分享

Benci Tapi Rindu

作者: Risca Amelia
last update publish date: 2026-05-08 21:10:39

Sejenak, Isvara mengamati sosok pria di atas kursi kemudi yang tampak menyatu dengan kegelapan malam. Hampir seluruh wajahnya tertutupi, hanya menyisakan sepasang mata yang berkilat di bawah cahaya bulan.

"Terima kasih karena kau bersedia datang, Kusala," sapa Isvara dengan nada hangat

Pria itu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Mengingat isi surat balasan dari Kusala, Isvara pun tidak mengharapkan pria itu membuka suara.

"Aku naik ke kereta sekarang. Kita harus segera berangkat ke Kuil S
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (2)
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
rudha masih aja jadi kulkas 4 pintu
goodnovel comment avatar
rasha
sampul nya ganti ya
查看全部評論

最新章節

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Kuserahkan Semua Untukmu

    Masa Wulan Sukci membuat Isvara terkurung dalam rutinitas yang membosankan.Paviliunnya yang megah mendadak terasa seperti sangkar emas. Ia dilarang keluar, dilarang bertemu siapa pun, kecuali para pelayan.Hari pertama pingitan dihabiskan dengan pelajaran yang membuatnya terus menguap. Gayatri duduk di hadapannya dengan tumpukan lontar kuno."Putri harus belajar menyelaraskan diri dengan kebiasaan suami," suara Gayatri terdengar monoton, mengalun di ruangan yang dipenuhi aroma kemenyan. "Untuk malam pertama, Putri harus paham bahwa tubuh seorang istri merupakan altar bagi persatuan dua jiwa. Kewajiban awal adalah ketundukan dan kesiapan untuk menjadi sandaran bagi suami.”Isvara menguap lebar, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik kipas sutra. Mungkinkah Rudra juga sedang mendengarkan pelajaran yang membosankan seperti ini di sana? Usai mendengarkan pelajaran, Isvara harus berdoa tiga jam lamanya sambil bersimpuh. Dan, yang paling membuatnya tersiksa adalah ia tidak boleh makan

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Senjata untuk Memisahkan Mereka

    Usai pembacaan dekrit berakhir, para pembesar istana dan tamu agung meninggalkan Balairung satu per satu. Rudra sempat berusaha mendekati calon istrinya. Langkah kakinya yang panjang memotong jalur saat Isvara hendak keluar didampingi para dayang.Akan tetapi, Dhyaka Praba muncul bak bayangan, menghalangi jalan sang Jenderal dengan tangan yang terangkat."Maaf, Jenderal. Atas titah Baginda, tidak ada seorang pun yang boleh mendekati Putri Mahkota selama Wulan Sukci. Hamba bertugas mengantar Anda menuju kediaman keluarga Adhiyaksa, untuk memulai ritual penyucian calon pengantin."Rudra terhenti. Tatapannya tertuju lurus pada Isvara, tetapi ia hanya bisa memberikan anggukan hormat sebelum berbalik mengikuti Dhyaka Praba.Isvara hanya bisa memandangi punggung pria itu sampai menghilang di balik pilar-pilar istana.“Bibi, memangnya apa saja yang akan dilakukan oleh calon pengantin selama Wulan Sukci?” bisik Isvara kepada Bi Sumi.Pengasuh Isvara itu membalas dengan senyuman tipis. “Putri

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Pengantin Pria Pilihan Putri

    Fajar menyingsing di ufuk timur Mahipura, tetapi Balairung Agung sudah lebih dulu berdenyut dengan ketegangan.Para pejabat istana, bangsawan tinggi, hingga utusan tinggi dari kerajaan tetangga berkumpul dalam diam. Ruangan itu penuh, tetapi hampir sunyi. Sebuah keheningan yang lahir dari ketidaktahuan akan apa yang akan mengubah nasib Mahipura dalam hitungan menit.Di barisan depan, Putri Candrani duduk sambil meremas ujung selendang. Sementara, Selir Padmavati duduk tegak bagai patung, matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan. Ia berusaha mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan. Perdana Menteri Samaratungga hadir di sana. Wajahnya gelap tanpa kehadiran sang putra, Vajra, yang entah disembunyikan di mana setelah peristiwa semalam.Di sisi lain, Pendeta Agung Samudra dan Hakim Agung Kaliyan duduk berdampingan. Keduanya menampilkan ekspresi datar yang tak terbaca.Isvara melangkah masuk ke dalam Balairung. Langkahnya tenang, gaun magenta yang ia kenakan menjuntai panjang, m

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Datanglah Besok Pagi

    Perasaan Isvara terasa jauh lebih ringan saat ia berjalan menuju Balairung. Kali ini, ia menggandeng lengan Baginda Raja Mahasena dengan tenang. Di depan ratusan mata yang masih berada di Balairung, Raja berdiri di atas panggung kehormatan. Suaranya bergema, memenuhi setiap sudut aula yang megah. "Para pembesar istana, para utusan kerajaan dan tamu kehormatan. Hari ini, sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan Putri Mahkota, aku telah mengabulkan permohonannya. Dekrit resmi akan disampaikan besok pagi, di hadapan seluruh jajaran istana."Suasana mendadak riuh dengan berbagai spekulasi. Ada yang bertanya-tanya, ada yang berbisik ketakutan, ada pula yang mencuri pandang ke arah Isvara. Setelah pengumuman singkat itu, Raja mengizinkan para tamu untuk melanjutkan perayaan atau beristirahat di paviliun tamu.Di kursinya, Selir Padmavati mematung seperti baru saja melihat tanda kiamat. Ia menatap ke arah kursi roda Vajra yang kini kosong melompong. Perdana Menteri Samaratungga telah m

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Keputusan Telah Diambil

    Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu ruang kerja terbuka, dan masuklah tiga pria muda yang paling dihormati di Mahipura. Awalnya, Tiga Tiang Dharma tampak tenang. Namun, saat melihat Isvara duduk di samping Raja, getaran ketegangan mulai merayap.Vajra, dengan kursi rodanya, memimpin dengan pandangan penuh curiga. Sementara itu, Samudra dan Kaliyan memilih untuk diam, berusaha membaca arah angin yang dibawa sang Putri Mahkota. Begitu pintu ditutup, cahaya lampu minyak yang berpendar menyorot wajah-wajah yang kini saling beradu pandang.Ketiganya berhenti tepat di tengah ruangan, lalu melakukan sembah sujud."Hamba menghadap, Baginda Raja. Hamba menghadap, Putri Mahkota," ucap mereka serempak.Baginda Raja Mahasena membalas salam mereka dengan anggukan kaku. Ia duduk di belakang meja jati, tangannya terlipat di balik jubah. "Aku mengundang kalian karena ada masalah penting yang harus dibicarakan,” tutur sang raja memulai. “Seperti yang kalian ketahui,

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Hanya Mau Satu Suami

    Selama beberapa saat, pertanyaan yang dilontarkan Baginda Raja menggantung tanpa jawaban. Membuat semua yang hadir di Balairung semakin penasaran.Meski demikian, tak ada yang berani bersuara atau sekadar berbisik untuk menebak permintaan sang Putri Mahkota.Tak ingin ketidakpastian berlangsung lebih lama, Isvara berdiri di tengah ruangan. Kostum Merak Langit yang ia kenakan masih berkilau gemerlap. Sayap dan ekornya menyapu lantai dengan suara gemerincing. Ia bersimpuh di hadapan singgasana, kepala merak pada mahkotanya tertunduk rendah."Ayahanda," suara Isvara memecah keheningan. "permintaanku berkaitan dengan masa depan Mahipura. Mohon pembicaraan ini dilakukan secara empat mata di ruang pribadi.”Baginda Raja menatap putrinya sejenak. Ia melihat sosok seorang calon pemimpin yang telah mantap dengan keputusan hatinya.Raja mengangguk pelan. "Permohonanmu aku kabulkan, Putriku."Tanpa ragu, Raja Mahasena kemudian berpaling ke arah para dayang dan Dhyaka yang berjaga di seluruh sud

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status