LOGINMeski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor.
Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk. Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih. “Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat. “B-bukan, Pak.” “Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?” “Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.” “Berusaha melindunginya karena dia suamimu?” Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?” Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesalnya. “Bapak tahu kalau ibu saya buta dan sakit, kenapa masih tanya begitu?” Salah satu alis lebat Kaisar terangkat, “Aku tanya karena ibumu datang ke rumah waktu aku berangkat tadi. Kalian nggak ketemu?” Jantung Kaira seolah berhenti mendengar ucapan Kaisar. “I-Ibu saya … ke rumah?” Anggukan Kaisar seperti sebuah kabar buruk sebab tidak ada satu pun keluarga Mahesa yang suka jika ibunya ke sana. Kaira langsung keluar dari ruangan Kaisar, tangannya kebas saat ia meraih ponsel dan menghubungi perawat ibunya. “Ya, Non?” “Sus, tadi apa Ibu sama suster pergi ke rumah Mama Sasmita?” tanya Kaira seraya menghentikan langkahnya di depan lift yang sepi. “Iya, Non. Ibu cuma mau bilang terima kasih ke Nyonya Sasmita untuk biaya operasi ginjalnya. Sekarang kami udah pulang kok. Ada apa, Non Kaira?” Kaira tertawa canggung, “Nggak, Sus. Ya udah kalau gitu. Tolong jaga Ibu ya?” “Baik, Non.” Kaira menurunkan gawai dari samping telinga dengan tubuh yang terasa lemas. Dalam hati bersyukur bahwa ibunya telah pulang. Ia harap, beliau tidak mendengar ucapan yang tidak mengenakkan dari ibu mertuanya. Meski … Kaira tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya setelah ini. …. Sekitar pukul tujuh malam saat Kaira menyiapkan hidangan di meja makan yang kembali bergejolak. Ibu mertuanya melirik nyalang padanya yang baru saja meletakkan semangkuk sup ke atas meja. “Kayaknya Kaira ini belum cukup bikin malu di keluarga Maharendra! Kamu tahu ibumu tadi datang pas aku ada tamu?!” Kaira menunduk, memaksakan senyum getirnya, “Maaf, Ma ….” “Teman-temanku lihat kalau aku punya besan yang buta, Kaira!” Kaira membeku di samping Sasmita, mencuri pandang pada Mahesa yang sibuk menyantap kudapannya, mengunci mulut, tak ingin terlibat. Suaminya Zia buru-buru pergi setelah mengatakan ada meeting online sementara Davina urung masuk ke ruang makan. Kentara menghindari drama pelik yang terjadi malam ini. Kaisar yang ada di ujung meja mengamati Kaira, pandangan mereka bertemu selama beberapa detik sebelum Kaira terjaga karena ucapan kakak iparnya. “Apa kamu nggak kasih tahu ibumu kalau datang ke rumah ini harus ada janji dulu, Ra?” tegur Monica yang dibenarkan oleh sang suami yang mengangguk di sampingnya. “Maaf, Mbak. Lain kali aku—” “Ini bukan tempat penampungan orang miskin!” sela Monica. “Datang ke rumah orang tanpa kasih tahu dulu, mau apa sih? Nyari kesempatan? Pas orangnya nggak ada bisa manfaatin situasi?” Dada Kaira sesak menyadari ucapan kakak iparnya itu merujuk pada kemungkinan ibunya yang bisa saja mencuri di rumah ini. “Jangan gitu, Mbak Monic ….” Zia tersenyum, menoleh pada Kaira yang baru saja membawa buah permintaannya. “Mbak Kaira mungkin nggak tahu, dia nggak dapat pelajaran tata krama kayak kita. Habis ini dia pasti belajar kok. Iya ‘kan, Mbak?” Rahang kecil Kaira mengetat karena lagi-lagi, pembelaan Zia terasa sangat menyakitkan. “Nggak usah ngomongin soal tata krama ke Kaira, Sayang.” Sasmita mendengus kasar, tak jadi menyuap nasinya. “Kaira mana ngerti? Paling dia cuma diajari gimana cara dapat suami kaya biar bisa naikin derajat keluarganya.” “Sekali lagi saya minta maaf, Ma. Akan saya beritahu Ibu untuk mengabari dulu sebelum datang lain kali.” Sasmita tertawa tanpa humor, “Jadi kamu masih mau bawa ibumu buat datang ke sini lagi, gitu maksudnya?” TAKK! Dari ujung meja, Kaisar meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar. Gema suaranya membungkam seluruh isi ruangan. Setiap dari mereka mendadak sungkan untuk bergerak atau mengeluarkan kebisingan. Kaisar yang sedari tadi diam sepertinya tidak tahan lagi dengan keributan yang terjadi di meja makan. “Apa kita nggak bisa makan dengan tenang?” tanyanya dingin. Pandangannya berpindah pada Kaira yang berdiri dengan memeluk nampan di depan celemek kusutnya. “Kaira, duduk. Kamu bukan pembantu yang harus melayani mereka,” ujar Kaisar tajam. “Mereka masih punya tangan untuk mengambil makanan sendiri.”“Kaira sama cowok lain?” ulang Monica dengan sinis.“I-iya, Mbak Monica,” jawab Zia gugup, beralih melirik Sasmita. “Waktu itu aku baru ketemu klienku, terus nggak sengaja lihat Mbak Kaira sama laki-laki itu dan … mereka kelihatan deket banget.”Sasmita mendengus kasar, tatapannya menghujam Kaira dengan begitu tajam. “Benar begitu, Kaira? Hari Minggu kemarin kamu emang pergi seharian, ‘kan? Jadi ini alasan kamu kelayapan?”Semua orang di ruangan itu mulai bergejolak. Monica bersedekap dada sambil melemparkan senyum mengejek, sementara Algara hanya memperhatikan dengan pandangan menilai yang penuh cemoohan.Mereka semua mempercayai ucapan Zia tanpa ragu sedikit pun.Kaira membeku. Ia tidak bisa berkutik dan terdesak begitu hebat di posisinya saat ini.Mau membantah pun suaranya seolah lenyap di pangkal tenggorokan. Pikirannya carut-marut menyusun kata yang tepat karena apa yang diucapkan Zia memang benar terjadi.Ia dan Kaisar memang pernah pergi ke sana.Melihat diamnya Kaira, Mahesa
Kaira beberapa langkah menjauhi meja Kaisar saat pria itu menghela dalam napasnya dan dengan ketenangan yang terkendali seperti biasanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Dav?”“Kamu nggak pulang—”“Bukannya aku udah bilang kalau kamu mau datang ke sini harus bikin janji dulu denganku?” sela Kaisar.“Gimana caranya bikin janji sama kamu kalau kamu nggak mau jawab teleponku, Mas?!” balas Davina dengan nada meninggi.Kaira mencoba mencari celah untuk bicara, “Pak Kaisar maaf—”“Tunggu di sini sebentar, Kaira,” kata Kaisar. Pria itu seperti sedang mengisyaratkan bahwa urusan dengan Davina tak akan lama.Dan itu membuat Davina menoleh pada Kaira, menatapnya selama beberapa detik sebelum bersedekap.“Terpaksa aku lakuin, Mas. Coba aja kamu nggak bersikap begini! Jangan egois dong!”Kaisar tampak memperdengarkan tawa lirihnya saat mengulangi, “Egois?”“Emang begitu, ‘kan?”Pria itu mengangguk pelan, “Terserah. Jadi kamu mau apa?”“Nanti di Gala Tahunan aku mau Naya kamu masukin ke d
Kaira keluar dari kamar belakang setelah bersiap pagi ini, dan menuju ke dapur. Mengambil minuman dingin dari dalam kulkas lalu menerima sekotak buah potong yang telah dikemas oleh Sari.Baru saja mengatakan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Zia datang untuk meletakkan botol susu Zia ke wastafel.“Udah mau berangkat, Mbak?” tanya Zia, menahan langkah Kaira yang sudah hendak pergi.“Iya,” jawab Kaira singkat, tak ingin memperpanjangnya.“Mbak nggak bareng Mas Hesa, ‘kan? Soalnya aku yang mau bareng sama dia.”Kaira menoleh, memasang senyumnya sebagai balasan wajah lugu Zia.“Aku bareng Mas Hesa, Zi,” katanya.“Loh? Bukannya Mbak Kaira biasanya naik taksi?”Nada bicara Zia sedikit meninggi meski wajahnya masih sama polosnya.Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka perlahan menjauh, atau yang sebagian bertahan di sana berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan keduanya.“Kamu ‘kan ada sopir? Lagian kalau bareng Mas Hesa bukannya kamu nggak searah ya?”“Dimintain tolong gitu
“A-aku cuma mau ambil mainannya Starla aja kok,” jawab Zia dengan cepat. Nada bicaranya terdengar panik. “Oh ….” Kaira mengangguk. “Kenapa mainannya Starla ada di sini?” “Mas Hesa kemarin ngajak Starla ke sini, dan mainannya lupa nggak aku ambil, Mbak!” “Aku ‘kan cuma tanya, Zi ….” tanggap Kaira. “Kenapa kamu marah?” Zia membenarkan raut wajahnya, memaksa agar senyum itu terkembang di sudut bibir. Pintu kamar di dekat Kaira terbuka, Mahesa muncul dan menatap mereka bergantian. “Kamu mau ambil bajumu sekarang, Ra?” tanya Mahesa. “Iya, Mas.” “Tadi ribut kenapa?” “Nggak kok,” jawab Kaira. “Tadi penasaran aja kenapa Zia ke sini, katanya mau ambil mainannya Starla.” Saat Kaira menoleh pada Zia, wajah adik iparnya itu terlihat gusar dan menatap Mahesa cukup lama sebelum ia pergi tanpa mengatakan apapun. “Masuklah,” kata Mahesa seraya membuka lebar pintu. Begitu Kaira melangkah ke dalam kamar, Mahesa yang tadinya tampak bingung lalu turut pergi setelah mengatakan, “Aku
“Lakuin aja,” balas Kaira seraya menoleh. “Aku juga mau tahu apa yang akan dilakuin Mas Kaisar buat menyelesaikan ini.” Stiletto yang dikenakan Kaira nyaris kembali menggema di ruangan luas itu sebelum Kaisar meraih pergelangan tangannya. Suaranya begitu memohon kala pria itu memanggil, “Kaira?” “Aku harus pulang sekarang, Mas. Maaf ….” Kaira menimpakan tangannya ke punggung tangan Kaisar, memaksa pria itu agar melepasnya. Kedua bahu Kaisar merosot saat Kaira berbalik dan menghilang di balik pintu lift. Melihat raut frustrasinya, sepertinya jarak yang dibuat oleh Kaira ini berhasil. ‘Aku ingin tahu perasaan Mas Kaisar,’ batinnya, menatap pantulan dirinya yang ada di pintu lift. Kaira ingin memastikan, setelah yang mereka lakukan selama ini … apakah semuanya akan berakhir hanya sebagai pelampiasan nafsu saja, atau karena Kaisar memang … mencintainya? …. Dengan menaiki taksi yang melaju di bawah muramnya langit sore ini, Kaira akhirnya sampai di rumah. Menjejakkan k
“Mas?” sapa Mahesa seraya selangkah maju dan berdiri di samping Kaisar. “Ada apa?” Kaisar tak menjawab. Sepasang iris gelap pria itu terarah pada leher Kaira, sebelum berpindah turun ke arah jari manisnya yang kosong padahal seharusnya cincin dari Kaisar melingkar di sana seperti semalam. Kaisar mendengus lirih, sepasang telinganya memerah saat ia menatap Mahesa dan mengembalikan tanya, “Apa yang kalian lakukan?” Mahesa mengangkat sekilas kedua bahunya, “Bukan apa-apa kok. Cuma mau kasih sesuatu aja ke Kaira.” “Lain kali jangan di kantor!” tegurnya dingin. “Iya ….” Mahesa hampir enggan menjawabnya. “Baru kali ini juga, Mas. Masa langsung dimarahin sih?” “Sekali dua kali, lama-kelamaan ada yang lihat dan ditiru sama yang lain.” “Iya maaf.” Mahesa lalu mengisyaratkan pada Kaira agar terus berjalan. Kaira mengangguk lirih, maniknya bertemu dengan iris gelap Kaisar sebelum mengikuti Mahesa yang melangkah memasuki ruang meeting setelah menundukkan kepalanya dengan sopan. Sembari b







