LOGIN“Tumben banget traktir? Memangnya udah gajian? Atau baru dapet bonus?”
Melihat wajah Tria yang berbinar-binar ketika aku mengajaknya lunch di hari berikutnya, membuatku ikut senang.Dia menenteng paper bag, dan setelah dibuka isinya adalah bekal yang dimasak sendiri tadi pagi.“Wah, nggak jadi dong kalau gitu.”“Ih, jadi.” Tria menggerutu. “Kalau soal makan aku masih bisa nampung.” Dia menepuk perutnya lalu kami tertawa.Setelah makanan disajikan oLepas main-main dan rebutan Nata, Salsa akhirnya lelah dan tertidur juga. Tapi anakku tidak mau di tengah karena sebal melihat wajahku yang mengejek. Maka, posisi kami seperti tiga sendok. Salsa di pinggir kanan, lalu Nata di tengah, kemudian aku di samping suamiku, lucunya lagi aku disuruh menghadap ke kiri, sehingga aku praktis punggung-punggungan dengan Nata. Baiklah, aku nurut saja. Begitu pagi tiba dan matahari mulai meninggi dari balik gorden jendela. Aku bangkit lebih dulu, menyingkap selimut kemudian tersenyum lebar melihat Nata yang mendekap erat tubuh Salsa. Sedangkan putriku itu terlelap, mulutnya sedikit terbuka, tangan mungilnya meremas kaos Nata di dada. Oh, hatiku seperti meleleh. Aku meraih ponsel di atas nakas dan mengabadikan gambar mereka. Lantas, kutarik selimut menutupi tubuh keduanya, dan berjingkat-jingkat ke kamar mandi. Aku membersihkan diri, mandi, sikat gigi dan menga
Kamar Nata sangat berwangi Nata.Harum pengharum ruangan bercampur dengan parfumnya yang segar. Ditambah EO lavender di sudut.Nata orang yang lumayan rapi, tidak macam OCD yang semuanya harus teratur sesuai warna dan barang. Tapi paling tidak, semuanya tertata. Dan karena sejak kuliah Nata sudah tidak tinggal di kamar ini, maka barang- barangnya sebagian besar tampak jadul. Perasaanku ketika masuk masih sama, rasanya seperti terlempar ke tahun 2008-an awal, yang mana saat itu masih zamannya tuker-tukeran pin BB.Itu bisa dilihat di laci meja belajarnya, ada banyak HP BB. Lalu seperti PS yang aku tidak tahu seri berapa karena sudah tidak digunakan, gitar yang penuh stiker di sudut, sampai topi-topi koleksi dari tim basket berbagai sekolah yang berjejer rapi di dalam lemari kaca.Lucu, terakhir kali tidur di sini, topi itu masih tergantung di dinding. Sepertinya Mama yang membereskannya.Selain itu, yang paling mencolok adalah, b
Nata memberengut masam. “Lain kali tanya dulu sama Lula duduk perkaranya gimana, jangan langsung ngasih nasihat. Kalau orang lain nggak minta nasihat, Mama nggak perlu tiba-tiba ngasih nasihat, itu nggak sopan Ma.” Astaga.Suamiku mulutnya pedas sekali.Sepertinya Mama sudah terbiasa dengan tingkah putranya, beliau hanya mencibir. “Mereka itu memang rumahnya di mana? Masih tinggal sama Bibimu kan, La? Berarti mereka masih kesulitan ekonomi. Memudahkan hidup orang lain nggak ada ruginya kok. Nanti Insya Allah kamu juga akan dimudahkan urusannya lewat perantara orang lain.”Nata lagi-lagi akan membuka mulut untuk membantah tapi aku menyentuh lengannya, meminta suamiku itu diam.Hidung Nata kembang kempis.“Iya Ma,” jawabku sopan.“Lula, maaf kalau Mama menyinggung kamu ya, mungkin Mama emang ikut campur,” balasnya, menggenggam tanganku. “Tadi sepupu kamu ke sini salah satu alasannya karena minta perpanjangan waktu bayar h
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi—”Cobaan macam apa ini?Di antara semua orang, kenapa justru keluargaku sendiri yang tidak bisa membiarkanku hidup tenang?Aku tidak pernah marah apalagi mengamuk pada keluargaku, aku masih menjaga marwah mereka, bahkan diam-diam berharap bahwa suamiku salah tentang pelaku tabrak lari itu.Namun semakin ke sini, tingkah mereka yang defensif justru menunjukkan bahwa mereka memang bersalah.Aku bolak-balik menghubungi Meira tapi nomornya mendadak tidak aktif. Aku menghubungi Bibi Elsi, sampai tiga kali percobaan tetap tidak diangkat. Lantas, mereka mau aku bagaimana?!“It’s okay.” Sebuah tangan besar dan kokoh meraih tanganku, menggenggam mantap. Aku melirik Nata yang sibuk menyetir, bibirnya bergaris tipis, namun matanya menunjukkan ketenangan. “Nggak akan ada yang terjadi,” katanya meyakinkan, menarik tanganku itu, kemudian mengecup punggungnya.
“Kamu ini bener-benar pelit ya, masa habis menikah masih aja mikirin uang. Pikiran kamu tuh di mana La, sekarang lagi susah, kamar Bibi dua kosong. Uang dari mana untuk bayar mobil kamu?”“Lah, aku nggak mau tau Bi, udah perjanjiannya kalau tiap bulan kalian bakal nyicil. Udah bagus ini aku nggak nagih awal bulan dan ngasih kalian tempo waktu. Lagian ini bukan tanggung jawab Bibi, aku nagihnya ke Ibnu.”"Ya kalau gitu sana ngomong sama Ibnu, kenapa malah nelponin Bibi terus?”Aku baru menghubunginya sekali. Hei, tapi beliau sudah bertingkah seakan aku menerornya. Dengan menyesap teh hangat yang disiapkan pelayan, aku menjawab sabar. “Kalau aku telpon Ibnu, nanti kalian fitnah aku suka atau ada main mata sama dia.” Aku menahan agar tidak muntah saat mengatakan hal tersebut. “Aku udah berusaha sopan loh ini, Bi. Tolong, jangan bikin aku ngemis sama uang aku sendiri!”Bibi terdengar berdecak di balik sambungan telepon, tapi aku tidak peduli. Aku kem
(Warning 21+)“Salsa bisa loh, Mama.”Suara tawa Salsa terdengar dari sambungan telepon selagi pinggul Nata bergerak perlahan di atas tubuhku. Aku mengalungkan lengan di bahunya, mencari pegangan kendati kali ini suamiku teramat hati-hati.“Nyanyinya juga bagus kata Miss…”“Ba-bagus?”“Iya sesuai sama musiknya, Salsa mau coba nanti di rumah sama Oma.” Anak itu menjerit karena sepertinya dia sedang bermain dengan keponakanku yang lain, anak sepupu Nata. “Semuanya nanti mau jadi penonton Salsa!”“Oh…” Aku menggumam setuju, yang terdengar seperti desahan karena Nata baru saja melesakkan miliknya. Kepala suamiku terangkat, kemudian menciumi leherku, mengisapnya kencang yang membuat konsentrasiku semakin buyar. “Nata sebentar dulu,” desisku memintanya sabar. Nata justru memainkan pinggulnya. Sengaja menarik penuh, lalu mendorong brutal, membuat napasku terengah. Sialan.“Mama kapan ke sini?”







