LOGINSekalipun tidak ada yang bicara, Kaira bisa merasakan seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan penuh kebencian. Ia beranjak dengan kaku, melepas celemek dan menyimpannya di pangkuan.
Suara kursi di samping Kaira berderak, Mahesa menyelesaikan makannya dan pergi dari sana tanpa menoleh. “Mulai hari ini jangan ribut lagi di depan makanan,” kata Kaisar tanpa ada yang menjawabnya. Sasmita tampak bergegas bangun dari duduknya padahal makanan di piringnya masih utuh. Disusul yang lain dan menyisakan Kaira serta Kaisar saja. Kaira bergerak tidak nyaman, merasa sungkan karena semua orang tak jadi makan sebab ada dirinya. Ia urung menyuap, diliriknya Kaisar yang tak terbebani dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. “Makanlah,” ucap pria itu, sepertinya sadar Kaira sedang mencuri pandang padanya. “I-iya.” “Kamu bukan pembantu, Kaira. Udah ada orang yang dibayar buat melakukan semua tugas itu. Jadi kamu nggak perlu sekeras itu ke dirimu sendiri.” Kaisar meraih gelas minumnya, meneguknya hingga tandas dan menggeser kursinya sebelum berdiri. Langkahnya mendekat pada Kaira, sejenak ia berhenti untuk mengatakan, “Selesaikan makanmu, obati luka di tanganmu juga.” Kaira reflek menyembunyikan tangannya di mana pada bagian punggungnya memang sedikit melepuh karena terkena panci panas saat mengambil sup tadi. “Iya, terima kasih,” balasnya pada Kaisar yang berlalu menjauh. Kaira pikir ini adalah keberuntungan sebab masalah kedatangan ibunya tidak perlu diperpanjang. Tapi, itu hanya sebuah kelegaan sesaat. Karena saat ia membereskan meja makan dan membawa piring-piring itu ke wastafel, ibu mertuanya mendadak muncul. “Kamu ngadu apa ke Kaisar sampai dia ngomong begitu ke semua orang?” “Saya nggak bilang apa-apa, Ma,” elak Kaira. “Nggak usah bohong!” “Mbak Kaira kecapekan ya?” sahut suara Zia yang datang dari pintu dapur. Adik iparnya itu meletakkan beberapa botol bayi sebelum berdiri di dekat Sasmita yang memindainya dengan jijik. Zia mengusap lengan sang ibu dan berujar, “Jangan dimarahin lagi, Ma. Mbak Kaira pasti lagi capek. Kalau emang gitu, lain kali bilang aja, Mbak. Terus istirahat. Biar Mas Kaisar nggak salah paham dan mikir kita manfaatin Mbak Kaira cuma jadi pembantu di sini.” “Di rumah ini Kaira itu emang setara sama pembantu!” Kedua mata Sasmita nyalang menatap Kaira. “Jangan harap bisa ngadu domba kami! Kaisar bukan tipe orang yang punya belas kasihan ke orang lain. Apalagi ke kamu!” Sasmita lebih dulu meninggalkan dapur, sementara Zia menyusul tak lama setelah mengatakan, “Jangan diambil hati, Mbak … Mama lagi kesel aja.” Kaira menengadahkan wajahnya, menolak jatuhnya air mata karena sesak yang mendera. Saat menyalakan keran air untuk mencuci piring, salah seorang pelayan mencegahnya. “Udah, nggak usah, Non ….” ucap wanita paruh baya yang datang dari sampingnya. “Biar Bi Sari aja yang nyuci. Tangan Non Kaira ‘kan kena panas tadi?” Wanita di sebelahnya itu tersenyum dan mengusap lengannya. “Yang sabar ya, Non. Cerita aja ke Bi Sari kalau rasanya emang berat.” “Ya, terima kasih, Bi ….” Kaira menyisih dari depan wastafel, mengobati lukanya dulu sebelum ke dalam kamar. Lirikan kesal Mahesa yang sedang duduk di atas ranjang menyambut saat ia masuk. “Kamu tuh nggak bisa ya sehari aja bikin Mama senang?” tanyanya. “Aku beneran nggak tahu kalau Ibu mau datang ke sini tadi. Kalau tahu—” “Aku ‘kan udah pernah bilang, Kaira. Turuti aja Mama! Sulit banget emang? Kalau terus begini gimana kamu mau ambil hati Mama?” Kaira mendorong napasnya, sesak yang semula memenuhi dadanya seketika tumpah. “Memangnya aku harus lakuin apa lagi, Mas?” balas Kaira yang membuat Mahesa terangkat salah satu alisnya. “Aku udah nurutin apapun yang kamu atau Mama mau. Tapi kayaknya bagi kalian aku tuh nggak pernah ada benarnya!” Mahesa berdecak, pria itu turun dengan kasar dari tempat tidur. “Tuh, kan! Kamu tahunya cuma ngeluh aja!” tudingnya dengan geram. “Ngeluh? Aku—” “Sebaiknya kamu nggak usah cari muka di depan Mas Kaisar karena itu cuma bikin Mama makin nggak suka sama kamu! Kamu nggak mau ‘kan kalau itu berdampak ke pengobatan ibumu?” Kaira terbungkam mendengar hal itu disebutkan. Seolah itu memanglah kartu matinya. “Lusa aku diminta pergi sama Mas Kaisar ke acara pertemuan. Kamu aja yang ke sana, aku ada urusan lain.” “Aku nggak bisa,” tolak Kaira. “Lusa aku harus ke rumah sakit, Mas.” “Acaranya siang. Kamu ‘kan bisa pergi habis dari rumah sakit?” “Tapi—” “Lakuin aja apa susahnya sih?!” sela Mahesa, rahangnya mengeras saat berpaling pergi. “Mas Hesa!” panggil Kaira, berlari kecil mengikuti Mahesa yang menutup pintunya dari luar. Punggungnya menghilang dari hadapan Kaira. Selalu seperti itu setiap kali mengakhiri perdebatan. Mahesa akan pergi setelah menyalahkannya, tak pernah membuka suara saat Kaira dihina di depan keluarganya sendiri. ** Kaira pergi ke rumah sakit seperti yang telah dijadwalkan. Ia takut karena berpikir prosesnya akan dilakukan saat itu juga mengingat campur tangan kakak iparnya yang berpengaruh. Tapi syukurnya, pikiran itu salah. “Tidak, Bu Kaira. Anda kelihatan kurang sehat juga, tekanan darahnya rendah loh tadi,” terang dokter “Mungkin kurang tidur, Dok.” “Tapi, apa Bu Kaira yakin sama keputusan buat steril ini?” Kaira tak menjawab, jemarinya saling meremas di bawah meja. “Masih ada beberapa pertemuan buat konsultasi, kalau Bu Kaira berubah pikiran langsung bilang aja sama saya.” “Baik, Dok. Terima kasih.” Kaira lalu meninggalkan ruangan dengan tubuh yang terasa lemas, dari arah berlawanan ia melihat seorang wanita yang duduk di kursi roda, tengah didorong oleh suster. Ibunya. “Non Kaira?” sapa suster itu lebih dulu. “Kaira?” sang Ibu pun turut menyapanya, kedua tangannya mengarah ke depan, menyentuh wajah Kaira yang merendahkan tinggi tubuhnya. “Iya, Bu.” “Apa yang kamu lakukan di sini, Nak?” “Aku … cek kesehatan aja, diminta kantor,” jawab Kaira berbohong. “Ibu sendiri kenapa di rumah sakit?” “Ibu sudah mulai diobservasi mulai hari ini untuk operasi ginjalnya, Non,” jawab suster. “Kenapa nggak bilang ke Kaira, Bu?” “Takut kamu kepikiran.” Kaira meremas lembut tangan sang Ibu yang ada di pipinya. Rasanya dingin, wajah sang Ibu pun terlihat pucat. “Walaupun Ibu nggak bisa lihat, Ibu masih bisa mendengar. Ibu harap … di sisa umur Ibu nanti, Ibu masih bisa dengar tangisan anakmu, Kaira. Cucunya Ibu. Biar ada yang nerusin garis keturunan keluarga kita.” Hati Kaira seperti dihantam ombak hingga hancur. Bagaimana tidak? Ibunya menginginkan cucu tapi di sisi lain, kedatangannya ke rumah sakit ini untuk memastikan ia tidak akan pernah memiliki keturunan. Kaira berpamitan tak lama kemudian, menepikan angan yang berkecamuk dan memesan taksi ke tempat pertemuan beberapa partner bisnis Maha Group yang tidak bisa dihadiri oleh Mahesa. Tubuhnya gamang saat ia memasuki ruangan yang sudah banyak dihadiri undangan. Kaisar terlihat berdiri menyapa hadirin lain saat sekretarisnya mengisyaratkan agar Kaira cepat mendekat. “Mana Mahesa?” tanya Kaisar. “P-Pak Mahesa berhalangan hadir, Pak. Jadi saya yang datang.” Kaisar tak menjawab, memalingkan wajahnya saat Kaira merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Rasanya semakin lemas, lututnya letih. Panggilan dari pembawa acara yang meminta Kaisar naik ke panggung untuk memberi sambutan berdengung di telinganya. Tanpa sadar ia mencari pegangan dan mencengkeram lengan Kaisar yang menoleh padanya dengan bingung. Kaira kehilangan keseimbangan, hal terakhir yang diingatnya adalah panggilan khawatir Kaisar yang mendekapnya sebelum ia limbung. “Kaira?!”‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun. Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar. Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya. “M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.” “Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.” Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.” Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya. “Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.” Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas. “Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?” Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk. “Mas Kaisar tolong nggak usah ikut
Sekalipun tidak ada yang bicara, Kaira bisa merasakan seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan penuh kebencian. Ia beranjak dengan kaku, melepas celemek dan menyimpannya di pangkuan. Suara kursi di samping Kaira berderak, Mahesa menyelesaikan makannya dan pergi dari sana tanpa menoleh. “Mulai hari ini jangan ribut lagi di depan makanan,” kata Kaisar tanpa ada yang menjawabnya. Sasmita tampak bergegas bangun dari duduknya padahal makanan di piringnya masih utuh. Disusul yang lain dan menyisakan Kaira serta Kaisar saja. Kaira bergerak tidak nyaman, merasa sungkan karena semua orang tak jadi makan sebab ada dirinya. Ia urung menyuap, diliriknya Kaisar yang tak terbebani dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. “Makanlah,” ucap pria itu, sepertinya sadar Kaira sedang mencuri pandang padanya. “I-iya.” “Kamu bukan pembantu, Kaira. Udah ada orang yang dibayar buat melakukan semua tugas itu. Jadi kamu nggak perlu sekeras itu ke dirimu sendiri.” Kaisar meraih gelas
Meski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor. Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk. Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih. “Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat. “B-bukan, Pak.” “Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?” “Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.” “Berusaha melindunginya karena dia suamimu?” Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?” Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesal
Dengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.” Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya. Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan. Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan. Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala. “Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka. Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya. “I-iya, Pak,” jawabnya. “Mahesa yang nyuruh?” Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar. “Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi. Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, a
Hampir tak ada makanan yang tersisa saat makan malam itu usai dengan Kaira yang tak menyuap sesendok pun. Kaira menumpuk piring-piring kotor dengan tangan yang terasa kebas.Bersama pelayan lain, ia menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum masuk ke dalam kamar seraya membawa amplop dari ibu mertua.Di dalam, Mahesa sedang duduk di sofa. Dari posisi ponselnya saat ini, bisa dipastikan suaminya itu sedang bermain game.Kaira berjalan melewatinya, menelan keraguan saat bertanya, “Mas Hesa besok juga akan ikut ke dokter kandungan?”“Nggak, kamu aja yang pergi,” jawabnya tanpa menatap Kaira. “Mama minta aku buat antar belanja. Oh ya—”Mahesa mengangkat wajah, menoleh pada Kaira, “Besok Mas Kaisar udah balik dari luar kota. Laporan target penjualan dan promosi punyaku udah selesai, ‘kan?”Kaira mengangguk, “Udah.”“Habis dari rumah sakit, kamu aja yang presentasi.”Kaira menghela napas, tak menjawab selain hanya menggigit bibirnya. Melihatnya yang tak merespon, Mahesa bangkit dan mendekat ke
“Kamu steril aja, Mama nggak sudi punya cucu darimu!”Mendengar kalimat yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Kaira mematung. Rasa lelah sepulang bekerja dan menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam kian bertumpuk, memberatkan bahunya.Diliriknya sang suami—Mahesa—yang sedang duduk tenang menatap layar ponsel di samping ibunya, seolah tidak terbebani dengan permintaan itu.Kaira meremas celemek kusut yang melindungi pakaiannya, dengan gugup berujar, “S-steril itu artinya saya nggak akan bisa punya anak, Ma.”“Ya memang itu tujuannya! Kamu pikir aku bodoh?!” sahut ibu mertuanya, Sasmita, disertai dengusan sinis. “Adik iparmu bilang tadi pagi kamu muntah-muntah. Kamu nggak sedang hamil, ‘kan?”“Nggak, Ma. Tadi pagi perut saya memang kurang enak.”“Bagus. Sebelum hamil sebaiknya kamu cepat steril. Ini—” Sasmita menjeda kalimatnya sejenak, dilemparkannya sebuah amplop cokelat pada Kaira yang tak sempat menangkapnya sehingga amplop tersebut jatuh di kakinya.“Formulir pen







