登入Masa Wulan Sukci membuat Isvara terkurung dalam rutinitas yang membosankan.Paviliunnya yang megah mendadak terasa seperti sangkar emas. Ia dilarang keluar, dilarang bertemu siapa pun, kecuali para pelayan.Hari pertama pingitan dihabiskan dengan pelajaran yang membuatnya terus menguap. Gayatri duduk di hadapannya dengan tumpukan lontar kuno."Putri harus belajar menyelaraskan diri dengan kebiasaan suami," suara Gayatri terdengar monoton, mengalun di ruangan yang dipenuhi aroma kemenyan. "Untuk malam pertama, Putri harus paham bahwa tubuh seorang istri merupakan altar bagi persatuan dua jiwa. Kewajiban awal adalah ketundukan dan kesiapan untuk menjadi sandaran bagi suami.”Isvara menguap lebar, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik kipas sutra. Mungkinkah Rudra juga sedang mendengarkan pelajaran yang membosankan seperti ini di sana? Usai mendengarkan pelajaran, Isvara harus berdoa tiga jam lamanya sambil bersimpuh. Dan, yang paling membuatnya tersiksa adalah ia tidak boleh makan
Usai pembacaan dekrit berakhir, para pembesar istana dan tamu agung meninggalkan Balairung satu per satu. Rudra sempat berusaha mendekati calon istrinya. Langkah kakinya yang panjang memotong jalur saat Isvara hendak keluar didampingi para dayang.Akan tetapi, Dhyaka Praba muncul bak bayangan, menghalangi jalan sang Jenderal dengan tangan yang terangkat."Maaf, Jenderal. Atas titah Baginda, tidak ada seorang pun yang boleh mendekati Putri Mahkota selama Wulan Sukci. Hamba bertugas mengantar Anda menuju kediaman keluarga Adhiyaksa, untuk memulai ritual penyucian calon pengantin."Rudra terhenti. Tatapannya tertuju lurus pada Isvara, tetapi ia hanya bisa memberikan anggukan hormat sebelum berbalik mengikuti Dhyaka Praba.Isvara hanya bisa memandangi punggung pria itu sampai menghilang di balik pilar-pilar istana.“Bibi, memangnya apa saja yang akan dilakukan oleh calon pengantin selama Wulan Sukci?” bisik Isvara kepada Bi Sumi.Pengasuh Isvara itu membalas dengan senyuman tipis. “Putri
Fajar menyingsing di ufuk timur Mahipura, tetapi Balairung Agung sudah lebih dulu berdenyut dengan ketegangan.Para pejabat istana, bangsawan tinggi, hingga utusan tinggi dari kerajaan tetangga berkumpul dalam diam. Ruangan itu penuh, tetapi hampir sunyi. Sebuah keheningan yang lahir dari ketidaktahuan akan apa yang akan mengubah nasib Mahipura dalam hitungan menit.Di barisan depan, Putri Candrani duduk sambil meremas ujung selendang. Sementara, Selir Padmavati duduk tegak bagai patung, matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan. Ia berusaha mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan. Perdana Menteri Samaratungga hadir di sana. Wajahnya gelap tanpa kehadiran sang putra, Vajra, yang entah disembunyikan di mana setelah peristiwa semalam.Di sisi lain, Pendeta Agung Samudra dan Hakim Agung Kaliyan duduk berdampingan. Keduanya menampilkan ekspresi datar yang tak terbaca.Isvara melangkah masuk ke dalam Balairung. Langkahnya tenang, gaun magenta yang ia kenakan menjuntai panjang, m
Perasaan Isvara terasa jauh lebih ringan saat ia berjalan menuju Balairung. Kali ini, ia menggandeng lengan Baginda Raja Mahasena dengan tenang. Di depan ratusan mata yang masih berada di Balairung, Raja berdiri di atas panggung kehormatan. Suaranya bergema, memenuhi setiap sudut aula yang megah. "Para pembesar istana, para utusan kerajaan dan tamu kehormatan. Hari ini, sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan Putri Mahkota, aku telah mengabulkan permohonannya. Dekrit resmi akan disampaikan besok pagi, di hadapan seluruh jajaran istana."Suasana mendadak riuh dengan berbagai spekulasi. Ada yang bertanya-tanya, ada yang berbisik ketakutan, ada pula yang mencuri pandang ke arah Isvara. Setelah pengumuman singkat itu, Raja mengizinkan para tamu untuk melanjutkan perayaan atau beristirahat di paviliun tamu.Di kursinya, Selir Padmavati mematung seperti baru saja melihat tanda kiamat. Ia menatap ke arah kursi roda Vajra yang kini kosong melompong. Perdana Menteri Samaratungga telah m
Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu ruang kerja terbuka, dan masuklah tiga pria muda yang paling dihormati di Mahipura. Awalnya, Tiga Tiang Dharma tampak tenang. Namun, saat melihat Isvara duduk di samping Raja, getaran ketegangan mulai merayap.Vajra, dengan kursi rodanya, memimpin dengan pandangan penuh curiga. Sementara itu, Samudra dan Kaliyan memilih untuk diam, berusaha membaca arah angin yang dibawa sang Putri Mahkota. Begitu pintu ditutup, cahaya lampu minyak yang berpendar menyorot wajah-wajah yang kini saling beradu pandang.Ketiganya berhenti tepat di tengah ruangan, lalu melakukan sembah sujud."Hamba menghadap, Baginda Raja. Hamba menghadap, Putri Mahkota," ucap mereka serempak.Baginda Raja Mahasena membalas salam mereka dengan anggukan kaku. Ia duduk di belakang meja jati, tangannya terlipat di balik jubah. "Aku mengundang kalian karena ada masalah penting yang harus dibicarakan,” tutur sang raja memulai. “Seperti yang kalian ketahui,
Selama beberapa saat, pertanyaan yang dilontarkan Baginda Raja menggantung tanpa jawaban. Membuat semua yang hadir di Balairung semakin penasaran.Meski demikian, tak ada yang berani bersuara atau sekadar berbisik untuk menebak permintaan sang Putri Mahkota.Tak ingin ketidakpastian berlangsung lebih lama, Isvara berdiri di tengah ruangan. Kostum Merak Langit yang ia kenakan masih berkilau gemerlap. Sayap dan ekornya menyapu lantai dengan suara gemerincing. Ia bersimpuh di hadapan singgasana, kepala merak pada mahkotanya tertunduk rendah."Ayahanda," suara Isvara memecah keheningan. "permintaanku berkaitan dengan masa depan Mahipura. Mohon pembicaraan ini dilakukan secara empat mata di ruang pribadi.”Baginda Raja menatap putrinya sejenak. Ia melihat sosok seorang calon pemimpin yang telah mantap dengan keputusan hatinya.Raja mengangguk pelan. "Permohonanmu aku kabulkan, Putriku."Tanpa ragu, Raja Mahasena kemudian berpaling ke arah para dayang dan Dhyaka yang berjaga di seluruh sud







