共有

Bab 3

作者: Almiftiafay
last update 公開日: 2026-07-15 01:37:42

Dengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.”

Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya.

Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan.

Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan.

Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala.

“Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka.

Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya.

“I-iya, Pak,” jawabnya.

“Mahesa yang nyuruh?”

Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar.

“Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi.

Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, apalagi masalah pribadi.

“Maaf,” kata Kaira. “Seingat saya, Bapak nggak suka kalau ada yang ngomongin urusan di luar pekerjaan pas lagi di kantor. Saya permisi.”

Kaira menundukkan kepala dengan sopan, entah bagaimana pria itu akan menganggapnya.

Ia lalu beranjak meninggalkan ruangan.

Tengkuknya terasa dingin setiap kali berhadapan dengan Kaisar.

Di keluarga Maharendra, Kaisar bukanlah pria sembarangan. Dialah tangan dingin yang telah membawa Maha Group ke puncak kejayaan.

Seluruh anggota keluarga menghormatinya.

Kaisar pun juga tinggal di sayap rumah besar itu bersama istrinya, sebagaimana tradisi leluhur mengharuskan semua anggota keluarga ada di bawah satu atap.

Langkah Kaira melambat saat ia berhenti di depan meja kerjanya.

‘Dia beneran nggak tahu soal steril itu, atau cuma pura-pura?’

**

Saat makan malam, ruang makan tak seramai biasanya karena ada Kaisar yang duduk di sana. Meski Kaira masih berjalan ke sana kemari dan diperlakukan seperti pembantu, setidaknya suasananya jauh lebih tenang ketimbang malam sebelumnya.

Dalam hati, Kaira mensyukuri kehadiran Kaisar sebab ibu mertua, kakak dan adik iparnya menaruh sungkan pada pria itu.

Setelah makan malam usai, Kaira menuju kamar Zia, membawakan diaper pesanannya. Di dalam, rupanya ada Sasmita.

“Aku pikir Mbak Kaira lupa,” celetuk Zia yang baru saja membaringkan anaknya ke dalam box bayi.

“Kalau sampai nggak dibeliin biar Kaira yang jagain Starla dan gantiin celananya tiap buang air,” sahut Sasmita yang ada di sofa, melirik tajam pada Kaira yang mengulum senyum sementara Zia menyambutnya dengan gelengan samar.

“Nggak lah, Ma … Mbak Kaira kalau aku titipin selalu dibeliin kok,” balasnya. “Taruh di laci kayak biasanya ya, Mbak.”

“Iya,” jawab Kaira seraya meletakkan beberapa pak diaper itu ke tempatnya. Seperti biasa, ia lah yang akan membongkar dan menatanya dengan rapi di laci.

“Capek banget kaki aku, Ma ….” Zia mengeluh, meluruskan kakinya di atas ranjang.

“Pijat kakinya Zia, Kaira,” titah ibu mertua saat melihat Kaira hendak keluar. “Dia punya butik besar dan banyak hal yang diurus. Dia habis melahirkan juga, wajar kalau cepat capek.”

Kaira tak membantah, dilakukannya permintaan mereka. Ia duduk di tepi ranjang dan memijit kaki adik iparnya yang mengatakan, “Mbak Kaira kayaknya banyak tenaga deh, kayak nggak pernah capek.”

“Pasti nggak, Sayang,” sahut Sasmita. “Dia ‘kan cuma staf biasa yang nggak banyak kerjaan, dan nggak tahu rasanya melahirkan.”

“Nggak apa-apa ya, Mbak? Kalau steril nanti Mbak nggak akan ngerasain sakit pas lahiran atau susahnya jadi ibu.”

Kaira menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak menjawab saat senyum Sasmita penuh cemoohan.

Kalimat Zia terdengar manis dan penuh pembelaan yang seakan membesarkan hatinya. Tapi membuat dada Kaira nyeri.

Ia ingin menyelesaikan memijat Zia dan segera pergi dari sini.

Tiba-tiba ….

“Akh—sakit!” rintih Zia.

“Kenapa, Zi?” tanya Kaira dengan bingung dengan perubahan mendadak adik iparnya itu.

“Zia kamu apakan, Kaira?!” bentak Sasmita, mendekat dan mengusap lutut Zia.

“Nggak apa-apa kok, Ma,” kata Zia menengahi. “Mungkin Mbak Kaira nggak sengaja.”

“Jangan kurang ajar, Kaira!”

Kaira menggeleng, “Ma, saya nggak—”

“Nggak usah alasan! Keluar sana!”

Kaira mendorong napasnya dengan berat dan keluar dari kamar. Dadanya sesak, ia pikir Zia baru saja berpura-pura kesakitan agar Kaira makin dibenci oleh Sasmita.

“Kamu dicari Mbak Davina, Ra.” Suara Mahesa datang dari lorong sebelah kanannya.

Hanya itu saja yang dikatakan suaminya kemudian berjalan melewatinya. Dari arahnya, sepertinya Mahesa akan menyusul sang Ibu. Biasanya mereka akan bermain dengan Starla hingga bayi mungil itu tertidur.

Dan jujur saja, itu mengganggu Kaira. Mahesa sangat senang saat menggendong Starla, memberikan banyak hadiah untuk keponakannya itu. Tapi, bagaimana bisa pria yang suka anak-anak itu malah diam saja saat istrinya didesak untuk steril?

Kaira menggeleng, ia menuju ke ruang laundry, membawa jas-jas milik Davina—istrinya Kaisar—dan milik pamannya itu sekalian ke kamar mereka.

Pintunya terbuka saat Kaira tiba. Langkahnya melambat sebab dari dalam sana ia mendengar lantangnya suara Davina yang mengatakan, “Lakuin aja sama perempuan lain, Mas! Kalau cuma berhubungan kayak gitu kamu ‘kan bisa milih siapapun yang kamu mau!”

“Davina—”

“Kamu udah datang, Ra?”

Kaira terpancang saat dua orang itu menoleh ke arahnya.

“A-aku bawa jasnya Mas Kaisar sama Mbak Davina,” jawabnya gugup, takut dikira menguping padahal ia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.

“Masuklah!”

Kaira mengangguk, meletakkan pakaian mereka ke tempatnya. Davina mengambil salah satu dan mengenakannya.

“Cuma kamu yang bisa dipercaya buat bikin jasku wangi begini, Ra,” ujar Davina. “Nanti aku kasih satu ke kamu yang udah nggak aku pakai lagi.”

Gegas Davina meninggalkan kamar, tanpa berpamitan pada Kaisar yang duduk di sofa ruang ganti, tak jauh dari Kaira berdiri dan memasukkan pakaian.

Tidak ada suara yang terdengar hingga Kaisar lebih dulu mengatakan, “Kalau nggak suka sama perlakuan orang di rumah ini, kamu bisa sesekali melawan. Biar nggak terus ditindas.”

Kaira menoleh pada Kaisar yang sibuk pada tablet di tangannya.

“A-aku cuma nggak mau tambah dibenci, Mas.”

“Dan ngebiarin dirimu terus direndahkan?”

Kaira mengeratkan jemarinya pada keranjang yang ia bawa. Ia tak menjawab, memilih mengambil pakaian Davina yang ada di dekat Kaisar saat pria itu menutup tabletnya dan menatap Kaira seraya bertanya, “Sterilmu, akan dilakukan dalam waktu dekat?”

“Kalau Mbak Monic yang atur, kayaknya iya.”

“Kamu yakin sama keputusanmu?”

Kaira bergeming, lidahnya beku.

“Emangnya kamu nggak mau jadi ibu?”

Ada sesuatu yang terluka di dalam hatinya saat mendengar tanya sederhana itu. Kaira menunduk, menahan air mata yang sudah hampir tumpah karena ini juga keputusan yang sangat berat baginya.

Aneh … karena ia merasa ada yang memperhatikan bagaimana dirinya diperlakukan di dalam rumah ini.

Tubuh Kaira menegang saat Kaisar bangun dari duduknya, bayangan pria itu menimpanya ketika ia selangkah mendekat.

“Kamu itu istrinya Mahesa. Menantu keluarga Maharendra nggak pantas diperlakukan kayak gini!” katanya. “Kalau kamu diam aja, yang ada kamu makin diinjak-injak!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Aya Melodi Agrifina
memang sih,yg ada makin makan ati tapiiiiii orng "kecil" seperti Kaira emng akan didenger omongannya nggak akan pernah
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 6

    ‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun. Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar. Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya. “M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.” “Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.” Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.” Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya. “Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.” Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas. “Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?” Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk. “Mas Kaisar tolong nggak usah ikut

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 5

    Sekalipun tidak ada yang bicara, Kaira bisa merasakan seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan penuh kebencian. Ia beranjak dengan kaku, melepas celemek dan menyimpannya di pangkuan. Suara kursi di samping Kaira berderak, Mahesa menyelesaikan makannya dan pergi dari sana tanpa menoleh. “Mulai hari ini jangan ribut lagi di depan makanan,” kata Kaisar tanpa ada yang menjawabnya. Sasmita tampak bergegas bangun dari duduknya padahal makanan di piringnya masih utuh. Disusul yang lain dan menyisakan Kaira serta Kaisar saja. Kaira bergerak tidak nyaman, merasa sungkan karena semua orang tak jadi makan sebab ada dirinya. Ia urung menyuap, diliriknya Kaisar yang tak terbebani dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. “Makanlah,” ucap pria itu, sepertinya sadar Kaira sedang mencuri pandang padanya. “I-iya.” “Kamu bukan pembantu, Kaira. Udah ada orang yang dibayar buat melakukan semua tugas itu. Jadi kamu nggak perlu sekeras itu ke dirimu sendiri.” Kaisar meraih gelas

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 4

    Meski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor. Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk. Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih. “Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat. “B-bukan, Pak.” “Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?” “Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.” “Berusaha melindunginya karena dia suamimu?” Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?” Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesal

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 3

    Dengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.” Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya. Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan. Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan. Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala. “Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka. Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya. “I-iya, Pak,” jawabnya. “Mahesa yang nyuruh?” Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar. “Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi. Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, a

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 2

    Hampir tak ada makanan yang tersisa saat makan malam itu usai dengan Kaira yang tak menyuap sesendok pun. Kaira menumpuk piring-piring kotor dengan tangan yang terasa kebas.Bersama pelayan lain, ia menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum masuk ke dalam kamar seraya membawa amplop dari ibu mertua.Di dalam, Mahesa sedang duduk di sofa. Dari posisi ponselnya saat ini, bisa dipastikan suaminya itu sedang bermain game.Kaira berjalan melewatinya, menelan keraguan saat bertanya, “Mas Hesa besok juga akan ikut ke dokter kandungan?”“Nggak, kamu aja yang pergi,” jawabnya tanpa menatap Kaira. “Mama minta aku buat antar belanja. Oh ya—”Mahesa mengangkat wajah, menoleh pada Kaira, “Besok Mas Kaisar udah balik dari luar kota. Laporan target penjualan dan promosi punyaku udah selesai, ‘kan?”Kaira mengangguk, “Udah.”“Habis dari rumah sakit, kamu aja yang presentasi.”Kaira menghela napas, tak menjawab selain hanya menggigit bibirnya. Melihatnya yang tak merespon, Mahesa bangkit dan mendekat ke

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 1

    “Kamu steril aja, Mama nggak sudi punya cucu darimu!”Mendengar kalimat yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Kaira mematung. Rasa lelah sepulang bekerja dan menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam kian bertumpuk, memberatkan bahunya.Diliriknya sang suami—Mahesa—yang sedang duduk tenang menatap layar ponsel di samping ibunya, seolah tidak terbebani dengan permintaan itu.Kaira meremas celemek kusut yang melindungi pakaiannya, dengan gugup berujar, “S-steril itu artinya saya nggak akan bisa punya anak, Ma.”“Ya memang itu tujuannya! Kamu pikir aku bodoh?!” sahut ibu mertuanya, Sasmita, disertai dengusan sinis. “Adik iparmu bilang tadi pagi kamu muntah-muntah. Kamu nggak sedang hamil, ‘kan?”“Nggak, Ma. Tadi pagi perut saya memang kurang enak.”“Bagus. Sebelum hamil sebaiknya kamu cepat steril. Ini—” Sasmita menjeda kalimatnya sejenak, dilemparkannya sebuah amplop cokelat pada Kaira yang tak sempat menangkapnya sehingga amplop tersebut jatuh di kakinya.“Formulir pen

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status