Share

76| Dua Minggu

Penulis: sidonsky
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 00:23:57

Ketika isak Kirani pecah di lorong kantor Ayahnya, tidak ada lagi yang bisa Jagara lakukan selain memastikan gadis itu tidak hancur lebih jauh.

Tangisnya bukan sekadar air mata. Tubuh Kirani gemetar hebat, napasnya tersengal, suaranya terputus-putus seolah paru-parunya tak sanggup lagi bekerja normal. Ia berdiri di hadapan Jagara dengan wajah basah, mata merah, dan tangan yang terus berusaha mencari pegangan—pada lengan jas Jagara, pada kemeja yang masih rapi, pada satu-satunya sosok yang malam ini ada bersamanya.

“Aku nggak kuat, Jagara,” ucapnya di sela tangis, suaranya nyaris tak terdengar. “Tolong… jangan tinggalin aku sekarang.”

Kalimat itu menancap. Bukan karena maknanya, tapi karena waktunya. Karena tempatnya. Karena Jagara tahu, jika ia memalingkan badan dan pergi malam ini, Kirani tidak akan baik-baik saja. Dan ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, apa pun yang terjadi setelahnya.

Tanpa banyak kata, Jagara mengangguk samar.

Rumah keluarga Kirani menyambut mereka denga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sehangat Dekapan Mantan   99| Kemenangan Telak

    Mobil hitam yang ditumpangi Jagara berhenti mulus di depan sebuah gedung tinggi berlapis kaca. Logo HELIX & ROWE terpampang jelas di bagian depan, huruf-huruf perak yang memantulkan cahaya senja, menegaskan reputasi firma hukum ternama itu sebagai tempat bernaungnya perkara-perkara besar dan klien-klien berpengaruh.Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Raya, Jagara memasukkan ponselnya ke saku jas. Ekspresinya tenang, nyaris santai, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengusik kendalinya. Baim lebih dulu turun, membukakan pintu mobil.“Silakan, Tuan.” ujar Baim singkat.Jagara melangkah keluar. Sepatu pantofelnya menyentuh lantai marmer pelataran gedung dengan mantap. Seperti yang ia laporkan pada Raya, sore ini ia memang dijadwalkan bertemu pengacara—orang yang ia tunjuk untuk menyelesaikan urusannya dengan Kirani.Begitu memasuki lobi, suasana langsung berubah. Beberapa staf berhenti sejenak dari aktivitas mereka. Sapaan pelan terdengar dari berbagai arah. Ad

  • Sehangat Dekapan Mantan   98| Rutinitas Baru

    Motor Aksara melaju stabil di tengah arus kendaraan pagi. Suara mesin bercampur dengan hiruk pikuk kota yang baru benar-benar bangun, sementara Raya duduk di belakang, kedua tangannya berpegangan ringan pada jaket Aksara. Tidak terlalu erat, tidak juga terlalu jauh, jarak aman yang terasa semakin ganjil bagi Raya sejak pagi itu.Angin menerpa sisi wajahnya. Rambutnya terselip rapi di balik helm, tapi pikirannya justru kusut.Ada satu kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya. Satu pengakuan yang seharusnya ia ucapkan tentang Jagara.Tentang lelaki yang beberapa jam lalu berdiri berhadapan dengan Aksara. Lelaki yang kerah kemejanya sempat ditarik, yang dengan dingin diperingatkan untuk tidak menyentuhnya lagi. Lelaki yang oleh Aksara dianggap ancaman, padahal justru orang yang paling dekat dengan Raya.Bahkan lebih dari kekasih.Raya menelan ludah. Tangannya sedikit mengencang di jaket Aksara, lalu kembali mengendur. Ia membuka mulut, tapi suaranya tertahan. Seolah ada tembo

  • Sehangat Dekapan Mantan   97| Sarapan Orang Ketiga

    Pagi datang perlahan, tanpa tergesa, seperti memberi kesempatan pada Raya untuk mengumpulkan dirinya sendiri. Cahaya matahari menembus sela tirai tipis, membiaskan warna pucat ke dinding apartemen Jagara. Raya keluar dari kamar mandi dengan langkah ringan. Ia sudah berganti pakaian kerja dengan kemeja krem berpotongan rapi yang dimasukkan ke dalam celana bahan gelap, rambutnya diikat rendah dengan beberapa helai sengaja dibiarkan membingkai wajah. Penampilannya sederhana, profesional, dan terlalu menenangkan untuk pagi yang sebenarnya penuh potensi kekacauan.Begitu ia melangkah ke ruang utama, aroma masakan langsung menyambutnya.Raya melangkah pelan ke arah dapur. Dari kejauhan, ia melihat Jagara berdiri di sana, punggungnya menghadap, tubuhnya tegak dengan kemeja putih rapi dan celana bahan gelap. Tangannya sibuk menuangkan jus jeruk ke dalam gelas bening. Di atas meja dapur yang menyatu dengan meja makan, dua buah sandwich tersaji rapi di piring, masih mengepulkan uap tipis.Untu

  • Sehangat Dekapan Mantan   96| Gelora Asmara

    Raya mengerjap, berdiri di depan pintu apartemen Jagara yang keberadaannya tepat di seberang unit miliknya. Namun, ada yang berbeda. Unit milik lelaki itu terasa lebih besar, jauh lebih luas, dua kali lipat ukuran apartemen satu kamar tidur miliknya dengan dapur dan ruang tengah yang menyatu. Ia melangkah masuk, matanya berkeliling, mencatat perbedaan yang jelas."Kenapa unit kamu lebih besar?" tanya Raya, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.Jagara masuk lebih dulu, gerakannya tenang dan terbiasa. Ia melepas sepatunya, berganti dengan sandal rumah berwarna abu-abu, sebelum dengan lembut menarik sandal lain berwarna merah muda dari rak dan meletakkannya di depan Raya. "Kamu tidak tahu kalau apartemen ini memiliki unit dengan ukuran berbeda?"Jelas, Raya menggeleng, "Aku pikir semua ukurannya sama kayak punya aku."Dengan gerakan yang penuh keterpaksaan namun lembut, Jagara menyentil dahi Raya gemas. "Saya yang akan menandatangi kontrak apapun untuk ke depannya," katanya, seolah itu

  • Sehangat Dekapan Mantan   95| Posisi Semula

    Raya berbaring telentang di ranjang apartemennya, tubuhnya setengah tenggelam di sprei berwarna abu pucat yang masih menyimpan aroma sabun. Ia mengenakan kaos putih oversize yang jatuh menutupi pangkal pahanya dan celana pendek tipis di baliknya, membuatnya tampak seolah tak mengenakan apa pun selain kaos itu. Rambutnya dibiarkan terurai setengah basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air yang membasahi bantal. Dadanya naik turun perlahan, napas panjang ia embuskan berkali-kali, seperti mencoba mengusir sisa-sisa hari yang melelahkan.Sejak matahari terbenam beberapa jam lalu, Raya belum menyalakan satu pun lampu di apartemen.Ia membiarkan cahaya temaram dari balkon kecil menyusup masuk, memantul di lantai dan dinding, cukup untuk menerangi garis-garis samar ruangan. Kakinya menggantung di sisi ranjang, telapak kakinya berayun pelan, ritme kecil yang tak benar-benar ia sadari. Saat ia memejamkan mata, wajah Jagara kembali muncul, jelas dan tak terhindarkan. Nada suaranya di mobil,

  • Sehangat Dekapan Mantan   94| Terasa Lebih Jauh

    Raya membasuh wajahnya di depan cermin wastafel, air dingin mengalir melewati kulit pipinya yang masih terasa hangat. Kemerahan di sana perlahan memudar, meski perasaan di dadanya tidak ikut surut. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, mata yang sedikit berkaca, napas yang belum sepenuhnya stabil. Entah karena malu, atau kesal, atau mungkin perpaduan keduanya yang saling tumpang tindih tanpa mau dipisahkan.Bayangan Jagara berdiri di tengah aula, menyebut namanya dengan suara tenang tapi menusuk, terus berputar di kepalanya. Presentasi yang sudah ia persiapkan dengan matang, yang seharusnya berjalan rapi dan profesional, terasa ternodai oleh satu pertanyaan yang sama sekali tidak ada di slide. Raya memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum semuanya tumpah dalam bentuk emosi yang tidak seharusnya.Ia mengeringkan wajahnya dengan tisu, menepuk-nepuk pelan, lalu melangkah keluar dari ruang kecil itu.Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti seperse

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status