LOGIN"Dokter bilang, kondisimu masih lemah. Jadi sebaiknya kamu nginap aja di sini, ya. Ini juga rumahmu, Maura. Mulai sekarang, kamu dan Dewangga tinggal aja di kamar ini. Nggak boleh naik tangga."
Oma Ambar tersenyum sumringah, mengantar Maura ke kamar tamu di rumah keluarga besar mereka di lantai satu. Mata tuanya memancarkan keceriaan yang tak bisa ditutupi apapun, membuat Laura, Vivian, dan Clara saling melirik diam-diam saat ketiganya diberi tahu bahwa Maura tengah hamil. "Oma, dia cuma hamil. Emangnya anak itu anaknya kak Angga?" celoteh Clara yang ikut mengekor ke kamar itu, tak tahan untuk berkomentar, membuat Dewangga yang tengah membereskan pakaian Maura ke dalam lemari kayu meliriknya tajam, sementara Vivian menyikut lengan Clara, memintanya untuk diam. Oma Ambar yang suasana hatinya tengah baik, cuma tersenyum. "Jangan dengerin omongan jelek apapun. Siapapun di rumah ini nggak punya hak berkomentar buruk tentang kamu," tegas wanita tua itu sambil mengusap rambut Maura, lalu beralih menatap Clara dengan tenang tapi tegas seolah mengatakan bahwa dirinya berada di pihak Maura. "Maafin Clara, ya, Maura," ujar Vivian dengan hati-hati. "Oma, maaf, ya. Clara masih anak-anak." "Clara udah dewasa, Vivian. Dia bukan anak kecil usia tiga tahun. Dia udah 19 tahun. Apa didikan keluarga kita seburuk ini? Bagaimanapun Maura lebih tua darinya. Dia harus menghormati orang lain yang lebih tua." "Oma, aku bisa aja hormat sama siapapun. Tapi Maura, dia—" "Clara! Diam!" peringat Vivian dengan nada meninggi, membuat Clara menghentakkan kakinya ke lantai dengan wajah cemberut. Tak hanya itu, gadis itu juga segera pergi dari sana. Oma Ambar menghela napasnya, membuat Vivian kembali harus meminta maaf dan berpamitan pergi menyusul putrinya. "Oma, kalau gitu, sebaiknya kita tinggal Maura di sini biar dia istirahat," kata Laura lembut saat Maura sudah naik ke atas kasur dibantu Dewangga dan Yanti. "Kamu istirahat, ya, Nak," kata oma Ambar sambil menatap Maura. "Iya, Oma. Terima kasih banyak," jawab Maura mengulas senyumnya. "Jagain Maura, ya, Dewangga," pinta wanita tua itu sambil beranjak diikuti Yanti. Dewangga mengangguk. Laura ikut beranjak sambil menoleh pada Maura sebelum menghilang di balik pintu. Maura diam. Meski kejadiannya hanya sepersekian detik, dia menangkap mata dinginnya yang selalu terarah padanya sejak tiga tahun lalu. Mata dingin yang tak pernah disadarinya saat dia amnesia. Dulu, mungkin Maura akan sakit hati dan sedih melihatnya. Melihat penolakan dari ibu mertua yang berujung frustrasi sendiri hingga emosinya meluap. Tapi tidak dengan sekarang. Dia tak peduli. Meski Laura tak akan pernah bisa menerimanya sebagai bagian dari keluarga Bagaskara, dia tak peduli. "Maura, apa ada sesuatu yang kamu mau?" tanya Dewangga lembut sambil duduk di samping ranjang, menghadap Maura,mengalihkan perhatian wanita itu. "Tidur," jawab Maura datar. "Aku mau tidur tanpa diganggu. Jadi kamu boleh keluar." Ekspresi wanita itu pun langsung berubah begitu oma Ambar tak terlihat. Dewangga diam menatap Maura yang segera berbaring di bawah selimut dan memejamkan matanya, lalu tak bergerak lagi seolah malas melakukan apapun. "Hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu," ujarnya setengah berbisik. Pria itu segera beranjak tanpa menimbulkan suara, membawa kemelut di benaknya. *** Angin sore itu berhembus menyapu awan kelabu yang pucat dan tebal, membawa aroma dedaunan dan rumput. Di kursi teras samping taman, Dewangga duduk termenung hingga tak menyadari kehadiran Narendra di sisinya. Pria itu menepuk pundak Dewangga, membuat pikiran Dewangga kembali. "Mikirin apa sampai nggak nyadar aku di sini?" tanya Narendra dengan suara rendah yang tenang. "Nggak mikirin apa-apa," sanggah Dewangga sambil meneguk kopinya yang sudah dingin dari meja bulat yang memisahkan kursi mereka, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula. Keduanya terdiam sejenak. Kemudian, Narendra mulai kembali bicara. "Kudengar ... kalau Maura tengah hamil sekarang." "Hmm." Dewangga memberikan jawaban singkat sambil menatap langit yang semakin pekat di kejauhan. "Oma seneng banget, tuh. Itu anakmu, kan?" tanya Narendra, yang sudah tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya meski sebenarnya dia tak butuh jawaban apapun. "Entahlah." Narendra tersenyum tipis. "Bagaimana dengan perceraian kalian?" Dewangga yang semenjak tadi menatap langit, kali ini menoleh dengan alis berkerut. "Kamu tahu?" "Ya." Kali ini, Narendra yang menjawab singkat dengan seulas senyum tipis yang penuh kecewa. (Silakan baca kembali bab sebelumnya, ya. Karena aku edit sedikit di bagian akhirnya. Terima kasih sudah setia membaca novel ini. Setelah perjuangan panjang berbulan-bulan, akhirnya aku bisa buka akunku lagi).Keesokan harinya, Maura bangun dengan perasaan yang lebih waspada. Dia mengecek jendela yang semalam dilewati orang misterius itu.Tak ada kerusakan maupun goresan apapun seolah apa yang terjadi semalam hanya halusinasinya.“Tidurmu nyenyak, Mia?” tanya Maura sambil duduk di sofa saat Mia tengah mengelap guci di bufet, sementara bu Dina sedang mencuci pakaian di ruang laundry.“Nyenyak, Nyonya,” jawab Mia yang sekali-kali memijat bahunya. “Nggak biasanya aku ketiduran di meja belajar kayak kebo, bikin badan sakit-sakit. Bangun-bangun udah agak terang di luar, padahal aku set alarm jam lima.”Maura tersenyum sambil menelan ludahnya. Dia yakin semalam bukan mimpi.“Oh, iya. Bukannya waktu semalam kamu udah ngecek semua pintu dan jendela, ya?” tanya Maura lagi, membuat Mia mengerutkan alisnya.“Udah, Nyonya. Apa ada jendela yang saya lupa kunci?” Wanita muda itu balik bertanya dengan wajah bingung.“Nggak.” Maura menggelengkan kepalanya sambil melirik jendela itu. Seingatnya juga, jendel
“Nyonya, siapa yang datang?” tanya Mia begitu Maura kembali masuk setelah membuang kotak kardus itu. “Nggak ada siapa-siapa. Mungkin ada yang iseng pencet bel. Biasanya sih, anak-anak,” jawab Maura sambil tersenyum dan duduk kembali. “Ah, aku ngantuk.” “Nyonya mau tidur lagi?” tanya Mia. “Ya, sebentar aja. Bangunin kalau satu jam aku belum bangun, ya,” pinta Maura sambil merebahkan diri di sofa dengan mengenakan selimutnya. “Ya, Nyonya.” Mia mengangguk patuh meski sedikit heran dengan perubahan wajah Maura yang tampak sedikit gelisah. Sebenarnya dia ingin bertanya, namun urung karena tak mau mengganggu istirahat Maura. *** Malam datang dengan cepat. Sekitar pukul delapan, Mia mengecek semua pintu dan jendela, memastikan semuanya terkunci dengan aman sementara Maura menonton berita di televisi setelah makan malam. “Nyonya, kapan jadwal Anda periksa ke dokter?” tanya Mia begitu dia selesai mengecek semuanya. “Dua hari lagi, kalau nggak ada keluhan berat,” jawab Maura sa
Siang itu, Dewangga makan bersama Zefan di sebuah restoran di area pusat perbelanjaan.Selesai makan, keduanya berpisah karena Zefan harus membeli sesuatu sebelum jam istirahat habis, sementara Dewangga berjalan pulang melintasi deretan pertokoan.Ketika melewati sebuah toko perlengkapan bayi, dia berhenti sejenak, kemudian masuk dan disapa pegawai tokonya.“Saya ingin membeli sesuatu buat anak saya,” ujar Dewangga pada pegawai toko itu. “Apa ada rekomendasi produk yang bagus?”“Apa yang mau Anda beli, Pak? Pakaian, boneka, peralatan makan bayi, stroller, atau mainan bayi?”“Hmm … pakaian saja,” jawab Dewangga cepat.“Anaknya usia berapa?”“Dia belum lahir.”Pegawai toko itu menahan senyumnya. “Lalu, perlengkapan apa yang udah dibeli, Pak?”Dewangga berpikir sejenak. Dilihat dari kondisi Maura, sepertinya wanita itu belum membeli sesuatu. Tapi entahlah.
Pagi menjelang. Di luar, udara dingin berhembus perlahan menyapu ranting-ranting basah bekas hujan semalam. Sinar matahari baru nampak setelah tertutup awan tipis sejenak. Zefan menjemput Dewangga tepat setelah pria itu selesai sarapan. “Kamu menginap di rumah nyonya?” tanya Zefan sambil menahan senyum saat Dewangga baru masuk ke mobilnya. “Di mana mobilmu?” “Di pinggir jalan, mogok.” “Mogok? Serius?” tanya Zefan tak percaya karena setahunya, mobil-mobil milik Dewangga sangat terawat sehingga tak akan mogok begitu saja. “Bannya kempes. Nggak ada ban cadangan,” jawab Dewangga dengan wajah datar sambil membuka ponselnya untuk mengecek e-mail. “Pakaian ganti untuk hari ini—” “Sedang dalam perjalanan ke kantor,” jawab Zefan sambil menjalankan mobilnya. “Oke.” “Bagaimana rasanya jadi calon ayah?” tanya Zefan. “Menikah sana, kalau
“Tuan, ini paket yang Nyonya terima tadi,” kata Mia dengan suara perlahan sambil melirik pintu kamar Maura yang sudah tertutup rapat. “Nggak ada nama pengirimnya.” Dewangga yang tengah berbaring di sofa dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya segera duduk. “Berikan padaku,” pintanya. Mia langsung menyerahkannya. Dewangga segera memeriksa isi paket tersebut dan mengeluarkan boneka pink. “Bonekanya rusak?” Pria itu mengerutkan alisnya. “Seharusnya bukan rusak, Tuan. Tapi sengaja dirusak.” Dewangga mengangguk mengerti. “Lalu, apa yang kamu katakan padanya?” “Saya bilang … mungkin bonekanya tersangkut sesuatu ketika sedang dibungkus sehingga robek, Tuan.” “Bagus. Ini udah malam. Sebaiknya kamu segera tidur.” “Ya, Tuan. Saya permisi,” pamit Mia dan segera beranjak menaiki tangga. Dewangga termenung menatap boneka di tangannya. Meski tidak ada cat merah atau noda darah, keb
Di sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan perabotan berkualitas tinggi, Alena duduk di sofa kamarnya sambil menggenggam ponselnya. Televisinya menyala, memutar sebuah film yang tak minat ditontonnya. Wanita itu segera menghubungi seseorang dengan perasaan tak sabar sambil menggigit kuku ibu jarinya saat panggilannya masih belum diangkat. “Halo, Sayang ….” Suara di seberang sana yang dinantinya terdengar setelah panggilan kedua. “Gimana? Udah berhasil?” tanyanya pada pria di seberang telepon dengan penuh harap. “Belum, Ale sayang. Semuanya butuh proses dan nggak bisa dilakukan dengan terburu-buru.” “Jangan main-main, Jayden. Aku pengen Maura keguguran. Kamu jangan menunda-nunda terlalu lama karena aku udah nggak sabar!” pinta Alena setengah berteriak karena kesal. Tawa Jayden pecah. “Kamu mau ingkar janji?!” tanya Alena marah karena tawanya. “Kita udah buat kesepakatan. Aku udah nemenin kamu kemarin malam







