Mag-log inIris menatap Emberly dengan tidak percaya. Pasalnya Ia melihat sendiri bagaimana sikap mereka saat mereka pertama kali bertemu. Sama sekali asing dan tidak mengenal satu sama lain. Dan itu terjadi hanya beberapa hari yang lalu.
Iris sempat bertanya mengenai Easton pada karyawan senior. Mereka mengatakan bahwa Easton dikenal sebagai pengusaha yang gigih dan handal. Hanya dalam beberapa tahun saja, Easton sudah berhasil membesarkan SDP Corp.— perusahaan yang dibangunnya dari nol. Bahkan enam bulan yang lalu, Easton mengakuisisi perusahaan tempat mereka bekerja dan menggantinya dengan nama SDP Corp. Rekam jejaknya sangat profesional, dan dia terkenal sangat serius dan bahkan disebut sebagai workaholic. Mereka juga mengatakan bahwa Easton adalah orang yang tegas dan tidak suka tersenyum. Sedangkan mengenai kehidupan pribadinya, tidak banyak orang yang tahu. Dia tidak memiliki banyak skandal seperti banyak pengusaha muda lainnya. Jarang terlihat dekat dengan perempuan dan bahkan selama ini orang-orang terdekatnya—asisten dan sekertarisnya adalah laki-laki. Jadi sulit rasanya untuk percaya bahwa Emberly adalah sekertaris Easton. “Kenapa? Kamu tidak percaya?” tanya Emberly sambil mengangkat alisnya mengejek Iris. “Kamu pikir, apa aku akan berani duduk di sini, kalau aku bukan sekertarisnya?” “Tidak, tentu tidak,” jawab Iris sambil memaksakan senyum. Meski ia merasa heran, namun ia tidak punya hak untuk mempertanyakan hal itu. Mendengar jawaban Iris, Emberly terlihat puas. “Kamu mau apa bertemu dengan Mr. Sinclair?” tanya Emberly dengan menyelidik. Ia lalu melihat drafting tube di tangan Iris. “Apa itu rancangan? Berikan padaku, biar aku yang memberikannya kepada beliau!” “Miss Moore menyuruhku memberikannya langsung kepada Mr. Sinclair. Bisa aku bertemu dengannya?” Iris menolak. Olivia Moore—Marketing Manager menyuruhnya memberikannya langsung kepada Easton. Itu sebabnya ia menolak perintah Emberly. “Mr. Sinclair sedang sibuk. Dia sedang teleconference! Berikan saja padaku, Iris!” Emberly bersikeras meminta tabung berisi rancangan itu dari Iris. Iris ragu untuk memberikan tabung itu. Ia diperintah untuk menemui Easton langsung. “Maaf, aku akan tunggu di sini sampai Mr. Sinclair selesai conference.” Iris memilih menuruti perintah Olivia. “Iris! Kamu—” “Ada apa ini?” Tiba-tiba Vincent keluar dari ruangan kantornya dan berjalan ke arah mereka. “Mr. Bennet, ini bukan apa-apa. Karyawan magang ini ingin bertemu dengan Mr. Sinclair. Padahal saya sudah katakan kalau—” “Apa itu desain dari departemen Pemasaran?” Vincent memotong ucapan Emberly dan menunjuk tabung di tangan Iris. “Benar. Miss Moore mengatakan saya harus memberikan ini langsung kepada Mr. Sinclair.” “Hem… Ikut aku..” Vincent membuka pintu ruangan CEO dan mempersilahkan Iris masuk. Iris mengikuti Vincent masuk, dan begitu pula Emberly. Di kantor CEO yang besar dengan interior yang terlihat canggih dan profesional, Easton duduk di kursi kerjanya. Ia mengangkat wajahnya saat mendengar pintu di buka dan Vincent memberitahukannya kedatangan Iris. “Tuan, rancangan desain promosi dari bagian Pemasaran.” “Berikan padaku!” Easton segera meminta tabung itu. Iris memberikannya dan memperhatikan saat Easton membuka tabung itu kemudian menatap desain di tangannya dengan sangat serius. “Iris Villar. Apa itu kamu?” tanya Easton sambil melirik Iris. Iris terkejut Easton tiba-tiba menyebut namanya. “Saya, Tuan.” “Kamu yang membuat desain ini?” tanya Easton lagi. Iris kembali bingung. Desain? “Kemari!” perintah Easton. Iris mendekat dan ia melihat gambar desain di tangan Easton. “Ya, Tuan. Itu memang desain saya,” jawabnya dengan sedikit terkejut. Ia tidak tahu jika desain yang ia bawa adalah hasil karyanya sendiri. Mungkin itu sebabnya Olivia memintanya memberikan langsung pada Easton. “Hm.. berapa lama kamu bekerja di sini?” tanya Easton sambil melirik Iris. “Mr. Sinclair. Miss Villar adalah karyawan magang. Dia bukan karyawan tetap perusahaan.” Emberly tiba-tiba menimpali. Easton mengangkat alisnya. Baru kali ini Iris melihat reaksi di wajah pria itu saat sedang berada di kantor. Easton tampak berpikir sejenak. “Katakan pada Moore, aku akan berikan jawabannya besok pagi. Kamu boleh pergi.” Kali ini Iris yang mengangkat alisnya. Itu saja? Namun Iris tidak berani menyanggah meski ia tidak yakin jawaban apa yang Easton maksudkan. Ia pun mengangguk dan berjalan keluar. Petang hari di rumah, Iris kembali terpikirkan kejadian siang tadi. Iris masih tidak habis pikir bagaimana Emberly bisa tiba-tiba menjadi sekertaris Easton. Bukankah selama ini orang-orang terdekatnya adalah laki-laki? Dan kenapa Easton memecat Mr.Brown dan menggantinya dengan Emberly? “Ah, kasihan sekali Mr. Brown. Sekarang dia tidak punya pekerjaan…” Iris menyayangkan keputusan Easton. Sebab menurut teman-temannya di kantor, Mr.Brown sudah 10 tahun bekerja di perusahaan. Ia diberhentikan ketika Emberly naik menjadi sekertaris. ‘Dasar tidak berperasaan!’ Umpat Iris. “Ah, kenapa aku memikirkan itu?” gumamnya merasa tidak seharusnya memikirkan urusan orang lain. Apalagi keputusan Easton untuk mengangkat Emberly menjadi sekertaris sama sekali tidak berhubungan dengannya. “Apa yang kamu lamunkan?” Grace—ibunya, tiba-tiba masuk ke dapur dan bertanya. Iris yang sedang mencuci perkakas bekas memasak, menoleh. “Ah nggak, cuma ingat—kejadian di kantor.” “Apa ini mengenai CEO baru di kantor?” tanya Grace sambil melirik Iris. Iris tertawa kecil. Ia memang pernah bercerita pada Grace jika CEO baru di tempatnya magang, terkenal dingin dan tidak pernah tersenyum. “Bukan, hanya hal random saja,” jawabnya berkelit. “Ayo, kalau sudah selesai, langsung ke meja makan. Daddy-mu sudah menunggu.” Grace mengajak Iris sembari ia mengangkat ayam panggang dari oven, lalu membawanya ke ruang makan. Setelah mengeringkan tangannya, Iris menyusul pergi ke ruang makan. Di sana, Grace dan Harlan—ayahnya, sudah menunggu. Namun sebelum Iris sempat duduk, tiba-tiba saja bel pintu berbunyi.Ia dan kedua orang tuanya saling bertukar pandang. “Honey, apa kamu mengundang seseorang?” tanya Harlan pada istrinya. Grace menggeleng. “Tidak. Mungkin saja tetangga.” Grace mengangkat bahu, juga tidak tahu siapa yang datang. Di daerah mereka, sangat jarang tamu bertandang ke rumah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu atau undangan. “Biar kulihat…” Iris berinisiatif untuk mengecek siapa yang datang. Ia pun pergi ke pintu depan dan langsung membukanya. “Ada—” seketika ia berhenti bicara saat melihat siapa orang yang berdiri di depan pintu. Easton Sinclair!? “M-mr. Sin—clair, se-sedang apa anda—di sini?” Iris langsung tergagap. Iris benar-benar terkejut. Ia menatap Easton lalu ke belakang tubuh pria itu, untuk melihat dengan siapa dia datang. Tetapi CEO kantornya itu hanya datang seorang diri. Berbagai macam dugaan lewat di kepala Iris. Apakah dia mencarinya karena kejadian malam itu? Atau jangan-jangan karena desain tadi siang? Kening Easton berkerut, lalu tiba-tiba alisnya terangkat dan bola matanya membesar. “Kamu—bernama Villar..” ucapnya seperti menyadari sesuatu. ‘Hah? Apa maksudnya?’ Iris semakin bingung. “Iris, siapa yang datang, sayang?” Harlan menyusul untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintu. “Kenapa lama se— E-EASTON?” Seketika Harlan tergagap. Wajahnya terlihat syok dan sangat terkejut dengan kedatangan Easton. Iris mengerutkan kening. Apakah ayahnya mengenal Easton? Di lain pihak, Easton menatap Harlan dan berkata, “Apa kabar, Dad? Lama tidak berjumpa.” ‘Dad? Apa dia menyebut Dad—?’Iris Villar POV Mobil yang kami tumpangi memasuki gerbang halaman sebuah pabrik yang berlokasi di daerah yang cukup jauh dari wilayah pemukiman, sekitar hampir satu jam perjalanan dari kantor. Terlihat papan nama di gerbang yang kami lewati. EcoCharge Ltd. Nama tempat itu mengingatkanku pada pertemuan beberapa hari yang lalu bersama Robert Jenkins—direktur EcoCharge. Dan melihat tempat yang kami tuju, sepertinya tempat ini adalah pabrik solar panel yang mereka bicarakan. Walau begitu, aku masih tidak mengerti mengapa Easton mengajakku ke sini. Apa dia ingin aku menggantikan Emberly seperti waktu itu? “Perhatikan baik-baik apa yang akan kamu temui. Kamu bisa membuat catatan atau mengambil foto… whatever suit you…” ujar Easton sambil bersiap-siap untuk turun. “Apa sebenarnya yang—” ucapanku terhenti. Easton mengenakan kacamata hitamnya, lalu keluar begitu saja tanpa mendengarkan pertanyaanku. Tidak ada penjelasan, untuk apa aku ada di sini atau apa sebenarnya yang harus
Hari berikutnya Iris terpaksa datang ke gedung SDP Corp. Keluar dari taksi, Iris mendongak, menatap lantai paling atas di mana kantor Easton berada.Tujuannya datang hari itu adalah untuk menemui Easton, menanyakan mengapa dia menolak pengunduran dirinya dan kalau memungkinkan memaksanya menerima pengunduran itu.Ia sengaja tidak memberitahukan kedua orang tuanya, berharap kali ini permasalahannya dan Easton bisa diselesaikan.Iris masuk ke dalam gedung tanpa kendala. Bahkan ID card magang miliknya masih berfungsi dengan baik.Di depan kantor Easton, ia melihat Emberly duduk di meja kerjanya, sedang berbicara melalui telepon.“Don’t!” Iris memberi Emberly peringatan saat sekertaris Easton itu beranjak dari duduknya, hendak menghentikannya.Iris tidak ingin siapa pun menghalanginya, apalagi Emberly.Ia membuka pintu kantor Easton dan langsung menerobos masuk.“Easton, aku ingin bicara!”Langkah kaki Iris terhenti. Ia diam membeku saat melihat ke dalam ruangan itu.Di dalam ruangan ker
“Professor Winter!” Iris berusaha mengejar dosen di kampus tempatnya kuliah.Setelah kemarin ia memberikan Easton surat pengunduran dirinya, Iris tidak mengulur banyak waktu. Ia segera pergi menemui dosen pembimbingnya di kampus.Profesor berusia lima puluhan tahun itu menoleh melihat Iris. Ia mengurangi kecepatannya berjalan, namun tidak berhenti. “Miss Villar,” sapanya dengan mengangguk kecil.“Profesor, maaf mengganggu waktu Anda. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.” Iris menyejajarkan langkah mereka. Ia mengetahui Profesor Winter adalah dosen yang sibuk. Itu sebabnya ia berusaha menemuinya diantara jadwal profesor itu mengajar.“Go ahead. I’m listening,” jawab profesor itu sambil terus berjalan dan membenahi letak kacamatanya.“Profesor, saya ingin bicara mengenai—kerja magang saya.” Iris langsung bicara mengingat kesibukan Profesor Winter.“Kenapa memangnya?” Profesor Wintor menoleh sekilas. “Saya—merasa kurang cocok bekerja magang di SDP,” ujar Iris, lalu ia cepat-cepat mena
Iris yakin belum pernah bertemu dengan Timothy. Kalau pun pernah, ia tentu tidak akan lupa pernah bertemu dengan seorang anggota keluarga Galland.Dan sebagai bawahan Easton, ia dituntut untuk bersikap profesional di manapun ia berada.Ia pun berdiri, membalas senyum Timothy dan menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri. “Saya—”“Tunggu! Kamu sekertaris barunya Easton?” Timothy memperhatikan Iris sembari menjabat tangan gadis itu dnegan ragu. Ia lalu melirik Easton dan menatapnya penuh arti.Iris melihat hal itu, dan ia mengerti mengapa Timothy menyangka dirinya adalah Emberly. Akan tetapi, ekspresi Easton datar saja. Dia bahkan seperti tidak berniat mengoreksi ucapan Timothy.Iris tidak ingin terjadi salah sangka. Ia menggeleng. “Mr. Galland, saya Iris Villar, karyawan magang di SDP Corp. Senang bertemu dengan Anda.” Ia memperkenalkan dirinya secara formal.“Iris… Villar?” Timothy tampak terkejut. Dia kembali melirik Easton sebelum kembali menatap Iris, memperhatikan gadis di ha
Jantung Iris berdetak semakin kencang, dan entah bagaimana kenangan kejadian malam panasnya bersama Easton di hotel itu, berkelebat dalam benaknya.Iris menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan bayangan itu dari benaknya. Tidak, ia harus bisa melupakan kejadian itu!Tapi, mengapa Easton membawanya ke sini? Apakah… dia ingat kejadian malam itu? Apakah dia sudah tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua? Suara pintu dibuka mengalihkan pandangan Iris. Ia melihat supir pribadi Easton keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu belakang.Rasa panik melingkupi Iris. Jantungnya berdebar kencang, dan ia refleks meraih lengan Easton, memeganginya dengan erat. “Easton,tunggu!” serunya,“Untuk apa kamu mengajakku ke sini?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia harus tahu alasan Easton mengajaknya ke hotel itu.Easton yang bersiap untuk turun, terkejut dengan gerakan Iris yang tiba-tiba. Serta merta pandangan matanya turun menatap tangan yang memeganginya.Iris langsung ter
Iris menatap Easton dengan terkejut karena nada bicara Easton yang keras dan tegas menolak Emberly. Hukankah Emberly kekasihnya? Kenapa dia bicara dengan nada seperti itu.Iris juga refleks melirik Emberly dan melihat kekasih Easton itu melotot padanya. Iris segera menundukkan wajah, seakan tidak peduli apa yang tengah mereka perdebatkan, meski ia penasaran.Wajah Emberly memerah dan ia tampak kikuk. Emberly memaksa tersenyum namun diam-diam mengembuskan nafas geram. Ia lalu membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun Easton mendahuluinya.Kali ini suara Easton terdengar jauh lebih lembut. “Meeting itu sangat penting, Emberly. Itu sebabnya, aku meminta kamu yang mengaturnya, memastikan semua berjalan dengan baik.”Mendengar suara Easton yang berubah lembut saat berbicara dengan Emberly, Iris tertegun.Mungkin tadi Easton hanya lepas kendali, karena ternyata dia sangat lembut memperlakukan Emberly. Tidak seperti cara bicara Easton terhadap nya, pikir Iris.Di lain pihak, bibir







