LOGINbanyak komen, like, vote, atau ulasan bintang 5 nya, Othor akan update jam 9 nanti 😁😁
Kaira menggeleng cepat, air matanya kembali menitik. “Aku tanya begitu bukan karena nggak mau bareng Mas Kaisar. Tapi … karena aku tahu Mas Kaisar udah terbiasa hidup serba berkecukupan, berbeda denganku yang dari awal emang terbiasa kekurangan. Kehilangan sesuatu yang sebelumnya Mas tahu udah seharusnya menjadi milikmu, pasti rasanya menyakitkan.”Kaisar tersenyum, menatap Kaira, sorotnya teduh dan menenangkan.“Apa pun yang jadi milik kita nggak akan pernah tertukar kapasitas takdirnya, Kaira. Jadi, kalau emang Altair mau mengambilnya, silakan aja. Kita lihat seberapa lama semua itu bisa bertahan di tangannya.”Mendengar jawaban itu, Kaira tertegun. Rasanya seluruh beban berat di dadanya seolah terangkat saat Kaisar melanjutkan kalimatnya dengan lembut.“Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Kehilangan warisan itu sama sekali bukan masalah besar buatku. Aku bisa memulainya di tempat yang lain. Yang paling penting bagiku adalah kamu dan anak-anak kita, kan sama mereka harus baik-baik
Kaira tidak kuasa menahan air matanya. Begitu mendengar suara serak itu memanggil namanya, ia menerjang maju dan mendekap tubuh Kaisar erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaisar, membiarkan isak tangisnya pecah, sejadi-jadinya.Kaisar mengangkat tangannya, membalas pelukan Kaira. Jemarinya mengusap punggung gadisnya itu dengan lembut.“Sayang … kenapa nangis begini, hm?” bisik Kaisar, masih lirih seperti sebelumnya.Kaira mendongak, menatap manik sayu pria itu dengan hidung yang memerah. “Mas nggak bangun-bangun … aku kangen.”“Maaf ya bikin kamu takut … gimana keadaan kamu sekarang? Kamu sama si kecil baik-baik aja, kan?”Mendengar pertanyaan itu, air mata Kaira justru semakin deras. Bagaimana bisa … pria yang baru saja siuman, yang bahkan masih terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya, justru mengkhawatirkan keadaan Kaira dan bayi mereka? Seolah-olah, bahkan dalam ketidaksadarannya pun, satu-satunya hal yang memenuhi pikiran Kaisar adalah keselamatan
Jeritan melengking Sasmita menggema. Wanita paruh baya itu sudah kehilangan kendali, mengamuk sejadi-jadinya seraya menyambar bantal dari atas ranjang dan melemparkannya ke arah Altair. “Keluar kamu dari sini, Altair! Keluar!” teriak Sasmita histeris, melangkah maju dengan tangan terkepal berniat melayangkan pukulan ke dada suaminya. Altair dengan sigap menangkap pergelangan tangan istrinya, lalu mendengus dingin. “Ya, aku keluar!” katanya seraya memutar bola mata malas. Pria itu memilih berbalik meninggalkan kamar, urung membaringkan tubuhnya dan membiarkan Sasmita berdiri seraya menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Begitu melangkah keluar, Altair turun ke lantai bawah. Di area dapur, ia berpapasan dengan Mahesa yang baru saja keluar membawa sebotol air dingin. Putra tengahnya itu menunduk saat melihat sang ayah mendekat. “Udah pada selesai makannya, Hesa?” tanya Altair. “Udah, Pa,” jawab Mahesa kaku. Altair berhenti tepat di hadapan putranya. “Kirim padaku spesifik
Kaira menundukkan kepalanya saat mengatakan, “Aku mohon bantuannya.” Alina spontan mengerutkan kening. Tangan gadis itu mengarah ke depan, merenggut dagu Kaira dan memintanya agar menegakkan kepala. “Kenapa mesti mohon sih, Ra? Kita ‘kan emang keluarga. Jangan gitu ih.” Kaira tersenyum mendengar itu. Rasa harunya menembus ke ulu hati. Saat Kaisar dikhianati oleh keluarganya sendiri, justru orang asing mengatakan bahwa mereka adalah ‘keluarga.’ Kaira mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. “Terima kasih. Aku … titip biar Pak Jevan buat terus perhatikan perkembangan di Maha Group. Alina, tolong bantu Pak Jevan buat soal kecelakaan itu sekalian siapin pengacara lain buat backup. Aku akan jaga Mas Kaisar di sini dan bantu kalian sebisaku dari rumah sakit.” Jevan dan Alina menjawab dengan kompak, “Baik.” Jevan menambahkan, “Nanti Alina bisa kerja sama dengan tim pengacara Pak Kaisar. Tadi saya udah sempat sampaikan ke mereka.” “Iya, beres,” sahut Alina mantap. Alina
Keheningan melingkupi ruangan. Suasana terasa begitu tegang, bahkan hanya untuk sekadar bergeser sedikit dari posisi duduk saja rasanya amat berat. Alina mengguncang lembut tangan pelan, merasa bersalah. “Maaf, Ra, aku nggak bermaksud bikin kamu makin kepikiran.” Kaira menggeleng, menyunggingkan senyumnya. “Nggak apa-apa, Lin … dari awal aku emang udah merasa kalau ada yang aneh kok.” Jevan memajukan posisi duduknya, menatap Kaira lebih serius. “Saya tadi sempat ikut ke lapangan sama kepolisian, Nona Kaira. Mobil kontainer itu seharusnya milik area gudang dari PT Mahakarya Logistik. Tapi menurut keterangan mereka, kendaraan itu udah dilaporkan hilang sejak satu bulan yang lalu. Plat nomor yang ada di sana juga plat palsu, jadi polisi kesulitan melacak siapa yang bawa kemarin.” Kaira terdiam cukup lama, meresapi setiap informasi yang baru saja ia dengar. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya, mengalihkan pandangannya pada Jevan. “Apa alur pembeliannya nggak bisa dic
Algara berbalik pergi, meninggalkan Kaira yang tertegun mematung di tempatnya. Segala potongan peristiwa seolah berputar dengan sangat cepat di dalam kepalanya. Pertemuannya dengan Algara kembali berkelebat di ingatan. Pada hari di mana Algara meminta Kaira agar membujuk Kaisar supaya mau membantu membebaskan Monica dari penjara, yang jika tidak ia lakukan, maka Algara akan membocorkan hubungan terlarang mereka kepada Altair agar Kaisar tidak bisa menjadi penerus tahta Maharendra. Namun, karena Kaisar mengabaikannya, sepertinya Algara memutuskan mengambil cara lain. Maka artinya … pertemuan Kaira dan Altair di lift di mana Altair mengatakan kalau Kaira lebih bahagia dengan suami barunya itu karena ia sudah tahu bahwa suami Kaira adalah Kaisar. Altair tidak sedang memancing Kaira, melainkan sengaja menikmati kemenangannya. Lalu … kenapa tadi Algara berbicara seolah-olah ia tahu bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa Kaisar? Mungkinkah … kecelakaan itu adalah sebuah kesengajaa







