LOGINFadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi.
Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini telah disulap menjadi ruang periksa sementara. “Mas, bisa gak kita melakukannya nanti?” bujuk Shanum mencoba mengubah keputusan suaminya. “Jangan ditunda lagi, Shanum. Kita harus segera mengetahui masalahmu apa,” jawab Fadil sambil membuka pintu kamar pemeriksaan. Disana Prana sudah menunggu sambil merapikan beberapa alat USG yang masih berkilau baru. Wajahnya datar, seolah-olah Shanum hanya pasien biasa yang tidak memiliki sejarah panjang dengannya. “Ini dia pasienmu, Pran,” ujar Fadil sambil mendorong pelan bahu Shanum agar mendekat ke arah Prana. “Silakan masuk.” Prana hanya mengangguk tipis, terlihat tidak peduli. “Mas… kamu mau ke mana?” Shanum menoleh cepat, panik melihat suaminya hendak bergegas pergi lagi. “Gak nemenin aku?” Meski dalam konteks medis, tapi bagi Shanum ditinggalkan berdua saja dengan Prana membuatnya seperti bunuh diri secara emosional. Fadil mendengus kasar sembari melirik jam tangan mewahnya. “Aku harus segera pergi. Aku harus memantau kiriman alkes besar dari gudang untuk rumah sakit baru. Masa periksa gini aja harus ditemani? Udah jangan merengek!” “Tapi, Mas...” “Sudah kubilang daritadi jangan merengek! Nurut apa kata Dokter Prana. Aku pergi dulu.” potong Fadil tanpa perasaan. “Titip Shanum ya, Pran.” Tanpa mengecup kening atau memberikan kata penenang, Fadil melenggang pergi. Hening seketika menyergap ruangan itu. Shanum terpaku di tengah ruangan, jemarinya meremas ujung kemeja. Panik sekaligus bingung. “Bisa kita mulai sekarang?” tanya Prana. Menyiapkan selimut di atas ranjang pemeriksaan. Shanum melirik sekilas pada Prana yang duduk tenang menantinya. Dengan gerakan kaku ia berjalan mendekati ranjang pemeriksaan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut Prana bisa mendengarnya. “Buka celana dalamnya dulu, terus berbaring. Jangan lupa pasang kain penutupnya,” instruksi Prana datar, sangat profesional, meski matanya menatap Shanum dengan kedalaman yang sulit diartikan. Saat ia berbaring dan kedua kakinya dinaikan di penyangga untuk pemeriksaan transvaginal, rasa malu langsung menyergapnya. Ini bukan sekadar pemeriksaan medis. Ini adalah pengungkapan diri yang paling telanjang di depan mantan kekasihnya. “Oke, kita mulai,” ucap Prana pelan sembari mengenakan sarung tangan lateks. Shanum memejamkan mata rapat-rapat. Namun, begitu alat transvaginal itu baru saja menyentuh bibir sensitifnya, rasa perih yang tajam menjalar seketika. “Ah! Sakit, Mas...” rintih Shanum spontan. Tubuhnya refleks menegang, napasnya memburu pendek-pendek. Prana seketika menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut dalam. Seharusnya dengan pemberian gel yang cukup, pemeriksaan ini tidak akan menimbulkan rasa sakit berlebih pada pasien yang sudah menikah. Sebagai spesialis yang sudah menangani ribuan pasien, ia tahu ini tidak wajar. “Sakit?” tanya Prama heran. Prana menggeser lampu periksa lebih dekat, sedikit menunduk untuk melakukan inspeksi visual secara langsung sebelum melanjutkan prosedur USG. Shanum tersentak. Rasa malu yang luar biasa menyengat seluruh sarafnya. Secara refleks, ia mencoba merapatkan kedua pahanya. “Mas... jangan! Jangan dilihat!” pekik Shanum tertahan. Tangannya bergerak panik, hendak menarik selimut untuk menutupi bagian paling pribadinya dari tatapan sang mantan. “Buka pahamu, Shanum,” perintah Prana sedikit melunak walau tetap menuntut. “Tapi,” “Kalau aku tidak memeriksanya sekarang, aku gak akan tahu sejauh mana lukanya,” potong Prana tetap fokus. “Tapi aku malu, Mas,” rintih Shanum, memalingkan wajahnya sepenuhnya ke arah dinding, tak sanggup menatap mata Prana. “Jangan dilihat seperti itu...” “Gak perlu malu. Ini bagian dari pekerjaanku!” potong Prana cepat sambil menahan lutut Shanum agar tetap pada posisinya. Di balik sisa-sisa gel medis, Prana melihat jaringan luar area intim Shanum tampak meradang, bahkan ada luka lecet kecil yang masih terlihat segar. Jejak dari penetrasi tanpa lubrikasi yang cukup. Detik itu juga, rahang Prana mengeras. Matanya berkilat tajam penuh amarah yang tertahan. “Shanum,” panggil Prana sambil menarik napas panjang, mencoba menetralkan kemarahan yang hampir lolos dari celah giginya. Ia menjauhkan alat USG-nya, menunda pemeriksaannya. Ia tak tega menambah rasa sakit Shanum. Shanum menoleh perlahan, berusaha menekan rasa takut dan malunya. “Sebelum Fadi memasukimu, apa dia suka melakukan foreplay, dan memastikan kamu sudah terlubrikasi dengan cukup?” “Mas… aku…” Shanum kembali menggigit bibirnya. Pertanyaan itu terasa terlalu pribadi untuknya. Saat ini ia merasa harga dirinya luluh lantak. “Jawab aku, Shanum,” pinta Prana, kali ini lebih menuntut namun tersirat rasa protektif. “Dia melakukannya seperti orang pada umumnya, Mas,” jawab Shanum pelan, mencoba menutupi aib suaminya. Prana menggeser kursi kecilnya lebih dekat. Matanya tetap tertuju pada area merah yang meradang. “Kamu tidak perlu berbohong. Luka ini buktinya. Jaringan ini sobek karena dipaksa saat kamu masih 'kering'.” Prana menarik napas panjang untuk meredam emosinya yang meluap. “Aku tidak akan melanjutkan USG-nya hari ini. Soalnya gak mungkin aku memasukkan alat lagi ke area yang meradang ini,” ujar Prana, kembali ke mode tenang meski hatinya membara. Tangan Prana terulur mengambil sebuah tube salep. “Sekarang buka kakimu sedikit lebih lebar lagi, Shanum.” “Tapi Mas...” Ucapan Shanum terpotong saat menyadari wajah Prana sudah sejengkal saja dari 'miliknya'. “Kenapa harus sedekat ini?” jerit Shanum dalam hati.“Kita pulang sekarang, Mas,” pinta Shanum dengan suara rendah begitu matanya mengenali rombongan orang yang baru saja melangkah masuk ke dalam restoran.Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, Prana sudah tahu siapa saja orang-orang yang berdiri tak jauh dari meja mereka.Adik-adik kandung mantan suaminya—Gandi dan Topan—datang bersama para istri mereka, Mega dan Putri.Namun, hal yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran Alea, wanita yang dulu sempat menjadi salah satu selingkuhan Fadil, kini berdiri tepat di tengah-tengah mereka tanpa rasa bersalah.“Mbak Shanum?” panggil Mega sambil mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, sengaja mengeraskan suara agar menarik perhatian pengunjung restoran lain.Topan tampak tak peduli, melangkah santai menuju salah satu meja kosong yang berada tak jauh dari posisi Shanum dan Prana duduk sebelumnya.Di sisi lain, Gandi berdiri sambil menatap tajam ke arah perut Shanum yang sudah jelas membuncit di balik balutan pakaian hamilnya. Alea hanya ber
“Kenapa harus bohong kalau mau ketemu ibu kamu?”Prana mengajukan pertanyaan itu di sela-sela jam makan malam mereka. Restoran elit yang tadinya terasa tenang mendadak diisi oleh ketegangan kecil di meja sudut ruangan.Shanum menunduk, memainkan jemarinya di atas piring dessert yang sudah kosong.“Maaf, Mas. Tapi aku beneran pengen nyelesaiin ini semua biar baik-baik aja. Aku pengen hubungan keluarga kita berjalan tanpa halangan. Tapi sepertinya urusan sama Ibu memang udah gak bakalan bisa diperbaiki.”Prana menghela napas pelan melihat ekspresi bersalah di wajah istrinya. Pria itu meraih tangan Shanum di atas meja, mengusap punggung tangan itu lembut untuk meredakan ketegangan.“Apa pun yang ibumu lakukan, jangan diambil hati,” ucap Prana lembut. “Kamu fokus aja buat kesehatan kamu dan anak kita.”Shanum mengangguk kecil, merasakan kehangatan menjalar dari genggaman tangan suaminya. “Iya, Mas.”“Sekarang, ada satu hal lagi yang harus kita bahas,” lanjut Prana dengan nada berubah tega
Shanum dan Ani duduk saling berhadapan di rumah Bobby. Ani melipat tangan di dada, membuang muka ke arah lain tak menunjukkan sedikit pun kepedulian terhadap putrinya.Sebaliknya, Shanum memilih menegakkan punggungnya, terlalu gengsi untuk membuka suara lebih dulu kepada wanita yang melahirkannya itu.Beberapa menit sebelumnya, Tiara dan Bobby sempat menemani mereka di ruangan yang sama. Namun, Bobby memutuskan mengajak Tiara keluar menuju teras belakang guna memberi ruang privasi bagi Shanum dan Ani.Kebuntuan itu akhirnya pecah saat Ani melirik tajam ke arah putrinya dengan nada bicara ketus.“Kalau gak ada hal penting yang mau kamu sampaikan, lebih baik pulang saja sana.”“Bu...” panggil Shanum tertahan.Ani mendengus sinis. “Masih ingat kamu menganggap aku ibu?”“Sampai mati pun aku tetap anak Ibu,” jawab Shanum tegas tanpa ragu.“Kalau kamu masih menganggap aku ibu, gak bakalan mungkin kamu nekat nikah sama anak Ralin!” sentak Ani, matanya menyalang penuh amarah yang dipendam sej
“Kenapa kamu mau menemui aku?” tembak Shanum langsung pada intinya, tidak memberi kesempatan bagi Hania untuk berbasa-basi.Hania tidak langsung menjawab. Wanita itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi, mengangkat dagu tinggi-tinggi dengan gestur angkuh, lalu melipat tangan di dada.“Hebat juga keberanian kamu datang sendirian,” sindir Hania tajam.“Aku tanya sekali lagi, ada apa kamu minta ketemuan?” ulang Shanum dengan nada dingin yang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. “Langsung saja, aku gak punya banyak waktu. Setelah ini aku ada janji mengantarkan makan malam untuk suamiku.”Shanum sengaja menekankan kata 'suami' di hadapan Hania, berniat mengingatkan batas posisi mereka yang sebenarnya.Mendengar penekanan kata itu, rahang Hania langsung mengeras. Sifat angkuhnya sempat goyah sedetik sebelum ia kembali memasang tampang meremehkan.“Aku tahu semuanya soal Mas Prana,” desis Hania sengit. “Dan asal kamu tahu, pernikahan kalian itu terjadi karena dia cuma mau penasaran
“Sini, Sayang.”Prana menepuk matras di sebelah kirinya. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, sementara Shanum berdiri sejenak di dekat meja rias untuk melepas ikatan rambutnya.Shanum berjalan mendekat, lalu merebahkan diri di samping suaminya. Prana langsung menyambut tubuh istrinya, membawa Shanum ke dalam dekapan hangat dengan satu tangan menjadi bantal.“Tadi sore kaget banget pas Ayah datang tiba-tiba,” ucap Shanum membuka obrolan, kepalanya bersandar pas di dada bidang Prana.Prana mengecup puncak kepala istrinya sekilas. “Aku juga kaget. Tapi syukurlah semuanya berjalan baik. Mama benar-benar di luar dugaan kita.”“Iya, Mama hebat banget bisa berdarmai sama masa lalu,” balas Shanum tersenyum tipis. “Aku jadi ngerasa beban di pundak aku hilang separuh.”“Sekarang tugas kamu cuma satu,” bisik Prana sambil turunkan tangan kanannya mengusap perut Shanum yang terbalut piama tidur. “Fokus sama kesehatan kamu dan bayi kita.”Baru saja Prana menyelesaikan kalimatnya, tela
“Ada keperluan apa datang ke sini?” tanya Prana dingin, terdengar kaku dan penuh penolakan.Bobby menarik napas dalam-dalam, menghadapi sorot mata tajam anak kandungnya tanpa gentar.“Papa datang buat jenguk kalian berdua,” jawab Bobby tenang. “Papa tahu alamat rumah ini dari Mama kamu.”Mendengar pengakuan itu, kedua bola mata Prana membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku di tempat.“Dari Mama?” ulang Prana dengan nada tak percaya. “Gak mungkin Mama kasih alamat ini.”“Kami gak sengaja ketemu. Mamamu mengajak Ayah bicara sebentar.”Shanum yang berdiri tepat di balik punggung suaminya ikut terkejut bukan main. Ia mencengkeram ujung kemeja Prana erat-erat. Jujur ia takut suaminya akan emosi.Ralin yang selama ini dikenal paling membenci masa lalu dan keluarga Bobby, justru berinisiatif membuka komunikasi dengan mantan suaminya sendiri.Melihat kebingungan dan ketegangan di wajah ayah dan anak di depannya, Shanum memberanikan diri melangkah keluar dari balik perlindungan tubuh suaminya
Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin ca
“Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berb
“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata
Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua







