MasukDengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.”
Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya. Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan. Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan. Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala. “Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka. Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya. “I-iya, Pak,” jawabnya. “Mahesa yang nyuruh?” Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar. “Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi. Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, apalagi masalah pribadi. “Maaf,” kata Kaira. “Seingat saya, Bapak nggak suka kalau ada yang ngomongin urusan di luar pekerjaan pas lagi di kantor. Saya permisi.” Kaira menundukkan kepala dengan sopan, entah bagaimana pria itu akan menganggapnya. Ia lalu beranjak meninggalkan ruangan. Tengkuknya terasa dingin setiap kali berhadapan dengan Kaisar. Di keluarga Maharendra, Kaisar bukanlah pria sembarangan. Dialah tangan dingin yang telah membawa Maha Group ke puncak kejayaan. Seluruh anggota keluarga menghormatinya. Kaisar pun juga tinggal di sayap rumah besar itu bersama istrinya, sebagaimana tradisi leluhur mengharuskan semua anggota keluarga ada di bawah satu atap. Langkah Kaira melambat saat ia berhenti di depan meja kerjanya. ‘Dia beneran nggak tahu soal steril itu, atau cuma pura-pura?’ ** Saat makan malam, ruang makan tak seramai biasanya karena ada Kaisar yang duduk di sana. Meski Kaira masih berjalan ke sana kemari dan diperlakukan seperti pembantu, setidaknya suasananya jauh lebih tenang ketimbang malam sebelumnya. Dalam hati, Kaira mensyukuri kehadiran Kaisar sebab ibu mertua, kakak dan adik iparnya menaruh sungkan pada pria itu. Setelah makan malam usai, Kaira menuju kamar Zia, membawakan diaper pesanannya. Di dalam, rupanya ada Sasmita. “Aku pikir Mbak Kaira lupa,” celetuk Zia yang baru saja membaringkan anaknya ke dalam box bayi. “Kalau sampai nggak dibeliin biar Kaira yang jagain Starla dan gantiin celananya tiap buang air,” sahut Sasmita yang ada di sofa, melirik tajam pada Kaira yang mengulum senyum sementara Zia menyambutnya dengan gelengan samar. “Nggak lah, Ma … Mbak Kaira kalau aku titipin selalu dibeliin kok,” balasnya. “Taruh di laci kayak biasanya ya, Mbak.” “Iya,” jawab Kaira seraya meletakkan beberapa pak diaper itu ke tempatnya. Seperti biasa, ia lah yang akan membongkar dan menatanya dengan rapi di laci. “Capek banget kaki aku, Ma ….” Zia mengeluh, meluruskan kakinya di atas ranjang. “Pijat kakinya Zia, Kaira,” titah ibu mertua saat melihat Kaira hendak keluar. “Dia punya butik besar dan banyak hal yang diurus. Dia habis melahirkan juga, wajar kalau cepat capek.” Kaira tak membantah, dilakukannya permintaan mereka. Ia duduk di tepi ranjang dan memijit kaki adik iparnya yang mengatakan, “Mbak Kaira kayaknya banyak tenaga deh, kayak nggak pernah capek.” “Pasti nggak, Sayang,” sahut Sasmita. “Dia ‘kan cuma staf biasa yang nggak banyak kerjaan, dan nggak tahu rasanya melahirkan.” “Nggak apa-apa ya, Mbak? Kalau steril nanti Mbak nggak akan ngerasain sakit pas lahiran atau susahnya jadi ibu.” Kaira menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak menjawab saat senyum Sasmita penuh cemoohan. Kalimat Zia terdengar manis dan penuh pembelaan yang seakan membesarkan hatinya. Tapi membuat dada Kaira nyeri. Ia ingin menyelesaikan memijat Zia dan segera pergi dari sini. Tiba-tiba …. “Akh—sakit!” rintih Zia. “Kenapa, Zi?” tanya Kaira dengan bingung dengan perubahan mendadak adik iparnya itu. “Zia kamu apakan, Kaira?!” bentak Sasmita, mendekat dan mengusap lutut Zia. “Nggak apa-apa kok, Ma,” kata Zia menengahi. “Mungkin Mbak Kaira nggak sengaja.” “Jangan kurang ajar, Kaira!” Kaira menggeleng, “Ma, saya nggak—” “Nggak usah alasan! Keluar sana!” Kaira mendorong napasnya dengan berat dan keluar dari kamar. Dadanya sesak, ia pikir Zia baru saja berpura-pura kesakitan agar Kaira makin dibenci oleh Sasmita. “Kamu dicari Mbak Davina, Ra.” Suara Mahesa datang dari lorong sebelah kanannya. Hanya itu saja yang dikatakan suaminya kemudian berjalan melewatinya. Dari arahnya, sepertinya Mahesa akan menyusul sang Ibu. Biasanya mereka akan bermain dengan Starla hingga bayi mungil itu tertidur. Dan jujur saja, itu mengganggu Kaira. Mahesa sangat senang saat menggendong Starla, memberikan banyak hadiah untuk keponakannya itu. Tapi, bagaimana bisa pria yang suka anak-anak itu malah diam saja saat istrinya didesak untuk steril? Kaira menggeleng, ia menuju ke ruang laundry, membawa jas-jas milik Davina—istrinya Kaisar—dan milik pamannya itu sekalian ke kamar mereka. Pintunya terbuka saat Kaira tiba. Langkahnya melambat sebab dari dalam sana ia mendengar lantangnya suara Davina yang mengatakan, “Lakuin aja sama perempuan lain, Mas! Kalau cuma berhubungan kayak gitu kamu ‘kan bisa milih siapapun yang kamu mau!” “Davina—” “Kamu udah datang, Ra?” Kaira terpancang saat dua orang itu menoleh ke arahnya. “A-aku bawa jasnya Mas Kaisar sama Mbak Davina,” jawabnya gugup, takut dikira menguping padahal ia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. “Masuklah!” Kaira mengangguk, meletakkan pakaian mereka ke tempatnya. Davina mengambil salah satu dan mengenakannya. “Cuma kamu yang bisa dipercaya buat bikin jasku wangi begini, Ra,” ujar Davina. “Nanti aku kasih satu ke kamu yang udah nggak aku pakai lagi.” Gegas Davina meninggalkan kamar, tanpa berpamitan pada Kaisar yang duduk di sofa ruang ganti, tak jauh dari Kaira berdiri dan memasukkan pakaian. Tidak ada suara yang terdengar hingga Kaisar lebih dulu mengatakan, “Kalau nggak suka sama perlakuan orang di rumah ini, kamu bisa sesekali melawan. Biar nggak terus ditindas.” Kaira menoleh pada Kaisar yang sibuk pada tablet di tangannya. “A-aku cuma nggak mau tambah dibenci, Mas.” “Dan ngebiarin dirimu terus direndahkan?” Kaira mengeratkan jemarinya pada keranjang yang ia bawa. Ia tak menjawab, memilih mengambil pakaian Davina yang ada di dekat Kaisar saat pria itu menutup tabletnya dan menatap Kaira seraya bertanya, “Sterilmu, akan dilakukan dalam waktu dekat?” “Kalau Mbak Monic yang atur, kayaknya iya.” “Kamu yakin sama keputusanmu?” Kaira bergeming, lidahnya beku. “Emangnya kamu nggak mau jadi ibu?” Ada sesuatu yang terluka di dalam hatinya saat mendengar tanya sederhana itu. Kaira menunduk, menahan air mata yang sudah hampir tumpah karena ini juga keputusan yang sangat berat baginya. Aneh … karena ia merasa ada yang memperhatikan bagaimana dirinya diperlakukan di dalam rumah ini. Tubuh Kaira menegang saat Kaisar bangun dari duduknya, bayangan pria itu menimpanya ketika ia selangkah mendekat. “Kamu itu istrinya Mahesa. Menantu keluarga Maharendra nggak pantas diperlakukan kayak gini!” katanya. “Kalau kamu diam aja, yang ada kamu makin diinjak-injak!”Kaisar berbaring di atas ranjang rumah sakit yang belum lama didatanginya. Tempat ini memang tidak semewah kamar Presidential Suite di Cendana Amerta, tetapi setidaknya lingkungan di sini jauh lebih aman dari jangkauan Altair.Rumah sakit ini ada di sisi lain kota, milik suami dari Dokter Sofia—dokter kandungan yang selama ini selalu memeriksa kehamilan Kaira.Beberapa jam lalu, setelah Kaira memperingatkan bahwa rumah sakit sebelumnya berada dalam penguasaan Altair, Kaisar lalu meminta Jevan bergerak cepat.‘Tolong hubungi Dokter Sofia, aku akan bicara dengannya,’ pinta Kaisar saat itu.Jevan segera menyambungkan panggilan, lalu menyerahkan ponsel pada Kaisar. Tanpa banyak basa-basi, Kaisar menjelaskan situasinya. Dokter Sofia dengan sigap merespons lewat sambungan telepon, ‘Silakan datang, Pak Kaisar. Saya akan bantu siapkan.’Dan begitulah akhirnya Kaisar dipindahkan ke tempat ini.Rumah sakit Graha Medica.Kondisinya terpantau sangat baik, tangannya menggenggam erat Kaira yang akh
Seorang perawat wanita yang kebetulan baru saja keluar dari sudut ruangan menghentikan langkahnya. Maniknya membelalak melihat pria berjas putih yang berdiri di dekat pintu.“Dokter Algara?” panggil perawat tersebut dengan ragu.Ya. Pria berjas putih itu adalah Algara, yang lalu melempar senyum manis dan ramah yang ia miliki.“Ah, iya. Suster.”“Ada perlu apa, Dok?”“Saya mau jenguk paman saya yang dirawat di kamar ini, Kaisar Maharendra. Tapi kok … ruangannya kosong?”Suster tersebut tersenyum simpul. “Oh, Anda belum tahu? Pasien sudah keluar dari rumah sakit ini sejak tadi pagi, Dok.”Alis Algara menukik tajam, senyum di bibirnya memudar separuh.“Hah? Bukannya kondisinya masih belum memungkinkan buat keluar dari rumah sakit?”Sang suster menggeleng. “Saya kurang tahu detailnya, Dokter Algara. Tapi dari catatan administrasi, beliau dipindahkan dari rumah sakit ini sejak tadi pagi,” ulangnya.Algara mengangguk kaku, seraya tetap mencoba mempertahankan senyum di wajahnya. “Begitu ya …
Kaira membuka pintu kamar rawat Kaisar dengan tangan yang terasa kebas. Begitu ia melangkah masuk, maniknya mendapati seseorang memang sedang berada di dalam sana.Zia.Wanita itu duduk di kursi sebelah ranjang. Zia tidak sendirian, di dekatnya, Jevan berdiri. Pemuda itu tampak mengusap wajahnya dengan kasar, seolah tengah frustrasi menghadapi kehadiran Zia.Zia menyunggingkan senyum manis saat melihat Kaira masuk.“Mbak ….” sapanya.Kaira berjalan mendekat, melirik sekilas ke arah Kaisar yang tampak terbaring memejamkan mata, sedang beristirahat.“Apa yang kamu lakukan di sini, Zia?” tanya Kaira.“Aku cuma mau jenguk paman suamiku aja, Mbak. Oh ya, haruskah … aku manggil Mbak Kaira sebagai ‘Tante’ sekarang? Atau lebih pas dipanggil ‘Bibi’?”Kaira menatapnya datar. “Aku nggak peduli kamu mau manggil aku apa. Tapi jangan ganggu waktu istirahat Mas Kaisar!”Zia tertawa kecil. Anggun saat menutup mulutnya dengan sebelah tangan.“Hm … aku baru tahu kalau Mbak Kaira seprotektif ini sama Ma
Zia tertegun di tempatnya. Wanita itu mengerjap tak percaya mendapati penolakan mentah-mentah dari Mahesa. “Kenapa, Mas? Apa aku ada buat kesalahan?” tanyanya.Mahesa mendengus berat, memalingkan wajahnya sebelum menjawab, “Nggak. Aku lagi capek, lagi nggak ingin. Sana kamu balik ke kamarmu!”Zia melipat kedua tangannya di dada, maniknya menatap tajam, penuh tuntutan. “Mas Hesa tuh udah beberapa kali kayak gini loh belakangan ini. Mas kesal gara-gara Kaira sekarang jadi istrinya Kaisar? Mas nggak bisa terima kenyataan itu makanya kamu lampiaskan semuanya ke aku, hah?”“Nggak ada hubungannya sama—”“Mas cuma mau enaknya aja sama aku!” potong Zia sengit dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. “Giliran lagi kesal dan marah-marah begini, Mas malah nyuekin aku! Mas udah nggak sayang sama aku lagi, ‘kan?!”Zia melengos pergi dengan hentakan kaki penuh emosi.“Zia—” panggil Mahesa mencoba menahan kepergiannya.Tapi biar saja ….Merajuknya Zia hanya sebentar. Lagi pula ia tidak berniat mengeja
Para tamu undangan dan para tetua dewan komisaris Maha Group beranjak pergi satu persatu. Mereka menundukkan kepala setelah menyampaikan ucapan selamat kepada Altair.Di ruang tamu utama kediaman yang mulai sepi itu, Altair menyilangkan kakinya di atas sofa.Pria itu lalu menoleh, menatap Sasmita yang duduk di sebelah kirinya dengan senyum kepuasan yang mengembang lebar di wajah wanita itu.Altair terkekeh kecil. “Nah, apa kamu masih mau marah-marah dan mogok makan lagi, Sasmita?”Sasmita mendengus, menyentuh selendang sutra di bahunya, tak menjawab.“Minta aja apa pun yang kamu mau, Sasmita. Sekarang semua ada di tangan kita. Aku bisa beliin apa aja yang kamu inginkan.”Sasmita bangkit dari duduknya sembari merapikan sanggulnya dengan anggun.“Nanti akan aku pikirkan daftar belanjanya.”Setelah Sasmita berlalu, pandangan Altair kembali menunduk pada map biru tebal berisi lembar surat wasiat mendiang sang ayah di atas meja.Dalam hitungan beberapa hari ke depan, seluruh berkas pengali
Kaira menggeleng cepat, air matanya kembali menitik. “Aku tanya begitu bukan karena nggak mau bareng Mas Kaisar. Tapi … karena aku tahu Mas Kaisar udah terbiasa hidup serba berkecukupan, berbeda denganku yang dari awal emang terbiasa kekurangan. Kehilangan sesuatu yang sebelumnya Mas tahu udah seharusnya menjadi milikmu, pasti rasanya menyakitkan.”Kaisar tersenyum, menatap Kaira, sorotnya teduh dan menenangkan.“Apa pun yang jadi milik kita nggak akan pernah tertukar kapasitas takdirnya, Kaira. Jadi, kalau emang Altair mau mengambilnya, silakan aja. Kita lihat seberapa lama semua itu bisa bertahan di tangannya.”Mendengar jawaban itu, Kaira tertegun. Rasanya seluruh beban berat di dadanya seolah terangkat saat Kaisar melanjutkan kalimatnya dengan lembut.“Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Kehilangan warisan itu sama sekali bukan masalah besar buatku. Aku bisa memulainya di tempat yang lain. Yang paling penting bagiku adalah kamu dan anak-anak kita, kan sama mereka harus baik-baik







