Share

Bab 69

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-02 19:48:45

“Cepat ke sini!” Kartika melirik tajam ke arah Shanum yang baru saja menapakkan kaki di area dapur.

Mertuanya itu sedang asyik memperhatikan Alea yang sedang menata piring dengan gerakan yang dibuat seanggun mungkin. “Bantu Alea menaruh piring-piring ini. Masa tamu yang sibuk, tuan rumah malah santai-santai.”

Shanum tak menjawab, langsung mengambil tumpukan piring dan menatanya di meja, tanpa ada gurat kekesalan yang biasanya ia tunjukkan. Alea menoleh, memberikan senyum manis.

“Maaf ya, aku ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 226

    “Di mana bunganya?” tanya Prana.Shanum menunjuk ke arah luar kamar. “Tadi aku taruh di meja sudut dekat ruang tengah.”Prana langsung turun dari ranjang. Dalam beberapa langkah panjang ia sudah keluar dari kamar dan berdiri di depan meja yang dimaksud Shanum. Sebuah rangkaian bunga lili terlihat sangat mencolok. Prana mengambil kartu kecil yang terselip di antara tangkai bunga.Lekas pulih, Shanum. Kalid.Hanya tiga kata. Tak ada kata berlebihan, tak ada rayuan. Prana menatap nama itu dengan seksama, mencoba mencari maksud lain yang tak tertulis. Tapi tak ada.“Kalid,” desisnya pelan.Alis Prana berkerut dalam. Tangannya menggenggam kartu itu lebih lama dari seharusnya. Ia merasa benda itu tak memiliki hak untuk ada di sini dan mengusik ruang pribadinya.Jelas sekali ia tak suka ada pria lain memberi perhatian pada Shanum. Di sisi lain, kepalanya juga memikirkan bagaimana bisa rekan sejawatnya itu bisa tahu Shanum tinggal di sini, namun ego dan rasa cemburunya sebagai seorang pria de

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 225

    Perlahan Prana menaiki ranjang, tangannya melingkari pinggang Shanum yang sudah terlelap sejak ia memasuki apartemen, lalu mencium pipi Shanum yang terasa hangat.Shanum bergerak sedikit, terdengar gumaman kecil dari bibirnya. “Udah pulang, Mas?”“Aku bangunin kamu ya?” bisik Prana di dekat telinga Shanum. “Udah, tidur lagi. Ini udah larut.”Bukannya menuruti ucapan Prana, Shanum justru memutar tubuhnya menghadap sang dokter. Ia mendekat, mencium aroma sabun dari tubuh Prana. “Kamu baru mandi ya?”“Iya, gerah banget,” jawab Prana. Ia merapikan letak selimut Shanum. “Tidur lagi, Num. Kamu harus banyak istirahat.”Hanya mengangguk kecil, Shanum mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Prana yang masih lembab. “Kenapa gak dikeringkan dulu?”“Kalau aku pakai hairdryer, nanti berisik. Tapi kamu malah tetep bangun gara-gara aku...” kata Prana.Shanum tersenyum kecil. “Aku memang belum tidur nyenyak kok.”Prana menatap wajah Shanum lekat-lekat. Mengingat kembali pesan yang dikirimkan Tiara

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 224

    “Mas, semalam Mbak Num tahu Mas dapat telepon dari Tante Ralin. Aku gak jadi nginep di apartemen soalnya dilarang datang sama Mbak Num. Ponselku semalam lowbat jadi baru ngasih tahu sekarang.”Prana membaca deretan pesan dari Tiara di layar ponsel itu dengan tatapan lurus. Kepalanya yang sudah pening sejak subuh kini terasa makin berat. Diletakkannya benda pipih tersebut di atas meja kayu kafe dengan agak keras.“Kenapa, Pran?” tanya Hendra. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, memperhatikan raut muka sahabatnya yang mendadak berubah keruh.Mereka berdua saat ini duduk di sudut sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari gerbang utama rumah sakit. Jam dinding kafe menunjukkan angka delapan pagi, membuat suasana sekitar mereka belum terlalu bising oleh pengunjung.“Pesan dari Tiara,” jawab Prana pendek sambil memajukan posisi duduknya. “Shanum tahu semalam Mama telepon. Dia pura-pura tidur waktu aku pergi, terus larang Tiara datang.”Hendra meletakkan cangkir kopinya kembali ke ta

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung waspada.Tadi ia sengaja berpura-pura tidur, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Prana di pojok ruangan, termasuk kebohongan pria itu tentang kamar mandi yang bocor dan janji untuk menginap di rumah ibunya.“Kayaknya tadi tante Ralin mau menginap disini,” gumam Shanum sambil mendudukkan diri di sofa. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. “Gara-gara aku Mas Prana sampai harus berbohong.”Ia beringsut turun dari sofa, melangkah perlahan menuju meja makan untuk mencari ponselnya. Ia harus bergerak cepat sebelum Tiara telanjur datang. Begitu menemukan benda pipih itu, Shanum langsung mendial nomor sahabatnya.“Halo, Ra?” panggil Shanum begitu panggilan tersambung.“L

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 222

    “Mama udah di jalan diantar Hania, sebentar lagi sampai.”Pesan kedua dari Ralin—Mama Prana—muncul di layar ponsel membuat tubuh Prana langsung menegang. Tatapannya beralih dari layar ke Shanum yang tertidur pulas di pangkuannya.“Sial,” gerutunya dalam hati.Prana menutup mata sesaat. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan hari ini, kedatangan mendadak Mamanya adalah yang paling tak ia inginkan. Perlahan ia menggeser tubuh Shanum agar bersandar pada bantal sofa. Untungnya efek obat masih membuat wanita itu tidur nyenyak.Begitu memastikan Shanum tak terbangun, Prana segera menjauh beberapa langkah dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang memburu waktu. Dengan gerakan cepat namun berhati-hati agar suaranya tak menggema, ia mencari kontak Mamanya dan langsung menekan tombol panggil.Telepon diangkat hanya dalam hitungan detik.“Halo, Pran? Mama baru aja mau telepon kamu. Hania lagi parkir bentar.” Suara Ralin langsung menyambar begitu telepon diangkat.Prana mengembusk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 221

    “Kawin lari?” seru Shanum, matanya membelalak sempurna. “Maksud kamu apa, Mas?”Raut wajah Shanum berubah total. Rasa sedih yang tadinya menggelayuti matanya mendadak lenyap, berganti ekspresi kaget sekaligus bingung yang luar biasa. Ia menatap Prana seolah-olah pria di hadapannya ini baru saja kehilangan akal sehatnya akibat terlalu banyak bekerja.“Aku serius,” sahut Prana, matanya memancarkan kesungguhan. “Kita bisa pergi sekarang juga ke daerah yang sangat terpencil. Tempat yang susah sinyal ponsel. Kalau bisa kita cuma tinggal berdua.”Shanum mengernyitkan keningnya, menatap Prana aneh. “Mas, kamu gak baik-baik aja kan? Apa efek kurang tidur beberapa hari ini jagain aku terus?”Prana tak membalas candaan itu. Ia justru memajukan tubuhnya, menatap Shanum dengan tatapan yang benar-benar serius.“Aku gak bercanda, Shanum. Nanti di sana gak akan yang bisa ganggu kita. Kita bikin kehidupan baru yang benar-benar cuma buat kita berdua aja.”“Apaan sih, Mas?” Shanum akhirnya tak bisa men

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 161

    “Kamu pikir kamu hebat? Hah?!” gertak Fadil tanpa menoleh. “Berani-beraninya kamu mempermalukan aku di depan bapak ibumu! Pakai bawa-bawa urusan ikat pinggang segala! Mau sok melawan kamu?”Wajah Fadil sudah tak sehangat atau berderai air mata seperti tadi di hadapan mertuanya. Pria itu menyetir de

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 160

    Lutut Fadil menghantam lantai dengan keras. Pria itu menundukkan kepala sangat dalam, badannya bergetar, dan sedetik kemudian terdengar suara isakan. Fadil tampak menangis, menyesali perbuatannya dengan begitu meyakinkan di depan mertuanya.“Ayah, Ibu... saya mohon ampun,” ucap Fadil sesenggukan, a

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 158

    Fadil meledek, memamerkan tawa garing yang terdengar amat sumbang di dalam kabin mobil. Kepalanya menggeleng-geleng, seakan-akan baru saja mendengar lelucon paling konyol abad ini dari mulut istrinya sendiri.“Kamu mau bongkar kebohonganku di depan Ayah?” Fadil berdecak sambil mengetuk-ngetuk setir

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 157

    “Mana Shanum?!” teriak Fadil menggelegar di ambang pintu, mengejutkan Mbok Yah yang sedang beres-beres di area ruang keluarga, menatap takut-takut pada majikan laki-lakinya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.Sebelum Mbok Yah sempat membuka mulut untuk menjawab, Shanum sudah menghampiri deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status