepat keluar menuju mejaku. Dari sudut mata, aku melihat seluruh ruangan divisi sudah kosong melompong. Semua orang sudah pulang.Aku bergegas membereskan barang-barangku, memanfaatkan kelengahan Pak Jeremy yang sedang fokus bicara di telepon. Saat aku melongokkan kepala di ambang pintu untuk berpamitan, Pak Jeremy memberi isyarat kibasan tangan—mengizinkanku pergi.Hari ini akhir pekan, dan aku sudah menjadwalkan diri untuk pulang ke rumah. Sebelum menuju ke sana, aku menyempatkan diri membeli beberapa makanan kesukaan Tiara dan Ibu. Pasca operasi, Ibu memang harus menjaga ketat pola makannya, jadi aku lebih banyak membeli buah-buahan segar. Bayangan tawa dan senyum hangat Ibu sudah men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status