INICIAR SESIÓNLana dan Noah saling bertukar pandang ketika Jasper terlihat berjalan santai bersama Sarah. Keduanya tampak akrab.
“Aku tidak salah lihat, kan?” tanya Lana tanpa mengedip.
Noah menyipitkan mata, memastikan jarak tidak mempermainkan persepsinya. “Tidak,” jawabnya pelan. “Kau tidak salah lihat.”
Kamar terbesar dari hotel itu terlihat begitu megah, dengan jendela besar, Seattle terlihat sibuk. Mobil-mobil kecil bergerak seperti mainan. Dunia berjalan normal di luar sana.Sementara di dalam kamar, waktu berjalan sangat lambat.Jasper berdiri membelakangi Lana, kedua tangannya bertumpu di tepi meja dekat jendela. Bahunya tegang dengan napas yang menderu.Lana hanya menarik bibirnya sedikit. Setelan hitam itu membuat Jasper terlihat kokoh. Tak tersentuh. Seperti pria yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Tapi, Lana tahu, ada sesuatu di kerutan kening Jasper yang semakin dalam.“Kau ingin membatalkan semuanya, J?” tanya Lana pelan.Jasper menggeleng tanpa menoleh. “Tidak.”
Pagi datang lebih cepat dari yang mereka semua harapkan. Jasper sudah siap lebih dulu.Setelan hitam yang ia pilih tergantung rapi di tubuhnya, kemeja putih tanpa satu pun kerut. Rambutnya tersisir rapi, ekspresinya kembali seperti biasa, datar dan terkenotrol.Tapi tangannya lebih dingin dari biasanya. Ia tidak mungkin benar-benar santai saat harus membawa Lana ke kandang singa.Ia berdiri di ruang tamu, menunggu dengan tenang.Dari dalam kamar terdengar suara Sarah yang menggerutu. “Aku bersumpah, kalau ini tidak muat, aku akan menyalahkan gravitasi.”Lana terkekeh pelan. “Aku sudah bilang tidak perlu terlalu berlebihan.”“Diam dan pakai saja,
“Lana Rose, kau gila? Kenapa kau menantangnya?” desis Jasper, suaranya rendah tapi penuh getar yang jarang terdengar darinya.Noah langsung mendekat, menarik lengan Jasper sebelum situasi memanas lagi.“Tenang, Jasper.”Lana menghembuskan napas panjang dan mengacak rambutnya penuh frustasi. “Tidakkah kau penasaran kenapa mereka terbang sejauh ini hanya untuk bertemu denganmu?”“Tidak pernah,” potong Jasper cepat.Lana menatapnya. “Dengarkan mereka dulu,” katanya pelan. “Besok, aku akan menemanimu.”“Kau tidak akan bertemu Papaku lagi.” Nada Jasper lebih keras sekarang.
Wanita berwwajah anggun itu melangkah satu langkah ke depan. Mantel panjangnya bergeser halus saat ia berhenti, matanya tidak setajam suaminya.“Jasper…” helaan napas lelah terdengar begitu jelas. “Kedatangan kami bukan untuk bertengkar.”Jasper hanya mengamati, dibalik bola mata abu-abu pria itu yang sayangnya sama persis dengan sang Ayah, Jasper menampakan kerinduan untuk Ibunya.Ayahnya mengembuskan napas pendek. “Kami datang karena ada yang perlu kubicarakan.”Tangan Jasper semakin kokoh menggenggam Lana. “Apa pun yang ingin kalian bicarakan, aku sungguh, sungguh, tidak ingin mendengarnya.”
Lana terbangun tepat pukul sembilan pagi, ia mengusap matanya yang masih setengah terpejam. Saat ia duduk di ranjangnya, ia sadar ada sebuah catatan di nakas.Aku pergi bekerja, sarapan sudah kusiapkan.Jasper.Senyumnya muncul tanpa ia sadari. Jasper bukan pria yang pandai merangkai kalimat manis. Tapi ia bangun lebih pagi hanya untuk memasak lagi. Itu lebih berarti daripada rayuan.Selesai sarapan di rumahnya, Lana segera ke bar, banyak yang harus ia kerjakan karena terlalu sering tutup.Gadis itu berdiri di dekat rak gelas, mengelap gelas kaca itu sampai sepenuhnya bersih. Suara pintu terbuka dan Noah masuk dengan wajah super masam.“Kau belum bertemu Sarah?” tanya Lana hati-hati.
Jasper mengamati Lana yang kini meliriknya. Pria yang tampak begitu tangguh itu menopang tubuh Lana dengan hati-hati, seolah ia sedang memegang sesuatu yang sangat berharga. Ia menunduk dan mencium kelopak mata gadis itu lembut.“Tubuhmu dingin,” ujar Jasper di belakang telinga Lana.Desiran aneh kini menjalar di sekujur tubuh Lana, ia mengangguk. “Dan kau sangat panas.”Kemudian, Jasper menuntun tubuh Lana ke ranjang kecil yang bahkan lebih pendek darinya. Lana duduk sementara Jasper berdiri di hadapannya.Lana menelan ludah, tidak tau harus bereaksi bagaimana ketika pria itu mulai melepas kausnya.Jasper berdeham. “Masih ada satu rahasia yang belum kau kuberitahu, di bagian dalam pahaku,







