LOGINAuthor POVKlub malam itu sangat ramai dipadati pengunjung. Suara musik yang hingar-bingar, kerlap-kerlip lampu disko serta aroma berbagai macam minuman menyambut mereka.“Ayo!” seru Iris sambil menggandeng tangan Oliver berjalan membelah kerumunan orang-orang untuk mencari Agatha.Agatha dan Wesley telah sampai lebih dahulu—mendapatkan sebuah meja untuk mereka. Di tengah kerumunan, telepon genggam di tangan Iris bergetar dan ia langsung mengangkatnya. “Agatha, where’re you?” tanyanya setengah berteriak karena hingar-bingarnya musik dan suara orang-orang di sekelilingnya.“Iris, arah jam 2! Jam 2!” terdengar suara Agatha dari sambungan telepon.Mendengar samar “Jam 2”, Iris mengikuti arah itu, dan ia melihat Agatha melambaikan tangan kepadanya.Ia dan Oliver segera menghampiri Agatha dan Wesley. Dan seketika itu pula, kedua sahabat itu langsung berpelukan.Mereka berjingkrak kegirangan sambil menyerukan nama mereka satu sama lain dengan rasa rindu.“I miss you!”“I miss you too!”“O
Author POVSetelah selesai makan malam, Iris dan Oliver berjalan keluar restoran untuk pergi ke The District night club.“Masuklah, Iris.” Langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah mobil porsche carera berwarna silver metallic.“Wow… great car…” gumam Iris, kagum melihat mobil Oliver. Ia tidak menyangka Oliver memiliki mobil sport mewah berharga miliaran itu.Oliver tersenyum tersipu, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa melainkan memberi gestur agar Iris masuk ke dalam.Setelah menutup pintu, Oliver memutari mobil dan masuk melalui pintu pengemudi.Di dalam mobil, Iris tersenyum, tidak bisa menutupi kekagumannya pada interior mobil itu.“Kamu suka mobil seperti ini?” tanya Oliver sambil ia menyalakan mesin mobil.“Siapa yang tidak?” jawab Iris dengan nada gurau. “Mungkin seharusnya dulu aku mengambil jurusan kedokteran…” gumamnya pelan, namun terdengar oleh Oliver sehingga memancing kekehan pria itu.“Obviously the paid is generous…” tambah Iris dengan cengiran di wajahnya.Oliver
Author POVPeristiwa itu terjadi di hotel milik Timothy. Hanya karyawan hotel itu yang memiliki akses untuk masuk ke dalam kamar atau bersentuhan langsung dengan botol wine itu sebelum ia mengkonsumsinya.“Aku pun tidak tahu Easton. Tebakanku, kamu mungkin korban salah target. Maksudku, mungkin wine dengan obat perangsang itu mungkin ditujukan untuk orang lain, namun justru terkirim ke kamarmu. Karena malam itu, ada beberapa kamar yang memesan Pinot Noir.”Easton menatap Timothy, tidak yakin untuk percaya pada penuturannya. Tidak sengaja? Apakah itu mungkin?“Easton, kamu tidak berpikir kalau aku dan Regina yang meracunimu kan?” tanya Timothy sambil menatap balik Easton.Lama mereka saling tatap sampai akhirnya Easton menggeleng. “Of course not. You didn't have any reason to do that, did you?”“No, of course not!” Timothy menjawab dengan cepat.“Look Easton, Aku tahu hal itu kelihatan tidak masuk akal. Dan aku sangat menyesal hal itu terjadi di hotelku. Tapi terus terang, aku tidak ta
Author POV“Hei, Easton!” Timothy dan Damon langsung menyapa dan menyalami Easton begitu ia datang.“Easton, I’m glad you’re here! Sejk kepindahanmu, kami ingin mengajakmu ke sini. Tapi kamu selalu sibuk…” Damon langsung menariknya ke arah sofa setengah lingkaran yang ada di booth itu. “Sorry to disappoint you guys, but I have to work to survive, unlike you trust fund kids…” Easton merasa sedikit rileks berada diantara teman-temannya. Ia menimpali mereka dengan sedikit gurauan mengenai kelebihan mereka sebagai trust fund kids.Trust fund kids adalah orang yang terlahir di keluarga kaya, yang diberikan warisan dan dukungan finansial yang solid dari keluarganya. Tidak seperti Timothy dan Damon yang terlahir dari keluarga kaya dan mewarisi jabatan pimpinan perusahaan dari orang tua, Easton harus memulai usahanya dari nol.Segala yang Easton dapatkan hari ini adalah jerih payah dan keringat yang ia keluarkan sendiri.Timothy dan Damon tidak tersinggung dengan ucapan Easton. Mereka justr
Author POVEaston melirik telepon genggam di atas meja dan meraihnya. Namun saat ia mencari nomor Iris, ia tidak menemukannya. Easton baru menyadari, ia tidak menyimpan nomor telepon Iris! Damn it! Umpatnya dalam hati dengan sedikit rasa penyesalan. Tidak dipungkiri, ia tahu persis mengapa ia tidak pernah menanyakan nomor gadis itu pada Vincent.Well, Ia tidak pernah mengira jika ia akan membutuhkannya.Siapa yang akan meyangka jika ia—CEO SDP Corp., akan menghubungi Iris—seorang karyawan magang?Easton hendak menanyakan nomor Iris kepda Vincent, namun sebelum ia sempat men-dial nomor Vincent, ia mengurungkannya.Tidak, ia tidak bisa melakukan itu, batinnya sambil menatap layar telepon. Rasa gengsi menahannya, namun rasa ingin tahu dan tak nyaman itu masih ada, menggelitik dengan perlahan menyisakan keraguan.Lalu, Easton teringat sesuatu. Dan tangannya mulai membuka sebuah aplikasi media sosial.Instagram, dan ia mengetik nama Iris.Easton ingat, siang tadi Iris sempat mengirimka
Author POVTidak ada yang mau bekerja lembur pada friday night. Hampir semua orang bersegera pergi begitu jam pulang kantor—entah pulang ke rumah untuk bertemu keluarga, atau dating, atau pergi hangout dengan teman—or get wasted.Dan Emberly berharap malam ini ia bisa menghabiskannya bersama Easton, bahkan jika memungkinkan sepanjang weekend!Emberly merasa hubungannya dan Easton harus segera naik ke level berikutnya. Dengan adanya Iris di lingkungan yang sama dengannya dan Easton, Emberly tidak boleh membuang lebih banyak waktu dan membiarkan kesempatan yang dimilikinya menjadi sia-sia.Ia harus mengambil inisiatif lebih berani dan tidak boleh memberi Iris kesempatan untuk merebut Easton darinya.Sambil menaruh kopi di meja Easton—dengan sengaja meyentuh bahu Easton dalam prakteknya, ia berkata dengan lemah lembut, “Tapi ini friday night, Easton. Apa kamu tidak mau—keluar? Semua orang di kantor sudah pergi.” Mencium aroma parfum Emberly yang tajam membuat Easton refleks menjauh. Ia







