Masuk"Aku tidak apa-apa, Rudra... hanya sedikit pusing. Mungkin karena kurang istirahat,” jawab Isvara lirih."Tidak, Sayang. Wajahmu sangat pucat," tegas Rudra tegas, tak menerima bantahan. Ia menggenggam jemari Isvara yang dingin. "Lebih baik pertemuan di Balairung hari ini ditunda dulu, jika kondisimu tidak sehat.”Tak butuh waktu lama, pintu kamar terbuka. Kepala Tabib istana masuk dengan napas terengah-engah, langsung menjatuhkan diri berlutut di tepi ranjang. Setelah memberikan salam hormat, sang tabib mulai memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Isvara, Ia juga meraba titik hangat di leher sang Ratu.Rudra berdiri di sisi ranjang dengan rahang yang mengetat. Matanya yang tajam memperhatikan setiap gerak-gerik tabib itu saat memeriksa Isvara."Tabib, katakan dengan jelas, Ratu sakit apa? Mengapa dia tiba-tiba limbung?"Kepala Tabib perlahan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Isvara.Alih-alih memasang ekspresi cemas, senyum kebahagiaan justru terukir di wajahnya yang
Selepas pembacaan dekrit yang menggetarkan seluruh sudut Balairung, upacara penobatan segera dipersiapkan.Di dalam kamar Putri Mahkota kini terjadi kesibukan yang luar biasa. Isvara berdiri tegak di tengah ruangan, sementara Bibi Sumi, Ratih, dan beberapa dayang senior memakaikan jubah kebesaran.Sesuai dengan tradisi sakral leluhur, Isvara mengenakan kain sutra berlapis tenun emas sewarna madu murni. Sementara di atas bahunya, disampirkan jubah merah bermotif teratai yang menyapu lantai dengan anggun. Leher, pergelangan tangan, serta jemarinya telah dihiasi oleh untaian gelang dan kalung kencana yang bertahtakan batu mirah delima. Wajah cantiknya dirias dengan kewibawaan seorang ratu.Bibi Sumi mundur dua tindak, menatap Isvara dengan air mata kebahagiaan yang mengenang di pelupuk matanya. "Anda teramat memesona, Ratu-ku... Anda adalah berkah yang nyata bagi tanah Mahipura."Isvara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debar jantungnya. Ia menatap bayangan dirinya di cer
Keesokan pagi, Isvara baru membuka mata saat merasakan kecupan dalam pada bibirnya. Sambil mengerjap-ngerjap untuk menajamkan pandangan, Isvara sedikit cemberut. Bagaimana tidak. Ia masih sangat mengantuk akibat ulah nakal Rudra semalam.Namun, ketika pandangannya mulai menajam, Isvara baru sadar bahwa Rudra yang sedang menciumnya.Anehnya, sang suami sudah tampil menawan dengan rambut yang tersisir rapi, sama sekali tidak tampak seperti orang yang baru bangun tidur."Rudra... kapan kau bangun dan mandi?" tanya Isvara dengan suara serak.Rudra tersenyum kecil melihat wajah menggemaskan istrinya. "Sejak tadi, Tuan Putri. Sekarang matahari sudah tinggi di luar sana."Mendengar kata 'tinggi', Isvara membelalakkan matanya. Terkejut karena bangun kesiangan, ia berusaha bangun dari ranjang. Namun, dengan sigap lengan kekar Rudra menahannya, menuntun tubuh Isvara agar bersandar pada bantal."Pelan-pelan, Sayang. Nanti kepalamu pusing jika langsung menghentak bangun."Isvara melayangkan pro
Malam telah datang menyelimuti tanah Mahipura.Karena sisa-sisa pasukan pembelot telah dibersihkan oleh pasukan Garda Hitam, Isvara pun kembali ke kediamannya. Seluruh sudut istana kini tampak tenang dan damai.Namun, alih-alih merasa tenang, kegelisahan masih saja melanda hati Isvara. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar dengan jemari yang saling bertautan. Hingga detik ini, sosok Jenderal Rudra belum juga kembali. Padahal, Isvara sudah mendengar kabar dari salah satu prajurit, bahwa laskar Malini telah berhasil dipukul mundur.Melihat kegelisahan sang Putri Mahkota, Bibi Sumi bergegas datang membawa bubur dan teh hangat."Putri..., sebaiknya Anda makan dulu lalu mengistirahatkan tubuh. Nanti, setelah Jenderal Agung kembali ke istana, hamba berjanji akan membangunkan Anda."Isvara menghentikan langkahnya, lalu menggelengkan kepala dengan pandangan sayu. "Tidak, Bibi. Aku belum lapar. Tolong... tinggalkan aku sendiri untuk sementara waktu."Bibi Sumi pun menghela napas berat. S
Mendengar tantangan terbuka itu, Rudra tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Dengan gerakan yang penuh wibawa seorang ksatria, ia menarik tali kekang kudanya hingga berhenti sempurna,Rudra melompat turun dari pelana dengan pijakan kaki yang kokoh di atas tanah, siap menuntaskan duel maut dengan Arjun.Di atas tanah datar yang kering, kedua penerus takhta tersebut saling mengunci tatapan. Debu yang berhamburan seolah menjadi dinding pembatas, yang menyekat Rudra dan Arjun dari peperangan masal di sekitar mereka.Arjun mencengkeram gagang pedangnya dengan kedua tangan, bersiap melakukan serangan mendadak.Sementara itu, Rudra tetap berdiri tegap. Pedang pusakanya diturunkan di sisi kanan tubuh, dengan ujung baja yang mengarah ke bumi."Kau adalah pengkhianat darah Suryajaya, Rudra!" raung Arjun.Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Arjun melesat maju. Ia mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas dalam satu gerakan melingkar.TRANG!Rudra menggeser kaki kanannya ke belakang, memiringka
Begitu kegaduhan di aula Griya Husada mereda, lutut Isvara mendadak lemas. Pandangan matanya sempat mengabur, dan ia hampir saja terjatuh jika tidak segera menumpukan tangannya di atas meja obat. "Putri!"Bibi Sumi dan Ratih segera berlari menyongsong junjungan mereka. Dengan cekatan, kedua wanita itu membantu sang Putri agar tetap berdiri tegak."Putri Mahkota... demi Dewata, apa Anda terluka? Di bagian mana yang sakit?" tanya Bibi Sumi cemas. Matanya memeriksa setiap jengkal gaun Isvara yang kotor.Isvara menggelengkan kepalanya lemah. "Hanya luka gores kecil di pipi akibat sabetan pedang Candrani tadi. Selebihnya, aku hanya merasa sangat lelah.""Mari, Putri... mari kami bantu Anda untuk berbaring," Ratih menyela dengan mata berkaca-kaca.Bersama Bibi Sumi, Ratih menuntun langkah Isvara dengan sangat hati-hati menuju ke bilik khusus keluarga raja. Mereka merebahkan tubuh Isvara di atas dipan berlapis kasur yang empuk.Kepala Tabib istana bergegas masuk ke dalam bilik. Di tangannya
Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak."Ratih, masuklah!" teriak Isvara.Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat
Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, p
Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul
Suasana di dalam kamar terasa kian menegangkan. Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samud







