Beranda / Rumah Tangga / Sehangat Dekapan Mantan / 01| Awal Mula Kehancuran

Share

Sehangat Dekapan Mantan
Sehangat Dekapan Mantan
Penulis: sidonsky

01| Awal Mula Kehancuran

Penulis: sidonsky
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 09:17:16

Dua tahun. Sudah hampir dua tahun Raya menikahi pria yang dianggapnya sebagai jaminan masa depan. 

Sebuah kesepakatan bisnis yang dibungkus dengan embun-embun cinta. 

Ardava adalah pria yang tampan, mapan, dan yang terpenting disetujui oleh ibunya.

 Di atas kertas, mereka sempurna. Sebuah pasangan yang layak menghiasi majalah gaya hidup.

Tapi di malam hujan yang dingin ini, di dalam penthouse mewah yang menjadi sanggah hidupnya, kesempurnaan itu retak menjadi seribu kepingan.

Penthouse mewah yang dulu terasa aman kini dingin seperti kuburan. Belakangan Ardava makin sering “lembur”, makin jarang pulang, makin jarang menyentuhnya. Ada sesuatu yang hilang… atau seseorang.

Pintu terbuka. Ardava masuk, masih tampak rapi meski mengaku kelelahan. “Konferensi melelahkan. Aku mandi dulu.”

Konferensi. Padahal siang tadi, Raya mendengar acara itu dibatalkan.

Ia tak menjawab. Tatapannya terkunci pada ponsel Ardava di meja kopi. Begitu shower menyala, layar ponsel ikut menyala. Ikon aplikasi dengan hati merah—aplikasi yang dulu menghancurkan pernikahan orang tuanya.

Profil Ardava terbuka. Ardava, 36. Lajang.

Dadanya seperti ditusuk. Lalu notifikasi muncul menampilkan layar notifikasi emoticon hati menyala.

Citra: I’m so happy today! Besok kalau kamu keluar kota lagi, kabarin aku ya, sayang.

Raya menjatuhkan ponselnya. Rasanya seperti terbakar. Dunia yang susah payah ia bangun kembali runtuh, sama seperti tujuh tahun lalu ketika ia meninggalkan Jagara demi pria “lebih pantas”.

Pintu kamar mandi terbuka. Ardava muncul hanya dengan handuk.

“Raya? Kamu kenapa?”

“Aku tahu semuanya.” Raya mengangkat ponselnya, tangan bergetar. “Tentang Citra. Tentang aplikasi itu. Tentang status kamu.”

"Aku akan hubungin pengacara. Aku mau cerai."

Kata 'cerai' itu membuat Ardava membeku. "Cerai? Raya, kamu gila? Karena satu kesalahan kecil?"

"Satu kesalahan kecil?" Raya membentak, air matanya yang tahan ia pecahkan. \

Ini bukan yang pertama.

Itu adalah kalimat terakhir Raya sebelum ia membanting keras pintu kamarnya. 

Dengan napas memburu, ia menatap sekitar. Ia tidak bisa tinggal di rumah ini. Ia tidak bisa tinggal di mana pun di Jakarta. Di tengah kehancurannya, ia membuka laptopnya dan memesan tiket satu arah.

Sambil mengetik 'Bali' di kolom pencarian tiket, hatinya kembali diserang penyesalan. Tujuh tahun lalu, ia melakukan hal yang sama. 

Ia memilih pria yang dianggap 'sempurna' oleh ibunya dan membuang Jagara, pria yang rela berlutut di koridor kampus, memohon agar dirinya jangan pergi. 

**

Dengan mata sembab dan hidung yang memerah, Raya menarik koper pink usangnya saat pintu Bandara Ngurah Rai Bali menyambutnya. 

Udara pantai yang lembab dan hangat langsung menerpa wajahnya, membawa aroma khas Bali, perpaduan antara garam laut, dupa, dan bunga frangipani, yang sudah hampir lima tahun tidak ia hirup.

Ia bersusah payah menarik koper itu, sebuah penampung segala kesedihan dan satu-satunya barang yang ia bawa saat kabur dari rumah, mencoba menghentikan sebuah taksi berwarna kuning yang tumben tidak berjejer di depan bandara seperti biasanya.

Ia mematikan ponselnya sejak meninggalkan rumah. Ia butuh ketenangan. Ia ingin menjauh dari hiruk pikuk dunia yang baru saja menghancurkannya, dari segala panggilan dan pesan yang mungkin masih terus berusaha menembus pertahanannya.

Berjalan tergopoh-gopoh di atas aspal yang panas, tiba-tiba ia mendengar suara crack yang keras. Hak sepatu heels yang ia kenakan—sepatu mahal yang dulu ia beli untuk menemani Ardava ke sebuah gala dinner—patah. Keseimbangannya buyar, dan dengan satu gerakan tidak berdaya, ia terjatuh membentur aspal yang kasar. 

Nyeri tajam menusuk lututnya. Ia menoleh, sebuah goresan luka yang menganga berdarah dengan rasa ngilu yang menjalar hingga ke persendian. 

Sialnya, pagi ini ia mengenakan celana pendek denim dan baju kaos oversize yang sudah lama tak ia pakai, pakaian yang dulu ia simpan di lemari karena merasa 'tidak pantas' dikenakan oleh seorang istri dari lelaki terpandang seperti Ardava.

"Atas nama Liraya Nadindra, kamar premium deluxe dengan total menginap satu minggu, betul?" tanya si resepsionis.

Raya mengangguk saat pria itu mengkonfirmasi, ia masih seperti belum memiliki kekuatan penuh untuk bersuara. 

Kepalanya menoleh ke sekeliling, mendapati suasana lobi yang hening dan bersih khas hotel mewah. Ia menunggu proses check-in, menunggu kunci kamarnya, sambil berusaha mengabaikan nyeri di kakinya yang semakin terasa perih.

Hingga samar, sebuah suara dari meja resepsionis di sebelahnya membuyarkan lamunannya. Suara yang terdengar profesional, namun ada sesuatu dalam nama yang diucapkan yang membuat seluruh sistem saraf Raya membeku.

"Jagara Raksa Baskarana, untuk tipe president suite, benar?"

Tubuh Raya mematung. Darahnya yang tadi mengalir pelan di pembuluh nadi, tiba-tiba terasa berdesir kencang, seolah dilempari ribuan jarum es. Dan dengan gerakan yang sangat lambat, seolah ia ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar, kepala Raya perlahan menoleh ke arah sumber suara.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Jagara, berdiri di sana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sehangat Dekapan Mantan   109| Tidak Mau Ambil Resiko

    Taksi biru itu berhenti tepat di depan lobi utama Kinara Motors. Mesin masih menyala, jarum jam di dashboard berdetak pelan seiring Raya yang belum juga membuka pintu. Ia duduk diam di kursi belakang, punggungnya bersandar, pandangannya kosong menembus kaca depan yang memantulkan gedung tinggi berlapis kaca itu.Tangannya bertumpu di pangkuan, jemarinya saling bertaut erat. Ia menghela napas panjang—menahannya sejenak di dada—lalu mengembuskannya perlahan, seolah berusaha menurunkan gemuruh yang masih tersisa sejak pertemuannya dengan Ratna pagi tadi. Ada rasa berat yang belum sepenuhnya luruh, menggantung di antara tulang rusuknya.Setelah merasa cukup stabil, Raya akhirnya turun. Dua plastik bening berisi makanan ia tenteng dengan hati-hati, langkahnya pelan namun pasti memasuki lobi Kinara Motors yang selalu tampak hidup. Kilau marmer, derap langkah para karyawan, dan suara samar percakapan bisnis menjadi latar yang kontras dengan isi kepalanya yang riuh.Belum sempat Raya membuka

  • Sehangat Dekapan Mantan   108| Dua Pilihan

    Suasana coffee shop yang berada di lantai utama lobi rumah sakit pagi itu cukup ramai. Aroma kopi bercampur dengan wangi disinfektan yang samar. Para pengunjung berlalu-lalang, beberapa mengenakan jas dokter, sebagian lain keluarga pasien dengan wajah lelah yang tak sempat disembunyikan.Raya memilih posisi duduk yang agak menjauh dari pusat keramaian. Meja kecil di sudut dekat jendela kaca besar, cukup tersembunyi untuk percakapan yang tak ingin didengar orang lain. Raya menegakkan posisi duduknya. Punggungnya lurus, bahunya sedikit tegang. Kedua tangannya tertata rapi di atas paha, jemarinya saling bertaut untuk menahan getaran halus yang tak bisa sepenuhnya ia kendalikan. Jas dokternya rapi, nametag masih tergantung di saku dada, seolah ia sedang bersiap menghadapi pasien—bukan ibu dari lelaki yang paling ia cintai.Di hadapannya, duduk berseberangan, Ratna sudah lebih dulu menegakkan tubuhnya. Sikapnya tenang, terlatih, nyaris terlalu terkendali. Tak ada sisa amarah meledak-leda

  • Sehangat Dekapan Mantan   107| Tamu Tak Diundang

    Raya duduk di kursi penumpang mobil hitam Jagara, tubuhnya masih terasa dingin meski mesin mobil telah lama menyala. Mereka belum bergerak. Masih di depan rumah besar itu, rumah yang barusan mengukir luka baru di dada Raya.Jagara berdiri di luar sesaat, lalu kembali masuk. Tangannya sigap menarik tisu dari dashboard, mengusap wajah Raya dengan gerakan yang terlalu hati-hati, seolah takut sentuhan kecil saja bisa membuat wanita itu runtuh. Air masih menetes dari ujung rambut Raya, membasahi jas yang kini menutupi bahunya.“Kamu tidak apa-apa?” Entah sudah pertanyaan keberapa.Raya sendiri sudah berhenti menghitung. Yang ia tahu, sorot mata Jagara penuh kecemasan, rasa panik yang ditahan, amarah yang dikurung rapat-rapat agar tak meledak. Ibu jari lelaki itu mengusap pipi Raya berulang, seakan memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar nyata, tidak hancur.Sesak di dadanya terasa menyakitkan. Namun Raya tetap memaksakan senyum kecil. Ia menatap wajah Jagara, wajah yang selalu be

  • Sehangat Dekapan Mantan   106| Makan Malam

    Sejak pagi buta, Raya sudah terjaga.Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar, sementara tubuhnya terasa berat seolah belum benar-benar kembali dari mimpi yang tak selesai. Detak jantungnya berpacu, cepat dan tak beraturan, seiring ingatan yang berulang-ulang menyeretnya pada sebuah notifikasi yang kemarin siang sempat ia lihat sekilas di ponsel Jagara.Satu nama yang membuat dadanya langsung sesak.Mama.Pesan itu singkat, rapi, dan terasa dingin meski ditulis dengan kata-kata yang tampak biasa.Haruskah Mama tahu kabar perpisahan kamu dan Kirani dari media? Makan malam di rumah malam ini. Ada yang ingin Mama tanyakan.Raya ingat betul bagaimana jarinya sempat gemetar saat membaca baris demi baris itu dari balik bahu Jagara. Tidak ada nada marah yang kentara, justru itulah yang membuatnya semakin menyesakkan. Pesan yang terdengar seperti undangan, tapi terasa lebih mirip panggilan sidang.Sore itu juga, Jagara tak butuh waktu lama untuk memutuskan. Ia menatap layar ponselnya

  • Sehangat Dekapan Mantan   105| Pesan Masuk

    Lift bergerak turun dengan dengung halus, membawa Raya dan Jagara menuju parkiran basement. Di dalam ruang sempit berlapis kaca itu, tangan mereka saling bertaut. Raya tersenyum kecil, matanya memantul pada bayangan mereka berdua. Ia sudah berganti pakaian kerja, setelan rapi yang membuatnya tampak segar meski jadwal padat menanti. Untungnya hari ini ia mendapat shift siang. Hal itu yang membuat Jagara bersikeras mengantarnya lebih awal, dengan alasan yang terdengar santai namun tak bisa dibantah: sekalian ia ingin langsung ke kantor.Pintu lift terbuka perlahan. Jagara menarik tangan Raya dengan lembut, menuntunnya keluar menuju area parkiran bertanda VIP. Deretan mobil mewah berjajar rapi, sebagian besar asing di mata Raya. Yang dikenalnya hanya mobil hijau tua Jagara dan sebuah sedan hitam yang terparkir tak jauh. Raya sudah melangkah ke arah mobil hijau itu ketika sebuah kilatan lampu menarik perhatiannya. Sebuah Jeep Wrangler hitam, gagah, berdiri di ujung parkiran.Jagara meli

  • Sehangat Dekapan Mantan   104| Gagalnya Rencana

    Sebenarnya, begitu banyak permasalahan yang ada di kepala Raya saat ini. Ia ingin menceritakan desas-desus yang mulai beredar di rumah sakit, tentang bagaimana beberapa kolega menatapnya dengan pandangan aneh, tentang seorang pasien yang bahkan bertanya apakah ia benar seorang selingkuhan. Ia ingin meluapkannya semua, membagi beban itu pada Jagara. Tapi kemudian, ia ingat perjuangan yang sejauh ini sudah lelaki itu berikan untuk melindunginya, ancaman Ardava, konfrontasi dengan Kirani, bahkan pembatalan pertunangan yang pasti mengguncang dunianya. Mengingat semua itu, Raya memilih menutup mulutnya rapat-rapat. Ia yakin, permasalahan yang kini sedang dihadapi lelaki itu jauh lebih besar dan berat.Tapi lihat bagaimana Jagara sekarang memperlakukannya. Dengan gerakan lembut yang hampir tidak percaya, lelaki itu meletakkan sepasang sandal rumah berwarna pink muda di hadapan Raya, sebuah kontras yang mencolok dengan pria berwibawa sepertinya.Mereka baru saja tiba di apartemen utama Ja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status