Share

Bab 101

Author: XENA
last update publish date: 2026-08-11 07:25:46

Suara berat seorang pria mengagetkan Manda yang sedang berjalan seorang diri tanpa memakai alas kaki. Ia terkesiap, kakinya melangkah mundur, ketakutan melihat sosok pria yang terasa sangat menakutkan.

Kakinya gemetar. Napasnya memburu seolah merasa sedang terancam dalam bahaya.

"Manda ...." Pria yang memakai masker berwarna hitam, kacamata hitam dan juga topi berwarna hitam itu melangkah maju mendekati Manda.

Hanya sepasang matanya saja yang bisa dilihat oleh Manda. Dari pasang mata itu Manda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 126

    Manda menoleh ke arah sumber suara. Sosok wanita paruh baya yang berdiri di tangga sedang menatap tajam padanya."Kita pergi sekarang," ujar Marina sambil berjalan menghampiri putrinya.Manda melangkah mundur menghindari mamanya yang hendak menggandeng tangannya. "Enggak, Ma," tolaknya. "Manda akan menemani Lily. Dia pasti sangat sedih mengetahui ma-""Kenapa harus kamu?!" tanya Marina dengan meninggikan suaranya. Manda menatap marah padanya. Tanpa mengatakan apa pun, ia meninggalkan Marina dan naik ke lantai atas."Manda!" bentak Marina."Lily ada di atas, kan?" Manda berjalan menaiki anak tangga."Di dalam kamarnya, Nona," jawab nenek kepala pelayan yang berdiri di dekat Marina.Manda mempercepat langkahnya menuju kamar Lily. Di bawah sana, Marina masih saja berteriak memanggil nama putrinya.Nenek kepala pelayan menghela napas melihat majikannya yang tidak bersikap elegan layaknya nyonya-nyonya besar di luaran sana. "Sangat berbeda jauh dengan Nyonya Gracia," gumamnya sambil berja

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 125

    "Pesta pertunangan kita sudah ditentukan." Senyuman Vania merekah. Terlihat binar kebahagiaan yang tersirat jelas dari kedua matanya.Kopi dan cake yang terhidang di meja menyita perhatian Leon. Sang pewaris dari keluarga Moreno lebih tertarik untuk menikmati hidangan di depan matanya daripada mendengarkan ocehan Vania."Leon!" panggil Vania. Suaranya meninggi. Leon meneguk kopinya setelah menelan cake yang baru saja dinikmatinya. "Teruskan saja. Aku mendengarnya," ujarnya santai.Vania memasang wajah cemberut. "Apa hanya aku saja yang senang dengan pertunangan ini?!" tanyanya kesal. "Sepertinya iya," jawab Leon tanpa beban."Leon!" bentak Vania.Leon mengalihkan pandangannya pada Vania yang duduk di hadapannya. "Apa hakmu membentakku?" tanyanya dengan tegas. Tatapan matanya tajam, menyiratkan rasa tidak suka.Seketika nyali Vania menciut. Ia menutup rapat bibirnya dan menundukkan pandangan matanya."Jangan coba-coba mengaturku, Vania. Ingat itu!" tegas Leon. Ekspresi wajahnya mengu

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 124

    "Mau ke mana kamu, Leon?!" Suara Daniel menghentikan langkah Leon yang sedang terburu-buru melewati ruang makan."Aku ada perlu, Pa," jawabnya tanpa menoleh ke arah sumber suara. Dahi Daniel mengernyit. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.Seketika ekspresi wajah Leon berubah. Ekspresinya yang menahan sakit berganti dengan ekspresi kaget. Detik kemudian ia menoleh ke arah papanya."Sejak kapan Papa peduli padaku?" tanyanya tidak percaya.Daniel berdehem. "Kamu pikir seorang Daniel Moreno tidak pernah memperhatikan putranya?!" Suaranya tegas dan berwibawa.Leon tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata, ia kembali melangkah sembari melambaikan tangannya untuk berpamitan."Leon!" panggil Daniel kembali. "Mau ke mana kamu?!" tanyanya. "Ada urusan penting yang harus aku selesaikan," jawab Leon sambil berjalan menuju pintu."Makanlah terlebih dahulu!" Suara Marina menyambar dari ruang makan.Tidak ada jawaban dari Leon. Hanya suara pintu yang tertutup seolah mewakili jawaban darinya.______

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 123

    "Kami sudah berhasil membawa Tuan Muda Leon. Selanjutnya bagaimana, Tuan?" Telinga Leon samar-samar mendengar suara seorang pria yang sedang membicarakannya. Ia mencoba membuka kedua matanya, tapi tak bisa sepenuhnya. Pandangannya pun kabur, tidak bisa melihat dengan benar apa yang sedang dilihatnya."Baik, Tuan."Suara itu kembali terdengar di telinga Leon. Bedanya, kali ini terdengar sangat jelas. Ia melenguh. Detik kemudian ia meracau."Jalan!" perintah seorang pria. "Tempat biasa."Detik berikutnya, mobil yang mereka naiki bergerak meninggalkan tempat itu. Ocehan khas orang yang sedang mabuk keluar dari bibir Leon, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menanggapinya. Setelah beberapa saat, mobil pun berhenti. Para pria itu turun dari mobil dengan membawa Leon yang masih dalam keadaan mabuk. Sang pewaris dari keluarga Moreno jalan terhuyung dengan dibantu oleh dua pria yang bersamanya."Jangan mendorongku!" oceh Leon. "Kalian gak tau siapa aku?!" Ia berusaha melepaskan tangan

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 122

    "Menyingkirlah, aku gak butuh bantuanmu!" Suara Manda tidak kalah sinisnya dengan ekspresi wajahnya.Alvaro tetap memayunginya meskipun bagian tubuhnya sedikit basah karena membagi payungnya dengan Manda. "Sedang hujan. Kamu membutuhkan payung. Dan kebetulan aku memiliki payung," ujarnya dengan nada riang.Manda menghentikan langkahnya. Ia menatap tajam pada sepasang mata yang menyapanya sambil tersenyum. "Bukankah payung itu milik Papa? Bukan milikmu!" tegasnya."Benar juga." Alvaro terkekeh. Manda menyambar payung dari tangan Alvaro. "Jangan mengikutiku! Atau aku akan membencimu!" Ia berjalan menembus hujan yang semakin deras dengan membawa payung yang dirampasnya dari Alvaro.______________Di dalam sebuah klub yang ada di pusat kota, Leon duduk di meja bar dengan segelas minuman berwarna keemasan. Ia meneguk minuman itu hingga tandas dalam sekali teguk. Sudah berkali-kali ia meminta bartender untuk memberinya lagi minuman yang sama, dan lagi-lagi ia menghabiskannya dengan sekali

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 121

    Kabar pertunangan Leon dan Vania tersebar di jagat maya. Seluruh kota membicarakan pertunangan mereka yang menyatukan dua keluarga terkuat di kota itu.Kabar itu pun sampai di telinga Manda. Dadanya bergemuruh melihat foto kebersamaan Leon dengan Vania yang diambil pada pesta tempo hari. Bahkan ia sudah melihat mereka secara langsung di pesta waktu itu. Namun, melihat foto mereka sekarang ini membuatnya teringat akan rasa cemburu dan kesalnya pada Leon. "Jadi kamu sudah memutuskan untuk memilihnya?" Manda tersenyum miring. "Sepertinya aku juga harus bisa melupakanmu, Leon!" Tekadnya sudah bulat meski hatinya mengatakan untuk tidak percaya pada berita di semua media dan ingin bertanya secara langsung pada Leon untuk mendengar jawaban darinya. Namun, egonya mengatakan untuk tidak mencari Leon ke rumah keluarga Moreno.Manda bingung. Ia merasa tdak nyaman dengan bentrokan keinginan antara hati dan pikirannya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Helaan napasnya terasa berat. Ia tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status