MasukBibir Maura terkatup rapat sambil menatap Dewangga. Pria itu begitu akrab dan hangat ketika berbicara dengan Alena, tapi akan tampak dingin dan kasar ketika berbicara dengannya.
"Aku nggak menuduh kamu selingkuh. Aku hanya merasa ...." Maura menghentikan kalimatnya. Dia tak tahu bagaimana cara mengatakan seluruh perasaannya bahwa dia sangat menyesal atas situasi mereka yang sekarang terjebak sebuah pernikahan yang tak diinginkan. "Intinya, aku ingin meminta maaf atas segala kesalahanku yang dulu. Maaf, aku telah hadir di antara kalian." Maura beranjak dari sana untuk mencuci peralatan makan yang digunakannya. Tapi, Dewangga dan Alena sama-sama terkejut. Apa yang barusan mereka dengar? Sejak kapan seorang Maura bersedia meminta maaf? Dewangga mengepalkan tangannya erat. Kata maaf yang Maura lontarkan tak akan mengubah pendiriannya untuk membuat wanita itu menderita di rumahnya. Dia tak akan berbelas kasih atas penderitaan yang dirasakannya selama tiga tahun terakhir selama mereka hidup bersama. Dewangga menghela napasnya. Dia meraih segelas air mineral dan meminumnya sampai tandas, kemudian menyeka bibirnya dengan serbet. Walaupun hatinya dipenuhi amarah, ada rasa tak nyaman yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Maura yang selalu ribut mencari perhatiannya, maupun Maura yang diam seolah ingin menghindarinya, sungguh membuatnya sangat kesal. "Makanlah sendiri, Alena," ujar Dewangga sambil berdiri. "Kamu juga udahan makan malamnya?" Alena terkejut sambil menyentuh lengan pria itu. "Makanan kamu belum habis." Dewangga menarik tangannya. "Saya sudah selesai." "Makan lagi sedikit, Dewangga. Siang tadi kamu nggak sempat makan karena rapat," bujuk Alena. "Tidak," tolak pria itu. "Satu hal, Alena. Saya tak pernah mengundangmu makan malam. Kamu sendiri yang bersikeras ingin datang untuk melihat Maura. Saya tahu tujuanmu datang ke sini untuk apa. Kamu sudah mencapai tujuanmu karena Maura berpikir kita memiliki hubungan khusus." "Aku minta maaf. Lain kali aku nggak akan ngomong sembarangan lagi, Dewangga," ujar Alena menyesal. "Apa ucapanku tadi akan jadi masalah buatmu?" "Saya tak peduli apa yang Maura pikirkan tentang kita. Tapi, saya tak berharap Oma Ambar berpikiran sama dengannya. Di rumah ini, ada banyak mata dan telinga. Mereka memperhatikan kita," jawab Dewangga sambil beranjak tanpa mau menoleh. Dia berjalan sambil melepaskan dasinya. "Dewangga." Alena cemberut melihat pria itu meninggalkannya. Setengah tujuannya memang tercapai. Tapi, dia tak berhasil membuat Maura marah dan menyerangnya seperti dulu. Dia gagal membuat Dewangga semakin membenci Maura seperti biasa. "Aku yang kurang perhitungan. Sepertinya Maura benar-benar amnesia," gerutu Alena sambil bersiap untuk pergi. *** Pagi menjelang. Sebelum matahari terbit, Maura sudah lebih dulu bangun dan mencuci pakaiannya dengan tangan sampai kulitnya kemerahan. Maura tahu bahwa dia harus bisa melakukan banyak hal sendiri agar ketika dia keluar dari rumah itu dia sudah terbiasa. Dia sadar uang yang dimilikinya tak banyak, serta tak memiliki dukungan keluarga. Sudah seharusnya dia belajar melakukan segalanya sendiri. Setelah selesai mencuci dan menjemur pakaian, dia mengambil beberapa foto pakaiannya dari walking closet serta beberapa barang lain untuk dijual di toko online preloved yang baru dibuatnya. Ada banyak pakaian yang tak mau dipakainya lagi. Lagipula saat pindah nanti, dia tak bisa membawa semua barang-barangnya karena akan sangat merepotkan. Maura sangat lapar di tengah-tengah kegiatan yang dilakukannya. Masih ada banyak barang yang belum sempat difoto. Wanita itupun bergegas turun ke lantai bawah menuju dapur. Sesampainya di ruang makan, aroma sup daging tercium di udara sehingga membuat Maura semakin kelaparan. Di meja makan, Dewangga sudah duduk menikmati sarapannya bersama Alena. Ketika melihat mereka berdua, ada rasa tak nyaman menyusup ke hati Maura, terlebih ketika Maura melihat kedekatan mereka. Maura amnesia. Dia tak ingat apapun. Dan dia membutuhkan dukungan seseorang di saat kondisinya yang seperti ini, namun suaminya pasti tak akan mau melakukannya. Alena beruntung bisa diterima dan dicintai Dewangga. Tak sepertinya yang dipandang bagaikan musuh. Tiba-tiba rasanya Maura ingin menangis. Tapi dia harus menahannya. Mungkin amnesianya adalah karma. Karma karena di masa lalu dia begitu jahat. Maura menggeleng perlahan sambil menarik napasnya. Dia masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukannya. "Selamat pagi," sapa Maura dengan suara rendah namun cukup nyaring didengar. Dewangga yang mendengar sapaan Maura hanya mengangkat sebelah alisnya, tak berminat menjawab. Lagipula, untuk apa berbasa-basi dengan wanita yang dibencinya? Sedangkan Alena tersenyum melihat Maura dan menjawab sapaannya singkat sebelum mereka mengobrol kembali sambil sarapan. Dewangga melirik Maura yang berjalan ke arah konter dapur tak jauh darinya, kemudian dia juga melihat Maura mengambil beberapa lembar roti tawar yang diolesi selai coklat dan diletakkan di atas piring. Maura juga mengambil susu UHT dari kulkas, yang langsung dituangkan ke dalam gelas tanpa dipanaskan terlebih dahulu. Pria itu terus memperhatikan Maura dan memprediksi bahwa Maura akan duduk bersamanya di meja makan. Namun, ketika Maura berlalu dari sana dengan membawa nampan berisi sepiring roti dan segelas susu dingin, dugaannya salah. "Hanya itu sarapanmu?" tanya Dewangga. Maura berbalik dan menoleh. Wanita itu hanya memberikan anggukan sebagai jawaban, kemudian berlalu dari sana dan kembali ke kamarnya sehingga membuat Dewangga mengerutkan alisnya. Seingatnya, Maura tak pernah mau sarapan roti. Wanita itu juga tak bisa meminum susu dingin di pagi hari. Sarapannya harus berupa sup hangat. Tapi sekarang wanita itu tak rewel dengan makanannya? "Baguslah dia tak menggangguku," gumam pria itu perlahan. Alena yang menyadari perhatian Dewangga teralihkan pada Maura, hanya bisa mengepalkan tangannya kuat sambil tersenyum masam. Dewangga mendadak kehilangan selera makannya. Rasanya ada yang mengganjal di hatinya. Dulu, Maura selalu mencari perhatiannya. Selalu ribut dan melakukan berbagai trik untuk mengganggunya, dan selalu ingin makan di sampingnya. Maura yang dulu benar-benar tak terkendali. Harusnya dia merasa senang dan lega karena Maura berubah. Tapi ternyata sikap wanita itu membuatnya semakin terusik. Entah mengapa Dewangga lebih memilih Maura kembali seperti dulu. Setidaknya dia masih memiliki alasan kuat untuk tetap membencinya. Sementara itu di dalam kamar, Maura menghabiskan rotinya dengan cepat. Yang tersisa hanya setengah gelas susu dingin yang belum sanggup dihabiskannya karena perutnya mendadak terasa sedikit tak nyaman. Selesai makan, wanita itu segera memotret barang-barang yang ingin dijualnya, dan mengambil video setiap produk dengan durasi pendek. *** Sekitar pukul sebelas siang, Maura telah selesai memotret sebagian barang-barang yang ingin dijualnya. Bahkan dia juga telah selesai mengunggahnya di aplikasi belanja khusus preloved. Dia pun keluar kamar berjalan-jalan sejenak untuk meregangkan tubuhnya. Ketika dia tiba di depan pintu ruang kerja Dewangga yang tertutup rapat, dia ingat bahwa ada berkas yang harus ditandatanganinya. "Dewangga, kamu ada di dalam?" tanya Maura sambil mengetuk dan membuka pintu itu. Maura melihat tak ada siapapun di sana. "Benar. Dia nggak mungkin ada di sini," gumamnya perlahan ketika dia teringat dengan Alena yang datang menjemput pria itu pagi-pagi. Maura berjalan ke arah meja kerja. Dia ingat kemarin Dewangga meletakkan berkas perceraian mereka di laci. Kebetulan, semalam dia telah berlatih tanda tangannya lagi. Dia pun mencari berkas itu dan menandatanganinya tanpa berpikir panjang kemudian meletakkan berkas itu di atas meja agar ketika Dewangga masuk ke sana, pria itu bisa segera melihat dan mengeceknya. Maura melihat jam di dinding. Dia teringat dengan waktu makan siang yang sebentar lagi datang. "Aku belajar masak aja dulu, ah. Lihat resepnya dari internet," gumamnya sambil beranjak ke dapur membawa ponselnya yang layarnya retak sewaktu dia mengalami kecelakaan di Perancis. Di dapur, Maura menyiapkan bahan-bahan yang diperlukannya sambil melihat panduan resep. Dia ingin sekali membuat oseng sayuran yang dicampur potongan daging ayam. "Nyonya mau bikin apa?" Sebuah suara membuat Maura yang tengah fokus teralihkan. "Kamu Mia, kan?" tanya Maura memastikan. "Ya, Nyonya." "Saya mau bikin oseng sayuran dan daging ayam," ujar Maura sambil kembali mengiris wortel. "Wortelnya kupas dulu, Nyonya, jangan langsung dipotong," kata Mia sambil meraih wortel lain dan mengupasnya menggunakan pisau pengupas. "Oh?" Maura sedikit tercekat. "Saya pikir karena kulitnya tipis banget, jadi gak perlu dikupas lagi." "Gak dikupas juga sebenarnya gak apa-apa, Nyonya, asal dibersihkan dengan baik. Tapi 'kan wortel tumbuhnya di dalam tanah. Terkadang dipermukaannya ada lipatan kecil yang masih ada tanahnya dan sulit dibasuh dengan air." Maura mengangguk mengerti. "Terima kasih, Mia. Biar saya yang ngerjain." "Nggak apa-apa, Nyonya. Saya bantuin Nyonya masak aja, ya." Mia tersenyum. Ini kali pertama dia mendengar Maura berterima kasih sepanjang dua tahun dia bekerja di sana. "Eh, jangan," tolak Maura terkejut. "Kalau Dewangga tahu, mungkin dia akan marah." "Nggak apa-apa, Nyonya. Lagipula tuan nggak ada di rumah." "Iya juga." Maura kembali mengangguk. Tak ada salahnya jika dia menerima bantuan dari orang lain. Pasti masakannya tak akan gagal dibuat. "Tapi, saya bener-bener mau belajar masak. Kamu cukup kasih tahu aja kalau ada yang salah atau kurang, ya." "Baik, Nyonya," jawab Mia. "Saya bantu siapin bahannya aja." Keduanya memasak sambil diiringi dengan obrolan kecil. Tepat ketika masakan itu hampir selesai, terdengar deru mesin mobil di halaman samping. "Nyonya, ada yang datang," kata Mia sambil mencuci tangannya dan melirik jendela di sebelah meja makan. Dia baru saja selesai mencuci peralatan dapur yang tadi digunakan. "Maaf, Nyonya. Saya permisi dulu, mau buka pintu." Maura mengangguk. "Ya, Mia. Terima kasih udah bantuin. Sebentar lagi juga matang, kok." Mia mengangguk sambil berlalu pergi sementara Maura mengaduk-aduk wajan agar masakannya matang merata dan mencicipinya. Wanita itu tersenyum. "Kamu lagi apa di sana? Kamu lagi masak?" Sebuah suara yang belum pernah terdengar menyapa sehingga Maura menoleh. Dilihatnya seorang wanita berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum menatapnya. Maura mengerutkan alisnya. Dia tak mengenal siapa wanita itu. "Nenek cari siapa?" tanya Maura heran. "Lho? Kok, nenek? Kamu kenapa, Maura? Kamu udah nggak kenal lagi sama oma?" Wanita tua itu tampak sangat terkejut dan memandang Maura aneh. Tepat saat itu, Dewangga muncul di sana dengan wajah keras dan menggelap. Sementara Mia yang datang setelahnya menatap Maura dengan pandangan ngeri. Dari ekspresi Dewangga maupun Mia, Maura tahu dia telah melakukan kesalahan besar. Tapi sungguh, dia lupa siapa wanita itu. Apa jangan-jangan ... wanita tua itu oma Ambar? Oma kesayangan Dewangga yang katanya memiliki penyakit jantung yang pernah Lusi ceritakan? Maura tertegun sejenak dan tak tahu harus bagaimana. Dia menatap Mia meminta pertolongan, namun Mia menggeleng kecil dan tak tahu harus berbuat apa.Pesawat komersial mendarat mulus di Bandara Charles de Gaulle.Bagi Maura, ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan awal dari mimpi yang sempat tertunda. Pernikahan pertama mereka berjalan dingin tanpa ada pelukan hangat, apalagi sebuah perjalanan bulan madu.Namun kini, di bawah langit Paris yang romantis, Dewangga siap membayar tuntas semua waktu yang hilang.Mereka menginap di sebuah hotel mewah di kawasan Place Vendôme. Dari balkon kamar, Menara Eiffel berdiri megah di kejauhan.Begitu tiba, Dewangga langsung memeluk Maura dari belakang, menghirup aroma rambut istrinya dengan mesra."Akhirnya kita sampai, Sayang. Maaf ya, baru bisa membawamu ke sini sekarang," bisik Dewangga lembut.Maura berbalik, mengalungkan tangannya di leher Dewangga sambil tersenyum manis. "Tidak ada kata terlambat, Dewangga. Aku bahagia sekali."Empat hari di Paris dilewati bagai untaian mimpi indah. Pada hari pertama, mereka berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Montmartre, menikmati atmos
Maura masuk ke ruang rias itu. Mungkin memang kehadirannya yang seorang istri bos akan membuat canggung beberapa orang, padahal dia ingin berbaur dengan siapapun tanpa perlu memandang siapa dirinya.Seorang perias dengan dua asistennya menyambut Maura dengan ramah, meminta wanita itu duduk di kursi menghadap cermin.“Mbak, yang lain beneran ada di sebelah?" tanya Maura sedikit canggung.“Iya, Bu.”“Kok rasanya ada yang aneh, ya?” tanya Maura mulai merasakan keganjilan.“Sebaiknya bu Maura nggak perlu berpikir macam-macam. Fokus saja biar hari ini tampil maksimal," sahut penata rias itu dengan nada menenangkan yang justru terdengar mencurigakan.Kecurigaan Maura memuncak saat dia diminta mengenakan gaun yang tak mirip dengan gaun bridesmaid. Gaun itu berwarna putih bersih, berbahan premium, dengan potongan megah yang sangat indah."Mbak, ini salah kostum nggak, sih? Kenapa gaun saya lebih mirip gaun pengantin?" tanya Maura panik sambil menatap pantulan dirinya di cermin.Penata rias
Ponsel Maura yang tergeletak di ruang tengah berdering beberapa kali saat wanita itu tengah memasak di dapur untuk makan siang. Mia yang mendengarnya segera mengambil ponsel itu dan mengantarkannya pada Maura. “Nyonya, HP-nya bunyi terus dari tadi,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel Maura. “Oh, siapa yang menelepon?” tanya Maura sambil meletakkan pisau yang tengah digunakannya mengiris bawang merah. “Nggak ada namanya, Nyonya,” jawab Mia. “Oke, makasih.” Maura menerima ponselnya sambil menggeser tombol hijau di layarnya, sementara Mia berpamitan pergi. “Halo?” “Halo, Maura,” sapa seorang wanita di seberang sana, membuat Maura mengerutkan alisnya. “Ini Marina. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” “Oh, iya. Ada apa?” tanya Maura yang sedikit bingung karena Marina tahu nomor ponselnya padahal dia sudah mengganti nomornya dengan yang baru sesaat sebelum berangkat ke London hari itu. “Siang ini ada waktu, ‘kan?” tanya Marina di ujung sana. “Siang ini?” “Iya, siang ini. Waktu itu
Hari telah pagi sekitar pukul enam. Dewangga masih memejamkan matanya saat Maura terbangun. Wanita itu menatap Dewangga dalam diam, dengan berbagai pikiran di benaknya. Maura pikir pria itu sama sekali tak peduli saat anaknya meninggal karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa kesedihan. Maura pikir pria itu tak menginginkan anaknya karena pernah menawarinya opsi untuk menggugurkan kandungannya. Namun ternyata Dewangga memendam segalanya sendiri. “Kamu kelihatan capek banget,” kata Maura perlahan seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri. Wanita itu turun perlahan dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang telah kering, Dewangga masih tertidur pulas. Maura turun ke lantai bawah. Tampak Mia dan mbok Narti masih menyapu sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan, bahkan beberapa guci dan benda lainnya ikut rusak. “Selamat pagi, Nyonya.” Zefan menampakkan dirinya sambil tersenyum, dengan secangkir kopi di tangannya. “Zefan? Kamu udah di
Dewangga dengan cepat melihat ke luar ke arah bawah. Tampak seorang wanita mendongak sambil memakinya dengan kasar dan terus melemparkan batu. Ada yang mengenai dinding, ada juga yang mengenai bingkai jendela.“Berengsek! Balikin rumah saya! Balikin perusahaan saya!!” teriak wanita itu dari arah luar.“Jangan turun! Banyak pecahan kacanya, nanti kena kaki,” peringat Dewangga saat Maura menyibak selimutnya dengan hati-hati dan mulai menurunkan kakinya.Maura menarik kakinya kembali ke atas ranjang sambil menggenggam erat botol hangat di tangannya, kemudian Dewangga segera mendekat dan menyingkirkan selimutnya jauh-jauh.“Buat sementara, tidur dulu di kamar sebelah, Maura,” ujar Dewangga sambil menggendong Maura dan membawanya dengan enteng.“Itu … itu kayaknya suara tante Silvia, ya?” tanya Maura dengan wajah yang masih syok sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, meninggalkan botol hangatnya.
Hari sudah cukup larut saat Dewangga pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah tas dan jas kerjanya di tangan.Seluruh lampu utama di semua ruangan telah padam dan ruangan hanya diterangi cahaya lampu dinding yang temaram.Pria itu duduk bersandar setengah berbaring di sofa ruang tengah, melepas lelah setelah seharian ini kegiatannya sangat padat dan menguras tenaga. Banyak hal yang harus diurus termasuk perusahaan Ruslan yang sudah diambil alih olehnya. Belum lagi harus mengurus perusahaan ayahnya sehingga dia belum sempat menemui oma Ambar secara pribadi.Dewangga mengecek arlojinya. Jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas lebih.“Seharusnya Maura masih dalam perjalanan ke London,” ujarnya perlahan sambil memejamkan matanya sejenak.Rasa kantuk yang mulai datang memaksanya untuk membuka mata dan naik ke lantai atas. Namun ketika dia tiba di depan kamarnya, dia melihat pintu kamar sebelah sediki
Hari masih cukup pagi ketika seorang wanita bermake-up tebal dengan pakaian mini duduk di sofa di tengah sebuah ruangan.Pandangannya berkeliling melihat jejeran rak penuh buku, melihat foto berbingkai pigura minimalis bercat hitam, dan sebuah meja kerja yang atasnya tertata rapi dengan jarak lebih
Lontaran pertanyaan dari Alena membuat Maura gugup. Mungkin dia telah melakukan kesalahan di masa lalu. Tapi sekarang, jangan sampai dia membuat Dewangga dan Alena bertengkar karenanya. "Maaf, Alena. Aku bisa jelasin," kata Maura tak enak hati sambil berdiri. Wanita itu benar-benar mengira Dewang
"Maura, kamu nggak apa-apa, Nak?? Maura? Maura?" Panggilan lembut beberapa kali membuat Maura membuka matanya perlahan. Dia menatap langit-langit kamar dan mulai teringat bahwa sebelum terjatuh dia berada di sisi ranjang Dewangga. Di sampingnya, oma Ambar duduk menggenggam tangannya dengan wajah k
"Dia jemput kamu?" tanya Andreas sambil menatap ekspresi wajah Maura yang terlihat kaget. "Kayaknya iya." Maura mengangguk. "Aku pulang duluan, ya, Mas." "Oke." Kini giliran Andreas yang mengangguk. Maura beranjak menenteng tasnya dan meninggalkan sesuatu di meja. "Maura," panggil Andreas ketika







