共有

88| Perlakuan Sederhana

作者: sidonsky
last update 最終更新日: 2026-01-02 00:37:44

Hari pertama Raya kembali bekerja berjalan lebih pelan dari biasanya dan untuk pertama kalinya, itu bukan hal yang membuatnya gelisah.

Ia tiba di rumah sakit saat matahari belum sepenuhnya naik, mengenakan jas dokter yang masih terasa sedikit asing di bahunya setelah beberapa hari terbaring sebagai pasien. Langkahnya terukur, tidak tergesa, seolah tubuhnya sendiri masih memberi peringatan agar tidak memaksakan apa pun. Aroma antiseptik yang khas menyambutnya, membawa rasa familiar yang justru menenangkan.

“Udah enakan, Dok?” sapa seorang perawat ketika Raya melewati nurse station.

Raya berhenti sejenak, menoleh dengan senyum kecil yang jujur. “Lumayan,” jawabnya singkat, tidak berlebihan, tidak pula meremehkan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi hari ini, setidaknya, ia merasa cukup.

Untungnya, jadwal hari ini bersahabat. Tidak ada operasi. Tidak ada tindakan berat yang menuntut stamina penuh. Hanya pemeriksaan rutin, visit pasien, membaca hasil lab, dan diskusi singkat den
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sehangat Dekapan Mantan   96| Gelora Asmara

    Raya mengerjap, berdiri di depan pintu apartemen Jagara yang keberadaannya tepat di seberang unit miliknya. Namun, ada yang berbeda. Unit milik lelaki itu terasa lebih besar, jauh lebih luas, dua kali lipat ukuran apartemen satu kamar tidur miliknya dengan dapur dan ruang tengah yang menyatu. Ia melangkah masuk, matanya berkeliling, mencatat perbedaan yang jelas."Kenapa unit kamu lebih besar?" tanya Raya, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.Jagara masuk lebih dulu, gerakannya tenang dan terbiasa. Ia melepas sepatunya, berganti dengan sandal rumah berwarna abu-abu, sebelum dengan lembut menarik sandal lain berwarna merah muda dari rak dan meletakkannya di depan Raya. "Kamu tidak tahu kalau apartemen ini memiliki unit dengan ukuran berbeda?"Jelas, Raya menggeleng, "Aku pikir semua ukurannya sama kayak punya aku."Dengan gerakan yang penuh keterpaksaan namun lembut, Jagara menyentil dahi Raya gemas. "Saya yang akan menandatangi kontrak apapun untuk ke depannya," katanya, seolah itu

  • Sehangat Dekapan Mantan   95| Posisi Semula

    Raya berbaring telentang di ranjang apartemennya, tubuhnya setengah tenggelam di sprei berwarna abu pucat yang masih menyimpan aroma sabun. Ia mengenakan kaos putih oversize yang jatuh menutupi pangkal pahanya dan celana pendek tipis di baliknya, membuatnya tampak seolah tak mengenakan apa pun selain kaos itu. Rambutnya dibiarkan terurai setengah basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air yang membasahi bantal. Dadanya naik turun perlahan, napas panjang ia embuskan berkali-kali, seperti mencoba mengusir sisa-sisa hari yang melelahkan.Sejak matahari terbenam beberapa jam lalu, Raya belum menyalakan satu pun lampu di apartemen.Ia membiarkan cahaya temaram dari balkon kecil menyusup masuk, memantul di lantai dan dinding, cukup untuk menerangi garis-garis samar ruangan. Kakinya menggantung di sisi ranjang, telapak kakinya berayun pelan, ritme kecil yang tak benar-benar ia sadari. Saat ia memejamkan mata, wajah Jagara kembali muncul, jelas dan tak terhindarkan. Nada suaranya di mobil,

  • Sehangat Dekapan Mantan   94| Terasa Lebih Jauh

    Raya membasuh wajahnya di depan cermin wastafel, air dingin mengalir melewati kulit pipinya yang masih terasa hangat. Kemerahan di sana perlahan memudar, meski perasaan di dadanya tidak ikut surut. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, mata yang sedikit berkaca, napas yang belum sepenuhnya stabil. Entah karena malu, atau kesal, atau mungkin perpaduan keduanya yang saling tumpang tindih tanpa mau dipisahkan.Bayangan Jagara berdiri di tengah aula, menyebut namanya dengan suara tenang tapi menusuk, terus berputar di kepalanya. Presentasi yang sudah ia persiapkan dengan matang, yang seharusnya berjalan rapi dan profesional, terasa ternodai oleh satu pertanyaan yang sama sekali tidak ada di slide. Raya memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum semuanya tumpah dalam bentuk emosi yang tidak seharusnya.Ia mengeringkan wajahnya dengan tisu, menepuk-nepuk pelan, lalu melangkah keluar dari ruang kecil itu.Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti seperse

  • Sehangat Dekapan Mantan   93| Nama Yang Dipanggil

    Sebenarnya, Raya tak pernah merasa kemampuannya cukup untuk berdiri sebagai pembicara di depan banyak orang. Ia terbiasa berbicara dengan pasien, dengan suara pelan dan kalimat yang ditata hati-hati, bukan menghadapi ratusan pasang mata yang menunggu setiap kata. Namun janji tetaplah janji. Ketika ia sudah menyanggupi untuk membantu melancarkan seminar hari ini, Raya tahu ia harus melakukannya dengan sepenuh hati, terlepas dari rasa gugup yang berulang kali mengetuk dadanya.Sudah setengah jam berlalu sejak ia diantar Aksara ke area aula salah satu universitas negeri ternama itu. Bangunan tua dengan arsitektur klasik berdiri anggun, lorong-lorongnya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang membawa map dan buku. Raya kini berada di ruang tunggu pembicara, duduk di sofa panjang berwarna abu-abu, sebuah map cokelat terbuka di pangkuannya. Jemarinya membalik halaman demi halaman materi presentasi, meski sebagian besar isinya sudah ia hafal. Sesekali ia menghela napas, meneguk air minera

  • Sehangat Dekapan Mantan   92| Dua Kepribadian

    Perlahan, hiruk-pikuk Jakarta tertinggal di belakang mereka.Gedung-gedung tinggi yang tadi berderet rapat mulai mengecil di kaca spion. Lampu lalu lintas berganti dengan tikungan panjang, suara klakson digantikan desir angin yang menyusup di sela jaket. Raya duduk diam di belakang Aksara, kedua tangannya berpegangan hati-hati, tubuhnya mengikuti irama motor yang melaju stabil. Jalanan menanjak, pepohonan mulai rapat, dan udara terasa berubah—lebih sejuk, lebih bersih, seolah paru-parunya mendapat ruang baru untuk bernapas.Satu setengah jam berlalu tanpa terasa.Motor Triumph Bonneville Speedmaster itu akhirnya melambat, lalu berhenti di sebuah area parkir kecil berbatu. Di hadapan mereka berdiri sebuah coffee shop sederhana dengan bangunan kayu dan kaca lebar. Letaknya sedikit menjorok ke atas perbukitan, menghadap langsung ke hamparan hijau yang luas. Tidak ada musik keras, tidak ada suara ramai.Hanya angin, dedaunan yang bergesekan pelan, dan aroma kopi yang samar terbawa udara.

  • Sehangat Dekapan Mantan   91| Keputusan Spontan

    Pagi datang tanpa tergesa, menyelinap lewat celah tirai dan jatuh lembut di dinding kamar Raya. Ia terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh kesadaran kecil yang menyenangkan—hari ini libur. Tidak ada jadwal operasi, tidak ada rapat mendadak, tidak ada panggilan pasien gawat. Hanya satu agenda yang tertera rapi di kepalanya: sebuah seminar kedokteran gigi di salah satu universitas negeri ternama, siang nanti. Undangan resmi sudah ia terima sejak dua minggu lalu.Namanya tercantum sebagai pembicara tamu untuk sesi diskusi klinis. Bukan hal baru, tapi tetap saja ada rasa tanggung jawab yang membuatnya ingin tampil prima.Raya berguling pelan, duduk di tepi ranjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa hari lalu. Tidak ada pusing yang mengganggu, tidak ada rasa mual samar. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri sebelum berdiri dan menuju kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi bahunya, membawa sisa-sisa lelah y

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status