/ Romansa / Satu Syarat di Atas Ranjang / RIB13. Desakan Sang Mama

공유

RIB13. Desakan Sang Mama

작가: Cheezyweeze
last update 게시일: 2026-05-16 13:42:54

"Mau apa dia di rumah mama?" ucap Bara lirih.

"Siapa, Pak?" tanya Tama.

"Ehm..." Bara mengangkat kepalanya dan menatap Tama. "Tam, aku ada urusan mendesak. Aku akan pulang dan makan siang di rumah." Bara meraih kunci mobilnya. "Ingat ya, pesanku tadi. Nanti sore, berkas harus sudah siap di atas mejaku," ujar Bara sebelum hilang dibalik pintu.

"Eh, Pak. Jas anda...." Tama memperingatkan Bara, akan tetapi telat. Tama melirik jam tangannya. "Padahal masih jam 11. Belum waktunya makan siang, tapi..
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB85. Pulang ke Rumah Istriku Sendiri

    Gelas kristal kedua di hadapan Bara kini sudah menyisakan separuh. Di bawah temaramnya lampu bar yang bergerak lambat mengikuti ketukan musik jazz, kesadaran pria itu perlahan mulai terombang-ambing oleh pengaruh alkohol yang kian pekat. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan yang ia cari sejak sore tadi, cairan amber yang membakar kerongkongannya itu justru memantik reaksi sebaliknya.Alkohol sialan itu malah memperkuat ilusi kepemilikan yang mendarah daging di dalam benaknya. Seolah-olah Aluna masihlah wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, bukan sosok dingin yang mengusirnya tadi siang. Pikiran itu terus berputar, membakar habis sisa akal sehat di kepalanya.​Dalam kondisi setengah mabuk dengan tatapan mata yang mulai menyayu, fokus Bara mendadak terusik. Seorang wanita asing dengan gaun malam berpotongan rendah melangkah mendekat, lalu tanpa permisi menduduki kursi kosong tepat di sebelah kanannya. Aroma parfum berbau manis menyengat seketika menyerbu indera penciuman Bara, m

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB84. Ingin Sendiri

    Langkah kaki Maya yang berbalut sepatu flat terdengar berketuk pelan saat ia menuruni anak tangga kayu menuju lantai bawah. Niat awalnya adalah mengambil berkas rekapitulasi kain, namun atmosfer di area ruang produksi seketika terasa ganjil di inderanya. Suara deru mesin jahit yang biasanya mendominasi, kini kalah saing oleh dengung suara orang yang berkerumun rendah, saling melempar kalimat dengan gestur tubuh yang mencurigakan.​Begitu menginjakkan kaki di lantai satu, indera pendengaran Maya menangkap dengan jelas sisa-sisa obrolan para karyawan mengenai prahara rumah tangga Aluna dan Bara Mahendra. Topik yang seharusnya menjadi privasi penuh sang atasan kini tengah jadi bahan gosip habis-habisan di balik tumpukan bahan brokat. Sebagai asisten kepercayaan yang paham betul bagaimana perjuangan Aluna bangkit dari keterpurukan emosional, dada Maya seketika bergemuruh oleh rasa tidak nyaman sekaligus amarah yang tertahan. Kasak-kusuk seperti ini jelas akan merusak kondusifitas kerja ji

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB83. Mengusik Ketenanganku

    Sementara itu, desas-desus pasca kepergian Bara tidak serta-merta mereda begitu saja di area lantai satu butik. Kabar mengenai status hubungan sang atasan yang selama ini tertutup rapat kini mulai bocor ke permukaan. Bisik-bisik mulai terdengar samar di antara deru mesin jahit dan gantungan baju. Beberapa karyawan yang baru saja menyadari kenyataan tersebut tampak saling mendekat, memasang raut terkejut saat tahu jika Aluna ternyata sudah bercerai dengan suaminya, Bara Mahendra.​"Eh, ini serius kalau Bu Aluna sudah cerai dengan Pak Bara?" tanya seorang penjahit wanita dengan suara setengah berbisik, matanya melirik waspada ke arah tangga. "Padahal Pak Bara itu pengusaha sukses. Sudah tampan, duit banyak, usahanya ada di mana-mana. Tapi kenapa Bu Aluna malah cerai dan lebih memilih sibuk mengelola butik ini?"​Teman di sebelahnya yang sedang merapikan lipatan kain ikut mengangguk setuju, menyayangkan keputusan yang diambil oleh sang bos. "Iya, betul. Kalau aku jadi Bu Aluna, aku cukup

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB82. Kita Sudah Bercerai

    Di bawah terik matahari pagi yang mulai memanaskan aspal di depan butik, ketegangan mendadak timbul di ruang depan butik. Bara menoleh, menatap seorang wanita yang sedang melangkah mendekat ke arahnya dengan keanggunan yang selalu berhasil mengusik ketenangannya. Aluna menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan mantan suaminya, lalu menatap Bara. Kedua pasang mata itu saling bersitatap, memancarkan gejolak emosi yang bertolak belakang. Yang satu dilingkupi amarah posesif, sementara yang lain berdiri dengan ketegasan yang dingin.​"Ada yang bisa aku bantu, Pak Bara?" tanya Aluna, suaranya terdengar begitu formal, sengaja menciptakan jarak yang lebar di antara mereka.​"Di mana dia?" kata Bara tanpa basa-basi, mengabaikan keramahan palsu yang dilontarkan wanita itu. Mata elangnya menyipit tajam, mencoba mencari celah kebohongan dari ekspresi wajah di hadapannya.​Aluna mengerutkan kedua alisnya. "Dia?" Ia diam menatap Bara selama beberapa saat, mencoba mencerna tuduhan yang d

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB81. Kedatangan Bara ke Butik

    Bara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Sempat ia melirik butik yang sudah sepi dan gelap. Pikiran Bara saat itu sedikit kacau. "Bagus sekali. Tutup lebih awal," gerutu Bara. Meremas kuat stir mobilnya.Merasa tidak ada hal berguna yang bisa ia temukan di sana, pria itu akhirnya memutuskan untuk melajukan kembali mobilnya pergi dari sana. Bara sama sekali tidak tahu jika dua orang yang paling dicarinya saat itu sebenarnya berada di dalam sana, bersembunyi di balik dinding-dinding kokoh yang menipu pandangan luar.​Butik milik Aluna memang memiliki satu ruangan khusus berupa kamar istirahat tersembunyi yang berada di lantai atas, tepatnya bersebelahan dengan ruang kerja Aluna. Dari luar, tempat itu hanya terlihat seperti bagian dari bangunan komersial biasa, sehingga tidak ada orang yang menyangka fungsinya termasuk Bara yang baru saja melenggang pergi dengan kepatuhan keliru.Di dalam ruangan yang hangat itu, aroma bawang goreng mulai tercium samar. Elrumi yang sedang membantu me

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB80. 🔥Jerat di Sepertiga Malam

    ​Deru napas Bara Mahendra yang memburu perlahan mulai teratur, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa gairah di dalam kamar apartemen Monika. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan tubuh tegapnya terekspos di bawah temaram lampu tidur yang temaram. Sudut matanya melirik sekilas ke arah jam digital di nakas. Pikirannya yang sempat mati rasa akibat kepuasan fisik kini perlahan mulai ditarik kembali pada kenyataan. Pada kekosongan unit di sebelah dan rasa frustrasinya yang belum tuntas.​Bara menggerakkan tubuhnya, bersiap untuk turun dari ranjang tebal itu. Ia tidak berniat menghabiskan malam di sini. Bagi Bara, Monika murni sebatas pelampiasan ego dan amarah yang salah sasaran malam ini.​Namun, pergerakan Bara seketika tertahan saat sepasang lengan mulus Monika melingkar mesra dari belakang, memeluk pinggangnya dengan erat. Monika merapatkan dadanya ke punggung bidang Bara, menyalurkan kehangatan kulitnya yang sengaja memancing gairah yang baru. Monika t

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB34. Amplop Cokelat

    Amplop cokelat yang menyita atensinya. Ia menatap amplop tersebut, entah apa yang dipikirkannya . Menarik napas dalam setelah puas menatap benda tersebut, lalu mengambilnya dari laci. Bara sandarkan punggungnya di kursi sambil menarik isi dari dalam amplop itu. Selembar kertas yang mengusiknya bebe

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB33. Benda di Laci Meja Kerja

    Senyum licik terpancar dari raut wajah Bu Citra. Chika masih penasaran dengan rencana dan siasat sang mama, tapi Chika juga meminta pada sang mama untuk tidak terlalu mecolok. Yang ada nanti malah senjata makan tuan. Chika benar-benar mewanti-wanti pada Bu Citra. Ia tidak ingin jika kejadian sepert

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB27. Ular Cantik Yang Berbisa

    Bara mendengus pelan, sebuah tawa getir yang sarat akan sarkasme lolos dari sela bibirnya. Tatapannya tertuju kosong pada permukaan meja kerja yang mengilat, namun benaknya berputar hebat mengurai kembali setiap detail kejadian di kamar nomor 809 beberapa jam yang lalu. Potongan-potongan ingatan te

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB26. Umpan Balik Untuk Vio

    Bara mengalihkan pandangannya dari Tama ke tumpukan berkas tersebut. Ia meraihnya dengan malas, namun matanya memicing saat melihat sebuah nama yang tercetak tebal di lembar paling depan. Gerakan mengunyahnya terhenti seketika. Burger di tangannya kini terasa seperti bongkahan batu.​"Anomali apa?"

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status