Share

Bab 72

Author: Almiftiafay
last update publish date: 2026-09-03 20:23:26
Ingatan panas yang pernah mereka lakukan di dalam bathtub tempo hari, kini bergeser ke tengah ruang kerja Kaisar. Seulas seringai nakal tercetak di bibir pria itu sementara tangannya sudah merayap membuka kancing blouse Kaira satu per satu.

“Sekarang, lakukan hal yang sama untukku di sini.”

Kaira menggigit bibir bawahnya, debar jantungnya bergemuruh hebat kala ia membalas menyusuri kerah kemeja Kaisar, melonggarkannya dan menguraikan kancingnya hingga dada bidang pria itu terekspos sempurna.
Almiftiafay

mas pelan pelan Mas 🤤🤤🤤🤤 bonus jangan nih? udah pada siap belum hatinya??

| 20
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Eva
Makin hari makin panas aja nih 2 sejolli
goodnovel comment avatar
Zendayaa
aduh ini si kaisar di kasih woman on top sama kaira ya kedemenen dia ekekek.. btw seperti biasa selalu mantep kak bikin ngiler......
goodnovel comment avatar
Christy Lino
Adegannx plus² hot meletupppp ......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 98

    Tangan Kaira yang ada di pipi Kaisar terasa kebas. Setelah penantian yang menurutnya sangat panjang, pengakuan itu akhirnya bisa dia dengar dengan jelas, seolah sedang berusaha mengaburkan berbagai kecamuk yang terjadi di dalam hatinya hari ini.“Mas … bohong, ‘kan?” balas Kaira, ingin melihat bagaimana Kaisar menyikapinya setelah ini.Jika bisa, Kaira ingin mendengarnya, sekali lagi.“Bohong buat apa? Apa yang harus aku lakuin biar kamu bisa percaya kalau aku memang mencintaimu, Kaira?”Jelas dan tanpa kiasan.Kaisar mengatakannya dengan gamblang.Sensasi perih itu menjalar di pangkal hidung Kaira, pertanda bahwa air matanya tengah merangkak naik.Jemarinya meremat lembut pipi Kaisar yang masih berlutut di hadapannya.Sebagian besar gelisah yang memenuhi dada Kaira lambat laun memudar.“Berdirilah, jangan duduk di lantai,” ucap Kaira seraya menggeser tangannya ke bahu Kaisar, meminta agar pria itu bangun.Tapi, Kaisar dengan cepat melingkari pergelangan tangannya saat bertanya, “Tapi

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 97

    Kaisar menoleh pada Kaira, menunjukkan senyum tipisnya seraya mengangguk.“Iya,” jawabnya tak keberatan. “Tunggu sebentar.”Kaisar terlihat mengedarkan pandangannya, saat pria itu menemukan di mana Jevan, isyarat matanya mengatakan agar sekretarisnya itu mendekat.Entah apa yang dikatakan Kaisar saat Jevan mendekatkan kepalanya. Kaira tak mendengar, suara musik membatasi kemampuan inderanya.Tapi yang jelas, sedetik setelahnya Kaisar kembali menatapnya dan berujar, “Duluanlah ke mobilku, aku akan nyusul sebentar lagi.’“Iya,” jawab Kaira lirih.“Mari saya antar, Bu Kaira,” tawar Jevan, mempersilakan dengan sebelah tangannya.Kaira mengikuti ke mana Jevan melangkah, meninggalkan hall yang masih berkecamuk dengan hiruk-pikuk pesta, menuju ke parkiran VIP yang rasanya jauh lebih tenang.Kaira masuk ke dalam sedan hitam milik Kaisar dan menunggu di kursi di sebelah kemudi. Sementara Kaisar muncul tidak lama kemudian dan mengambil posisinya.Pria itu lebih dulu melepas jasnya, meletakkanny

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 96

    Kaira menggeleng, “Nggak perlu, Mas,” katanya lirih. “Aku juga nggak bisa dansa.”Alih-alih kesal karena Kaira baru saja menolaknya, Kaisar justru tersenyum mendengar itu.“Nggak apa-apa, Kaira. Kamu bisa pegang aku aja.”“Tapi—Mas ‘kan bisa ngajak Mbak Davina?”“Dia udah pulang,” jawabnya ringan. “Lagi pula siapapun boleh berdansa di sini. Mahesa sama Zia juga, ‘kan?”Kaira menggigit bibirnya, mencoba meredam kegugupan yang bergemuruh di dadanya.Saat itu, Mahesa dan Zia yang baru saja selesai terlihat duduk di kursi mereka, tak jauh dari Kaira berada.“Ajak aja si Kaira, Mas,” celetuk Mahesa. “Tapi hati-hati, takutnya Mas Kaisar jatuh karena dia emang nggak bisa.”Mendengar itu, Kaira merasa ia semakin mengerdil. Ketidakmampuannya seperti sebuah hal yang bisa dikatakan oleh Mahesa lewat bibirnya dengan tanpa beban.Tapi, Kaisar tidak mengindahkannya. Pria itu tetap teguh di depan Kaira dengan tangan yang terulur.Kaira melirik sekitar yang sepertinya juga sedang menunggunya, mempert

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 95

    “Kaira sama cowok lain?” ulang Monica dengan sinis.“I-iya, Mbak Monica,” jawab Zia gugup, beralih melirik Sasmita. “Waktu itu aku baru ketemu klienku, terus nggak sengaja lihat Mbak Kaira sama laki-laki itu dan … mereka kelihatan deket banget.”Sasmita mendengus kasar, tatapannya menghujam Kaira dengan begitu tajam. “Benar begitu, Kaira? Hari Minggu kemarin kamu emang pergi seharian, ‘kan? Jadi ini alasan kamu kelayapan?”Semua orang di ruangan itu mulai bergejolak. Monica bersedekap dada sambil melemparkan senyum mengejek, sementara Algara hanya memperhatikan dengan pandangan menilai yang penuh cemoohan.Mereka semua mempercayai ucapan Zia tanpa ragu sedikit pun.Kaira membeku. Ia tidak bisa berkutik dan terdesak begitu hebat di posisinya saat ini.Mau membantah pun suaranya seolah lenyap di pangkal tenggorokan. Pikirannya carut-marut menyusun kata yang tepat karena apa yang diucapkan Zia memang benar terjadi.Ia dan Kaisar memang pernah pergi ke sana.Melihat diamnya Kaira, Mahesa

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 94

    Kaira beberapa langkah menjauhi meja Kaisar saat pria itu menghela dalam napasnya dan dengan ketenangan yang terkendali seperti biasanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Dav?”“Kamu nggak pulang—”“Bukannya aku udah bilang kalau kamu mau datang ke sini harus bikin janji dulu denganku?” sela Kaisar.“Gimana caranya bikin janji sama kamu kalau kamu nggak mau jawab teleponku, Mas?!” balas Davina dengan nada meninggi.Kaira mencoba mencari celah untuk bicara, “Pak Kaisar maaf—”“Tunggu di sini sebentar, Kaira,” kata Kaisar. Pria itu seperti sedang mengisyaratkan bahwa urusan dengan Davina tak akan lama.Dan itu membuat Davina menoleh pada Kaira, menatapnya selama beberapa detik sebelum bersedekap.“Terpaksa aku lakuin, Mas. Coba aja kamu nggak bersikap begini! Jangan egois dong!”Kaisar tampak memperdengarkan tawa lirihnya saat mengulangi, “Egois?”“Emang begitu, ‘kan?”Pria itu mengangguk pelan, “Terserah. Jadi kamu mau apa?”“Nanti di Gala Tahunan aku mau Naya kamu masukin ke d

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 93

    Kaira keluar dari kamar belakang setelah bersiap pagi ini, dan menuju ke dapur. Mengambil minuman dingin dari dalam kulkas lalu menerima sekotak buah potong yang telah dikemas oleh Sari.Baru saja mengatakan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Zia datang untuk meletakkan botol susu Zia ke wastafel.“Udah mau berangkat, Mbak?” tanya Zia, menahan langkah Kaira yang sudah hendak pergi.“Iya,” jawab Kaira singkat, tak ingin memperpanjangnya.“Mbak nggak bareng Mas Hesa, ‘kan? Soalnya aku yang mau bareng sama dia.”Kaira menoleh, memasang senyumnya sebagai balasan wajah lugu Zia.“Aku bareng Mas Hesa, Zi,” katanya.“Loh? Bukannya Mbak Kaira biasanya naik taksi?”Nada bicara Zia sedikit meninggi meski wajahnya masih sama polosnya.Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka perlahan menjauh, atau yang sebagian bertahan di sana berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan keduanya.“Kamu ‘kan ada sopir? Lagian kalau bareng Mas Hesa bukannya kamu nggak searah ya?”“Dimintain tolong gitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status