Share

Bab 77. Ini Anakku

Author: Clau Sheera
last update Petsa ng paglalathala: 2025-08-05 16:33:34
“Maura, dokter bilang katanya kandunganmu lemah. Jadi kamu harus istirahat total seenggaknya selama trimester pertama ini.”

Maura terdiam sambil menggigit bibirnya dan menatap Andreas yang duduk di samping ranjang pasien yang ditempatinya.

“Maaf udah ngerepotin, Mas,” ucapannya perlahan. “Sebenarnya aku malu, karena hanya aku satu-satunya orang yang paling sering mengambil libur.”

Andreas tersenyum lembut sambil menepuk punggung tangan Maura.

“Nggak perlu malu, Maura. Aku paham keadaan k
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Siti Untari
kok tdk ada lanjutanya thor
goodnovel comment avatar
Siti Untari
ayoo thor up yaa
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 117. Makan Siang

    “Lalu … yang waktu itu selalu mengirimkan hadiah ke rumah sebelum Anda menikah dengan nyonya Maura, sebenarnya adalah Alena. Nyonya Maura saat itu nggak mungkin bisa beli hadiah-hadiah mahal karena uang jajannya sangat terbatas,” kata Zefan sambil memberikan bukti salinan invoice dari pembelian jam tangan mahal, beberapa pakaian, sepatu, hingga makanan. “Ini invoice yang kudapatkan dengan susah payah. Pembayarannya semuanya atas nama Alena.” Dewangga memeriksa sekilas salinan invoice itu. Barang-barang yang didapatnya benar-benar sama dengan yang tertera di invoice.“Bu Silvia selaku ibu tirinya, nggak begitu baik sama nyonya Maura. Ayahnya juga diam aja karena menyangka kalau nyonya Maura itu bukan anaknya jadi mereka kurang baik memperlakukan nyonya. Tapi belakangan … apa Anda sudah dengar? Pak Ruslan dan bu Silvia cerai karena bu Silvia telah membohongi pak Ruslan selama bertahun-tahun. Katanya Alena bukan anak kandung pak Ruslan. Dan katanya lagi, pe

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 116. Kebenaran Terungkap

    Hampir pukul lima sore, namun langit masih cerah kebiruan.Di sebuah mobil, Dewangga duduk diam menatap rumah Maura dari balik kemudinya.Jari-jari rampingnya mengetuk-ngetuk stir, sementara matanya berpindah dari jendela kaca yang satu, hingga jendela kaca lantai dua, ke arah jendela kamar Maura di lantai atas tapi keberadaan wanita itu tak terlihat sedikitpun.“Apa dia lagi keluar, ya?” gumamnya perlahan sambil melihat arlojinya sejenak, kemudian dia menunggu lagi, memikirkan beberapa alasan tepat bertemu dengannya sementara sekotak kue tergeletak di sisi jok penumpang.Tiba-tiba saja, kaca pintu depan bagian kiri diketuk, membuat pria itu teralihkan.Tampak bu Dina berdiri di luar sambil berusaha memandangnya lewat kaca riben.Dewangga segera menurunkan kaca mobilnya.“Nyariin neng Maura, ya?” tanya bu Dina ramah.“Iya, Bu,” jawab Dewangga sambil mengangguk. “Dia lagi pergi?”“Iya, neng Maura udah pergi, udah berangkat tadi pagi sama bapaknya,” jawab wanita paruh baya itu. “Memangn

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 115. Berpamitan

    Jam menunjukkan hampir pukul setengah empat sore. Di restoran milik Andreas, Maura berkumpul dengan beberapa karyawan restoran bersama Andreas dan Marina. Kebetulan, restoran tak terlalu ramai.Wanita itu mendapatkan undangan untuk makan bersama, sebelum pertunangan Andreas dan Marina diadakan seminggu lagi.“Kamu mau pergi?!” Nada protes Marina keluar begitu saja. “Aku sama mas Andreas mau tunangan, lho. Itu artinya kamu nggak bisa datang, dong?”“Iya. Maaf, ya, Marina. Aku cuma bisa ngasih selamat dan doa aja,” kata Maura tak enak hati. “Kalau kalian menikah nanti, aku akan usahakan untuk datang.”“Meski kak Maura nggak bisa hadir, yang penting kan bos sama calonnya bos hadir,” kata Andy.“Iya, tuh. Kalau salah satu diantara kalian nggak hadir, bisa-bisa nggak jadi tunangannya,” celetuk Ricko, membuat Marina kesal.“Enak aja. Amit-amit, ya. Mas Andreas harus hadir, lho, nanti,” kata Marina sambil menatap Andreas dengan permohonan. “Awas aja kalau nggak.”“Ricko cuma asal ngomong, Ma

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 114. Hasil yang Tak Diinginkan

    Beberapa hari berlalu.Maura menatap foto janinnya sambil tersenyum sendu dengan mata yang hampir berkaca-kaca. Kalau anak itu masih ada, mungkin perutnya akan semakin buncit sekarang. Dan mungkin dia akan mulai membeli barang-barang keperluan bayinya.Maura segera menggeleng menepis perasaan buruknya.Di luar, langit sangat cerah dan hampir tengah hari. Dengan cepat, dia memasukkan foto janinnya ke dalam dompet kecil, lalu menyelipkan dompet itu ke dalam koper yang sudah penuh dengan pakaiannya.Baru saja dia selesai menutup resleting kopernya, ponselnya yang ada di meja berdering.Wanita itu mengerutkan alis. Jam segitu, tak mungkin ayahnya yang menelepon karena sebelum selesai mengepak barang-barangnya, dia sudah berbicara dengannya.“Siapa, sih, yang nelpon?” gumamnya perlahan sambil berjalan ke arah meja dan melihat layar ponselnya menampilkan nomor yang familiar.“Dewangga? Ngapain dia nelpon?”Meski ragu untuk menjawabnya, akhirnya Maura mengangkat panggilan itu. Mungkin pria i

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 113. Rencana Maura

    Hari masih cukup pagi.Di meja makan, Alena tengah mengoles selembar roti tawar dengan selai cokelat, dengan setelan kerja yang rapi namun wajah yang muram.Beberapa kali dia melirik ponsel yang layarnya hitam di meja, berharap mendapat sebuah kabar baik segera, namun ponsel itu masih enggan bergetar sama sekali. Apa mungkin orang itu masih tidur? Entahlah.Di sisinya, Silvia berdiri mengisi sebuah cangkir keramik putih motif bunga lembut dengan teh hangat, untuk putri harapan satu-satunya.“Mama udah menghubungi pak Brian. Beliau bersedia membantu kesulitan perusahaan asalkan ….” Silvia menjeda kalimatnya seolah tengah mencari kata yang pas untuk diucapkan, sambil menggeser cangkir teh itu ke hadapan Alena dan meletakkan kembali poci teh di tempat semula. “Asalkan kamu bersedia menjadi istri ketiganya.”Gerakan tangan Alena di atas roti tawarnya terhenti. Wanita itu segera menoleh menatap tajam ibunya.

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 112. Alena Tahu

    “Kamu pikirin lagi tawaran papa, Maura. Meski papa pengen tinggal sama kamu, tapi papa nggak bisa maksa kamu ikut papa,” ujar Ruslan sambil fokus menatap ke depan.“Aku pengen, sih, Pa. Tapi aku takut jadi beban Papa,” jawab Maura gamang.“Kamu bukan beban, Nak. Kamu satu-satunya penyemangat papa saat ini,” jawab Ruslan. “Biaya hidup kamu selama ikut papa, akan papa tanggung sepenuhnya.”“Bukan masalah uang, Pa. Aku juga punya tabunganku sendiri meski nggak banyak.”“Ya, itu bagus. Kamu pikirin aja dulu permintaan papa, oke?”“Oke. Tanggal berapa Papa mau berangkat?” tanya Maura.“Akhir bulan nanti, sekitar tanggal 22 atau 23.”“Kurang dari tiga minggu lagi,” gumam Maura perlahan.“Ya, kurang dari tiga minggu lagi.”“Papa nggak melaporkan tante Silvia?” tanya Maura penasaran. “Mungkin … perusahaan Papa akan kembali.”“Buat apa? Hanya akan buang-buang waktu. Harta yang hilang pasti akan ada gantinya. Silvia sudah melobi lebih dari setengah petinggi perusahaan buat menetapkan Alena seba

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 80. Obrolan Dua Wanita

    Clara menatap Narendra dengan marah dan sedih. Gadis itu menangkap mata kakaknya penuh keseriusan, luka, dan harapan yang selalu ada.Sudah bertahun-tahun, tapi perasaan kakaknya terhadap Maura tak pernah berubah, padahal Maura selalu menganggap kakaknya hanya sebagai lalat pengganggu di hidupnya.

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 79. Perkelahian

    Dewangga menghela napasnya.“Kamu punya rokok?” tanyanya.“Nggak, jangan merokok di rumah ini. Itu aturan dari oma di rumah ini, terlebih Maura sedang hamil sekarang,” ujar Narendra tersenyum. “Rokok nggak bisa menyelesaikan masalah.”"Aku tahu. Aku belum berencana ngasih tahu siapapun terkait perc

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 78. Obrolan Sore

    "Dokter bilang, kondisimu masih lemah. Jadi sebaiknya kamu nginap aja di sini, ya. Ini juga rumahmu, Maura. Mulai sekarang, kamu dan Dewangga tinggal aja di kamar ini. Nggak boleh naik tangga." Oma Ambar tersenyum sumringah, mengantar Maura ke kamar tamu di rumah keluarga besar mereka di lantai sa

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 76. Kabar dari Mawar

    Maura segera membaringkan tubuhnya begitu dia tiba di kamar. Dia sangat lelah hingga tak sanggup untuk melakukan apapun lagi. “Kondisi awal kehamilan seperti ini rentan keguguran. Sebaiknya Anda perbanyak istirahat, ya, Bu. Jangan terlalu banyak bekerja dan jangan terlalu lelah.” Nasihat dari

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status