LOGIN“Tanya apa Salsa?” Aku menggunakan nada suara paling lembut yang kubisa.
Salsa bahkan tidak berpikir ketika menjawab. “Banyak Mama, Miss tanya Papa kapan nikahnya, Miss diundang nggak? Terus tanya Mama juga.”“Oh ya?”“Miss itu suka sama Papa loh, Mama.”Kepalaku berputar, benar-benar nyaris berbalik dengan mata melotot ke arah Nata. Pria itu mendelik. “Aku—”“Diam.” Aku segera menempelkan telunjuk di bibir, kemudian tersenyum dipaksakan dari balikLula terjatuh dan mendesah.Sementara gue menempelkan tubuh kami, memastikan dia tahu seberapa besar gue menginginkannya saat ini.“Nata,” sebutnya mengerang, menyentuh kedua rahang gue, menahan gue supaya tidak menunduk dan melahapnya.“Sebentar Nata, Salsa di luar.”Pelipis gue berkedut.“Sus Dara juga nunggu kita,” bisiknya parau dengan napas terengah.Gue memandang Lula yang kini di bawah kurungan tubuh gue. Melihat bagaimana pakaiannya yang sudah tersingkap, memamerkan kulitnya yang pucat, BH-nya terlepas dan payudaranya tampak terpapar dengan puncaknya yang kemerah-merahan dan mencuat.Sementara itu, bibir Lula tampak membengkak akibat ulah gue, dan lipstiknya sudah berantakan.Lula menggigit bibir. “Aku... mau...” Dia mengakui dengan malu-malu. Namun tangannya perlahan mengaitkan kembali BH-nya kemudian menarik blusnya turun, menutup dirinya sendiri. Lula beringsut duduk, memaksa gue akhirnya untuk bangki
(Nata’s Pov)Istri gue cantik banget.Dia sedang dandan di meja rias ketika gue keluar dari kamar mandi. Aromanya harum sekali, menguar di udara, mengelilingi indera penciuman gue.Sambil berjalan mendekat, gue kemudian menunduk, mengendus-endus kepalanya, sebelum tenggelam di lehernya dan mengecupnya di sana.Brengsek, gue tegang.“Mau ke mana?” tanya gue serak.“Nganter Salsa sekolah,” jawabnya santai, menggeliat sedikit karena geli. Namun dia mengusap rahang gue sejenak sebelum menyimpan bedaknya ke dalam laci dan mengambil lipstik.Gue mendongak, wajah gue langsung defensif. “Kamu mau apa, La?” "Loh, kok mau apa sih, Nata?” sahutnya dramatis, memandang gue dari pantulan cermin. “Aku mau nganter Salsa masa nggak boleh? Kegiatan aku biasanya kalau di kosan juga gini.”Tapi gue tau ini bukan cuma sekadar dia ingin mengantar Salsa, melainkan tentang pembicaraan kami kemarin.Disadari atau engg
“Tanya apa Salsa?” Aku menggunakan nada suara paling lembut yang kubisa.Salsa bahkan tidak berpikir ketika menjawab. “Banyak Mama, Miss tanya Papa kapan nikahnya, Miss diundang nggak? Terus tanya Mama juga.”“Oh ya?”“Miss itu suka sama Papa loh, Mama.”Kepalaku berputar, benar-benar nyaris berbalik dengan mata melotot ke arah Nata. Pria itu mendelik. “Aku—”“Diam.” Aku segera menempelkan telunjuk di bibir, kemudian tersenyum dipaksakan dari balik gigi yang terkatup rapat pada Salsa dengan nada yang dilembut-lembutkan. “Gimana sayang?”"Iya, soalnya kalau mau pulang Miss suka nanya, Salsa dijemput siapa? Kalau sama Sus, Miss biasa aja. Tapi kalau dijemput Papa. Miss langsung pakai bedak kayak Mama kemarin, terus bibirnya dimerah-merahin.”Astaga.Ini terasa tidak benar.Aku menatap Nata dengan mata melotot meminta penjelasan, Nata mendesah. “Aku nggak tau,” katanya segera membela diri dan men
Verifikasi passcode pintu unit berhasil. Aku langsung mendorongnya kasar, melempar tas ke samping, kemudian berlari mencari Nata, menemukan pria itu di kitchen. Aku memeluk pinggangnya dari belakang. Lenganku yang mungil merengkuhnya, pipiku bersandar di punggungnya yang lebar.Nata terkesiap, langsung ingin membalikkan tubuh, namun saat sadar bahwa itu aku, dia bergeming.Ada kekeh pelan yang dia lemparkan.Oh, nyaman sekali. Tubuhnya yang berbalut sweater tebal sangat wangi. Aku sampai menggesekkan ujung hidungku ke tulang belikatnya, menghidu aromanya sambil memejamkan mata. “Lula?” panggilnya lembut. Meremas tanganku yang berada di pinggangnya. “Kamu kenapa? Ada masalah?”Hei, nggak setiap pelukan tandanya sedang ada masalah ya, Bapak. Aku hanya ingin bermanja-manja. Menikmati masa-masa tenang setelah semua badai yang berputar-putar tanpa henti.Kugelengkan kepala di punggungnya agar Nata bisa merasakan. “Empuk, nggak pa-pa
“Karena memang enggak.” Calista menjawab, wajahnya merah padam. Balasannya yang cukup keras membuat Wenda menoleh terkejut. “Itu nggak bener, aku sama Pak Andrew sudah putus sebelum dia memulai hubungan baru. Udah ya, tolong jangan dibahas.” Mulutku terbuka, melongo. Gilman mengedip-ngedipkan matanya terkejut, tapi dia buru-buru mengambil alih suasana dengan mengajak kami nonton saat weekend nanti. Obrolan mengalir ke arah yang berbeda. Wenda menatapku, lalu menoleh pada Calista yang tampak tidak nyaman dengan topik pembahasan kami. Wanita itu buru-buru merapikan barang-barangnya, dan menenteng laptop untuk ke mejanya, hampir seperti melarikan diri, bahkan semua itu dia lakukan tanpa memandangku. “Kamu kenapa sih, Mba?” Wenda membuntutinya, meminta penjelasan. “Kenapa malah ngebelain Lula?” “Yang belain siapa?” “Itu tadi apaan? Kenapa harus ditutu-tutupin? Memang bener kan, merek
“Selamat untuk pernikahan kamu.” Ucapan itu kudengar sambil lalu ketika sedang mengisi tumblr di pantry.Damian mencondongkan tubuh, membuat sesuatu di mesin kopi.Sepertinya, sampai saat ini, keinginannya untuk mengganti mesin kopi di ruangannya belum tercapai.Mulutku terbuka, ada desakan ingin menjelaskan panjang lebar mengenai keputusanku dengan Nata. Tapi siapa dia? Dan tanggung jawab moral apa yang harus kujelaskan padanya? “Terima kasih Damian.” Nah, agar tidak berlarut-larut, aku pun mengakui.Damian menoleh, dahinya mengernyit. Lucu bagaimana wajahnya kelihatan terkejut padahal dialah yang memulai pembicaraan ini. “Saya... diundang?”Aku memamerkan senyum sopan. “Semua keputusan undangan aku serahkan ke Nata. Pernikahan kami nggak besar, cuma di KUA. Mungkin Nata akan mengundang beberapa rekan di sini supaya nggak menimbulkan fitnah, jadi mungkin kamu... termasuk.”Kurasa jawabanku sudah cukup bijaksana, namun







