LOGINIris Villar POVMobil yang kami tumpangi memasuki gerbang halaman sebuah pabrik yang berlokasi di daerah yang cukup jauh dari wilayah pemukiman, sekitar hampir satu jam perjalanan dari kantor. Terlihat papan nama di gerbang yang kami lewati. EcoCharge Ltd.Nama tempat itu mengingatkanku pada pertemuan beberapa hari yang lalu bersama Robert Jenkins—direktur EcoCharge.Dan melihat tempat yang kami tuju, sepertinya tempat ini adalah pabrik solar panel yang mereka bicarakan. Walau begitu, aku masih tidak mengerti mengapa Easton mengajakku ke sini. Apa dia ingin aku menggantikan Emberly seperti waktu itu?“Perhatikan baik-baik apa yang akan kamu temui. Kamu bisa membuat catatan atau mengambil foto… whatever suit you…” ujar Easton sambil bersiap-siap untuk turun.“Apa sebenarnya yang—” ucapanku terhenti. Easton mengenakan kacamata hitamnya, lalu keluar begitu saja tanpa mendengarkan pertanyaanku.Tidak ada penjelasan, untuk apa aku ada di sini atau apa sebenarnya yang harus aku lakukan di
Hari berikutnya Iris terpaksa datang ke gedung SDP Corp. Keluar dari taksi, Iris mendongak, menatap lantai paling atas di mana kantor Easton berada.Tujuannya datang hari itu adalah untuk menemui Easton, menanyakan mengapa dia menolak pengunduran dirinya dan kalau memungkinkan memaksanya menerima pengunduran itu.Ia sengaja tidak memberitahukan kedua orang tuanya, berharap kali ini permasalahannya dan Easton bisa diselesaikan.Iris masuk ke dalam gedung tanpa kendala. Bahkan ID card magang miliknya masih berfungsi dengan baik.Di depan kantor Easton, ia melihat Emberly duduk di meja kerjanya, sedang berbicara melalui telepon.“Don’t!” Iris memberi Emberly peringatan saat sekertaris Easton itu beranjak dari duduknya, hendak menghentikannya.Iris tidak ingin siapa pun menghalanginya, apalagi Emberly.Ia membuka pintu kantor Easton dan langsung menerobos masuk.“Easton, aku ingin bicara!”Langkah kaki Iris terhenti. Ia diam membeku saat melihat ke dalam ruangan itu.Di dalam ruangan ker
“Professor Winter!” Iris berusaha mengejar dosen di kampus tempatnya kuliah.Setelah kemarin ia memberikan Easton surat pengunduran dirinya, Iris tidak mengulur banyak waktu. Ia segera pergi menemui dosen pembimbingnya di kampus.Profesor berusia lima puluhan tahun itu menoleh melihat Iris. Ia mengurangi kecepatannya berjalan, namun tidak berhenti. “Miss Villar,” sapanya dengan mengangguk kecil.“Profesor, maaf mengganggu waktu Anda. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.” Iris menyejajarkan langkah mereka. Ia mengetahui Profesor Winter adalah dosen yang sibuk. Itu sebabnya ia berusaha menemuinya diantara jadwal profesor itu mengajar.“Go ahead. I’m listening,” jawab profesor itu sambil terus berjalan dan membenahi letak kacamatanya.“Profesor, saya ingin bicara mengenai—kerja magang saya.” Iris langsung bicara mengingat kesibukan Profesor Winter.“Kenapa memangnya?” Profesor Wintor menoleh sekilas. “Saya—merasa kurang cocok bekerja magang di SDP,” ujar Iris, lalu ia cepat-cepat mena
Iris yakin belum pernah bertemu dengan Timothy. Kalau pun pernah, ia tentu tidak akan lupa pernah bertemu dengan seorang anggota keluarga Galland.Dan sebagai bawahan Easton, ia dituntut untuk bersikap profesional di manapun ia berada.Ia pun berdiri, membalas senyum Timothy dan menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri. “Saya—”“Tunggu! Kamu sekertaris barunya Easton?” Timothy memperhatikan Iris sembari menjabat tangan gadis itu dnegan ragu. Ia lalu melirik Easton dan menatapnya penuh arti.Iris melihat hal itu, dan ia mengerti mengapa Timothy menyangka dirinya adalah Emberly. Akan tetapi, ekspresi Easton datar saja. Dia bahkan seperti tidak berniat mengoreksi ucapan Timothy.Iris tidak ingin terjadi salah sangka. Ia menggeleng. “Mr. Galland, saya Iris Villar, karyawan magang di SDP Corp. Senang bertemu dengan Anda.” Ia memperkenalkan dirinya secara formal.“Iris… Villar?” Timothy tampak terkejut. Dia kembali melirik Easton sebelum kembali menatap Iris, memperhatikan gadis di ha
Jantung Iris berdetak semakin kencang, dan entah bagaimana kenangan kejadian malam panasnya bersama Easton di hotel itu, berkelebat dalam benaknya.Iris menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan bayangan itu dari benaknya. Tidak, ia harus bisa melupakan kejadian itu!Tapi, mengapa Easton membawanya ke sini? Apakah… dia ingat kejadian malam itu? Apakah dia sudah tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua? Suara pintu dibuka mengalihkan pandangan Iris. Ia melihat supir pribadi Easton keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu belakang.Rasa panik melingkupi Iris. Jantungnya berdebar kencang, dan ia refleks meraih lengan Easton, memeganginya dengan erat. “Easton,tunggu!” serunya,“Untuk apa kamu mengajakku ke sini?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia harus tahu alasan Easton mengajaknya ke hotel itu.Easton yang bersiap untuk turun, terkejut dengan gerakan Iris yang tiba-tiba. Serta merta pandangan matanya turun menatap tangan yang memeganginya.Iris langsung ter
Iris menatap Easton dengan terkejut karena nada bicara Easton yang keras dan tegas menolak Emberly. Hukankah Emberly kekasihnya? Kenapa dia bicara dengan nada seperti itu.Iris juga refleks melirik Emberly dan melihat kekasih Easton itu melotot padanya. Iris segera menundukkan wajah, seakan tidak peduli apa yang tengah mereka perdebatkan, meski ia penasaran.Wajah Emberly memerah dan ia tampak kikuk. Emberly memaksa tersenyum namun diam-diam mengembuskan nafas geram. Ia lalu membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun Easton mendahuluinya.Kali ini suara Easton terdengar jauh lebih lembut. “Meeting itu sangat penting, Emberly. Itu sebabnya, aku meminta kamu yang mengaturnya, memastikan semua berjalan dengan baik.”Mendengar suara Easton yang berubah lembut saat berbicara dengan Emberly, Iris tertegun.Mungkin tadi Easton hanya lepas kendali, karena ternyata dia sangat lembut memperlakukan Emberly. Tidak seperti cara bicara Easton terhadap nya, pikir Iris.Di lain pihak, bibir







