Share

Mempelai Pria Pengganti

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-01-29 01:02:56

Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.

Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, pernikahan itu adalah awal dari segala bencana.

Ia akan menjadi istri yang diabaikan, hingga akhirnya menjadi gelap mata dan mencoba meracuni Candrani. Namun, secara tak sengaja ia justru melenyapkan nyawa Sang Baginda Raja. 

"Pernikahan itu harus dibatalkan," Isvara mengepalkan tangannya di bawah air. "Aku harus menghindar, meski itu artinya aku akan meninggalkan istana ini selamanya."

Kali ini, Isvara berpikir cukup lama. Dia adalah seorang Putri Mahkota yang dijaga ketat, pastinya tidak akan mudah untuk melarikan diri. 

Di sisi lain, bila dia menolak pernikahan politik secara terang-terangan, ayahnya pasti akan murka. Kecuali, ia bisa menemukan calon mempelai pria pengganti yang setara dengan Tiga Tiang Darma. 

Ketika Isvara masih memikirkan ide tersebut, telinganya menangkap derap langkah kaki yang berat dan teratur di luar area pemandian. 

Jantung Isvara berdegup kencang. Siapa yang berani masuk ke pemandian pribadi di petang hari?

“Ratih, apa itu kau?” panggil Isvara, dengan suara bergetar.

Langkah kaki itu berhenti tepat di depan tirai sutra yang membatasi kolam utama. Isvara membeku, air setinggi dagunya terasa berubah menjadi bongkahan es. 

Melalui celah tirai yang tertiup angin, ia melihat siluet tegap dengan zirah yang berkilau tertimpa cahaya lilin.

Sret!

Tirai disibakkan tanpa peringatan. Sosok Rudra Adhiyaksa berdiri di sana, tangannya masih mencengkeram gagang pedang dengan urat-urat yang menonjol. Tatapannya langsung jatuh pada Isvara yang tengah berendam.

"Keluar!" Isvara berteriak, suaranya bergema di dinding batu basal. Ia menyilangkan tangan di depan dada, mencoba melindungi bagian tubuhnya yang tidak tertutup kelopak bunga. 

"Lancang sekali kau, Jenderal! Apa kau tidak punya sopan santun terhadap Putri Mahkotamu?"

Wajah Rudra tidak berubah, sorot matanya yang tajam tampak berkilat di bawah uap air. Ia tidak memalingkan wajah, seperti hendak memastikan wanita di hadapannya benar-benar Isvara.

"Simpan amarah Anda, Tuan Putri," sahut Rudra dengan nada ketus.

"Hamba baru saja menemukan Kepala Tabib Seto tewas di Griya Husada. Lehernya patah dan lemari racun terlarang telah dibongkar paksa. Karena itu, Hamba memeriksa seluruh sudut istana untuk meningkatkan keamanan. Terutama, Hamba diperintahkan Baginda untuk mencari Anda.”

"Apa hubungannya denganku?" tanya Isvara, merasa tersinggung.

Rudra melangkah maju, satu kaki botnya menginjak tepian kolam batu. Ia membungkuk sedikit, menatap Isvara dengan sorot mata yang menghakimi. 

"Hubungannya? Anda ditemukan meminum racun yang hanya dimiliki Kepala Tabib Seto.”

Sindiran tajam dari Rudra membuat jantung Isvara hampir berhenti berdetak. 

Sial. Seseorang telah membunuh tabib itu supaya dia tertuduh sebagai pembunuh. Padahal kejadian sebenarnya, Isvara yang asli hanya meminta paksa racun dari tangan Kepala Tabib Seto, lalu pergi ke kamar.

"Dan kau percaya aku sanggup membunuh seorang tabib?" tanya Isvara, suaranya naik satu oktaf karena emosi.

"Hamba tidak berani menuduh sebelum ada bukti.”

Jawaban singkat Rudra membuat Isvara semakin naik darah. Tak disangka, pria ini sama piciknya seperti Samudra, Vajra, dan Kaliyan.

“Pergi dari sini, Jenderal! Jangan mencari keuntungan dengan melihat tubuhku!”

“Anda salah paham. Bagi Hamba, bertemu dengan Tuan Putri Mahkota adalah tugas yang merepotkan," sahut Rudra dengan cepat. 

Isvara menyipitkan mata. Ucapan Rudra yang bernada merendahkan itu telah memantik api dalam dirinya. 

Menurut ilmu psikologi yang pernah ia pelajari, seorang pria yang paling keras menyangkal biasanya adalah pria yang berusaha menahan sesuatu. Karenanya, ia merasa tertantang untuk membuktikan apakah Rudra memang sedingin penampilan luarnya.

Isvara mendadak mengubah ekspresinya. Ia perlahan bergerak di dalam air, mendekat ke pinggiran kolam tepat di bawah kaki Rudra berdiri.

"Begitukah, Jenderal?" Isvara berbisik lebih dalam dan sensual. “Kau tidak suka menatapku dalam keadaan seperti ini? Lalu, kenapa napasmu terdengar begitu berat?”

Isvara sengaja mengangkat tangannya yang basah, membiarkan air mengalir perlahan dari jemarinya yang lentik. Kemudian, ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang untuk menyingkap leher jenjangnya yang seputih porselen. 

Dengan pandangan menggoda, Isvara sengaja menatap Rudra tepat di manik matanya yang sehitam jelaga.

Untuk sesaat, Isvara bisa melihat jakun pria itu bergerak naik turun dengan cepat. Bukti bahwa benteng pertahanan Sang Jenderal mulai goyah. 

Cahaya lilin yang memantul di mata Rudra, memperlihatkan kebingungan. Ada kilat gairah yang lewat di matanya selama sepersekian detik, sebelum pria itu kembali menguasai diri.

Rudra segera mundur satu langkah, tangannya mencengkeram gagang pedangnya begitu kuat hingga buku jarinya memutih.

"Tuan Putri, pikiran Anda tampaknya masih terganggu,” desis Rudra, suaranya kini sedikit serak.

"Mungkin. Tapi sekarang aku tahu satu hal, Jenderal. Kau masih lelaki normal," balas Isvara dengan percaya diri.

Merasa puas atas kemenangannya, Isvara kembali bersandar di tepian batu. Apa yang ia cari akhirnya terjawab.

"Pergilah berjaga di luar pintu, Jenderal. Pastikan tidak ada orang lain yang masuk kemari dan menikmati pemandangan yang bukan haknya,” titah Isvara dengan nada yang lebih berwibawa.

Rudra tidak menjawab. Ia berbalik dengan gerakan kaku tanpa menengok ke belakang.

Isvara bisa mendengar pria itu membuang napas kasar, seakan baru selamat dari cobaan tersulit dalam hidupnya.

“Rudra Adhiyaksa... kau akan menjadi kunci pelarianku dari pernikahan konyol itu,” gumam Isvara penuh keyakinan. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Pertaruhan Nyawa

    Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak."Ratih, masuklah!" teriak Isvara.Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia langsung sujud menyembah di kaki Isvara dengan tubuh gemetaran Dalam ingatan Ratih, Isvara biasanya akan murka jika ia lalai. Kerap kali ia dihukum dengan pukulan rotan, hingga telapak tangannya membiru."Ampun, Tuan Putri! Hamba mohon ampun! Hamba tadi ketiduran sehingga tidak tahu kalau Jenderal masuk... Hamba pantas dihukum!" isaknya ketakutan.Di luar dugaan, sebuah tangan lembut memegang pundaknya. "Bangunlah, Ratih. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti sangat kelelahan hari ini," ucap Isvara tenang.Ratih tertegun, menatap junjungannya itu dengan mata mengerjap heran. "Tuan Putri... Anda tidak marah?""Tidak. Sekarang, tolong ikatkan selendang ini di pinggangku. Lalu, antar aku

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Mempelai Pria Pengganti

    Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, pernikahan itu adalah awal dari segala bencana.Ia akan menjadi istri yang diabaikan, hingga akhirnya menjadi gelap mata dan mencoba meracuni Candrani. Namun, secara tak sengaja ia justru melenyapkan nyawa Sang Baginda Raja. "Pernikahan itu harus dibatalkan," Isvara mengepalkan tangannya di bawah air. "Aku harus menghindar, meski itu artinya aku akan meninggalkan istana ini selamanya."Kali ini, Isvara berpikir cukup lama. Dia adalah seorang Putri Mahkota yang dijaga ketat, pastinya tidak akan mudah untuk melarikan diri. Di sisi lain, bila dia menolak pernikahan politik secara terang-terangan, ayahnya pasti akan murka. Kecuali, ia bisa menemukan calon mempelai pria pengganti yang setara den

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Melepaskan Cinta Palsu

    Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul mereka. Ia justru mendekat sambil menatap Isvara dengan mata berkaca-kaca."Kakak... aku sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Candrani dengan suara bergetar. “Semua benda berharga ini adalah simbol cinta Tiga Tiang Darma padamu. Kau yang harus menyimpannya, Kak."Tutur kata Candrani yang begitu lemah lembut membuat Isvara melangkah maju. Niatnya hanya ingin meyakinkan Candrani bahwa ia rela menyerahkan tiga pria menyebalkan itu.Akan tetapi, begitu ia mengulurkan tangan, Vajra dan Kaliyan langsung bergerak secepat kilat. Mereka menarik mundur tubuh Candrani, menyembunyikan sang putri di belakang punggung. Seolah, Isvara adalah monster yang hendak mencabik-cabik adiknya tanpa belas kasihan.

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tantangan dari Sang Putri

    Suasana di dalam kamar terasa kian menegangkan. Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samudra adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum bangsawan, apalagi bagi seorang Putri Mahkota. Namun, Isvara justru menangkap bola panas itu dengan keberanian yang tak terduga.Ia tahu Samudra selalu merasa punya hak untuk mendidiknya, sebab ia dibesarkan oleh mendiang Ratu Ayudya, ibu kandung Isvara sendiri. Dengan kata lain, Samudra adalah kakak angkatnya. "Upacara pengusiran roh jahat?" Isvara mengulang kata-kata itu dengan nada yang terdengar menyerupai tawa kecil. "Tantangan yang menarik, Kak Samudra. Tapi, sebuah upacara tanpa pertaruhan akan menjadi pertunjukan membosankan. Mari kita buat ini menjadi lebih menarik."Kaliyan, sang Hakim Agung, menyipitkan mata. Sifat kaku dan logisnya te

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tiga Tiang Dharma

    Urat-urat di leher pria itu berdenyut seiring dengan amarah yang tertahan. Isvara semakin was-was. Nalar dokternya berteriak bahwa ia baru saja memicu ledakan dari seorang pria yang sangat berbahaya.Dengan susah payah, Isvara mencoba membuka mulutnya yang kering. “Lupakan... aku tidak—"Sebelum kalimat Isvara selesai, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu.Lekas saja pria itu menghempaskan tangan Isvara yang menahan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar.Tepat setelah itu, dua orang wanita menghambur masuk. Mereka mengenakan kemben kain sutra berwarna marun yang membebat dada dengan rapi, dipadukan dengan kain lilit bermotif bunga.Wanita yang lebih tua, berusia sekitar empat puluh tahun, langsung memegangi pundak Isvara dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, seorang gadis muda terisak kecil."Tuan Putri Mahkota, Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu. "Syukurlah Jenderal Rudra sedang lewat dan mendengar keributan

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Berpindah ke Tubuh Antagonis

    Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status