Home / Romansa / Satu Tahun Jadi Istrimu / Bab 4. Ada Wanita Lain

Share

Bab 4. Ada Wanita Lain

Author: Liani April
last update Huling Na-update: 2025-07-09 15:20:07

Hari ini hari fitting baju.

Kali ini, Bunda yang menemani Tavira dan Darian fitting di butik milik desainer langganan keluarga Haryodipura.

Model gaun sudah ditentukan oleh sang desainer. Ia hanya perlu ukuran pasti tubuh Tavira agar gaun itu nampak pas di hari pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi.

Efek dari permintaan Tavira agar pernikahan dipercepat, semua persiapan pernikahan pun dikebut. Jadwal yang semula disusun untuk dua hingga tiga bulan ke depan, kini dimampatkan dalam hitungan minggu. Gedung, dekorasi bernuansa mewah, katering, hingga souvenir tamu, semuanya sudah dikonfirmasi pagi tadi, sebelum mereka ke butik ini.

Meski awalnya Bunda menjadwalkan waktu yang lebih panjang, namun permintaan Tavira malam itu cukup menyentuh. Dalam hati kecilnya, Bunda memang menginginkan hal yang sama. Agar pernikahan itu dipercepat.

Sudah bukan rahasia, Bunda begitu menyukai Tavira sejak lama. Ia selalu ingin memiliki anak perempuan, tapi takdir berkata lain. Ia hanya diberi seorang putra, Darian. Maka kehadiran Tavira, calon menantu yang selama ini ia impikan, seperti menjawab doa lamanya.

Bunda bahkan menjemput langsung Tavira ke rumah untuk fitting hari ini, demi bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan calon menantunya.

“Badan Nona bagus sekali,” puji sang desainer sambil mengukur pinggang Tavira. “Hampir semua calon pengantin mengidamkan bentuk tubuh seperti ini. Ideal untuk menampilkan lekuk gaun.”

“Begitukah?” Tavira tersipu malu.

Yang justru tampak paling bangga adalah Bunda. Ia tersenyum lebar, bahkan hidungnya seolah terangkat. Padahal bukan dirinya yang sedang dipuji.

“Tentu saja tubuh Tavira bagus. Dia kan model,” timpal Bunda. “Apa pun yang ia kenakan, selalu terlihat pantas.”

Obrolan berlanjut dengan saling puji. Tentang tubuh Tavira, profesinya sebagai model, dan bagaimana pakaian selalu tampak cocok di dirinya.

Tavira sudah terbiasa dengan pujian seperti itu. Sejak lulus SMA, ia menekuni dunia modeling. Bukan hanya karena wajah cantiknya, tapi juga postur tubuh yang membuat banyak wanita iri. Pakai apa pun di tubuhnya, semuanya terlihat pas dan memukau.

Meski biasa mendengar pujian, kali ini Tavira ingin seseorang tertentu ikut mendengar. Yaitu Darian. 

Ia melirik lelaki itu di seberang ruangan, yang tampak sibuk mengikuti instruksi asisten desainer. Angkat tangan, balik badan, busungkan dada. Hari ini, Darian terlihat sangat penurut.

Darian mengenakan jas pernikahan yang masih perlu banyak penyesuaian. Jepitan-jepitan menjuntai di sana sini, sama seperti gaun Tavira.

Sayangnya, Darian tidak melirik ke arah Tavira barang sekali pun. Sementara Tavira, beberapa kali mencuri pandang. Di kaca besar yang menempel di dinding, ia melihat bayangan mereka berdampingan, meski berdiri berjauhan.

Tavira tersenyum kecil. Dalam pantulan kaca itu, mereka terlihat cocok. Tinggi yang seimbang, proporsi yang pas, tungkai Darian yang jenjang seolah serasi dengan bahu mungil Tavira.

Huft. Mereka tampak serasi, tapi kenapa Darian justru mengajukan pernikahan kontrak? Kenapa bukan pernikahan yang sebenarnya, yang selamanya?

Fitting Darian selesai lebih cepat. Ia duduk santai di sofa butik, sementara Tavira masih ada beberapa perbaikan di sana-sini.

Kemudian, Tavira menangkap gerakan Darian mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ia mengetik sesuatu, lalu... tersenyum. Hanya sepersekian detik, tapi jelas. Dingin itu mencair.

Senyum?

Senyum itu bukan untuk Tavira. Dan itu cukup membuat dadanya berdesir tak nyaman.

Pesan apa yang bisa membuat Darian tersenyum seperti itu?

Jangan-jangan... ada wanita lain?

Baru sekarang Tavira sadar, mungkin saja Darian tidak menyukai perjodohan ini karena hatinya sudah dimiliki orang lain. Selama ini ia terlalu sibuk berharap, sampai lupa menimbang kemungkinan bahwa Darian mencintai perempuan lain.

Kalau memang ada wanita lain... lalu bagaimana dengan dirinya?

Fitting selesai, tapi kekalutan Tavira belum. Ia menghabiskan waktu dengan Bunda, berjalan-jalan seperti yang sudah direncanakan. Namun wajahnya muram, senyumnya lenyap.

"Kenapa, Tavira? Kamu gak suka gaunnya, ya?" tanya Bunda, heran.

“Oh, enggak, Bunda. Tavira suka, kok!” jawabnya, setengah hati.

Mereka berada di dalam mobil pribadi milik Bunda. Darian sudah lebih dulu pergi menggunakan mobil lain, menuju kantornya. Tavira masih mengingat percakapan sebelum mereka berpisah. 

“Bunda saja yang antar Tavira pulang. Aku ada rapat dengan klien di kantor,” kata Darian dingin.

“Kok Bunda, sih. Sekali-sekali kamu yang antar. Dan ngobrol lebih banyak sama calon istrimu,” protes Bunda.

“Enggak perlu. Bunda tahu, kan, aku gak suka ngobrol.”

Lalu Darian melangkah pergi, wajahnya dingin seperti biasa, diikuti asistennya yang setia.

Bunda tampak memahami apa yang mengganggu Tavira. Ia mencoba mencairkan suasana, tapi Tavira tetap terdiam.

“Tavira, jangan salah paham sama Darian, ya,” ucap Bunda pelan. “Kelihatannya saja dia dingin. Tapi dia laki-laki paling hangat dan paling pengertian yang pernah Bunda kenal.”

Bunda menatap Tavira penuh harap. “Bunda yakin, setelah kalian menikah nanti, kamu bakal lihat sisi hangat Darian yang sebenarnya. Untuk sekarang... sabar dulu, ya.”

Tavira ingin percaya. Ia ingin menaruh harapan seperti Bunda. Tapi... mungkinkah ia bisa?

“Bunda... apa mungkin Darian punya seseorang yang dia suka, tapi bukan Tavira?”

Pertanyaan itu meluncur tanpa bisa ditahan. Tapi alih-alih mendapat jawaban serius, Bunda justru terkekeh pelan.

BERSAMBUNG

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Epilog : Satu Tahun, Satu Hidup Baru

    Matahari sore merambat masuk lewat jendela besar rumah Darian dan Tavira, menciptakan garis-garis keemasan di lantai marmer yang menghangatkan ruangan.Dari balik sofa, suara lembut bayi terdengar. Bukan tangisan, melainkan gumaman kecil yang seolah menciptakan melodi baru dalam rumah yang sebelumnya sunyi.Darian duduk di kursi goyang, menggendong bayi mereka di dadanya. Bayi itu tertidur pulas, kedua tangannya yang mungil menggenggam kuat jari ayahnya. Napasnya kecil-kecil, teratur, damai.Darian tidak pernah merasa hidupnya setenang ini.Ia membungkuk, mengecup ubun-ubun bayinya.“Astra,” bisiknya lembut. “Pangeran kecil Papa.”Ya, setelah melalui perdebatan panjang, atau lebih tepatnya, Tavira menangis haru ketika mendengar nama itu. Mereka menamai putra mereka Astra Darrel Haryodipura.Astra, berarti cahaya bintang. Darrel, berasal dari nama Darian. Haryodipura, berasal dari keluarga besar Darian.Nama itu seolah merangkum

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 250. Keluarga Penuh Cinta

    Suasana ruang rapat lantai dua puluh hari itu penuh suara kertas dibalik, denting gelas kopi, dan diskusi serius tentang ekspansi cabang baru.Darian duduk di ujung meja panjang, wajahnya setajam biasa, tatapannya fokus pada data proyeksi yang ditampilkan di layar. Tangannya menekan pena, sesekali mencatat poin penting, sementara peserta rapat menunggu keputusan finalnya.Namun baru lima menit setelah manajer pemasaran selesai mempresentasikan bab terakhir, pintu ruang rapat diketuk pelan.Eshan, yang seharusnya berada di luar menangani agenda lain, masuk dengan raut wajah pucat.“Pak,” bisik Eshan sambil membungkuk mendekati telinga Darian. “Tavira… dia sudah dibawa ke rumah sakit karena kontraksi. Dokter bilang sepertinya dia akan lahiran hari ini.”Darian langsung membeku.Pena di tangannya terlepas begitu saja, jatuh berputar di atas meja. Semua orang di ruangan menoleh, bingung.Darian berdiri, kursinya sampai bergeser keras ke b

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 249. Masa Lalu Sudah Selesai

    Restoran kecil itu dipenuhi cahaya kuning temaram yang memantul di permukaan meja kayu. Di sudut ruangan, Tavira dan Darian duduk berhadapan, menikmati makan malam pertama mereka di luar rumah setelah dokter menyatakan kehamilan Tavira memasuki trimester terakhir.Perut Tavira sudah membuncit manis, membuatnya harus duduk sedikit lebih tegak karena mudah merasa sesak jika terlalu membungkuk.Darian memastikan kursi Tavira nyaman, memesan sup yang tidak terlalu asin, bahkan menyingkirkan lilin aromaterapi karena ia khawatir bau tajamnya membuat Tavira mual.Ia memang berubah sejak Tavira hamil. Lebih perhatian, lebih berhati-hati, seakan satu gerakan kecil salah saja bisa membuat istrinya tidak nyaman.“Makan pelan-pelan,” ujar Darian, menatap Tavira dengan campuran geli dan sayang ketika melihat istrinya menikmati hidangan dengan mata berbinar.“Aku lapar,” jawab Tavira sambil tertawa kecil. “Katanya normal kalau trimester tiga begini.”“Tet

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 248. Sebuah Keluarga

    Tiga hari setelah kondisi Darian benar-benar stabil, dokter akhirnya mengizinkannya pulang.Tavira hampir tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengar kabar itu. Setelah semua bulan yang mereka lewati. Trauma, penculikan, kecelakaan. Mimpi bisa membawa Darian pulang terasa seperti hadiah besar dari Tuhan.Pagi itu, Tavira sibuk menyiapkan rumah. Ia menyusun ulang bantal-bantal di kamar utama, memastikan suhu AC tidak terlalu dingin, memilih piyama lembut untuk Darian, sampai mengecek pantry apakah ada teh herbal favorit Darian.Semua itu ia lakukan sambil menahan mual yang masih sering datang. Tubuhnya mudah lemas tapi wajahnya memancarkan sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya. Cahaya kecil seorang calon ibu yang baru menemukan harapan.Bunda Darian datang pagi-pagi sekali, seperti sudah tahu Tavira tidak boleh terlalu banyak kerja. Bunda membawa sekantung besar buah, roti hangat, serta sup ayam yang aromanya menyebar ke seluruh dapur.“Tavi

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 247. Hutang Budi

    Hari–hari setelah Darian sadar berjalan penuh lalu-lalang. Kamar VIP itu tak pernah benar-benar sepi. Para direktur, rekan bisnis, sahabat lama, bahkan beberapa keluarga jauh datang bergantian. Semuanya menanyakan keadaan Darian, memberikan bunga, buah, dan ucapan syukur.Tavira selalu berada di sisi ranjang, menerima mereka dengan senyum ramah meskipun tubuhnya kelelahan dan mualnya sering kambuh.Darian, meski belum bisa bicara banyak, selalu menggenggam tangan Tavira seakan ia ingin mengingatkan semua orang bahwa istrinya adalah jangkar hidupnya.Suatu sore yang tenang, setelah kunjungan terakhir dari kolega kantor selesai. Tavira berdiri di samping jendela sambil merapikan rangkaian bunga yang mulai memenuhi ruangan.Eshan baru saja pergi untuk makan sebentar. Leisa ke apotek rumah sakit. Darian tertidur, lega dan damai.Pintu kamar diketuk.Tavira menoleh, tersenyum kecil. “Silakan masuk.”Pintu terbuka pelan. Dan seseorang yang

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 246. Selalu Kembali

    Udara pagi di ruang VIP rumah sakit masih mengandung aroma steril yang menusuk. Namun bagi Tavira, semuanya terasa berbeda hari itu. Lebih hangat, lebih berwarna, seolah dunia tiba-tiba mengembalikan denyutnya.Darian sudah bangun. Ia masih lemah, masih terbaring dengan infus menempel dan napas yang sesekali tersengal kecil, tetapi suaminya hidup. Mata itu terbuka. Menatapnya. Memanggil namanya.Sejak pelukan panjang dan isakan kegembiraan mereka, Tavira duduk hampir tanpa bergerak di kursi samping ranjang. Jemarinya masih menggenggam tangan Darian, seakan ia takut melepaskan akan membuat semua ini terbukti sekadar mimpi.Darian sesekali memejam, lelah karena tubuhnya baru melewati badai panjang. Tapi setiap kali ia membuka mata, hal pertama yang dicari adalah wajah Tavira.“Duduk saja, Sayang. Kamu pasti capek,” Darian berbisik pelan, suaranya serak, nyaris tak terdengar.Tavira menggeleng keras. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana,” katanya deng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status