Share

Bab 33

Author: QueenShe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-16 16:40:01

“Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.

“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berbaring di sisi Shanum. Punggung Shanum menempel di dadanya yang kokoh dan padat.

“Akan aku buat kamu melayang, dan melupakan semua bebanmu.”

Hawa panas dari tubuh pria itu merambat melalui daster selut
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 55

    “Operasi berhasil, Dok. Pasien stabil, dan bayinya sangat sehat,” ucap seorang perawat instrumen yang berjalan di samping PranaPrana melepas masker dan penutup kepalanya, membiarkan rambutnya yang berantakan. Matanya yang memerah karena kurang tidur menatap jam dinding. Sudah jam Sembilan malam. Ia baru saja melakukan prosedur sectio caesarea darurat yang menyita seluruh fokus dan energinya selama tiga jam terakhir.Sebagai spesialis kandungan, sebenarnya Prana sudah biasa menghadapi situasi hidup dan mati. Hanya saja malam ini rasanya berbeda. Konsentrasinya sempat terbelah antara sayatan pisau bedah di tangannya dan bayangan Shanum yang ia tinggalkan di kamar hotel.“Pastikan observasi post-op dilakukan setiap lima belas menit. Saya tidak mau ada pendarahan yang terlewat,” jawab Prana sambil mengangguk tipis, memberikan senyum profesional yang melelahkan.Ia berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di ujung lorong. Jadwalnya akhir-akhir ini memang padat, karena baru tiga bulan pi

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 54

    Prana terduduk bersandar pada tumpukan bantal sambil menatap lurus ke arah Shanum. Wanita itu akhirnya terlelap, kelelahan belum tidur sejak semalam. Wajah Shanum tampak pucat, dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya.Ciuman tadi tak berlanjut lebih jauh. Prana tahu kapan harus menekan egonya. Ia sadar Shanum sedang berada di titik lelah, baik secara fisik maupun mental.“Tidurlah, Sayang,” bisik Prana mencium kening Shanum, dan bergerak tanpa suara merapikan selimut yang menutupi tubuh mungil itu.“Sebenarnya aku ingin memilikimu sepenuhnyanya, detik ini juga. Tapi aku gak mau mengambil keuntungan dari kehancuran dunia yang kamu jalani, jadi aku akan membantumu melepas semua masalah yang membelitmu.”Prana memberikan satu kecupan ringan di kening Shanum sebelum bangkit. Ia merapikan kemeja hitamnya, memasang kembali jam tangan mewahnya, dan melangkah menuju pintu. Operasinya masih dua jam lagi, tapi instingnya mengatakan pertunjukan di luar sana akan segera dimulai.Ia m

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 53

    Shanum terengah, punggungnya menekan daun pintu kayu yang dingin saat Prana terus mengikis jarak di antara mereka. Tubuh pria itu seolah mengepung seluruh inderanya, menciptakan sekat yang memisahkan Shanum dari kenyataan pahit di luar sana.“Kamu... kenapa kamu bisa ada di sini?” tuduh Shanum, suaranya bergetar antara amarah dan sisa adrenalin. “Kamu buntutin aku, ya?”Prana sedikit menunduk. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti, membuat Shanum bisa melihat pantulan dirinya yang kacau di mata tajam pria itu.“Membuntuti kamu? Sayang sekali, rasa percaya dirimu terlalu besar, Sayang. Aku sudah disini sejak sejam yang lalu.”“Janji temu apa?” Shanum menatap tajam, mencoba mencari kebohongan.“Apa mulai sekarang aku harus melaporkannya setiap aku mau ketemu orang, seperti dulu?” Prana mencondongkan tubuh lebih dalam, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Shanum. “Kamu cemburu?”Shanum berusaha mendorong dada bidang Prana, namun pria itu tetap bergeming layaknya batu karang. “Lepas, M

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 52

    Shanum menyambar kunci mobil cadangan dan hoodie hitam kebesaran dari dalam lemari. Dia tak punya waktu buat ganti baju rapi. Sekarang yang terpenting adalah menelan identitasnya bulat-bulat.Dengan langkah seringan kucing, ia keluar dari kamar. Melewati Mbok Yah yang baru saja keluar dari ruang kerja setelah merapikan kekacauan yang dibuat Fadil. Napas Shanum tertahan di kerongkongan, takut wanita tua itu menyadari kepergiannya yang tidak lazim.“Mbok, kalau Mas Fadil atau Mama telepon, bilang saya sudah tidur karena pusing,” bisik Shanum singkat sebelum menghilang di balik pintu samping menuju garasi.Dia sengaja memilih mobil city car kecil miliknya yang lebih sering berdebu di pojokan garasi agar tak menarik perhatian. Shanum menjaga jarak sekitar tiga mobil di belakang sedan mewah Fadil yang melaju membelah jalanan kota.Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Di setiap lampu merah, dia memastikan moncong mobilnya tetap tersembunyi di balik kendaraan besar atau

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 51

    “Mbak... Mbak Shanum langsung ke kamar saja ya, pelan-pelan,” bisik Mbok Yah dengan suara bergetar sesaat Shanum memasuki rumah. “Pak Fadil sudah pulang dari tadi, Mbak. Sepertinya sedang marah besar.”Shanum mengernyitkan dahi. Di kepalanya, suara Fadil di telepon tadi masih terngiang—tenang, datar, bahkan tanpa riak emosi.“Marah kenapa, Mbok? Tadi pas telepon baik-baik saja.”“Mbok juga gak tahu, Mbak. Tapi dari tadi di dalam ruang kerja teriak-teriak terus,” lanjut Mbok Yah pelan.Belum sempat Shanum membalas, sebuah dentuman keras menghantam lantai dari arah ruang kerja Fadil. Shanum dan Mbok Yah terlonjak kaget secara bersamaan. Terdengar samar makian Fadil dari balik pintu, disusul suara benda-benda yang disapu kasar dari atas meja hingga berhamburan ke lantai.“Mbak mending langsung ke kamar saja, Mbok khawatir,” bisik Mbok Yah, berusaha menarik Shanum menjauh dari sumber ledakan amarah itu.Shanum mengepalkan tangan. Rasa takut yang biasanya membuat lututnya lemas kini justru

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 50

    Jantungnya Shanum berdebar kencang setelah melihat tiga foto yang dikirimkan oleh nomor yang tak ia simpan, tapi sudah ia hafal. Seseorang yang dimintanya melaporkan seluruh yang dilakukan Fadil semalam.Foto pertama sudah cukup untuk menghancurkan sisi warasnya. Di lobi sebuah apartemen mewah, Fadil berdiri membelakangi kamera, memeluk erat seorang wanita.“Lava Cake,” gumam Shanum mengingat inst*story Alea.Foto kedua memperlihatkan mereka berjalan menuju lift, tangan Fadil merangkul pinggang Alea dengan sangat posesif. Di foto ketiga, Fadil mengecup pipi Alea. Jam digital di sudut foto menunjukkan waktu saat Shanum sedang berada di ruangan Prana tadi.“Brengsek...” bisik Shanum lirih. Napasnya mulai sesak.Rasa panas menjalar dari dadanya hingga ke mata. gak ada air mata. Sebenarnya ia sudah mati rasa dari awal. Ia hanya merasa seperti pecundang yang sedang cemooh di depan hidungnya.“Mbak… Mbak gak apa-apa?” tanya sopir taksi dari kaca spion tengah, mendengar Shanum memaki pelan.

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 13

    Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 12

    Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 11

    Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 10

    “Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status