Share

Bab 4

Penulis: QueenShe
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 08:23:32

Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi.

Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini telah disulap menjadi ruang periksa sementara.

“Mas, bisa gak kita melakukannya nanti?” bujuk Shanum mencoba mengubah keputusan suaminya.

“Jangan ditunda lagi, Shanum. Kita harus segera mengetahui masalahmu apa,” jawab Fadil sambil membuka pintu kamar pemeriksaan.

Disana Prana sudah menunggu sambil merapikan beberapa alat USG yang masih berkilau baru. Wajahnya datar, seolah-olah Shanum hanya pasien biasa yang tidak memiliki sejarah panjang dengannya.

“Ini dia pasienmu, Pran,” ujar Fadil sambil mendorong pelan bahu Shanum agar mendekat ke arah Prana.

“Silakan masuk.” Prana hanya mengangguk tipis, terlihat tidak peduli.

“Mas… kamu mau ke mana?” Shanum menoleh cepat, panik melihat suaminya hendak bergegas pergi lagi. “Gak nemenin aku?”

Meski dalam konteks medis, tapi bagi Shanum ditinggalkan berdua saja dengan Prana membuatnya seperti bunuh diri secara emosional.

Fadil mendengus kasar sembari melirik jam tangan mewahnya.

“Aku harus segera pergi. Aku harus memantau kiriman alkes besar dari gudang untuk rumah sakit baru. Masa periksa gini aja harus ditemani? Udah jangan merengek!”

“Tapi, Mas...”

“Sudah kubilang daritadi jangan merengek! Nurut apa kata Dokter Prana. Aku pergi dulu.” potong Fadil tanpa perasaan. “Titip Shanum ya, Pran.”

Tanpa mengecup kening atau memberikan kata penenang, Fadil melenggang pergi. Hening seketika menyergap ruangan itu.

Shanum terpaku di tengah ruangan, jemarinya meremas ujung kemeja. Panik sekaligus bingung.

“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Prana. Menyiapkan selimut di atas ranjang pemeriksaan.

Shanum melirik sekilas pada Prana yang duduk tenang menantinya. Dengan gerakan kaku ia berjalan mendekati ranjang pemeriksaan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut Prana bisa mendengarnya.

“Buka celana dalamnya dulu, terus berbaring. Jangan lupa pasang kain penutupnya,” instruksi Prana datar, sangat profesional, meski matanya menatap Shanum dengan kedalaman yang sulit diartikan.

Saat ia berbaring dan kedua kakinya dinaikan di penyangga untuk pemeriksaan transvaginal, rasa malu langsung menyergapnya. Ini bukan sekadar pemeriksaan medis. Ini adalah pengungkapan diri yang paling telanjang di depan mantan kekasihnya.

“Oke, kita mulai,” ucap Prana pelan sembari mengenakan sarung tangan lateks.

Shanum memejamkan mata rapat-rapat. Namun, begitu alat transvaginal itu baru saja menyentuh bibir sensitifnya, rasa perih yang tajam menjalar seketika.

“Ah! Sakit, Mas...” rintih Shanum spontan. Tubuhnya refleks menegang, napasnya memburu pendek-pendek.

Prana seketika menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut dalam. Seharusnya dengan pemberian gel yang cukup, pemeriksaan ini tidak akan menimbulkan rasa sakit berlebih pada pasien yang sudah menikah.

Sebagai spesialis yang sudah menangani ribuan pasien, ia tahu ini tidak wajar.

“Sakit?” tanya Prama heran.

Prana menggeser lampu periksa lebih dekat, sedikit menunduk untuk melakukan inspeksi visual secara langsung sebelum melanjutkan prosedur USG.

Shanum tersentak. Rasa malu yang luar biasa menyengat seluruh sarafnya. Secara refleks, ia mencoba merapatkan kedua pahanya.

“Mas... jangan! Jangan dilihat!” pekik Shanum tertahan.

Tangannya bergerak panik, hendak menarik selimut untuk menutupi bagian paling pribadinya dari tatapan sang mantan.

“Buka pahamu, Shanum,” perintah Prana sedikit melunak walau tetap menuntut.

“Tapi,”

“Kalau aku tidak memeriksanya sekarang, aku gak akan tahu sejauh mana lukanya,” potong Prana tetap fokus.

“Tapi aku malu, Mas,” rintih Shanum, memalingkan wajahnya sepenuhnya ke arah dinding, tak sanggup menatap mata Prana. “Jangan dilihat seperti itu...”

“Gak perlu malu. Ini bagian dari pekerjaanku!” potong Prana cepat sambil menahan lutut Shanum agar tetap pada posisinya.

Di balik sisa-sisa gel medis, Prana melihat jaringan luar area intim Shanum tampak meradang, bahkan ada luka lecet kecil yang masih terlihat segar. Jejak dari penetrasi tanpa lubrikasi yang cukup.

Detik itu juga, rahang Prana mengeras. Matanya berkilat tajam penuh amarah yang tertahan.

“Shanum,” panggil Prana sambil menarik napas panjang, mencoba menetralkan kemarahan yang hampir lolos dari celah giginya.

Ia menjauhkan alat USG-nya, menunda pemeriksaannya. Ia tak tega menambah rasa sakit Shanum.

Shanum menoleh perlahan, berusaha menekan rasa takut dan malunya.

“Sebelum Fadi memasukimu, apa dia suka melakukan foreplay, dan memastikan kamu sudah terlubrikasi dengan cukup?”

“Mas… aku…” Shanum kembali menggigit bibirnya. Pertanyaan itu terasa terlalu pribadi untuknya. Saat ini ia merasa harga dirinya luluh lantak.

“Jawab aku, Shanum,” pinta Prana, kali ini lebih menuntut namun tersirat rasa protektif.

“Dia melakukannya seperti orang pada umumnya, Mas,” jawab Shanum pelan, mencoba menutupi aib suaminya.

Prana menggeser kursi kecilnya lebih dekat. Matanya tetap tertuju pada area merah yang meradang.

“Kamu tidak perlu berbohong. Luka ini buktinya. Jaringan ini sobek karena dipaksa saat kamu masih 'kering'.”

Prana menarik napas panjang untuk meredam emosinya yang meluap.

“Aku tidak akan melanjutkan USG-nya hari ini. Soalnya gak mungkin aku memasukkan alat lagi ke area yang meradang ini,” ujar Prana, kembali ke mode tenang meski hatinya membara.

Tangan Prana terulur mengambil sebuah tube salep.

“Sekarang buka kakimu sedikit lebih lebar lagi, Shanum.”

“Tapi Mas...”

Ucapan Shanum terpotong saat menyadari wajah Prana sudah sejengkal saja dari 'miliknya'.

“Kenapa harus sedekat ini?” jerit Shanum dalam hati.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 7

    “Gimana hasil pemeriksaannya? Mandul?” tanya Fadil bertubi-tubi.Ia langsung menghempaskan tubuh di kursi tepat di sisi Shanum, tanpa menyapa apalagi menanyakan kabar istrinya terlebih dahulu.Prana tidak segera menjawab. Dokter spesialis kandungan itu sengaja merapikan beberapa lembar kertas rekam medis, sebelum akhirnya mendongak.“Secara visual melalui USG, kondisi rahim Shanum tampak normal. Tidak ada kista atau miom yang mengkhawatirkan,” ujar Prana tenang, tapi matanya menatap Fadil dingin dan menusuk.“Tapi, aku menemukan masalah yang cukup serius di area serviks dan dinding intimnya,” lanjutnya lebih serius.Fadil mengernyitkan dahi. Matanya beralih mendelik pada Shanum yang sedang menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas terbakar saking malunya.“Masalah apa? Dia sakit? Kanker serviks? Infeksi menular?” cecar Fadil tanpa perasaan.“Bukan itu. Ada peradangan hebat dan luka lecet yang cukup serius, Fadil,” jawab Prana lugas.“Lecet?” Fadil membeo, tamp

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 6

    Jari Prana menekan titik paling sensitif Shanum dengan ritme yang mematikan, sebuah stimulasi yang begitu teratur hingga memaksa wanita itu mengakui kebutuhan biologisnya yang selama ini terabaikan.“Inilah yang seharusnya dilakukan suamimu sebelum menyentuhmu,” bisik Prana parau.Setiap gerakan jari itu memicu gelombang panas yang menjalar ke seluruh perut bawahnya. Otot-otot paha Shanum menegang dan mengendur secara bergantian, tubuhnya tengah mengkhianati akal sehatnya dengan memohon lebih banyak sentuhan.“Mas… jangan,” pinta Shanum dengan suara yang nyaris hilang. “Nanti Mas Fadil…”Ucapannya terpotong oleh reaksi tubuhnya sendiri. Kini ia tidak bisa lagi membedakan antara rasa malu dan nikmat. Pinggulnya justru bergerak kecil, mencari lebih banyak tekanan dari jari Prana.Tepat saat Shanum mulai kehilangan kendali dan melengkungkan punggungnya, Prana seketika menarik tangannya cepat. Meninggalkan Shanum dalam kekosongan dan kebingungan yang menggulungnya.“Ingat cara dan sensasi

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 5

    “Buka kakimu sedikit lagi, Shanum.”Tangan Prana memisahkan paha Shanum yang refleks hendak merapat, menahannya agar tetap terbuka.Shanum bisa merasakan deru napas hangat Prana menerpa kulit pahanya yang terekspos, mengirimkan kejutan listrik yang menyengat setiap saraf tubuhnya.“Apa setiap kali berhubungan kamu selalu merasa sakit?” tanya Prana serius.Matanya fokus memeriksa area paling sensitif Shanum yang kini terekspos sepenuhnya di bawah lampu periksa yang terang. Melihat sejauh mana area itu meradang.Shanum hanya bisa menggigit bibir, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Seluruh tubuhnya membeku, terjepit di antara rasa malu dan sensasi asing yang mulai merayap.“Peradangannya lumayan parah,” gumam Prana, terdengar lebih seperti geraman tertahan. “Ini berarti luka lama belum sembuh, tapi suamimu sudah menhantamnya lagi dengan luka baru. Jika begini terus, rahimmu tidak akan pernah bisa menerima benih yang masuk.”“Memangnya, ada hubungannya dengan aku yang tak kunjung ha

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini telah disulap menjadi ruang periksa sementara. “Mas, bisa gak kita melakukannya nanti?” bujuk Shanum mencoba mengubah keputusan suaminya. “Jangan ditunda lagi, Shanum. Kita harus segera mengetahui masalahmu apa,” jawab Fadil sambil membuka pintu kamar pemeriksaan. Disana Prana sudah menunggu sambil merapikan beberapa alat USG yang masih berkilau baru. Wajahnya datar, seolah-olah Shanum hanya pasien biasa yang tidak memiliki sejarah panjang dengannya. “Ini dia pasienmu, Pran,” ujar Fadil sambil mendorong pelan bahu Shanum agar mendekat ke arah Prana. “Silakan masuk.” Prana hanya mengangguk tipis, terlihat tidak peduli. “Mas… kamu mau ke mana?” Shanum menoleh cepat, panik melihat suaminya h

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tatapan Prana yang duduk tepat di seberangnya. Prana tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. “Sangat nyaman, Fadil. Terima kasih sudah mengijinkanku tinggal disini” Sesekali mata Prana mengikuti setiap gerakan Shanum yang tengah meletakkan piring atau menuangkan air. “Jangan sungkan, kita ini kan kawan lama,” Fadil menepuk meja dengan keras, suaranya menggelegar bangga. “Anggap seperti di rumah sendiri.” Ia kemudian beralih ke topik yang sejak tadi ingin ia pamerkan. “Oh ya, pesananmu dari Jerman buat klinik barumu itu sudah tiba di gudangku tadi sore. Sekarang dalam perjalanan dikirim ke klinik barumu.” Sebagai pengusaha importir Alat Kesehatan, Fadil memang memiliki jar

  • Satu Kali Lagi, Mas!   Bab 2

    Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua orang yang sedang berperang dengan isi kepala masing-masing. “Kenalin ini Prana.” Fadil memulai pembicaraan sambil menyesap kopi yang baru saja disiapkan Shanum. “Dia rekan bisnis sekaligus teman lamaku. Dia baru saja pindah tugas ke rumah sakit dekat sini sebagai dokter SPOG. Kebetulan dia sedang mencari tempat tinggal yang deket rumah sakit sama klinik barunya, jadi aku sewain lantai dua rumah kita.” Shanum meremas jemarinya di atas pangkuan. Dadanya sesak. “Lantai dua? Mas, kenapa baru bilang sekarang?” bisiknya sedikit bergetar. “Maksudku, kenapa gak ngomong dulu berdua sama aku?” Fadil tertawa renyah, terdengar meremehkan di telinga Shanum. “Lantai dua itu kan gak pernah k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status