Share

Melepaskan Cinta Palsu

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-01-28 23:58:29

Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”

Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul mereka. Ia justru mendekat sambil menatap Isvara dengan mata berkaca-kaca.

"Kakak... aku sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Candrani dengan suara bergetar. “Semua benda berharga ini adalah simbol cinta Tiga Tiang Darma padamu. Kau yang harus menyimpannya, Kak."

Tutur kata Candrani yang begitu lemah lembut membuat Isvara melangkah maju. Niatnya hanya ingin meyakinkan Candrani bahwa ia rela menyerahkan tiga pria menyebalkan itu.

Akan tetapi, begitu ia mengulurkan tangan, Vajra dan Kaliyan langsung bergerak secepat kilat. Mereka menarik mundur tubuh Candrani, menyembunyikan sang putri di belakang punggung. Seolah, Isvara adalah monster yang hendak mencabik-cabik adiknya tanpa belas kasihan.

Sementara itu, Samudra bergegas maju menghalangi jalan Isvara. Ia berdiri kokoh sebagai tameng hidup. 

"Tuan Putri, Anda baru saja sembuh dari pengaruh racun. Emosi Anda mungkin belum stabil,” tegas Samudra sambil membungkuk hormat. “Tolong, jangan melukai Putri Candrani."

Melihat reaksi berlebihan ketiga pria ini, Isvara mendengus kesal. Ternyata sebegitu rendahnya mereka menilai karakter Isvara yang asli. 

Memang berdasarkan cerita, Isvara adalah wanita yang keras kepala, egois, dan sering meledak-ledak. Namun, tetap saja secara hukum dan adat, mereka adalah calon suami Isvara. Tugas utama mereka adalah melindungi sang Putri Mahkota, bukan malah membentengi wanita lain di depan mata tunangan mereka. 

Namun, alih-alih tersinggung atau berteriak marah, Isvara justru menyunggingkan senyum miring. Ia tampak tidak terganggu sama sekali oleh prasangka buruk para pria.

"Pendeta Agung Samudra, Anda terlalu berpikiran sempit," Isvara memulai dengan mengubah panggilannya terhadap Samudra.

“Siapa bilang aku mau menyakiti adikku tersayang?"

Dengan langkah elegan dan pasti, Isvara mengulurkan tangan. Tanpa ragu, ia menyingkirkan bahu kokoh Samudra ke samping. 

Pria itu tersentak, tidak menyangka akan disentuh secara fisik oleh Isvara.

Belum sempat Samudra pulih dari keterkejutan, Isvara bergerak menyingkirkan Vajra serta Kaliyan. Satu ke kiri dan satu ke kanan, hingga terbuka jalan baginya untuk menyentuh sang adik.

Candrani mendadak gemetar hebat saat Isvara berdiri tepat di depannya. Ia menutup matanya, bersiap menerima tamparan atau jambakan kasar.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Isvara mengelus lengan Candrani dengan usapan yang sangat lembut.

"Candrani, mulai sekarang jangan takut padaku," bisik Isvara, cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu.

"Aku memberikan hadiah-hadiah ini padamu dengan tulus. Terimalah sebagai bentuk persaudaraan kita."

Isvara menjeda kalimatnya, lalu menatap ketiga pria di hadapannya silih berganti. "Aku tidak keberatan kau akrab dengan ketiga calon suamiku," ia memberikan penekanan tajam pada kata tersebut. 

"Aku percaya pada kesetiaan kalian. Lagi pula, sebagai calon pewaris takhta Mahipura, bukankah aku harus lebih banyak belajar sastra dan tata negara? Urusan cinta hanya membuang waktuku yang berharga.”

Rahang Kaliyan mengeras, sementara Vajra tampak kehilangan kata-kata. Isvara baru saja menurunkan derajat mereka dari "prioritas hidup" menjadi sekadar "urusan cinta" yang tidak sepenting takhta.

"Sekarang pergilah ke kamarmu, Candrani. Simpan hadiah ini baik-baik. Jangan merasa bersalah lagi," tukas Isvara mengakhiri pembicaraannya.

Enggan memperpanjang perdebatan, Isvara membalikkan punggung dan menoleh ke arah para dayang. Ia mengabaikan tatapan tak percaya dari ketiga Tiang Darma. 

“Ratih, siapkan perlengkapan mandiku. Aku mau membersihkan diri."

Isvara melangkah menuju pintu, tetapi sebelum melewatinya, ia berhenti sejenak. 

"Bi Sumi, antar para tamu terhormat ini keluar dari Paviliun Padma. Tidak baik kalau mereka masih bersikeras di kamarku sementara aku tidak ada. Kalau ada barang-barang yang hilang di sini, bagaimana?"

Perkataan Isvara bak tamparan keras bagi Samudra, Vajra, dan Kalitan. Secara tidak langsung, Isvara telah menyebut mereka sebagai pencuri potensial, atau setidaknya orang asing yang tak diinginkan kehadirannya.

Sementara, Isvara berjalan santai diiringi oleh Ratih yang membawa baki perlengkapan mandi. Dalam hati, ia merasa sangat gembira karena berhasil membalas perlakuan buruk ketiga calon suaminya. Kini, tinggal mencari cara bagaimana agar dia bisa lolos dari upacara pengusiran roh jahat.

Setelah melangkah cukup jauh dari kamar, Isvara menoleh ke arah dayang setianya.

"Ratih, tolong tunjukkan jalan ke Pemandian Santi Purana."

Ratih terbelalak, takut salah mendengar ucapan sang putri. "Santi Purana, Tuan Putri? Pemandian itu sudah jarang digunakan. Biasanya Anda lebih suka ke pemandian Tirta Kencana.”

Isvara berdeham pelan, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Kepalaku masih sedikit pusing karena racun tadi. Aku hanya ingin suasana yang lebih tenang dan sepi."

Meski raut heran masih tertinggal di wajahnya, Ratih segera mengangguk patuh. Ia memandu di depan sebagai penunjuk jalan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di Santi Purana, area pemandian yang paling sederhana dan jarang digunakan di istana. Ruangannya terlindung oleh pilar-pilar batu basal hitam yang diukir dengan relief dewa-dewi. Airnya berasal dari mata air pegunungan yang dialirkan melalui mulut patung ikan.

Ratih dengan cekatan mulai mempersiapkan air pemandian. Ia menaburkan kelopak bunga mawar, melati, dan kenanga ke atas permukaan air yang hangat suam-suam kuku. Lalu, ia menuangkan cawan kecil berisi perasan sari akar wangi dan cendana putih, yang dipercaya bisa membuang energi negatif. 

"Tuan Putri, silakan masuk. Hamba akan menunggu di balik tirai," ucap Ratih dengan sopan sebelum mengundurkan diri.

Isvara perlahan melepaskan pakaiannya yang terasa berat. Saat kulitnya menyentuh air hangat, ia mendesah lega. 

Ini adalah pertama kalinya Isvara merasakan kemewahan luar biasa sebagai putri zaman kuno. Di dunia asalnya, mandi hanyalah rutinitas cepat sebelum ia bergegas ke ruang operasi.

Sembari menghela napas panjang, Isvara membiarkan tubuhnya tenggelam hingga sebatas bahu. Saraf-sarafnya yang tegang perlahan mulai rileks. 

Akan tetapi, saat ia mengambil air untuk membasuh wajah, Isvara tiba-tiba menyentuh bibirnya sendiri. Ia memejamkan mata, teringat bagaimana tatapan dingin Rudra berubah menjadi keterkejutan saat bibir mereka menyatu. 

Sungguh gila. Baru saja masuk ke dunia novel, ia sudah melakukan perbuatan yang sangat memalukan.

Isvara mencoba menggali lebih dalam tentang sosok Jenderal tersebut. Dalam kisah asli, Rudra Adhiyaksa bukanlah salah satu dari protagonis pria. Namun, namanya selalu muncul dengan aura yang menggetarkan. 

Rudra adalah pemimpin yang tidak pernah kalah, pria yang martabatnya setinggi gunung dan hatinya sedingin es. Karenanya, ia mendapat julukan sebagai “Dewa Perang Mahipura.”

Seluruh istana tahu betapa Rudra sangat membenci Isvara, walaupun mereka adalah teman masa kecil.

Anehnya, ketika Putri Isvara yang asli dijatuhi hukuman mati, Rudra langsung melepaskan jabatannya sebagai Jenderal. Pria itu memilih hidup sebagai rakyat jelata di pengasingan. 

Bahkan, ketika Candrani naik takhta dan menawarinya menjadi suami keempat, Rudra menolak mentah-mentah. Ia justru memohon satu permintaan terakhir pada Sang Ratu : mengizinkannya memakamkan Isvara dengan layak. 

“Kenapa pria yang sangat membenciku rela mengorbankan karier gemilangnya setelah aku mati?” gumam Isvara seraya menatap kelopak bunga yang mengambang di air.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Pertaruhan Nyawa

    Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak."Ratih, masuklah!" teriak Isvara.Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia langsung sujud menyembah di kaki Isvara dengan tubuh gemetaran Dalam ingatan Ratih, Isvara biasanya akan murka jika ia lalai. Kerap kali ia dihukum dengan pukulan rotan, hingga telapak tangannya membiru."Ampun, Tuan Putri! Hamba mohon ampun! Hamba tadi ketiduran sehingga tidak tahu kalau Jenderal masuk... Hamba pantas dihukum!" isaknya ketakutan.Di luar dugaan, sebuah tangan lembut memegang pundaknya. "Bangunlah, Ratih. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti sangat kelelahan hari ini," ucap Isvara tenang.Ratih tertegun, menatap junjungannya itu dengan mata mengerjap heran. "Tuan Putri... Anda tidak marah?""Tidak. Sekarang, tolong ikatkan selendang ini di pinggangku. Lalu, antar aku

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Mempelai Pria Pengganti

    Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, pernikahan itu adalah awal dari segala bencana.Ia akan menjadi istri yang diabaikan, hingga akhirnya menjadi gelap mata dan mencoba meracuni Candrani. Namun, secara tak sengaja ia justru melenyapkan nyawa Sang Baginda Raja. "Pernikahan itu harus dibatalkan," Isvara mengepalkan tangannya di bawah air. "Aku harus menghindar, meski itu artinya aku akan meninggalkan istana ini selamanya."Kali ini, Isvara berpikir cukup lama. Dia adalah seorang Putri Mahkota yang dijaga ketat, pastinya tidak akan mudah untuk melarikan diri. Di sisi lain, bila dia menolak pernikahan politik secara terang-terangan, ayahnya pasti akan murka. Kecuali, ia bisa menemukan calon mempelai pria pengganti yang setara den

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Melepaskan Cinta Palsu

    Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul mereka. Ia justru mendekat sambil menatap Isvara dengan mata berkaca-kaca."Kakak... aku sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Candrani dengan suara bergetar. “Semua benda berharga ini adalah simbol cinta Tiga Tiang Darma padamu. Kau yang harus menyimpannya, Kak."Tutur kata Candrani yang begitu lemah lembut membuat Isvara melangkah maju. Niatnya hanya ingin meyakinkan Candrani bahwa ia rela menyerahkan tiga pria menyebalkan itu.Akan tetapi, begitu ia mengulurkan tangan, Vajra dan Kaliyan langsung bergerak secepat kilat. Mereka menarik mundur tubuh Candrani, menyembunyikan sang putri di belakang punggung. Seolah, Isvara adalah monster yang hendak mencabik-cabik adiknya tanpa belas kasihan.

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tantangan dari Sang Putri

    Suasana di dalam kamar terasa kian menegangkan. Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samudra adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum bangsawan, apalagi bagi seorang Putri Mahkota. Namun, Isvara justru menangkap bola panas itu dengan keberanian yang tak terduga.Ia tahu Samudra selalu merasa punya hak untuk mendidiknya, sebab ia dibesarkan oleh mendiang Ratu Ayudya, ibu kandung Isvara sendiri. Dengan kata lain, Samudra adalah kakak angkatnya. "Upacara pengusiran roh jahat?" Isvara mengulang kata-kata itu dengan nada yang terdengar menyerupai tawa kecil. "Tantangan yang menarik, Kak Samudra. Tapi, sebuah upacara tanpa pertaruhan akan menjadi pertunjukan membosankan. Mari kita buat ini menjadi lebih menarik."Kaliyan, sang Hakim Agung, menyipitkan mata. Sifat kaku dan logisnya te

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tiga Tiang Dharma

    Urat-urat di leher pria itu berdenyut seiring dengan amarah yang tertahan. Isvara semakin was-was. Nalar dokternya berteriak bahwa ia baru saja memicu ledakan dari seorang pria yang sangat berbahaya.Dengan susah payah, Isvara mencoba membuka mulutnya yang kering. “Lupakan... aku tidak—"Sebelum kalimat Isvara selesai, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu.Lekas saja pria itu menghempaskan tangan Isvara yang menahan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar.Tepat setelah itu, dua orang wanita menghambur masuk. Mereka mengenakan kemben kain sutra berwarna marun yang membebat dada dengan rapi, dipadukan dengan kain lilit bermotif bunga.Wanita yang lebih tua, berusia sekitar empat puluh tahun, langsung memegangi pundak Isvara dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, seorang gadis muda terisak kecil."Tuan Putri Mahkota, Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu. "Syukurlah Jenderal Rudra sedang lewat dan mendengar keributan

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Berpindah ke Tubuh Antagonis

    Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status