LOGINSuasana di dalam kamar terasa kian menegangkan.
Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.
Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samudra adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum bangsawan, apalagi bagi seorang Putri Mahkota. Namun, Isvara justru menangkap bola panas itu dengan keberanian yang tak terduga.
Ia tahu Samudra selalu merasa punya hak untuk mendidiknya, sebab ia dibesarkan oleh mendiang Ratu Ayudya, ibu kandung Isvara sendiri. Dengan kata lain, Samudra adalah kakak angkatnya.
"Upacara pengusiran roh jahat?" Isvara mengulang kata-kata itu dengan nada yang terdengar menyerupai tawa kecil.
"Tantangan yang menarik, Kak Samudra. Tapi, sebuah upacara tanpa pertaruhan akan menjadi pertunjukan membosankan. Mari kita buat ini menjadi lebih menarik."
Kaliyan, sang Hakim Agung, menyipitkan mata. Sifat kaku dan logisnya terusik oleh perubahan drastis pada Sang Putri.
Biasanya jika kedapatan berbuat salah, Isvara akan meminta maaf berkali-kali kepada mereka. Kemudian, perempuan itu akan memberikan banyak hadiah sambil merengek agar selalu diperhatikan. Namun kini, sikap Isvara terlalu berani, seperti tidak peduli dengan keberadaan mereka.
"Apa maksud Anda, Tuan Putri?"
Isvara melangkah maju, menatap ketiga pria itu silih berganti. "Jika Kak Samudra mengadakan upacara dan berhasil menemukan roh jahat di dalam tubuhku, maka aku akan besujud di hadapan Baginda Raja Mahasena dan seluruh menteri kerajaan,” pungkas Isvara dengan dagu terangkat.
“Aku akan menampar wajahku dengan tanganku ini, lalu mengakui segala kesalahanku di Balairung Agung."
Mendengar ucapan Isvara, Vajra langsung mendengus. "Janji Anda sangat berisiko mempermalukan diri sendiri.”
"Tunggu, aku belum selesai," Isvara memotong dengan tajam, matanya kini tertuju pada Vajra yang begitu angkuh.
"Namun, jika roh jahat terbukti tidak ada, maka kalian bertiga yang harus menanggung akibatnya. Kalian harus bersujud memohon ampunan padaku, lalu saling menampar di dalam Balairung Agung.”
Sontak, ruangan menjadi sunyi senyap. Samudra, Vajra, dan Kaliyan terbelalak tak percaya.
Saling menampar di hadapan publik? Itu adalah penghinaan paling menyakitkan bagi harga diri para Tiang Darma.
“Syarat yang Anda ajukan tidak sesuai dengan aturan kerajaan, Tuan Putri," desis Kaliyan.
"Kenapa? Kalian takut?" Isvara tersenyum miring, sengaja memancing ego para pria.
“Seorang Pendeta Agung yang suci, seorang Hakim yang adil, dan seorang sastrawan kaya raya... tidak berani mempertaruhkan pipi mereka demi kebenaran yang mereka yakini?"
Rahang Samudra mengeras. Sebagai pemegang otoritas spiritual tertinggi di kalangan muda, ia tidak mungkin mundur di depan kedua rekannya.
"Saya menyanggupi," ucap Samudra dengan suara dingin. "Darma akan menunjukkan siapa yang benar dan salah."
Tepat saat kesepakatan itu terkunci, pintu kamar terbuka perlahan. Sosok cantik dengan gaun sutra putih bertabur sulaman bunga emas, masuk ke ruangan. Langkahnya begitu anggun, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan kesedihan mendalam.
Dia adalah Putri Candrani, adik tiri Isvara, sekaligus putri kesayangan Baginda Raja. Di belakangnya, beberapa dayang membawa tiga kotak kayu berukir yang mewah.
"Salam kepada Putri Mahkota!"
Candrani membungkuk hormat, matanya tampak sembab seolah baru saja menumpahkan banyak air mata.
"Maafkan aku, Kakak. Ini semua salahku,” tutur Candrani penuh penyesalan. “Seharusnya aku menolak ucapan selamat dari Kak Samudra, Kak Vajra, dan Kak Kaliyan.”
Candrani segera bersimpuh di dekat pembaringan Isvara, menatap kakaknya dengan sorot sendu.
"Tolong jangan marah pada mereka. Agar Kakak merasa lebih baik, aku membawakan ini."
Wanita itu memberi isyarat pada dayangnya untuk membuka kotak-kotak tersebut.
"Ini adalah hadiah ulang tahun yang baru saja aku terima dari Tiga Tiang Darma. Aku berikan semuanya untuk Kakak, asalkan Kakak mau memaafkan kami dan berhenti menyakiti diri sendiri."
Isvara menatap kotak tersebut tanpa minat. Di dalam benaknya, ia teringat jelas adegan saat Sang Putri Mahkota siuman dari pengaruh racun.
Di bab ini, Isvara asli yang temperamental akan meledak dalam kemarahan. Dia mengambil paksa hadiah- hadiah itu, memaki Candrani, lalu melemparkannya tepat ke muka sang adik tiri.
Kejadian itu membuat Tiga Tiang Darma langsung pasang badan melindungi Candrani.
Dalam sekejap rumor "Putri Mahkota yang Gila dan Kejam" menyebar ke seluruh istana. Tak hanya itu, Baginda Raja juga menurunkan titah untuk menjatuhkan hukuman cambuk dua puluh kali kepada Isvara.
Namun, Isvara yang sekarang bukan lagi wanita pencemburu yang dimabuk cinta. Sebagai seorang dokter yang sering menghadapi pasien manipulatif, ia tahu persis bagaimana cara mematahkan skenario ini.
Isvara pun menarik napas panjang, lalu tersenyum lembut. Sebuah senyum yang sangat manis hingga membuat Candrani sedikit bingung.
Alih-alih mengambil hadiah milik sang adik, Isvara justru mengulurkan tangannya dan mengelus pelan rambut Candrani.
"Simpan saja hadiahmu, Candrani," ucap Isvara dengan tenang. "Ini adalah hari ulang tahunmu. Sangat wajar jika seorang putri cantik menerima banyak hadiah dari para pria hebat. Kakak tidak akan mengambil kebahagiaanmu."
Samudra, Vajra, dan Kaliyan tertegun. Respon Isvara sama sekali tidak ada dalam perkiraan mereka.
"Justru, Kakak ingin menambah hadiah untukmu,” lanjut Isvara sambil berdiri tegak. “Kakak ingin agar hari ulang tahunmu semakin berkesan."
Isvara menoleh ke arah Ratih, dayangnya yang masih gemetar di sudut ruangan. "Ratih, pergi ke ruang penyimpanan pribadiku. Ambilkan tiga benda yang dihadiahkan oleh para Tiang Darma saat penobatanku sebagai Putri Mahkota."
Sontak, Samudra, Vajra, dan Kaliyan terbelalak.
Beberapa saat kemudian, Ratih kembali dengan tiga kotak yang dibungkus kain sutra biru. Isvara membukanya satu per satu di depan mata semua orang yang ada di sana.
"Ini adalah Kalung Tasbih Giok Putih, pemberian Kak Samudra yang dipercaya mengandung doa perlindungan,” pungkas Isvara menunjukkan benda pertama.
“Lalu, yang ini Pena Emas buatan Mahaguru Sasmita, pemberian Vajra yang dibuat dari logam paling murni. Dan benda terakhir adalah Cincin Stempel Hukum, hadiah dari Kaliyan, simbol keadilan dan kebenaran."
Selama Isvara berbicara, tidak ada yang berani menyela sedikit pun.
Selama ini, seluruh istana tahu betapa Isvara sangat memuja ketiga benda tersebut. Ia menjaganya seolah itu adalah nyawanya sendiri. Barangsiapa yang berani menyentuh atau menyenggol kotak penyimpanannya, akan dihukum tanpa ampun.
Namun sekarang, dengan gerakan santai tanpa beban, Isvara meletakkannya di tangan Candrani.
"Benda-benda ini dulunya sangat berharga bagiku," tutur Isvara dengan nada yang terdengar tulus.
"Tapi hari ini, aku menyadari bahwa ketiganya lebih cocok untukmu. Ambillah, Candrani. Ini adalah hadiah dariku."
Samudra menatap kalung gioknya yang kini ada di tangan Candrani. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Sementara Vajra dan Kaliyan pun terdiam seribu bahasa.
Apa artinya ini? Mungkinkah Isvara hendak melepaskan hak kepemilikan atas mereka dengan suka rela? Atau dia hanya berpura-pura tidak peduli demi menarik perhatian mereka?
Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak."Ratih, masuklah!" teriak Isvara.Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia langsung sujud menyembah di kaki Isvara dengan tubuh gemetaran Dalam ingatan Ratih, Isvara biasanya akan murka jika ia lalai. Kerap kali ia dihukum dengan pukulan rotan, hingga telapak tangannya membiru."Ampun, Tuan Putri! Hamba mohon ampun! Hamba tadi ketiduran sehingga tidak tahu kalau Jenderal masuk... Hamba pantas dihukum!" isaknya ketakutan.Di luar dugaan, sebuah tangan lembut memegang pundaknya. "Bangunlah, Ratih. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti sangat kelelahan hari ini," ucap Isvara tenang.Ratih tertegun, menatap junjungannya itu dengan mata mengerjap heran. "Tuan Putri... Anda tidak marah?""Tidak. Sekarang, tolong ikatkan selendang ini di pinggangku. Lalu, antar aku
Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, pernikahan itu adalah awal dari segala bencana.Ia akan menjadi istri yang diabaikan, hingga akhirnya menjadi gelap mata dan mencoba meracuni Candrani. Namun, secara tak sengaja ia justru melenyapkan nyawa Sang Baginda Raja. "Pernikahan itu harus dibatalkan," Isvara mengepalkan tangannya di bawah air. "Aku harus menghindar, meski itu artinya aku akan meninggalkan istana ini selamanya."Kali ini, Isvara berpikir cukup lama. Dia adalah seorang Putri Mahkota yang dijaga ketat, pastinya tidak akan mudah untuk melarikan diri. Di sisi lain, bila dia menolak pernikahan politik secara terang-terangan, ayahnya pasti akan murka. Kecuali, ia bisa menemukan calon mempelai pria pengganti yang setara den
Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul mereka. Ia justru mendekat sambil menatap Isvara dengan mata berkaca-kaca."Kakak... aku sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Candrani dengan suara bergetar. “Semua benda berharga ini adalah simbol cinta Tiga Tiang Darma padamu. Kau yang harus menyimpannya, Kak."Tutur kata Candrani yang begitu lemah lembut membuat Isvara melangkah maju. Niatnya hanya ingin meyakinkan Candrani bahwa ia rela menyerahkan tiga pria menyebalkan itu.Akan tetapi, begitu ia mengulurkan tangan, Vajra dan Kaliyan langsung bergerak secepat kilat. Mereka menarik mundur tubuh Candrani, menyembunyikan sang putri di belakang punggung. Seolah, Isvara adalah monster yang hendak mencabik-cabik adiknya tanpa belas kasihan.
Suasana di dalam kamar terasa kian menegangkan. Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samudra adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum bangsawan, apalagi bagi seorang Putri Mahkota. Namun, Isvara justru menangkap bola panas itu dengan keberanian yang tak terduga.Ia tahu Samudra selalu merasa punya hak untuk mendidiknya, sebab ia dibesarkan oleh mendiang Ratu Ayudya, ibu kandung Isvara sendiri. Dengan kata lain, Samudra adalah kakak angkatnya. "Upacara pengusiran roh jahat?" Isvara mengulang kata-kata itu dengan nada yang terdengar menyerupai tawa kecil. "Tantangan yang menarik, Kak Samudra. Tapi, sebuah upacara tanpa pertaruhan akan menjadi pertunjukan membosankan. Mari kita buat ini menjadi lebih menarik."Kaliyan, sang Hakim Agung, menyipitkan mata. Sifat kaku dan logisnya te
Urat-urat di leher pria itu berdenyut seiring dengan amarah yang tertahan. Isvara semakin was-was. Nalar dokternya berteriak bahwa ia baru saja memicu ledakan dari seorang pria yang sangat berbahaya.Dengan susah payah, Isvara mencoba membuka mulutnya yang kering. “Lupakan... aku tidak—"Sebelum kalimat Isvara selesai, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu.Lekas saja pria itu menghempaskan tangan Isvara yang menahan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar.Tepat setelah itu, dua orang wanita menghambur masuk. Mereka mengenakan kemben kain sutra berwarna marun yang membebat dada dengan rapi, dipadukan dengan kain lilit bermotif bunga.Wanita yang lebih tua, berusia sekitar empat puluh tahun, langsung memegangi pundak Isvara dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, seorang gadis muda terisak kecil."Tuan Putri Mahkota, Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu. "Syukurlah Jenderal Rudra sedang lewat dan mendengar keributan
Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung I







