Home / Romansa / Satu Syarat di Atas Ranjang / RIB19. Obsesi Bu Citra

Share

RIB19. Obsesi Bu Citra

Author: Cheezyweeze
last update publish date: 2026-05-19 13:34:10

Chika membawa Bu Citra masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya Hipertensi yang di derita Bu Citra naik. Chika menyuruh mamanya untuk duduk di sofa dan dengan cekatan perempuan itu mengambil obat.

"Minum dulu obatnya, ma...."

Bu Citra menurut apa kata sang putri. Wanita dengan segera meminum obatnya. Setelah meminum obat, Bu Citra langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Ma... Mama kenapa cari masalah dengan Mas Radit?" cerocos Chika. "Kenapa juga mama tadi ke kantor Chika?" lanjutnya.

Bu Citra yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB84. Ingin Sendiri

    Langkah kaki Maya yang berbalut sepatu flat terdengar berketuk pelan saat ia menuruni anak tangga kayu menuju lantai bawah. Niat awalnya adalah mengambil berkas rekapitulasi kain, namun atmosfer di area ruang produksi seketika terasa ganjil di inderanya. Suara deru mesin jahit yang biasanya mendominasi, kini kalah saing oleh dengung suara orang yang berkerumun rendah, saling melempar kalimat dengan gestur tubuh yang mencurigakan.​Begitu menginjakkan kaki di lantai satu, indera pendengaran Maya menangkap dengan jelas sisa-sisa obrolan para karyawan mengenai prahara rumah tangga Aluna dan Bara Mahendra. Topik yang seharusnya menjadi privasi penuh sang atasan kini tengah jadi bahan gosip habis-habisan di balik tumpukan bahan brokat. Sebagai asisten kepercayaan yang paham betul bagaimana perjuangan Aluna bangkit dari keterpurukan emosional, dada Maya seketika bergemuruh oleh rasa tidak nyaman sekaligus amarah yang tertahan. Kasak-kusuk seperti ini jelas akan merusak kondusifitas kerja ji

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB83. Mengusik Ketenanganku

    Sementara itu, desas-desus pasca kepergian Bara tidak serta-merta mereda begitu saja di area lantai satu butik. Kabar mengenai status hubungan sang atasan yang selama ini tertutup rapat kini mulai bocor ke permukaan. Bisik-bisik mulai terdengar samar di antara deru mesin jahit dan gantungan baju. Beberapa karyawan yang baru saja menyadari kenyataan tersebut tampak saling mendekat, memasang raut terkejut saat tahu jika Aluna ternyata sudah bercerai dengan suaminya, Bara Mahendra.​"Eh, ini serius kalau Bu Aluna sudah cerai dengan Pak Bara?" tanya seorang penjahit wanita dengan suara setengah berbisik, matanya melirik waspada ke arah tangga. "Padahal Pak Bara itu pengusaha sukses. Sudah tampan, duit banyak, usahanya ada di mana-mana. Tapi kenapa Bu Aluna malah cerai dan lebih memilih sibuk mengelola butik ini?"​Teman di sebelahnya yang sedang merapikan lipatan kain ikut mengangguk setuju, menyayangkan keputusan yang diambil oleh sang bos. "Iya, betul. Kalau aku jadi Bu Aluna, aku cukup

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB82. Kita Sudah Bercerai

    Di bawah terik matahari pagi yang mulai memanaskan aspal di depan butik, ketegangan mendadak timbul di ruang depan butik. Bara menoleh, menatap seorang wanita yang sedang melangkah mendekat ke arahnya dengan keanggunan yang selalu berhasil mengusik ketenangannya. Aluna menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan mantan suaminya, lalu menatap Bara. Kedua pasang mata itu saling bersitatap, memancarkan gejolak emosi yang bertolak belakang. Yang satu dilingkupi amarah posesif, sementara yang lain berdiri dengan ketegasan yang dingin.​"Ada yang bisa aku bantu, Pak Bara?" tanya Aluna, suaranya terdengar begitu formal, sengaja menciptakan jarak yang lebar di antara mereka.​"Di mana dia?" kata Bara tanpa basa-basi, mengabaikan keramahan palsu yang dilontarkan wanita itu. Mata elangnya menyipit tajam, mencoba mencari celah kebohongan dari ekspresi wajah di hadapannya.​Aluna mengerutkan kedua alisnya. "Dia?" Ia diam menatap Bara selama beberapa saat, mencoba mencerna tuduhan yang d

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB81. Kedatangan Bara ke Butik

    Bara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Sempat ia melirik butik yang sudah sepi dan gelap. Pikiran Bara saat itu sedikit kacau. "Bagus sekali. Tutup lebih awal," gerutu Bara. Meremas kuat stir mobilnya.Merasa tidak ada hal berguna yang bisa ia temukan di sana, pria itu akhirnya memutuskan untuk melajukan kembali mobilnya pergi dari sana. Bara sama sekali tidak tahu jika dua orang yang paling dicarinya saat itu sebenarnya berada di dalam sana, bersembunyi di balik dinding-dinding kokoh yang menipu pandangan luar.​Butik milik Aluna memang memiliki satu ruangan khusus berupa kamar istirahat tersembunyi yang berada di lantai atas, tepatnya bersebelahan dengan ruang kerja Aluna. Dari luar, tempat itu hanya terlihat seperti bagian dari bangunan komersial biasa, sehingga tidak ada orang yang menyangka fungsinya termasuk Bara yang baru saja melenggang pergi dengan kepatuhan keliru.Di dalam ruangan yang hangat itu, aroma bawang goreng mulai tercium samar. Elrumi yang sedang membantu me

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB80. 🔥Jerat di Sepertiga Malam

    ​Deru napas Bara Mahendra yang memburu perlahan mulai teratur, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa gairah di dalam kamar apartemen Monika. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan tubuh tegapnya terekspos di bawah temaram lampu tidur yang temaram. Sudut matanya melirik sekilas ke arah jam digital di nakas. Pikirannya yang sempat mati rasa akibat kepuasan fisik kini perlahan mulai ditarik kembali pada kenyataan. Pada kekosongan unit di sebelah dan rasa frustrasinya yang belum tuntas.​Bara menggerakkan tubuhnya, bersiap untuk turun dari ranjang tebal itu. Ia tidak berniat menghabiskan malam di sini. Bagi Bara, Monika murni sebatas pelampiasan ego dan amarah yang salah sasaran malam ini.​Namun, pergerakan Bara seketika tertahan saat sepasang lengan mulus Monika melingkar mesra dari belakang, memeluk pinggangnya dengan erat. Monika merapatkan dadanya ke punggung bidang Bara, menyalurkan kehangatan kulitnya yang sengaja memancing gairah yang baru. Monika t

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB79. Teka-Teki dan Titik Alih

    ​Sadar posisinya mulai berada di tengah-tengah urusan pribadi sang atasan, Maya pelan-pelan melangkah mundur. Jemarinya kembali menyambar nampan kosong dengan gerakan sehalus mungkin, tidak ingin memotong kehangatan suasana yang baru saja tercipta. Walaupun lubuk hatinya didera rasa penasaran yang teramat besar mengenai siapa sebenarnya sosok pria rupawan yang baru datang itu, Maya buru-buru menepis rasa penasarannya. Ia sangat menghargai privasi Aluna, wanita yang sudah menganggapnya lebih dari sekadar asisten.​"Mbak Aluna, kalau begitu saya permisi kembali ke bawah untuk mengecek rekap harian," pamit Maya dengan senyum sopan yang mengembang tulus.​"Oh, iya, May. Terima kasih tehnya, ya," balas Aluna hangat, mengangguk sekilas mengizinkan.​Setelah pintu kayu itu tertutup rapat dan menyisakan keheningan di dalam ruangan kerja, pria jangkung itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi sketsa gaun elegan, lalu beralih me

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB15. Si Tukang Gosip

    Aroma lilin aromaterapi lavender yang biasanya menenangkan di dalam ruangan kerja Aluna, siang ini sama sekali tidak mempan mengusir kekalutan di kepalanya. Di atas meja kerja kayu mahoni setebal lima sentimeter itu, sketsa gaun pengantin terbaru pesanan klien setianya terhampar begitu saja, belum t

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB14. Gengsi Demi Harga Diri

    Bara masih diam di dalam mobilnya. Ia memilih untuk menjauh dari rumah sang mama. Ia tidak ingin dicerca berbagai macam pertanyaan soal program kehamilan Aluna. Padahal faktanya itu sudah tidak mungkin."Bodoh sekali aku ini. Kenapa juga aku jadi memikirkan hal yang seharusnya...haish, sial! Tidak

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB12. Aluna Ada di Rumah Mama

    Aluna menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah mewah. Akhirnya ia memilih untuk datang karena penasaran apa yang hendak mama mertuanya itu katakan padanya. Terlebih lagi, jika ia menolak pastinya sang mama akan curiga."Sebenarnya aku malas datang. Malas juga jika harus bertatap muka dengan dia,

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB10. Suara Ambigu di Kamar Hotel

    "Kapan kau akan membawa Aluna, Bar?" Anggun menatap Bara yang sedang menyuapkan sendoknya ke dalam mulutnya sendiri. Sudah berapa kali Bara mendengarkan Anggun menanyakan dengan pertanyaan yang sama selama Bara menginap di rumah ibunya itu dari semalam. "Iya ... iya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status