分享

Bab 4

作者: Almiftiafay
last update publish date: 2026-07-15 01:41:13

Meski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor.

Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk.

Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih.

“Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat.

“B-bukan, Pak.”

“Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?”

“Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.”

“Berusaha melindunginya karena dia suamimu?”

Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?”

Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesalnya. “Bapak tahu kalau ibu saya buta dan sakit, kenapa masih tanya begitu?”

Salah satu alis lebat Kaisar terangkat, “Aku tanya karena ibumu datang ke rumah waktu aku berangkat tadi. Kalian nggak ketemu?”

Jantung Kaira seolah berhenti mendengar ucapan Kaisar. “I-Ibu saya … ke rumah?”

Anggukan Kaisar seperti sebuah kabar buruk sebab tidak ada satu pun keluarga Mahesa yang suka jika ibunya ke sana.

Kaira langsung keluar dari ruangan Kaisar, tangannya kebas saat ia meraih ponsel dan menghubungi perawat ibunya.

“Ya, Non?”

“Sus, tadi apa Ibu sama suster pergi ke rumah Mama Sasmita?” tanya Kaira seraya menghentikan langkahnya di depan lift yang sepi.

“Iya, Non. Ibu cuma mau bilang terima kasih ke Nyonya Sasmita untuk biaya operasi ginjalnya. Sekarang kami udah pulang kok. Ada apa, Non Kaira?”

Kaira tertawa canggung, “Nggak, Sus. Ya udah kalau gitu. Tolong jaga Ibu ya?”

“Baik, Non.”

Kaira menurunkan gawai dari samping telinga dengan tubuh yang terasa lemas. Dalam hati bersyukur bahwa ibunya telah pulang. Ia harap, beliau tidak mendengar ucapan yang tidak mengenakkan dari ibu mertuanya.

Meski … Kaira tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya setelah ini.

….

Sekitar pukul tujuh malam saat Kaira menyiapkan hidangan di meja makan yang kembali bergejolak. Ibu mertuanya melirik nyalang padanya yang baru saja meletakkan semangkuk sup ke atas meja.

“Kayaknya Kaira ini belum cukup bikin malu di keluarga Maharendra! Kamu tahu ibumu tadi datang pas aku ada tamu?!”

Kaira menunduk, memaksakan senyum getirnya, “Maaf, Ma ….”

“Teman-temanku lihat kalau aku punya besan yang buta, Kaira!”

Kaira membeku di samping Sasmita, mencuri pandang pada Mahesa yang sibuk menyantap kudapannya, mengunci mulut, tak ingin terlibat.

Suaminya Zia buru-buru pergi setelah mengatakan ada meeting online sementara Davina urung masuk ke ruang makan. Kentara menghindari drama pelik yang terjadi malam ini.

Kaisar yang ada di ujung meja mengamati Kaira, pandangan mereka bertemu selama beberapa detik sebelum Kaira terjaga karena ucapan kakak iparnya.

“Apa kamu nggak kasih tahu ibumu kalau datang ke rumah ini harus ada janji dulu, Ra?” tegur Monica yang dibenarkan oleh sang suami yang mengangguk di sampingnya.

“Maaf, Mbak. Lain kali aku—”

“Ini bukan tempat penampungan orang miskin!” sela Monica. “Datang ke rumah orang tanpa kasih tahu dulu, mau apa sih? Nyari kesempatan? Pas orangnya nggak ada bisa manfaatin situasi?”

Dada Kaira sesak menyadari ucapan kakak iparnya itu merujuk pada kemungkinan ibunya yang bisa saja mencuri di rumah ini.

“Jangan gitu, Mbak Monic ….” Zia tersenyum, menoleh pada Kaira yang baru saja membawa buah permintaannya. “Mbak Kaira mungkin nggak tahu, dia nggak dapat pelajaran tata krama kayak kita. Habis ini dia pasti belajar kok. Iya ‘kan, Mbak?”

Rahang kecil Kaira mengetat karena lagi-lagi, pembelaan Zia terasa sangat menyakitkan.

“Nggak usah ngomongin soal tata krama ke Kaira, Sayang.” Sasmita mendengus kasar, tak jadi menyuap nasinya. “Kaira mana ngerti? Paling dia cuma diajari gimana cara dapat suami kaya biar bisa naikin derajat keluarganya.”

“Sekali lagi saya minta maaf, Ma. Akan saya beritahu Ibu untuk mengabari dulu sebelum datang lain kali.”

Sasmita tertawa tanpa humor, “Jadi kamu masih mau bawa ibumu buat datang ke sini lagi, gitu maksudnya?”

TAKK!

Dari ujung meja, Kaisar meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar. Gema suaranya membungkam seluruh isi ruangan.

Setiap dari mereka mendadak sungkan untuk bergerak atau mengeluarkan kebisingan. Kaisar yang sedari tadi diam sepertinya tidak tahan lagi dengan keributan yang terjadi di meja makan.

“Apa kita nggak bisa makan dengan tenang?” tanyanya dingin.

Pandangannya berpindah pada Kaira yang berdiri dengan memeluk nampan di depan celemek kusutnya.

“Kaira, duduk. Kamu bukan pembantu yang harus melayani mereka,” ujar Kaisar tajam. “Mereka masih punya tangan untuk mengambil makanan sendiri.”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (12)
goodnovel comment avatar
White Lily
kaisar menunjukkan ketampanan yang HQQ di sini, definisi punya mulut buat negur orang yg salah
goodnovel comment avatar
violetta
kaisar ganteng banget dah ah
goodnovel comment avatar
Eva
Kayanya cuma Kaisar yang waras deh wkwk
查看全部評論

最新章節

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 291

    Saat napasnya tersengal hebat, dan darah segar terus mengucur semakin deras dari pelipisnya, Kaisar dengan sisa kesadaran yang menipis melanjutkan kalimatnya sendiri, ‘Aku harus pulang … aku harus ketemu Kaira.’Di tengah kesakitan yang luar biasa itu, bayangan gelap seseorang mendadak masuk ke dalam kabin mobilnya yang hampir menjadi rongsokan.Kaisar ingat, pria itu turun dari balik kemudi truk kontainer yang menerjangnya. Pria itu masuk, lalu meraba-raba area dashcam dengan tergesa, panik dan kebingungan. Sambil berulang kali melontarkan umpatan kasar, pria tersebut melirik ke arah Kaisar, seolah ingin memastikan apakah Kaisar sudah tewas, atau setidaknya tidak lagi mampu melakukan perlawanan.Namun, karena panik dan barangkali tidak berpengalaman, pria itu gagal mengutak-atik kamera pengawas tersebut. Ia akhirnya bergegas kabur dengan tangan kosong.Sedetik setelah pria itu pergi, Kaisar dengan sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk redam. Jemarinya meraba dashcam,

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 290

    Kaira menutup mulut dengan kedua tangannya, maniknya membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Jevan.“Kartu memorinya ditemukan? Sungguh, Pak Jevan?”Jevan mengangguk cepat. “Iya, Nona. Diaci dashboard. Pak Indra bilang tim forensik berhasil mendapatkannya dari sana. Ada bekas bercak darah yang tertinggal, sidik jari milik Pak Kaisar.”Kaira sontak menoleh ke arah prianya itu dengan bingung. “Apa Mas yang masukin kartu memorinya ke sana?”Kaisar mengangguk, membenarkan dugaan gadisnya.“Setelah mobilnya ditabrak, sebenarnya ada seorang laki-laki asing yang sempat masuk ke dalam kabin. Aku nggak begitu ingat wajahnya dengan jelas, aku pikir itu cuma halusinasi menjelang ajal aja. Pria itu mau ambil memori dari area dashcam, tapi kayaknya dia nggak bisa buka, atau mungkin karena kurang pengalaman. Jadi dia keluar dengan tangan kosong.” Kaisar menarik napas, melanjutkan apa yang ia ingat hari itu.“Di detik-detik terakhir sebelum kesadaranku hilang, aku pakai sis

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 289

    Kaisar berbaring di atas ranjang rumah sakit yang belum lama didatanginya. Tempat ini memang tidak semewah kamar Presidential Suite di Cendana Amerta, tetapi setidaknya lingkungan di sini jauh lebih aman dari jangkauan Altair.Rumah sakit ini ada di sisi lain kota, milik suami dari Dokter Sofia—dokter kandungan yang selama ini selalu memeriksa kehamilan Kaira.Beberapa jam lalu, setelah Kaira memperingatkan bahwa rumah sakit sebelumnya berada dalam penguasaan Altair, Kaisar lalu meminta Jevan bergerak cepat.‘Tolong hubungi Dokter Sofia, aku akan bicara dengannya,’ pinta Kaisar saat itu.Jevan segera menyambungkan panggilan, lalu menyerahkan ponsel pada Kaisar. Tanpa banyak basa-basi, Kaisar menjelaskan situasinya. Dokter Sofia dengan sigap merespons lewat sambungan telepon, ‘Silakan datang, Pak Kaisar. Saya akan bantu siapkan.’Dan begitulah akhirnya Kaisar dipindahkan ke tempat ini.Rumah sakit Graha Medica.Kondisinya terpantau sangat baik, tangannya menggenggam erat Kaira yang akh

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 288

    Seorang perawat wanita yang kebetulan baru saja keluar dari sudut ruangan menghentikan langkahnya. Maniknya membelalak melihat pria berjas putih yang berdiri di dekat pintu.“Dokter Algara?” panggil perawat tersebut dengan ragu.Ya. Pria berjas putih itu adalah Algara, yang lalu melempar senyum manis dan ramah yang ia miliki.“Ah, iya. Suster.”“Ada perlu apa, Dok?”“Saya mau jenguk paman saya yang dirawat di kamar ini, Kaisar Maharendra. Tapi kok … ruangannya kosong?”Suster tersebut tersenyum simpul. “Oh, Anda belum tahu? Pasien sudah keluar dari rumah sakit ini sejak tadi pagi, Dok.”Alis Algara menukik tajam, senyum di bibirnya memudar separuh.“Hah? Bukannya kondisinya masih belum memungkinkan buat keluar dari rumah sakit?”Sang suster menggeleng. “Saya kurang tahu detailnya, Dokter Algara. Tapi dari catatan administrasi, beliau dipindahkan dari rumah sakit ini sejak tadi pagi,” ulangnya.Algara mengangguk kaku, seraya tetap mencoba mempertahankan senyum di wajahnya. “Begitu ya …

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 287

    Kaira membuka pintu kamar rawat Kaisar dengan tangan yang terasa kebas. Begitu ia melangkah masuk, maniknya mendapati seseorang memang sedang berada di dalam sana.Zia.Wanita itu duduk di kursi sebelah ranjang. Zia tidak sendirian, di dekatnya, Jevan berdiri. Pemuda itu tampak mengusap wajahnya dengan kasar, seolah tengah frustrasi menghadapi kehadiran Zia.Zia menyunggingkan senyum manis saat melihat Kaira masuk.“Mbak ….” sapanya.Kaira berjalan mendekat, melirik sekilas ke arah Kaisar yang tampak terbaring memejamkan mata, sedang beristirahat.“Apa yang kamu lakukan di sini, Zia?” tanya Kaira.“Aku cuma mau jenguk paman suamiku aja, Mbak. Oh ya, haruskah … aku manggil Mbak Kaira sebagai ‘Tante’ sekarang? Atau lebih pas dipanggil ‘Bibi’?”Kaira menatapnya datar. “Aku nggak peduli kamu mau manggil aku apa. Tapi jangan ganggu waktu istirahat Mas Kaisar!”Zia tertawa kecil. Anggun saat menutup mulutnya dengan sebelah tangan.“Hm … aku baru tahu kalau Mbak Kaira seprotektif ini sama Ma

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 286

    Zia tertegun di tempatnya. Wanita itu mengerjap tak percaya mendapati penolakan mentah-mentah dari Mahesa. “Kenapa, Mas? Apa aku ada buat kesalahan?” tanyanya.Mahesa mendengus berat, memalingkan wajahnya sebelum menjawab, “Nggak. Aku lagi capek, lagi nggak ingin. Sana kamu balik ke kamarmu!”Zia melipat kedua tangannya di dada, maniknya menatap tajam, penuh tuntutan. “Mas Hesa tuh udah beberapa kali kayak gini loh belakangan ini. Mas kesal gara-gara Kaira sekarang jadi istrinya Kaisar? Mas nggak bisa terima kenyataan itu makanya kamu lampiaskan semuanya ke aku, hah?”“Nggak ada hubungannya sama—”“Mas cuma mau enaknya aja sama aku!” potong Zia sengit dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. “Giliran lagi kesal dan marah-marah begini, Mas malah nyuekin aku! Mas udah nggak sayang sama aku lagi, ‘kan?!”Zia melengos pergi dengan hentakan kaki penuh emosi.“Zia—” panggil Mahesa mencoba menahan kepergiannya.Tapi biar saja ….Merajuknya Zia hanya sebentar. Lagi pula ia tidak berniat mengeja

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status