MasukSebenarnya, Raya tak pernah merasa kemampuannya cukup untuk berdiri sebagai pembicara di depan banyak orang. Ia terbiasa berbicara dengan pasien, dengan suara pelan dan kalimat yang ditata hati-hati, bukan menghadapi ratusan pasang mata yang menunggu setiap kata. Namun janji tetaplah janji. Ketika ia sudah menyanggupi untuk membantu melancarkan seminar hari ini, Raya tahu ia harus melakukannya dengan sepenuh hati, terlepas dari rasa gugup yang berulang kali mengetuk dadanya.Sudah setengah jam berlalu sejak ia diantar Aksara ke area aula salah satu universitas negeri ternama itu. Bangunan tua dengan arsitektur klasik berdiri anggun, lorong-lorongnya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang membawa map dan buku. Raya kini berada di ruang tunggu pembicara, duduk di sofa panjang berwarna abu-abu, sebuah map cokelat terbuka di pangkuannya. Jemarinya membalik halaman demi halaman materi presentasi, meski sebagian besar isinya sudah ia hafal. Sesekali ia menghela napas, meneguk air minera
Perlahan, hiruk-pikuk Jakarta tertinggal di belakang mereka.Gedung-gedung tinggi yang tadi berderet rapat mulai mengecil di kaca spion. Lampu lalu lintas berganti dengan tikungan panjang, suara klakson digantikan desir angin yang menyusup di sela jaket. Raya duduk diam di belakang Aksara, kedua tangannya berpegangan hati-hati, tubuhnya mengikuti irama motor yang melaju stabil. Jalanan menanjak, pepohonan mulai rapat, dan udara terasa berubah—lebih sejuk, lebih bersih, seolah paru-parunya mendapat ruang baru untuk bernapas.Satu setengah jam berlalu tanpa terasa.Motor Triumph Bonneville Speedmaster itu akhirnya melambat, lalu berhenti di sebuah area parkir kecil berbatu. Di hadapan mereka berdiri sebuah coffee shop sederhana dengan bangunan kayu dan kaca lebar. Letaknya sedikit menjorok ke atas perbukitan, menghadap langsung ke hamparan hijau yang luas. Tidak ada musik keras, tidak ada suara ramai.Hanya angin, dedaunan yang bergesekan pelan, dan aroma kopi yang samar terbawa udara.
Pagi datang tanpa tergesa, menyelinap lewat celah tirai dan jatuh lembut di dinding kamar Raya. Ia terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh kesadaran kecil yang menyenangkan—hari ini libur. Tidak ada jadwal operasi, tidak ada rapat mendadak, tidak ada panggilan pasien gawat. Hanya satu agenda yang tertera rapi di kepalanya: sebuah seminar kedokteran gigi di salah satu universitas negeri ternama, siang nanti. Undangan resmi sudah ia terima sejak dua minggu lalu.Namanya tercantum sebagai pembicara tamu untuk sesi diskusi klinis. Bukan hal baru, tapi tetap saja ada rasa tanggung jawab yang membuatnya ingin tampil prima.Raya berguling pelan, duduk di tepi ranjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa hari lalu. Tidak ada pusing yang mengganggu, tidak ada rasa mual samar. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri sebelum berdiri dan menuju kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi bahunya, membawa sisa-sisa lelah y
Malam sudah benar-benar turun ketika Jagara mengemudi sendirian meninggalkan klinik.Kota tampak tenang dari balik kaca mobil, lampu-lampu jalan memantul memanjang, berpendar lembut seolah tak tahu bahwa di dalam dada lelaki itu ada sesuatu yang sedang berpacu cepat. Kertas hasil lab masih berada di tangannya, terlipat rapi namun tak pernah benar-benar ia lepaskan sejak keluar dari ruang dokter. Setiap kali jemarinya menyentuh permukaan kertas itu, ada rasa nyata yang menegaskan bahwa semua ini bukan ilusi. Bukan lagi dugaan, bukan lagi ketakutan yang ia pendam sendirian selama dua bulan terakhir.Jantungnya berdegup tidak teratur, bukan karena kecemasan, melainkan karena antusiasme yang tertahan. Bayangan Raya muncul berulang kali di benaknya, begitu jelas hingga hampir terasa menyakitkan. Cara wanita itu menatapnya di hari terakhir mereka bertemu, tatapan yang tidak marah namun juga tidak berharap. Tatapan seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menunggu penjelasan. Jagara menel
Ruang tunggu itu terasa lebih sempit dari ukurannya yang sebenarnya.Lampu putih di langit-langit memantul dingin di lantai keramik, membuat bayangan Jagara jatuh lurus dan kaku di bawah kursinya. Bau antiseptik mengisi udara, menusuk hidung, bercampur dengan aroma kopi dari dispenser sudut ruangan, aroma yang biasanya menenangkan, namun kali ini justru membuat dadanya terasa penuh.Jagara duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya terlipat di depan dada. Sikapnya terlihat tenang, nyaris dingin, namun hanya ia yang tahu betapa keras tubuhnya bekerja menahan diri. Jari-jarinya menekan lengan jasnya sendiri, bukan karena dingin, melainkan karena ia butuh sesuatu untuk digenggam agar pikirannya tidak lepas kendali.Di balik pintu kayu bercat pucat itu, dokter kepercayaannya, seorang pria paruh baya dengan suara tenang dan tatapan objektif—sedang membahas hasil uji laboratorium yang sudah Jagara tunggu selama dua bulan terakhir. Dua bulan penuh penyangkalan. Dua bulan hidup di antara “
Hari pertama Raya kembali bekerja berjalan lebih pelan dari biasanya dan untuk pertama kalinya, itu bukan hal yang membuatnya gelisah.Ia tiba di rumah sakit saat matahari belum sepenuhnya naik, mengenakan jas dokter yang masih terasa sedikit asing di bahunya setelah beberapa hari terbaring sebagai pasien. Langkahnya terukur, tidak tergesa, seolah tubuhnya sendiri masih memberi peringatan agar tidak memaksakan apa pun. Aroma antiseptik yang khas menyambutnya, membawa rasa familiar yang justru menenangkan.“Udah enakan, Dok?” sapa seorang perawat ketika Raya melewati nurse station.Raya berhenti sejenak, menoleh dengan senyum kecil yang jujur. “Lumayan,” jawabnya singkat, tidak berlebihan, tidak pula meremehkan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi hari ini, setidaknya, ia merasa cukup.Untungnya, jadwal hari ini bersahabat. Tidak ada operasi. Tidak ada tindakan berat yang menuntut stamina penuh. Hanya pemeriksaan rutin, visit pasien, membaca hasil lab, dan diskusi singkat den







