Share

Pertaruhan Nyawa

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-01-29 01:36:13

Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak.

"Ratih, masuklah!" teriak Isvara.

Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia langsung sujud menyembah di kaki Isvara dengan tubuh gemetaran 

Dalam ingatan Ratih, Isvara biasanya akan murka jika ia lalai. Kerap kali ia dihukum dengan pukulan rotan, hingga telapak tangannya membiru.

"Ampun, Tuan Putri! Hamba mohon ampun! Hamba tadi ketiduran sehingga tidak tahu kalau Jenderal masuk... Hamba pantas dihukum!" isaknya ketakutan.

Di luar dugaan, sebuah tangan lembut memegang pundaknya. "Bangunlah, Ratih. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti sangat kelelahan hari ini," ucap Isvara tenang.

Ratih tertegun, menatap junjungannya itu dengan mata mengerjap heran. "Tuan Putri... Anda tidak marah?"

"Tidak. Sekarang, tolong ikatkan selendang ini di pinggangku. Lalu, antar aku keluar," perintah Isvara dengan nada bersahabat.

Setelah busananya rapi, Isvara melangkah keluar tirai. Rudra ternyata masih berdiri di depan pintu masuk pemandian, membelakanginya dengan posisi tegak. 

"Anda sudah selesai, Tuan Putri. Hamba mohon diri untuk melanjutkan penyelidikan,” ujar Rudra hendak berjalan pergi.

"Tunggu, Jenderal!"

Isvara bergerak cepat dan memegang lengan pria itu. “Bawa aku melihat jenazah Kepala Tabib Seto. Aku perlu memeriksa lukanya dan mencari sidik si pembunuh."

Mata Rudra terbelalak. Ia berbalik dan menatap Isvara, seolah wanita itu baru saja bicara dalam bahasa asing.

"Untuk apa Anda melakukan itu? Anda bahkan tidak tahu caranya memeriksa mayat, Tuan Putri.”

"Aku tahu lebih banyak dari yang kau duga,” balas Isvara tajam.

Tepat saat itu, dua prajurit datang menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh. Wajah mereka penuh peluh.

"Lapor, Tuan Jenderal. Ada masalah besar di Griya Husada,” lapor salah satu prajurit. 

"Seorang dayang istana sedang menderita kesakitan luar biasa. Kami curiga pembunuh Tabib Seto juga ingin mencelakainya, karena dia adalah saksi terakhir yang bicara dengan Tabib sebelum kejadian."

Mendengar itu, Rudra tidak membuang waktu. Lekas saja, ia berjalan dengan pandangan lurus ke depan.

"Pimpin jalan ke Griya Husada!" teriaknya. 

Isvara, didorong oleh insting dokternya, ikut menyusul di belakang mereka, mengabaikan teriakan Ratih yang memintanya untuk pelan-pelan.

Setiba di Griya Husada, suasana sangat kacau. Di atas sebuah bale-bale bambu, seorang dayang muda tampak menggelepar kesakitan. Tangannya mencengkeram perut bagian kanan bawah, wajahnya sepucat kertas dan bermandikan keringat dingin.

Rudra bergegas menghampiri empat orang tabib istana yang berdiri di sana dengan wajah bingung. "Dia kenapa? Apa dia diracun?" tanya Rudra tegas.

"Ususnya mengalami gangguan, Tuan Jenderal," jawab salah satu tabib tua dengan tangan gemetar. 

"Entah racun apa, kami belum tahu. Kami sudah memberinya ramuan penawar dan obat penenang, tapi dia masih kesakitan. Suhu tubuhnya terus naik dan perutnya sangat keras saat ditekan."

Mendengar gejala yang dialami sang dayang, Isvara langsung merangsek maju. Ia menyibak kerumunan, membuat semua orang terkejut, termasuk Rudra. 

Tanpa ragu, Isvara memegang denyut nadi perempuan muda itu, lalu menekan titik tertentu di perut kanan bawah. Spontan, dayang itu menjerit kesakitan.

"Apa yang Anda lakukan, Tuan Putri?! Anda mau mencelakainya?" tukas Rudra sambil mencoba menarik tangan Isvara.

Namun, Isvara tidak bergeming. Ia justru menoleh pada para tabib dengan tatapan dingin dan profesional. 

"Dayang ini menderita Apendisitis Akut, peradangan hebat pada umbai cacingnya. Dia tidak akan sembuh dengan ramuan atau obat-obatan kalian."

Para tabib itu saling pandang dengan bingung. "A-apa? Penyakit apa yang Anda maksud, Tuan Putri? Kami tidak mengerti istilah itu."

Isvara menarik napas panjang, mencoba menjelaskan dengan istilah sederhana yang bisa mereka cerna. 

"Ada bagian kecil dari ususnya yang membusuk dan meradang di dalam sana. Jika dibiarkan, bagian itu akan pecah dan nanahnya menyebar ke seluruh rongga perut. Dia akan mati dalam hitungan jam."

"Lalu apa penawarnya, Putri?" tanya Rudra, mulai merasakan otoritas yang berbeda dari suara Isvara.

"Satu-satunya jalan menyelamatkannya adalah dengan pembedahan apendiks" tegas Isvara.

"Aku harus membelah perutnya, memotong bagian usus yang busuk itu, kemudian menjahitnya kembali."

Mendengar penjelasan Isvara, salah satu tabib memberanikan diri melangkah maju. Ia menghalangi akses Isvara ke arah dayang yang sedang merintih. 

"Ampun, Tuan Putri, hamba mohon sadarlah. Membelah perut berarti menghilangkan nyawa secara sengaja. Itu melanggar aturan suci istana dan hukum alam!"

Tabib lainnya menyusul dengan posisi menyembah, suaranya parau penuh permohonan. "Ampun, Tuan Putri... Anda bukan seorang tabib. Anda tidak mengerti rumitnya ilmu pengobatan. Lebih baik serahkan ini pada kami,” tuturnya ketakutan. 

“Kami akan memeriksa ulang nadi dayang ini dan meracik obat lain yang lebih kuat. Mohon, kembalilah ke paviliun Anda."

Alih-alih menarik ucapannya, Isvara malah menatap para tabib itu dengan sorot tajam. Sebagai dokter bedah yang sudah ratusan kali mengoperasi pasien, ia tidak punya waktu untuk birokrasi kuno, saat nyawa seseorang sedang di ujung tanduk.

"Obat kalian tidak akan menembus dinding usus yang sudah bernanah!" bentak Isvara. Ia berpaling pada Ratih yang berdiri mematung di sudut ruangan. 

"Ratih! Cari pisau belati yang paling tipis dan tajam, beberapa helai benang sutra, jarum jahit yang halus, dan satu botol besar tuak atau arak yang paling keras! Sekarang!"

Ratih tampak bimbang. Kakinya hendak melangkah tetapi Rudra segera bergerak untuk menghadang jalannya.

"Jangan lakukan," cegah Rudra penuh otoritas. "Bawa saja Tuan Putri Mahkota ke Paviliun Padma untuk istirahat. Kondisinya masih lemah.”

Melihat situasi yang semakin runyam, Isvara tidak tinggal diam. Dalam hitungan jam, apendiks dayang itu akan pecah bila ia tidak segera bertindak.

Tanpa diduga oleh siapapun, Isvara nekat merangsek maju. Ia melakukan gerakan yang sangat tidak pantas bagi seorang putri mahkota, yaitu merangkul pinggang Rudra dengan erat.

Semua orang di Griya Husada terkesiap. Ratih menutup mulutnya dengan tangan, sementara para tabib nyaris jatuh pingsan melihat pemandangan memalukan tersebut. Tak ada yang mengira itu hanyalah taktik. 

Rudra sendiri mematung. Napasnya tertahan saat merasakan kehangatan tubuh Isvara yang beraroma bunga. Ia tidak sadar tangan Isvara telah bergerak secepat kilat. 

Dengan keterampilan motorik seorang ahli bedah, Isvara menarik keluar pedang dari sarung yang tergantung di pinggang Rudra.

"Tuan Putri, lepaskan pedangnya!" teriak Rudra, refleks hendak merebut kembali senjatanya.

Namun Isvara sudah menarik diri. Sambil mundur beberapa langkah, ia menempelkan mata pedang yang dingin dan tajam itu tepat ke lehernya sendiri.

"Sadarlah, Tuan Putri! Apa Anda masih belum jera melukai diri sendiri?” hardik Rudra, merasa cemas sekaligus frustrasi. 

Isvara menatap Rudra dengan mata yang berkilat penuh tekad. Sedikit saja ia menggerakkan tangan, nadi lehernya akan terputus.

"Aku akan mengembalikan pedangmu, Jenderal. Asalkan kau dan para tabib ini tidak menghalangiku melakukan tindakan pembedahan," ancam Isvara dengan suara tenang yang mengerikan. 

"Nyawa dayang itu adalah tanggung jawabku sekarang. Jika kau memilih untuk menghentikanku, maka kau akan melihat darah Putri Mahkota membasahi lantai ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Pertaruhan Nyawa

    Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak."Ratih, masuklah!" teriak Isvara.Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia langsung sujud menyembah di kaki Isvara dengan tubuh gemetaran Dalam ingatan Ratih, Isvara biasanya akan murka jika ia lalai. Kerap kali ia dihukum dengan pukulan rotan, hingga telapak tangannya membiru."Ampun, Tuan Putri! Hamba mohon ampun! Hamba tadi ketiduran sehingga tidak tahu kalau Jenderal masuk... Hamba pantas dihukum!" isaknya ketakutan.Di luar dugaan, sebuah tangan lembut memegang pundaknya. "Bangunlah, Ratih. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti sangat kelelahan hari ini," ucap Isvara tenang.Ratih tertegun, menatap junjungannya itu dengan mata mengerjap heran. "Tuan Putri... Anda tidak marah?""Tidak. Sekarang, tolong ikatkan selendang ini di pinggangku. Lalu, antar aku

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Mempelai Pria Pengganti

    Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, pernikahan itu adalah awal dari segala bencana.Ia akan menjadi istri yang diabaikan, hingga akhirnya menjadi gelap mata dan mencoba meracuni Candrani. Namun, secara tak sengaja ia justru melenyapkan nyawa Sang Baginda Raja. "Pernikahan itu harus dibatalkan," Isvara mengepalkan tangannya di bawah air. "Aku harus menghindar, meski itu artinya aku akan meninggalkan istana ini selamanya."Kali ini, Isvara berpikir cukup lama. Dia adalah seorang Putri Mahkota yang dijaga ketat, pastinya tidak akan mudah untuk melarikan diri. Di sisi lain, bila dia menolak pernikahan politik secara terang-terangan, ayahnya pasti akan murka. Kecuali, ia bisa menemukan calon mempelai pria pengganti yang setara den

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Melepaskan Cinta Palsu

    Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul mereka. Ia justru mendekat sambil menatap Isvara dengan mata berkaca-kaca."Kakak... aku sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Candrani dengan suara bergetar. “Semua benda berharga ini adalah simbol cinta Tiga Tiang Darma padamu. Kau yang harus menyimpannya, Kak."Tutur kata Candrani yang begitu lemah lembut membuat Isvara melangkah maju. Niatnya hanya ingin meyakinkan Candrani bahwa ia rela menyerahkan tiga pria menyebalkan itu.Akan tetapi, begitu ia mengulurkan tangan, Vajra dan Kaliyan langsung bergerak secepat kilat. Mereka menarik mundur tubuh Candrani, menyembunyikan sang putri di belakang punggung. Seolah, Isvara adalah monster yang hendak mencabik-cabik adiknya tanpa belas kasihan.

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tantangan dari Sang Putri

    Suasana di dalam kamar terasa kian menegangkan. Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samudra adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum bangsawan, apalagi bagi seorang Putri Mahkota. Namun, Isvara justru menangkap bola panas itu dengan keberanian yang tak terduga.Ia tahu Samudra selalu merasa punya hak untuk mendidiknya, sebab ia dibesarkan oleh mendiang Ratu Ayudya, ibu kandung Isvara sendiri. Dengan kata lain, Samudra adalah kakak angkatnya. "Upacara pengusiran roh jahat?" Isvara mengulang kata-kata itu dengan nada yang terdengar menyerupai tawa kecil. "Tantangan yang menarik, Kak Samudra. Tapi, sebuah upacara tanpa pertaruhan akan menjadi pertunjukan membosankan. Mari kita buat ini menjadi lebih menarik."Kaliyan, sang Hakim Agung, menyipitkan mata. Sifat kaku dan logisnya te

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tiga Tiang Dharma

    Urat-urat di leher pria itu berdenyut seiring dengan amarah yang tertahan. Isvara semakin was-was. Nalar dokternya berteriak bahwa ia baru saja memicu ledakan dari seorang pria yang sangat berbahaya.Dengan susah payah, Isvara mencoba membuka mulutnya yang kering. “Lupakan... aku tidak—"Sebelum kalimat Isvara selesai, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu.Lekas saja pria itu menghempaskan tangan Isvara yang menahan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar.Tepat setelah itu, dua orang wanita menghambur masuk. Mereka mengenakan kemben kain sutra berwarna marun yang membebat dada dengan rapi, dipadukan dengan kain lilit bermotif bunga.Wanita yang lebih tua, berusia sekitar empat puluh tahun, langsung memegangi pundak Isvara dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, seorang gadis muda terisak kecil."Tuan Putri Mahkota, Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu. "Syukurlah Jenderal Rudra sedang lewat dan mendengar keributan

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Berpindah ke Tubuh Antagonis

    Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status