共有

Bab 3. TAMU SUAMIKU

作者: Clau Sheera
last update 公開日: 2023-08-02 23:29:46

Maura mengatur napasnya sambil berjalan. Dia bersikap seolah-olah tak mendengar apapun.

Seberapa keras Maura mencoba mengingat, nyatanya tak ada ingatan apapun di kepalanya. Yang ada kepalanya malah berdenyut sakit.

Kedua asisten rumah tangga itu terdiam ketika mereka mendengar langkah kaki Maura yang berjalan ke arah meja makan. Keduanya segera pergi dari sana dengan wajah gugup.

Setelah makan, Maura kembali ke kamar dan membersihkan dirinya dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki.

Dengan mengenakan jubah mandi, dia duduk di depan meja rias dan memandang wajahnya yang polos tanpa make-up. Dia teringat ucapan Lusi yang mengatakan bahwa Dewangga menyukai wanita cantik.

"Apa aku harus berdandan lagi hari ini demi menarik perhatian Dewangga seperti yang Lusi bilang?" gumamnya perlahan sambil menatap lekat wajahnya.

Dewangga membencinya, dia ingat itu. Jadi, rasanya percuma jika dia berdandan. Toh, pasti Dewangga tetap akan membencinya karena dia pernah menjebak pria itu di kamar hotel.

"Apa benar aku jahat?"

Maura teringat dengan ucapan Dewangga dan kedua asisten rumah tangga itu.

Sungguh, dia hampir sepenuhnya percaya bahwa dirinya yang dulu cukup jahat sehingga pantas dibenci seperti itu.

"Kalau benar dulu aku sejahat itu, kasihan juga Dewangga. Mungkin saat itu dia sudah memiliki kekasih dan harus putus gara-gara nikah sama aku," ucapnya perlahan dengan perasaan sesal. "Apa kekasihnya itu ... Alena?"

Maura menggeleng perlahan. Jika dia memang sejahat itu, sungguh Maura ingin sekali memperbaiki setiap kesalahannya.

Maura segera masuk ke walking closet-nya untuk menyiapkan pakaian. Dia tercengang dengan isi di dalamnya yang dipenuhi dengan pakaian-pakaian terbuka yang kebanyakan dipenuhi dengan hiasan sequin sehingga terlihat sangat glamor dan mencolok.

Nakal. Kata itulah yang paling cocok untuk menggambarkan seperti apa pakaiannya.

"Yang ini terlalu ketat." Maura melemparkan satu pakaian yang diambilnya secara acak.

"Yang ini punggungnya terlalu terbuka."

Satu persatu, pakaian-pakaian itu berpindah ke atas single sofa yang ada di dalam sana, tapi dia masih belum menemukan pakaian yang menurutnya pantas dikenakan untuk mengunjungi orang tua.

"Apa selera pakaianku seburuk ini?" gumam Maura kebingungan.

Maura menghela napasnya. Dia akui pakaian-pakaian miliknya pasti harganya cukup mahal. Pakaian-pakaian itu jauh dari kata sopan dan mungkin hanya cocok digunakan dalam pesta-pesta tertentu.

"Sepertinya dulu aku memang bukan wanita baik-baik," keluhnya.

Maura menemukan sweater rajut putih lengan panjang yang sepertinya sudah lama tak dipakai. Dia juga menemukan sebuah celana jeans biru pucat yang sudah ketinggalan zaman.

"Aku pakai ini aja," gumamnya sambil mengenakan pakaian itu.

***

Maura berdiri di depan sebuah rumah yang cukup besar. Ada banyak pertanyaan di benaknya yang ingin segera dia cari tahu jawabannya.

Dia membunyikan bel rumah yang terletak di samping pagar.

Seorang penjaga keamanan datang berlari kecil melihat Maura berdiri di luar.

"Nona Maura?" sapanya tak percaya sambil menatap wajah Maura yang hanya mengenakan sedikit pewarna bibir. "Udah lama Non nggak ke sini. Silakan masuk. Nyonya pasti senang karena Non datang."

Maura tersenyum kecil. Dia datang bukan untuk mengunjungi ibu tirinya, melainkan untuk mengunjungi ayahnya.

"Apa papa ada di rumah?"

"Ada, Non. Tuan kebetulan hari ini nggak ngantor karena mau ada urusan lain di luar. Mari, saya antar."

Maura mengangguk sambil berjalan di belakang petugas keamanan itu sampai ke ruang tamu.

"Silakan duduk dulu, Nonam. Tuan sebentar lagi pasti keluar," ujar petugas keamanan itu sambil memberi tahu salah satu asisten rumah tangga bahwa Maura datang untuk bertemu ayahnya.

Maura mengangguk lagi. Tapi alih-alih duduk, dia lebih memilih berjalan ke arah dinding yang dipenuhi banyak foto berbingkai minimalis yang terpasang di sana.

Dari sekian banyak foto, dia hanya menemukan satu foto dirinya yang berdiri di samping tiga orang lain yaitu Ruslan—ayahnya, Silvia—ibu tirinya, dan Alena. Dan itupun sepertinya foto itu diambil saat dirinya masih cukup muda. Mungkin saat usianya sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun.

Maura tertegun. Dia mengerti bahwa sepertinya dia tak memiliki cukup arti di dalam keluarganya sendiri. Atau mungkin ... dia sendiri yang menolak untuk berfoto bersama mereka?

"Maura." Sebuah sapaan yang dalam dan datar terdengar.

Maura menoleh ke asal suara.

"Kamu udah lama di sini? Ada apa nyari papa?" tanya seorang pria paruh baya yang wajahnya masih terlihat segar dengan tubuh tegap sambil mendekat dengan membawa sebuah tas laptop di tangannya.

Maura mengerutkan alisnya.

Apakah itu kalimat yang tepat yang diucapkan seorang ayah untuk putrinya yang masih mengalami amnesia? Mengapa pria itu tak terlihat senang saat dirinya datang? Mengapa pria itu tak terlihat mengkhawatirkan dirinya dan tak menanyakan kabarnya lebih dulu?

"Saya ... baru datang," jawab Maura canggung.

"Maura?" Seorang wanita paruh baya yang masih cantik datang melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu datang sama siapa, Nak?"

"Saya datang sendiri, Tante," jawab Maura.

"Kamu terlihat cukup baik," ujar Ruslan sementara Maura hanya tersenyum simpul.

"Ada mama Silvia. Mengobrollah dengannya karena papa ada urusan penting di luar," lanjut Ruslan sambil menunjuk istrinya.

Maura tertegun. Bagaimana bisa seorang ayah memperlakukan anaknya sedingin itu? Apakah benar mereka memiliki hubungan ayah dan anak?

"Papa hati-hati di jalan," kata Silvia sambil tersenyum lebar mengantar kepergian suaminya.

"Maura, ayo, duduk. Mama dengar kamu kecelakaan waktu di Perancis," kata Silvia sambil menunjuk sofa agar Maura duduk di sana. "Maaf, ya. Mama dan papa nggak bisa jenguk karena sibuk."

"Nggak apa-apa, Tante," jawab Maura yang lebih memilih memanggil wanita itu dengan sebutan 'tante'.

Maura bisa menebak bahwa mereka tak dekat sama sekali. Maura juga tahu Silvia hanya berbasa-basi saja.

"Kamu mau minum apa? Mama buatin, ya."

"Apa aja." Maura tersenyum canggung sambil duduk.

"Baiklah. Tunggu sebentar," ujar Silvia sambil beranjak pergi.

Maura mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Tak ada kesan apapun seolah dia tak pernah tinggal di sana. Dia tak yakin dengan berkunjung ke sana akan membantu ingatannya pulih.

Semenit, dua menit, hingga hampir tiga puluh menit berlalu. Tapi sosok Silvia atau siapapun masih belum terlihat. Maura merasa dicampakkan.

Maura tak lagi mau berpikir terlalu banyak. Sebanyak apapun dia memikirkan semuanya, dia tetap tak akan pernah tahu jawaban dari setiap kebimbangan dan ketidak-tahuannya sampai ingatannya kembali.

Dia pun beranjak meninggalkan rumah itu tanpa pamit dengan hati penuh kecewa dan kosong.

***

Pukul tujuh tepat, Maura sudah duduk di depan meja makan untuk makan malam. Kali ini dia tak membuat sendiri makanannya, melainkan membeli lauk dari luar yang dipesannya melalui aplikasi ojek online.

Dia hanya memesan satu porsi untuk dirinya, karena tahu uang yang dimilikinya saat ini tak banyak.

Lusi pernah menceritakan padanya bahwa uang bulanannya dipotong lebih dari setengahnya oleh Dewangga karena dia terlalu boros dan suka berbelanja barang-barang mewah.

Maura percaya bahwa dia benar-benar boros saat melihat koleksi pakaian, sepatu, dan tasnya yang sebenarnya tak terlalu berguna. Hanya berguna untuk menaikkan gengsinya saja.

Belum lagi ada lebih dari dua puluh botol parfum harga jutaan dan beragam make-up yang beberapa diantaranya belum pernah dipakai dan masih tersegel. Dia benar-benar jago menghambur-hamburkan uang.

Maura makan dalam diam sambil memikirkan bagaimana cara mengurangi barang-barangnya.

"Apa aku jual aja sebagian?" gumamnya perlahan ketika ide itu terlintas di benaknya.

Maura mempercepat makannya. Dia sudah memutuskan untuk menjual sebagian barang-barangnya. Itu artinya, dia harus melakukan sesuatu.

"Maura? Apa yang kamu lakukan di sini?"

Baru beberapa suap makanan yang Maura telan, sebuah suara bariton mengejutkannya, sampai dia hampir tersedak.

Maura menoleh menatap Dewangga yang berdiri tak jauh darinya. Di sampingnya ada Alena, yang merangkul lengan pria itu dan terlihat begitu lengket.

Maura tahu, dari cara Alena menyentuh Dewangga, ada sesuatu di antara mereka.

"Aku ... lagi makan." Maura hanya menjawab singkat dengan suara perlahan sambil meraih gelas dan meminum isinya, kemudian diam-diam dia menghela napasnya panjang.

'Ternyata benar, mereka punya hubungan khusus. Mereka terang-terangan berselingkuh di saat istri sahnya masih amnesia dan ada di rumah.' gumam Maura dalam hati sambil kembali mengisi mulutnya dengan makanan.

Dewangga mengerutkan alisnya ketika melihat tampilan Maura yang sangat sederhana. Wanita itu berubah sedrastis itu padahal pagi tadi di ruang kerja, dia masih melihat Maura yang mengenakan riasan tebal seperti topeng.

Sedangkan Alena tertegun melihat perubahan pada Maura. Tak seharusnya Maura berdandan polos seperti itu. Harusnya wanita itu memakai riasan tebal seperti biasa layaknya badut.

Alena menoleh ke samping. Dilihatnya Dewangga menatap Maura dengan pandangan rumit. Hatinya berubah tak tenang.

Dia tahu Maura memiliki kecantikan alami sehingga tak memerlukan banyak riasan untuk terlihat menarik. Jangan sampai suatu saat, Dewangga malah jatuh cinta padanya.

"Aku datang ke sini untuk makan malam. Dewangga yang mengundangku," ujar Alena sambil tersenyum sementara Dewangga hanya mengerutkan alisnya sambil menatap Alena sejenak.

Alena berharap Maura akan marah seperti dulu dan bersikap impulsif dengan cara membuat keributan yang tak perlu. Dia paling senang mempermainkan perasaan Maura dengan cara halus.

"Aku mengerti," jawab Maura sambil mengangguk. Reaksinya begitu tenang, sangat melenceng dari dugaan Alena.

Dewangga melepaskan tangan Alena dari lengannya, kemudian dia beranjak duduk di kursi diikuti Alena yang duduk persis di sampingnya sambil matanya mengawasi Maura yang menunduk fokus pada makanannya.

Beberapa asisten rumah tangga datang menghampiri.

"Tuan, saya akan segera menyiapkan makan malamnya."

Dewangga mengangguk.

Dalam sekejap, meja yang kosong penuh dengan berbagai hidangan yang menggugah selera.

Alena berinteraksi dengan Dewangga begitu akrab. Wanita itu membantu Dewangga mengisi piringnya, masih berusaha untuk membuat Maura marah.

"Oh, Maura. Apa hanya itu makan malammu?" tanya Alena tersenyum penuh simpatik sambil menatap wadah plastik di depan Maura yang isinya tinggal separuh, juga nasi putih yang tinggal setengahnya. "Mau tambah nasi? Mau kuambilkan beberapa lauk yang lain?"

Maura menaikkan bola matanya dan menatap Alena.

"Oh, iya. Aku lupa. Bukannya Dewangga melarang siapapun untuk melayanimu lagi, ya?"

Maura jelas melihat senyum samar di bibir Alena, tetapi dia tetap memilih untuk tenang. Toh, tanpa asisten rumah tangga pun, dia yakin bisa bertahan di rumah itu.

Hanya saja ... apa Dewangga selalu bercerita tentang semuanya pada Alena mengenai yang terjadi di rumah? Termasuk menceritakan tentang dirinya yang tak perlu dilayani lagi oleh siapapun?

Melihat hubungan mereka yang tak biasa, mungkin saja Dewangga menceritakan semuanya.

"Dewangga, tolong jangan bersikap terlalu kejam pada Maura. Dia masih istrimu, juga saudaraku," pinta Alena dengan suara lembut.

"Makan saja, Alena. Kamu tak perlu ikut campur urusan pribadi orang lain," jawab Dewangga yang sedari tadi sudah mulai makan.

Alena mengatupkan bibirnya. Dia mengangguk kecil dan mulai makan. Tapi tentu saja dia masih berusaha mengobrol akrab dengan Dewangga dengan cara mengganti topik pembicaraan lain.

"Para pegawai berharap bisa berlibur bersama akhir tahun ini," ujar Alena. "Pergi tour bersama ke luar kota selama beberapa hari merupakan ide bagus. Bagaimana menurutmu?"

"Kamu atur saja," jawab Dewangga sambil mengisi mulutnya, dan sesekali mencuri pandang pada Maura di seberang meja.

"Terima kasih atas kepercayaanmu, Dewangga." Alena tersenyum gembira.

Obrolan seputar kegiatan liburan untuk para pegawai terus berlanjut.

Maura yang sedari tadi diam, semakin merasa menjadi orang asing yang tak seharusnya ada di sana. Dia pun segera meletakkan sendoknya.

"Aku udah selesai," ujar Maura sambil menyeka sudut bibirnya menggunakan serbet. "Aku pergi duluan."

Maura beranjak sambil merapikan bekas makannya. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Alena berujar, "Kenapa, Maura? Makananmu belum habis."

Maura menoleh. "Aku udah kenyang. Kalian bisa melanjutkan makan malam kalian."

"Apa kamu cemburu?" tanya Alena sambil tersenyum setengah mengejek.

"Apa aku berhak untuk cemburu?" Maura balik bertanya dengan tenang sambil tersenyum tipis.

Ya, Maura merasa dia tak berhak untuk mencemburui siapapun. Kehadirannya di antara Dewangga dan Alena merupakan suatu kesalahan besar yang telah dilakukannya. Wajahnya sedikit murung.

"Aku merasa tak seharusnya ada di sini untuk makan malam. Kalian begitu akrab dan dekat seperti pasangan. Aku hanya ... tak ingin mengganggu," lanjut Maura yang hendak beranjak pergi.

"Maura!" Dewangga menggebrak meja sehingga membuat Maura maupun Alena terkejut. "Kamu sedang menuduh saya berselingkuh?" tanya pria itu penuh emosi.

Entah mengapa, sikap Maura yang tenang seperti itu terasa mengganggu Dewangga. Sangat mengganggu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sebelum Kita Bercerai   Extra 3

    ​Pesawat komersial mendarat mulus di Bandara Charles de Gaulle.Bagi Maura, ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan awal dari mimpi yang sempat tertunda. Pernikahan pertama mereka berjalan dingin tanpa ada pelukan hangat, apalagi sebuah perjalanan bulan madu.Namun kini, di bawah langit Paris yang romantis, Dewangga siap membayar tuntas semua waktu yang hilang.​Mereka menginap di sebuah hotel mewah di kawasan Place Vendôme. Dari balkon kamar, Menara Eiffel berdiri megah di kejauhan.Begitu tiba, Dewangga langsung memeluk Maura dari belakang, menghirup aroma rambut istrinya dengan mesra.​"Akhirnya kita sampai, Sayang. Maaf ya, baru bisa membawamu ke sini sekarang," bisik Dewangga lembut.​Maura berbalik, mengalungkan tangannya di leher Dewangga sambil tersenyum manis. "Tidak ada kata terlambat, Dewangga. Aku bahagia sekali."​Empat hari di Paris dilewati bagai untaian mimpi indah. Pada hari pertama, mereka berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Montmartre, menikmati atmos

  • Sebelum Kita Bercerai   Extra 2

    Maura masuk ke ruang rias itu. Mungkin memang kehadirannya yang seorang istri bos akan membuat canggung beberapa orang, padahal dia ingin berbaur dengan siapapun tanpa perlu memandang siapa dirinya.Seorang perias dengan dua asistennya menyambut Maura dengan ramah, meminta wanita itu duduk di kursi menghadap cermin.“Mbak, yang lain beneran ada di sebelah?" tanya Maura sedikit canggung.“Iya, Bu.”“Kok rasanya ada yang aneh, ya?” tanya Maura mulai merasakan keganjilan.“Sebaiknya bu Maura nggak perlu berpikir macam-macam. Fokus saja biar hari ini tampil maksimal," sahut penata rias itu dengan nada menenangkan yang justru terdengar mencurigakan.​Kecurigaan Maura memuncak saat dia diminta mengenakan gaun yang tak mirip dengan gaun bridesmaid. Gaun itu berwarna putih bersih, berbahan premium, dengan potongan megah yang sangat indah.​"Mbak, ini salah kostum nggak, sih? Kenapa gaun saya lebih mirip gaun pengantin?" tanya Maura panik sambil menatap pantulan dirinya di cermin.​Penata rias

  • Sebelum Kita Bercerai   Extra 1

    Ponsel Maura yang tergeletak di ruang tengah berdering beberapa kali saat wanita itu tengah memasak di dapur untuk makan siang. Mia yang mendengarnya segera mengambil ponsel itu dan mengantarkannya pada Maura. “Nyonya, HP-nya bunyi terus dari tadi,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel Maura. “Oh, siapa yang menelepon?” tanya Maura sambil meletakkan pisau yang tengah digunakannya mengiris bawang merah. “Nggak ada namanya, Nyonya,” jawab Mia. “Oke, makasih.” Maura menerima ponselnya sambil menggeser tombol hijau di layarnya, sementara Mia berpamitan pergi. “Halo?” “Halo, Maura,” sapa seorang wanita di seberang sana, membuat Maura mengerutkan alisnya. “Ini Marina. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” “Oh, iya. Ada apa?” tanya Maura yang sedikit bingung karena Marina tahu nomor ponselnya padahal dia sudah mengganti nomornya dengan yang baru sesaat sebelum berangkat ke London hari itu. “Siang ini ada waktu, ‘kan?” tanya Marina di ujung sana. “Siang ini?” “Iya, siang ini. Waktu itu

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 136. TAMAT

    Hari telah pagi sekitar pukul enam. Dewangga masih memejamkan matanya saat Maura terbangun. Wanita itu menatap Dewangga dalam diam, dengan berbagai pikiran di benaknya. Maura pikir pria itu sama sekali tak peduli saat anaknya meninggal karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa kesedihan. Maura pikir pria itu tak menginginkan anaknya karena pernah menawarinya opsi untuk menggugurkan kandungannya. Namun ternyata Dewangga memendam segalanya sendiri. “Kamu kelihatan capek banget,” kata Maura perlahan seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri. Wanita itu turun perlahan dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang telah kering, Dewangga masih tertidur pulas. Maura turun ke lantai bawah. Tampak Mia dan mbok Narti masih menyapu sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan, bahkan beberapa guci dan benda lainnya ikut rusak. “Selamat pagi, Nyonya.” Zefan menampakkan dirinya sambil tersenyum, dengan secangkir kopi di tangannya. “Zefan? Kamu udah di

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 135. Izin

    Dewangga dengan cepat melihat ke luar ke arah bawah. Tampak seorang wanita mendongak sambil memakinya dengan kasar dan terus melemparkan batu. Ada yang mengenai dinding, ada juga yang mengenai bingkai jendela.“Berengsek! Balikin rumah saya! Balikin perusahaan saya!!” teriak wanita itu dari arah luar.“Jangan turun! Banyak pecahan kacanya, nanti kena kaki,” peringat Dewangga saat Maura menyibak selimutnya dengan hati-hati dan mulai menurunkan kakinya.Maura menarik kakinya kembali ke atas ranjang sambil menggenggam erat botol hangat di tangannya, kemudian Dewangga segera mendekat dan menyingkirkan selimutnya jauh-jauh.“Buat sementara, tidur dulu di kamar sebelah, Maura,” ujar Dewangga sambil menggendong Maura dan membawanya dengan enteng.“Itu … itu kayaknya suara tante Silvia, ya?” tanya Maura dengan wajah yang masih syok sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, meninggalkan botol hangatnya.

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 134. Serangan Malam

    Hari sudah cukup larut saat Dewangga pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah tas dan jas kerjanya di tangan.Seluruh lampu utama di semua ruangan telah padam dan ruangan hanya diterangi cahaya lampu dinding yang temaram.Pria itu duduk bersandar setengah berbaring di sofa ruang tengah, melepas lelah setelah seharian ini kegiatannya sangat padat dan menguras tenaga. Banyak hal yang harus diurus termasuk perusahaan Ruslan yang sudah diambil alih olehnya. Belum lagi harus mengurus perusahaan ayahnya sehingga dia belum sempat menemui oma Ambar secara pribadi.Dewangga mengecek arlojinya. Jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas lebih.“Seharusnya Maura masih dalam perjalanan ke London,” ujarnya perlahan sambil memejamkan matanya sejenak.Rasa kantuk yang mulai datang memaksanya untuk membuka mata dan naik ke lantai atas. Namun ketika dia tiba di depan kamarnya, dia melihat pintu kamar sebelah sediki

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 60. Panggilan dari Dewangga

    Maura termenung sendirian di ruang kerja Dewangga di rumahnya sambil duduk di sofa, tempat yang dia duduki pertama kali setelah amnesia. Pertama kali dia ke sana saat itu, atmosfernya terasa menyesakkan. Namun setelah datang beberapa kali, dia mulai merasa nyaman dalam kesepian, terlebih sekarang

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 56. Peringatan Dewangga

    Dewangga menatap sepasang sepatu yang diserahkan salah satu penjaga keamanan padanya.Itu sepatu Maura, yang di bagian tumitnya terdapat noda pink samar dan juga basah oleh hujan.Noda darah, yang berarti Maura meninggalkan rumah itu tanpa alas kaki dan kakinya terluka.

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 55. Potongan Puzzle Ingatan

    “O-oma … aku … aku … hiks, hiks, hiks ….” Tangis Alena pecah, sedikit lebih keras dari yang tadi, membuat semua orang kebingungan. Wanita itu menutupi wajahnya yang memerah menahan malu, menahan isak tangisnya yang tetap keluar lebih banyak. “Jadi, kamu mau mengakui

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 47. Tamu yang Ribut

    Dewangga bersandar di kursinya sambil menatap tajam Zefan.“Apa kamu lagi bercanda?” tanya pria itu. “Kamu percaya bahwa kejadian itu bukan ulah Maura?”“Ya, Bos. Anda dan nyonya Maura hanyalah korban dari rencana licik seseorang,” jawab Zefan dengan wajah serius.Dewangga tertawa terbahak-bahak. “

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status