공유

Bab 229

작가: QueenShe
last update 게시일: 2026-06-25 16:21:05

“Mas, ada mertua Mbak Num marah-marah di rumah Ayah. Mereka baru tahu putusan cerainya keluar hari ini. Tante Kartika sampai bawa bodyguard segala.” Alis Prana langsung bertaut membaca pesan dari Tiara yang baru saja masuk.

Pesan kedua menyusul beberapa detik kemudian. “Mereka anggap kita sembunyikan Mbak Num. Hati-hati, takutnya mereka telepon Mbak Num juga.”

Rahang Prana mengeras seketika. Sejak pagi semuanya berjalan begitu baik. Shanum akhirnya bebas secara hukum. Untuk pertama kalinya sete
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Iin Rahayu
iya betuuul bahkan kesannya muter terus ceritanya, sebenarnya suka sama ceritanya tp bosen juga kalau begini terus sdh sampai bab 200 an sekian. malah kadang sy lewati babnya krn ceritanya muter terus
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
sampe bab ratusan, blom ada tanda2 dibukanya rahasia2 thor? Prana/Tiara. Bobby/Prana. Bobby/kelg Fadil. Nungguin putusan2 hsl sidang Fadil jg kpn nih? Jngn klamaan kak..tq loh. Tetap Semangat..!
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 231

    “Dia dokter teman Mas Fadil kan?” tanya Gandi penuh penekanan. Mata pria itu menatap tajam, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Shanum. “Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan dia?”Shanum memundurkan langkahnya, mencoba memberi jarak. Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan nama Prana yang memanggil untuk kesekian kalinya. Getaran di telapak tangannya terasa begitu mengganggu, tetapi ia sengaja memasukan ponselnya ke dalam tas agar Gandi tak bisa membaca nama yang tertera di sana.“Aku gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, Gandi. Tolong minggir, ini sudah malam. Aku harus pulang,” jawab Shanum terdengar tegas meski detak jantungnya kian berkejaran.Gandi maju satu langkah, kembali mempersempit jarak di antara mereka. “Pulang ke mana? Ke rumah ayahmu? Jawab, Shanum! Dimana kamu tinggal sekarang?”“Mau pulang kemana saja juga bukan urusan kamu, Gan!” jawab Shanum mulai terpancing emosinya.Gandi tak goyah, tatapannya tetap menuntut Shanum untuk mejjaw

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 230

    "Shanum."Tubuh Shanum langsung menegang. Suara ini sudah lama tak didengarnya, dan ia enggan berurusan dengan orang yang memilikinya. Walaupun sebenarnya dia bukan salah satu orang yang membuat Shanum tertekan.Perlahan Shanum menoleh ke samping. Darah di wajahnya seakan surut seketika begitu melihat sepasang suami istri yang sangat ia kenal berada dekat dari dirinya. Gandi—adik kandung Fadil, sekaligus teman sekolah Shanum sejak mereka masih kecil—dengan istrinya, Mega.Mata Mega menelusuri wajah Shanum dari atas sampai bawah dengan penuh penilaian. Sementara Gandi berdiri dengan kedua tangan di saku celana, memperhatikan Shanum tanpa berkedip. Sorot mata Gandi tampak kecewa, tak ada kehangatan seperti dulu kalau pria itu selalu membelanya dari amukan Fadil."Kebetulan sekali ya," suara Mega terdengar sinis.Jantung Shanum mulai berdebar cepat. "Kalian ngapain di sini?""Tentu kami makan malam juga disini." Mega melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka. Tatapan Mega beral

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 229

    “Mas, ada mertua Mbak Num marah-marah di rumah Ayah. Mereka baru tahu putusan cerainya keluar hari ini. Tante Kartika sampai bawa bodyguard segala.” Alis Prana langsung bertaut membaca pesan dari Tiara yang baru saja masuk.Pesan kedua menyusul beberapa detik kemudian. “Mereka anggap kita sembunyikan Mbak Num. Hati-hati, takutnya mereka telepon Mbak Num juga.”Rahang Prana mengeras seketika. Sejak pagi semuanya berjalan begitu baik. Shanum akhirnya bebas secara hukum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wanita itu bisa bernapas tanpa dibayangi status pernikahan yang menyakitkan.Prana mengangkat pandangannya dari layar ponsel saat mendengar saat suara pelan dari ruang tengah.Disana Shanum tengah bersenandung. Nada lagunya tak terlalu jelas. Hanya potongan-potongan lirik yang keluar sesuka hati sambil duduk santai di sofa dengan kaki terlipat. Sebuah novel terbuka di pangkuannya, sementara senyum kecil beberapa kali muncul tanpa ia sadari saat membaca.“Cantik,” gumam Prana.Su

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 228

    "Ada apa ini?"Semua mata menoleh. Hendra berdiri di koridor dengan dua pengacara berpakaian formal. Kehadiran mereka membuat ruang terasa sempit seketika."Ada perlu apa jam segini?" Prana bertanya, mengabaikan Kalid.Hendra menepuk bahu Prana pelan. "Ada hal penting yang perlu disampaikan pada Shanum."Kalid yang menyadari kalau dirinya diluar kepentingan yang akan disampaikan pengacara Shanum, langsung mundur satu langkah. Ia sadar tak memiliki hak untuk ikut campur lebih jauh di sini."Ada banyak tamu," katanya kepada Shanum, bukan pada Prana yang masih memasang wajah batu. "Aku pamit dulu. Jangan lupa makan buburnya ya, biar cepat stabil."Shanum hanya mengangguk kecil. “Iya, dok. Terima kasih banyak.”Kalid membalikkan badan, mengangguk sambil tersenyum pada Hendra dan melangkah melewatinya dan dua orang lainnya menuju ujung koridor arah lift.Hendra mengangkat alisnya setelah Kalid menjauh. Dia menatap Prana penuh selidik. "Siapa dia?""Kalid."Mata Hendra membulat. "Ah! Kalid

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 227

    Tok! Tok! Tok!Ketukan keras di pintu apartemen membuat tangan Prana yang sedang mengoleskan selai di atas roti Shanum berhenti di tengah gerakan. Gerakannya tenang, namun tatapannya menajam.Shanum ikut mengangkat kepala. Mereka saling berpandangan. Suara ketukan di pintu apartemen itu membuyarkan ketenangan sarapan mereka.“Siapa, Mas?” tanya Shanum.Prana langsung masuk ke mode waspada. Di tengah situasi rentan karena kasus Fadil, kunjungan tanpa kabar seperti ini memicu alarm bahaya. Banyak hal yang dikhawatirkan. Apakah ini orang tua Shanum yang memang sedang mencari keberadaan Shanum? Atau pihak kepolisian yang membawa perkembangan baru?“Kamu teruskan sarapanmu,” pinta P rana. “Biar aku yang periksa.”Prana memeriksa lubang intip pintu, dan langsung tertegun. Ia membuka pintu dengan dahi berkerut dalam. Orang yang tak disangka-sangka sekarang berdiri di depan pintunya. Rahang Prana mengetat seketika, tangannya di handel pintu mengerat seketika.Dengan gerakan kasar Prana membuk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 226

    “Di mana bunganya?” tanya Prana.Shanum menunjuk ke arah luar kamar. “Tadi aku taruh di meja sudut dekat ruang tengah.”Prana langsung turun dari ranjang. Dalam beberapa langkah panjang ia sudah keluar dari kamar dan berdiri di depan meja yang dimaksud Shanum. Sebuah rangkaian bunga lili terlihat sangat mencolok. Prana mengambil kartu kecil yang terselip di antara tangkai bunga.Lekas pulih, Shanum. Kalid.Hanya tiga kata. Tak ada kata berlebihan, tak ada rayuan. Prana menatap nama itu dengan seksama, mencoba mencari maksud lain yang tak tertulis. Tapi tak ada.“Kalid,” desisnya pelan.Alis Prana berkerut dalam. Tangannya menggenggam kartu itu lebih lama dari seharusnya. Ia merasa benda itu tak memiliki hak untuk ada di sini dan mengusik ruang pribadinya.Jelas sekali ia tak suka ada pria lain memberi perhatian pada Shanum. Di sisi lain, kepalanya juga memikirkan bagaimana bisa rekan sejawatnya itu bisa tahu Shanum tinggal di sini, namun ego dan rasa cemburunya sebagai seorang pria de

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 201

    “Kamu ini dokter di rumah sakit ini! Kamu malah cium Shanum di ruang rawat,” bisik Hendra menggerutu kesal dengan suara serendah mungkin. “Disini siapa pun bisa masuk!”Sahabat Prana itu terlihat gusar. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok. “Kondisi Shanum masih belum pulih. Mukanya aja ma

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 200

    “Kenapa aku harus hamil sekarang…?”Meskipun terdengar lirih, penyesalan yang mendalam begitu kentara dari nada bicara Shanum. Prana seketika membeku. Ia menatap wajah wanita itu yang kian basah. Dadanya terasa seperti diremas kuat.Bukan binar kebahagiaan yang didapatkan Shanum setelah mendengar k

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 198

    “Aku di sini, sayang, buat lindungi kamu dan anak kita. Kamu harus kuat.” Bisikan itu terdengar begitu nyaring di telinga Shanum. Kata-kata itu berputar berulang kali, membangkitkan keinginan Shanum untuk bangun dari kegelapan.Detik berikutnya, seluruh tubuh Shanum langsung didera rasa sakit yang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 197

    Begitu mendapat telepon dari Hendra bahwa Fadil sudah ditangkap, Prana langsung menyusul ke kantor polisi tepat setelah menyelesaikan praktik sorenya di klinik. Matanya mengedar liar, menatap setiap ruangan bersekat mencari sosok yang ingin sekali ia hajar habis-habisan.“Mana bajingan itu?!” tanya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status